Update Harga Perak Antam 25 Mei 2026: Melonjak Signifikan di Tengah Optimisme Geopolitik

Rizky Pratama | InfoNanti
25 Mei 2026, 10:52 WIB
Update Harga Perak Antam 25 Mei 2026: Melonjak Signifikan di Tengah Optimisme Geopolitik

InfoNanti — Di tengah dinamika pasar komoditas yang terus bergerak fluktuatif, kilau perak batangan kembali menunjukkan taringnya. Memasuki pembukaan perdagangan pada Senin, 25 Mei 2026, harga perak milik PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mencatatkan kenaikan yang cukup signifikan. Tren positif ini seolah memberikan napas segar bagi para investor yang telah lama memantau pergerakan harga perak sebagai alternatif diversifikasi aset selain emas.

Detail Kenaikan Harga Perak Antam Hari Ini

Berdasarkan data terbaru yang dihimpun oleh tim redaksi InfoNanti dari laman resmi Logam Mulia, harga perak Antam hari ini melonjak sebesar Rp 1.850 per gram. Dengan kenaikan tersebut, harga perak kini bertengger di level Rp 51.400 per gram, beranjak dari posisi sebelumnya yang berada di angka Rp 49.550 per gram. Kenaikan ini dinilai sebagai respons langsung terhadap penguatan harga perak di pasar global yang juga tengah mengalami tren bullish.

Baca Juga

Efek Domino Lonjakan Harga Plastik: Dari Kabel Hingga Ember, Produk Ritel Mulai Meroket

Efek Domino Lonjakan Harga Plastik: Dari Kabel Hingga Ember, Produk Ritel Mulai Meroket

Antam sendiri menyediakan berbagai varian produk perak bagi masyarakat yang ingin melakukan investasi logam mulia. Tidak hanya dalam bentuk batangan besar, namun juga tersedia dalam bentuk butiran atau silver grain dengan kadar kemurnian 99,95%. Untuk rinciannya, perak batangan dengan ukuran 250 gram hari ini dibanderol seharga Rp 13.375.000. Sementara itu, untuk ukuran yang lebih besar yaitu 500 gram, investor perlu merogoh kocek sebesar Rp 25.825.000.

Sentimen Global: Harapan Damai di Selat Hormuz

Kenaikan harga di tingkat domestik ini tidak lepas dari apa yang terjadi di panggung internasional. Mengacu pada data Trading Economics, harga perak dunia mengalami apresiasi sebesar 2,91%, mendekati angka USD 78 per ounce, atau tepatnya di level USD 77,54. Penguatan ini dipicu oleh meningkatnya optimisme pasar mengenai potensi kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Baca Juga

Laporan SPT Tahunan 2026 Tembus 13 Juta: Mengintip Rahasia di Balik Lonjakan Kepatuhan Pajak Nasional

Laporan SPT Tahunan 2026 Tembus 13 Juta: Mengintip Rahasia di Balik Lonjakan Kepatuhan Pajak Nasional

Isu geopolitik di Timur Tengah selalu menjadi katalisator utama bagi pergerakan komoditas. Kabar mengenai kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi angin segar bagi rantai pasok global. Selat Hormuz merupakan jalur krusial bagi perdagangan energi dunia, dan meredanya ketegangan di wilayah tersebut diharapkan dapat menekan laju inflasi yang dipicu oleh lonjakan harga energi. Jika kesepakatan formal tercapai, beberapa aset Iran yang dibekukan kemungkinan besar akan dilepaskan, yang pada gilirannya dapat menstabilkan kondisi ekonomi global.

Namun, jalan menuju stabilitas absolut masih berliku. Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa blokade di Selat Hormuz akan tetap dipertahankan hingga seluruh poin kesepakatan diselesaikan secara formal. Ketidakpastian inilah yang seringkali membuat investor memilih untuk menyimpan kekayaan mereka dalam bentuk logam mulia, yang dianggap sebagai aset pelindung nilai (safe haven) saat terjadi gejolak geopolitik global.

Baca Juga

Strategi Berani Purbaya Yudhi Sadewa: Bersihkan Jalur Investasi dari Jeratan Birokrasi

Strategi Berani Purbaya Yudhi Sadewa: Bersihkan Jalur Investasi dari Jeratan Birokrasi

Bayang-bayang Kebijakan The Fed dan Inflasi

Selain faktor geopolitik, fokus pelaku pasar juga tertuju pada kebijakan moneter di Amerika Serikat. Gubernur Federal Reserve (The Fed), Christopher Waller, baru-baru ini memberikan sinyalemen yang cukup mengejutkan. Waller mengindikasikan bahwa dirinya tidak lagi melihat perlunya bias pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat. Hal ini memicu spekulasi bahwa suku bunga The Fed mungkin akan tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya.

Data ekonomi AS, khususnya Indeks Harga Produsen (PPI) dan Indeks Harga Konsumen (CPI), menunjukkan angka yang masih cukup tinggi. Hal ini menandakan bahwa tekanan inflasi belum sepenuhnya mereda. Dalam kondisi suku bunga yang berpotensi naik kembali, aset-aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga seperti perak dan emas biasanya akan tertekan. Namun, pada perdagangan hari ini, optimisme damai di Timur Tengah tampaknya jauh lebih dominan dalam menggerakkan harga dibandingkan kekhawatiran terhadap kebijakan moneter.

Baca Juga

Fenomena Kekayaan David Beckham: Menjadi Atlet Miliarder Pertama di Inggris dalam Daftar Sunday Times Rich List

Fenomena Kekayaan David Beckham: Menjadi Atlet Miliarder Pertama di Inggris dalam Daftar Sunday Times Rich List

Perbandingan dengan Pergerakan Harga Emas

Menariknya, penguatan perak hari ini berjalan beriringan dengan kenaikan emas Antam yang juga mencatatkan kenaikan sekitar Rp 30.000. Meski perak sering dianggap sebagai “adik tiri” dari emas, volatilitas perak seringkali memberikan keuntungan persentase yang lebih besar bagi para trader jangka pendek.

Analisis dari Wall Street menunjukkan pandangan yang sedikit terbelah. Di satu sisi, para analis profesional masih bersikap konservatif dan memperingatkan adanya potensi koreksi lanjutan jika harga tidak mampu menembus level resistensi tertentu. Marc Chandler, Managing Director di Bannockburn Global Forex, menyebutkan bahwa pergerakan logam mulia saat ini masih berada dalam fase konsolidasi. Untuk perak dan emas menunjukkan penguatan yang berkelanjutan, pasar perlu melihat penembusan level psikologis yang lebih tinggi secara konsisten.

Sikap Pelaku Pasar: Menanti atau Mengeksekusi?

Bagi investor ritel atau yang sering disebut sebagai Main Street, pandangan cenderung lebih optimistis. Banyak yang melihat penurunan harga pekan lalu sebagai kesempatan emas untuk melakukan buy on weakness. Namun, Kevin Grady, Presiden Phoenix Futures and Options, menyarankan agar para investor tetap waspada. Menurutnya, volume transaksi yang relatif rendah menunjukkan bahwa banyak pemain besar yang masih dalam posisi wait and see.

“Pasar saat ini sangat sensitif terhadap berita (news-driven). Setiap perkembangan terbaru mengenai konflik Iran atau data ekonomi mendadak bisa mengubah arah pasar dalam sekejap,” ungkap Grady dalam sebuah wawancara. Oleh karena itu, diversifikasi tetap menjadi kunci utama. Membeli perak saat ini mungkin terlihat menarik karena harganya yang mulai pulih, namun memperhatikan rasio emas-perak (gold-silver ratio) juga sangat disarankan untuk menentukan momentum yang tepat.

Kesimpulan dan Proyeksi ke Depan

Kenaikan harga perak Antam hari ini sebesar Rp 1.850 merupakan cerminan dari dinamika global yang kompleks. Antara harapan damai di Timur Tengah dan ketatnya kebijakan moneter AS, perak terus mencari titik keseimbangan baru. Bagi masyarakat Indonesia, berinvestasi pada perak batangan Antam bisa menjadi alternatif menarik, terutama karena aksesibilitasnya yang lebih terjangkau dibandingkan emas batangan dengan ukuran berat yang sama.

Tim InfoNanti menyarankan para calon investor untuk terus memantau perkembangan berita ekonomi harian. Jangan terburu-buru melakukan pembelian secara masif tanpa analisis yang matang. Dalam jangka panjang, logam mulia tetap menjadi salah satu instrumen terbaik untuk melindungi nilai kekayaan dari gerusan inflasi yang tak terelakkan. Apakah tren kenaikan ini akan berlanjut hingga akhir pekan? Semua mata kini tertuju pada rilis data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat dan perkembangan meja perundingan di Timur Tengah.

Rizky Pratama

Rizky Pratama

Penulis bisnis & startup dengan pengalaman di dunia digital marketing dan venture.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *