Strategi Ketahanan Desa: Mengupas Penjelasan Mentan Amran Terkait Pernyataan ‘Rakyat Tak Pakai Dolar’ Presiden Prabowo

Rizky Pratama | InfoNanti
19 Mei 2026, 20:52 WIB
Strategi Ketahanan Desa: Mengupas Penjelasan Mentan Amran Terkait Pernyataan 'Rakyat Tak Pakai Dolar' Presiden Prabowo

InfoNanti — Di tengah riuhnya fluktuasi nilai tukar mata uang global yang kerap menjadi momok bagi stabilitas ekonomi nasional, sebuah pernyataan menarik terlontar dari Presiden Prabowo Subianto. Beliau menyebut bahwa gejolak dolar Amerika Serikat tidaklah menyentuh secara langsung kehidupan masyarakat di akar rumput, khususnya di wilayah pedesaan. Pernyataan ini sekilas terdengar sederhana, namun menyimpan kedalaman logika ekonomi yang kemudian dipertegas oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam sebuah diskusi hangat di kediamannya baru-baru ini.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memberikan klarifikasi sekaligus membedah makna di balik kalimat “rakyat desa tidak pakai dolar”. Menurutnya, pernyataan Presiden tersebut bukanlah menafikan adanya dampak makroekonomi, melainkan lebih kepada menonjolkan ketangguhan ekosistem desa yang berbasis pada sektor riil dan komoditas pangan. Di saat masyarakat perkotaan mungkin merasa cemas dengan kenaikan harga barang impor akibat pelemahan Rupiah, masyarakat desa justru memiliki benteng pertahanan tersendiri melalui sektor pertanian yang produktif.

Baca Juga

Jadwal Lengkap Tanggal Merah Mei 2026: Panduan Strategis Menikmati Libur Panjang dan Cuti Bersama

Jadwal Lengkap Tanggal Merah Mei 2026: Panduan Strategis Menikmati Libur Panjang dan Cuti Bersama

Mengurai Logika Ketahanan Ekonomi Pedesaan

Amran menjelaskan bahwa meski ada ketergantungan pada beberapa komoditas impor seperti bawang putih dan kedelai, struktur ekonomi di desa jauh lebih mandiri. Sebagian besar kebutuhan pokok masyarakat pedesaan dipenuhi dari hasil bumi sendiri. Inilah yang dimaksud sebagai imunitas alami terhadap gejolak nilai tukar dolar. Ketika dolar perkasa, biaya hidup di kota yang sangat bergantung pada produk manufaktur dan impor akan melonjak tajam, sementara di desa, interaksi ekonomi lebih banyak berputar pada komoditas lokal.

“Presiden ingin menekankan bahwa pelemahan Rupiah memang ada pengaruhnya, tetapi pengaruh tersebut tidak bersifat merusak bagi ekosistem desa. Ambil contoh bawang putih, memang terdampak karena kita masih impor. Namun, mari kita lihat dari sisi lain: berapa banyak komoditas kita yang justru diekspor dan membawa devisa masuk?” ungkap Amran dengan nada optimis di kediamannya, Jakarta, pada Selasa (19/5/2026).

Baca Juga

Strategi Kementan Amankan Pasokan Plastik Beras: Menakar Peluang Kerja Sama dengan Malaysia

Strategi Kementan Amankan Pasokan Plastik Beras: Menakar Peluang Kerja Sama dengan Malaysia

Data Berbicara: Lonjakan Ekspor Pertanian 2025

Untuk mendukung argumen tersebut, Amran menyajikan data statistik yang cukup mencengangkan dari Badan Pusat Statistik (BPS). Berdasarkan laporan tahun 2025, sektor pertanian Indonesia menunjukkan performa yang sangat impresif di tengah ketidakpastian global. Ekspor sektor pertanian tercatat mengalami kenaikan signifikan sebesar 28,26%, menembus angka Rp 166 triliun. Angka ini mencerminkan bahwa produk-produk dari tangan petani desa justru semakin diminati oleh pasar internasional.

Di sisi lain, kebijakan substitusi impor juga mulai membuahkan hasil. Angka impor pertanian tercatat turun sebesar 9,66%, berada di kisaran Rp 41 triliun. Rasio ini menunjukkan bahwa Indonesia perlahan namun pasti mulai mampu mencukupi kebutuhan domestik sekaligus memperluas jangkauan pasar luar negeri. “Inilah esensi dari pernyataan Bapak Presiden. Dampak negatif dari dolar mungkin ada, tetapi dampak positif yang dirasakan petani desa melalui ekspor jauh lebih besar dan nyata,” tambah Amran.

Baca Juga

Temuan Mengejutkan BPK: Inefisiensi Pabrik Tua PT Pupuk Indonesia Telan Biaya Rp 9,9 Triliun

Temuan Mengejutkan BPK: Inefisiensi Pabrik Tua PT Pupuk Indonesia Telan Biaya Rp 9,9 Triliun

Perisai Subsidi: Melindungi Petani dari Gejolak Global

Pemerintah menyadari bahwa sektor pertanian tidak boleh dibiarkan bertarung sendirian melawan badai ekonomi global. Oleh karena itu, skema subsidi pemerintah menjadi instrumen krusial dalam menjaga stabilitas harga di tingkat petani. Amran menekankan bahwa masyarakat desa, terutama petani, mendapatkan proteksi maksimal agar tidak tercekik oleh kenaikan biaya produksi yang dipicu oleh melemahnya nilai tukar.

Beberapa bentuk perlindungan tersebut meliputi subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang tetap dijaga agar tidak naik, serta kebijakan penurunan harga pupuk bersubsidi sebesar 20%. Dengan biaya input yang terkendali, harga pangan di tingkat konsumen dapat dijaga, sementara margin keuntungan petani tetap terlindungi. “BBM subsidi stabil, harga pupuk justru turun. Dengan intervensi seperti ini, pergerakan dolar menjadi tidak terlalu berpengaruh terhadap keberlangsungan usaha tani di desa,” jelasnya lebih lanjut.

Baca Juga

Geliat Ekonomi Kreatif Bali: BRI dan Pemerintah Targetkan 1.000 UMKM Naik Kelas Lewat Akad KUR Massal

Geliat Ekonomi Kreatif Bali: BRI dan Pemerintah Targetkan 1.000 UMKM Naik Kelas Lewat Akad KUR Massal

Diplomasi Pangan: Indonesia Sebagai Penolong Dunia

Visi Presiden Prabowo untuk menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia nampaknya bukan sekadar isapan jempol. Dalam berbagai kesempatan, Presiden mengungkapkan bahwa Indonesia kini berada pada posisi yang kuat secara geopolitik karena kemampuannya dalam menyediakan pangan dan energi. Di saat banyak negara maju mulai merasa panik dengan ketahanan pangan mereka, Indonesia justru menerima banyak permintaan bantuan pasokan komoditas.

Berdasarkan laporan yang diterima dari kementerian, Presiden Prabowo mencatat adanya daftar panjang negara yang mengantre untuk mendapatkan pasokan dari Indonesia. Australia, misalnya, telah meminta bantuan pasokan urea sebanyak 500 ribu ton. Permintaan serupa juga datang dari negara-negara tetangga dan negara besar lainnya seperti Filipina, India, Bangladesh, hingga Brasil. Kekuatan ekonomi berbasis produksi inilah yang membuat Indonesia tetap percaya diri menghadapi dinamika global.

Menuju Swasembada Pangan yang Berkelanjutan

Keberhasilan Indonesia dalam memenuhi permintaan internasional merupakan buah dari kerja keras dalam mempercepat program swasembada pangan. Presiden Prabowo mengingatkan bahwa tanpa langkah-langkah cepat dalam membenahi sektor pertanian, Indonesia mungkin akan bernasib sama dengan banyak negara yang kini harus mengemis untuk mendapatkan jatah pangan di pasar dunia.

“Bayangkan jika kita tidak segera membereskan masalah pertanian. Kita tidak akan bisa membantu negara lain, justru kita yang akan kesusahan. Sekarang, perintah saya jelas: bantu semua negara yang membutuhkan, selama kebutuhan dalam negeri kita sudah terpenuhi dengan aman,” tegas Prabowo dalam sebuah pidato yang dikutip oleh Amran. Fokus pemerintah ke depan adalah memastikan bahwa setiap inci lahan di pedesaan menjadi produktif, sehingga narasi bahwa ‘orang desa tidak pakai dolar’ benar-benar menjadi cerminan kedaulatan ekonomi yang sejati.

Dengan fundamental ekonomi desa yang semakin kokoh, didukung oleh kebijakan subsidi yang tepat sasaran dan kinerja ekspor yang terus meroket, Indonesia optimis mampu melewati berbagai tantangan ekonomi global. Transformasi pedesaan dari sekadar penyokong menjadi penggerak utama ekonomi nasional kini bukan lagi mimpi, melainkan sebuah realitas yang tengah dibangun secara sistematis oleh pemerintahan saat ini.

Rizky Pratama

Rizky Pratama

Penulis bisnis & startup dengan pengalaman di dunia digital marketing dan venture.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *