Strategi Kementan Amankan Pasokan Plastik Beras: Menakar Peluang Kerja Sama dengan Malaysia

Rizky Pratama | InfoNanti
20 Apr 2026, 18:53 WIB
Strategi Kementan Amankan Pasokan Plastik Beras: Menakar Peluang Kerja Sama dengan Malaysia

InfoNanti — Langkah taktis tengah diambil oleh Kementerian Pertanian (Kementan) demi menjaga stabilitas distribusi pangan nasional. Di tengah bayang-bayang kelangkaan bahan baku polimer, Kementan bersama Perum Bulog dilaporkan mulai menjajaki potensi pasokan plastik dari negara tetangga, Malaysia. Menariknya, penjajakan ini muncul dari sebuah ketidaksengajaan yang produktif saat delegasi Indonesia tengah melakukan kunjungan kerja terkait diplomasi beras.

Gayung Bersambut di Negeri Jiran

Staf Khusus Menteri Pertanian Bidang Kebijakan Pemerintah, Sam Herodian, mengungkapkan bahwa peluang kerja sama ini bermula saat pihaknya tengah menawarkan ekspor beras ke Malaysia. Di sela-sela pertemuan tersebut, pembicaraan berkembang pada isu logistik dan pengemasan. Para pelaku usaha di Malaysia secara proaktif menawarkan solusi atas kesulitan bahan baku plastik yang tengah dihadapi Indonesia.

Baca Juga

Strategi Hilirisasi Berbuah Manis, MIND ID Bukukan Laba Rp29 Triliun di Tahun Buku 2025

Strategi Hilirisasi Berbuah Manis, MIND ID Bukukan Laba Rp29 Triliun di Tahun Buku 2025

“Awalnya fokus kami adalah menawarkan beras. Namun, ternyata mereka juga mengelola arus ekspor-impor komoditas lain. Begitu mereka mendengar kita sedang mengalami kendala pasokan plastik, mereka langsung merespons dengan mengirimkan sampel produk,” jelas Sam dalam sebuah sesi diskusi di Jakarta, Senin (20/4/2026).

Fokus pada Kualitas: Dari Kemasan Eceran hingga Hermetic Bag

Kerja sama yang tengah dijajaki ini tidak hanya menyasar plastik kemasan biasa. Kementan dan Bulog secara spesifik mendiskusikan berbagai spesifikasi teknis, termasuk penggunaan hermetic bag. Teknologi kantong penyimpanan kedap udara ini dinilai krusial karena mampu menjaga kualitas dan kesegaran stok pangan dalam jangka waktu yang jauh lebih lama, bahkan hingga hitungan tahun.

Baca Juga

Liburan ke Korea Selatan Makin Praktis, Nasabah BCA Kini Bisa Bayar Pakai QRIS: Begini Caranya!

Liburan ke Korea Selatan Makin Praktis, Nasabah BCA Kini Bisa Bayar Pakai QRIS: Begini Caranya!

Meski demikian, Sam menegaskan bahwa saat ini statusnya masih dalam tahap penjajakan awal. Belum ada kontrak impor resmi yang ditandatangani, namun pemerintah berkomitmen untuk terus membuka opsi dari berbagai negara demi memastikan rantai pasok dalam negeri tidak terputus.

Siasat Efisiensi: Kurangi Plastik, Perbesar Volume

Selain mencari sumber pasokan baru, Kementan juga melakukan adaptasi strategi dalam penyaluran bantuan pangan. Salah satu langkah konkretnya adalah dengan mengurangi penggunaan kemasan plastik kecil berukuran 5 kg yang dianggap boros bahan baku. Sebagai gantinya, distribusi akan lebih banyak menggunakan kemasan besar 50 kg yang kemudian dibagi di lokasi titik serah.

“Memang secara operasional sedikit lebih menantang, namun langkah ini sangat efektif untuk menekan ketergantungan pada bahan baku plastik di tengah situasi sulit seperti sekarang,” tambah Sam.

Baca Juga

Langkah Tegas Bea Cukai Jakarta: 29 Yacht Mewah Berbendera Asing Resmi Disegel Akibat Pelanggaran Pajak

Langkah Tegas Bea Cukai Jakarta: 29 Yacht Mewah Berbendera Asing Resmi Disegel Akibat Pelanggaran Pajak

Dinamika Global dan Lonjakan Harga

Kondisi di lapangan memang menunjukkan sinyal peringatan. Meski Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita sempat menyatakan bahwa stok plastik nasional secara teoretis masih mencukupi, realitas di pasar berkata lain. Gangguan geopolitik di Selat Hormuz telah memicu disrupsi rantai pasok global yang berujung pada pembengkakan biaya logistik.

Data dari Supply Chain Indonesia (SCI) menunjukkan potret yang lebih mengkhawatirkan, di mana harga plastik domestik dilaporkan meroket antara 50 hingga 100 persen. Lonjakan ini dipicu oleh ketergantungan industri nasional yang masih sangat tinggi terhadap impor bahan baku petrokimia.

Setijadi, Chairman SCI, memperingatkan bahwa kondisi ini bukan sekadar soal harga, melainkan ancaman terhadap kapasitas produksi industri manufaktur secara luas. Oleh karena itu, langkah Kementan mencari alternatif pasokan dari Malaysia dipandang sebagai langkah mitigasi yang tepat untuk memperkuat ketahanan rantai pasok nasional di masa depan.

Baca Juga

Industri Plastik Nasional Masuki ‘Survival Mode’ Akibat Eskalasi Konflik AS-Iran di Selat Hormuz

Industri Plastik Nasional Masuki ‘Survival Mode’ Akibat Eskalasi Konflik AS-Iran di Selat Hormuz
Rizky Pratama

Rizky Pratama

Penulis bisnis & startup dengan pengalaman di dunia digital marketing dan venture.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *