Strategi Transformasi Danantara: Dony Oskaria Beberkan Rahasia Penyehatan BUMN Lewat Konsolidasi Raksasa

Rizky Pratama | InfoNanti
24 Mei 2026, 16:52 WIB
Strategi Transformasi Danantara: Dony Oskaria Beberkan Rahasia Penyehatan BUMN Lewat Konsolidasi Raksasa

InfoNanti — Wajah pengelolaan aset negara di Indonesia tengah mengalami pergeseran paradigma yang cukup fundamental. Di tengah upaya memperkuat struktur ekonomi nasional, kehadiran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Danantara, kini menjadi sorotan utama. Lembaga ini bukan sekadar entitas baru di atas kertas, melainkan mesin penggerak yang dirancang untuk merombak total cara kerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN) agar lebih lincah dan berdaya saing global.

Dalam gelaran Jogja Financial Festival 2026 yang berlangsung baru-baru ini, Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, memaparkan bagaimana proses penyehatan perusahaan pelat merah menjadi jauh lebih terukur sejak lembaga ini beroperasi. Menurut Dony, kunci utamanya terletak pada konsolidasi yang memungkinkan pengawasan terpadu di bawah satu komando strategis, mengakhiri era di mana setiap perusahaan negara seolah berjalan di jalurnya masing-masing tanpa koordinasi yang kohesif.

Baca Juga

Diplomasi Triliunan Dolar: Mengurai Misi Donald Trump dan 6 Miliarder Elit di Jantung Beijing

Diplomasi Triliunan Dolar: Mengurai Misi Donald Trump dan 6 Miliarder Elit di Jantung Beijing

Revolusi Paradigma: Memahami Model SOE-Based Sovereign Wealth Fund

Selama ini, publik mungkin lebih mengenal Sovereign Wealth Fund (SWF) sebagai lembaga pengelola dana abadi yang pasif. Namun, Dony Oskaria menegaskan bahwa Danantara memiliki karakteristik unik yang membedakannya dari SWF di negara lain. Ia menjelaskan bahwa Danantara dibangun dengan basis perusahaan milik negara atau state-owned enterprise base SWF.

“Di Indonesia, Danantara hadir dengan perbedaan signifikan. Kita adalah SWF yang dibangun berdasarkan pondasi BUMN-BUMN kita sendiri. Ini adalah bentuk konsolidasi besar-besaran yang memungkinkan kita memiliki kontrol penuh atas aset strategis negara,” ujar Dony di hadapan para pelaku industri keuangan. Dengan model ini, investasi nasional tidak lagi hanya mengandalkan suntikan dana eksternal, melainkan optimalisasi aset internal yang selama ini terfragmentasi.

Baca Juga

Berapa Gaji Manajer Koperasi Desa Merah Putih? Simak Skema PKWT BUMN dan Prosedur Rekrutmennya

Berapa Gaji Manajer Koperasi Desa Merah Putih? Simak Skema PKWT BUMN dan Prosedur Rekrutmennya

Model pengelolaan ini diklaim jauh lebih efektif karena menyentuh akar permasalahan birokrasi dan manajemen. Sebelumnya, banyak BUMN yang bergerak di sektor yang bersinggungan justru saling berkompetisi secara tidak sehat atau bahkan tidak saling tahu mengenai rencana strategis satu sama lain. Kehadiran Danantara menghapus sekat-sekat tersebut.

Mengakhiri Era Silo di Tubuh Perusahaan Pelat Merah

Salah satu poin krusial yang diangkat oleh Dony adalah bagaimana struktur kementerian sebelumnya memiliki keterbatasan secara hukum dan operasional. Ia menyoroti bahwa Kementerian BUMN pada dasarnya hanya memiliki kuasa pengelolaan, namun bukan bertindak sebagai pemilik langsung dalam logika korporasi murni. Hal ini seringkali menyulitkan ketika sebuah perusahaan membutuhkan intervensi cepat atau dukungan dari sesama entitas negara.

Baca Juga

Waspada Hoaks! BPS Beri Penjelasan Soal Kabar Viral Lowongan 190 Ribu Petugas Sensus 2026

Waspada Hoaks! BPS Beri Penjelasan Soal Kabar Viral Lowongan 190 Ribu Petugas Sensus 2026

“Dulu, BUMN-BUMN kita berdiri sendiri-sendiri. Banyak orang tidak menyadari bahwa kementerian hanyalah pemegang kuasa kelola, bukan pemilik dalam struktur holding yang terintegrasi. Akibatnya, saat ada satu perusahaan yang limbung, mekanisme untuk saling membantu hampir tidak tersedia,” ungkapnya secara lugas. Dalam ekosistem baru ini, raksasa seperti Bank Mandiri, BRI, Pertamina, hingga PLN kini berada dalam satu payung holding company yang sama.

Dengan integrasi ini, manajemen BUMN dapat melakukan subsidi silang pengetahuan, teknologi, hingga dukungan finansial secara legal dalam koridor korporasi. Proses penyehatan pun tidak lagi harus selalu bergantung pada Penyertaan Modal Negara (PMN) dari APBN yang seringkali memakan waktu lama dan proses birokrasi politik yang rumit di parlemen.

Baca Juga

Wajah Baru Pendidikan di SDN 104 Langensari: Rayakan Hardiknas 2026 Bersama BRI Peduli Melalui Program Ini Sekolahku

Wajah Baru Pendidikan di SDN 104 Langensari: Rayakan Hardiknas 2026 Bersama BRI Peduli Melalui Program Ini Sekolahku

Sinyal Keras bagi BUMN yang Tidak Efisien: Kasus PT INTI

Namun, transparansi dan efisiensi yang dibawa Danantara juga membawa konsekuensi pahit bagi entitas yang dianggap sudah tidak relevan atau gagal bertransformasi. Dony Oskaria memberikan contoh nyata pada PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Persero) atau PT INTI. Perusahaan legendaris asal Bandung tersebut kini masuk dalam radar evaluasi ketat, bahkan terancam ditutup.

“Kita harus realistis. Ada perusahaan yang dulu sangat terkenal, seperti PT INTI, namun sekarang menghadapi persoalan yang sangat serius. Jika memang tidak bisa lagi disehatkan atau tidak memiliki nilai strategis di masa depan, opsi penutupan harus diambil demi menyelamatkan ekosistem yang lebih besar,” tegas Dony. Langkah ini merupakan bagian dari rencana besar penyederhanaan jumlah BUMN.

Saat ini, BP BUMN dan Danantara tengah bekerja keras untuk memangkas jumlah entitas negara hingga hanya tersisa sekitar 250 perusahaan saja. Fokus utamanya adalah mempertahankan perusahaan yang berada di bisnis inti (core business) serta sektor-sektor yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Perusahaan yang hanya membebani keuangan negara tanpa memberikan multiplier effect yang jelas dipastikan akan terkena likuidasi atau merger.

Mekanisme Penyelamatan yang Lebih Lincah

Selain PT INTI, perusahaan sejarah seperti Djakarta Lloyd dan raksasa baja Krakatau Steel juga disebut-sebut terus dalam pemantauan. Di masa lalu, ketika Krakatau Steel atau Garuda Indonesia mengalami tekanan finansial yang hebat, pemerintah kesulitan melakukan manuver karena keterbatasan mekanisme antar-BUMN. Kini, ceritanya berbeda.

Dony menjelaskan bahwa dengan struktur Danantara, perusahaan yang sehat dapat memberikan dukungan strategis kepada perusahaan yang sedang dalam masa pemulihan (turnaround). Ekonomi Indonesia memerlukan BUMN yang tangguh, bukan sekumpulan perusahaan yang hanya hidup dari suntikan dana tanpa profitabilitas yang jelas.

“Sekarang, dengan satu komando holding, kita memiliki fleksibilitas untuk melakukan proses penyehatan. Kita bisa melihat gambaran besarnya, di mana letak inefisiensi dan di mana potensi yang bisa dikembangkan secara bersama-sama,” pungkas Dony Oskaria menutup pemaparannya.

Transformasi yang diusung melalui Danantara ini diharapkan mampu membawa BUMN Indonesia naik kelas. Bukan lagi sekadar agen pembangunan yang seringkali merugi, melainkan korporasi kelas dunia yang mampu menyumbangkan dividen maksimal bagi negara sekaligus menjalankan fungsi pelayanan publik secara prima. Perjalanan menuju 250 entitas yang efisien memang penuh tantangan, namun dengan Danantara, jalan tersebut kini tampak jauh lebih jelas dan terarah.

Rizky Pratama

Rizky Pratama

Penulis bisnis & startup dengan pengalaman di dunia digital marketing dan venture.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *