Rupiah Melemah Bukan Akhir Segalanya, Presiden Prabowo Pastikan Ketahanan Pangan dan Energi Nasional Tetap Solid

Rizky Pratama | InfoNanti
16 Mei 2026, 16:53 WIB
Rupiah Melemah Bukan Akhir Segalanya, Presiden Prabowo Pastikan Ketahanan Pangan dan Energi Nasional Tetap Solid

InfoNanti — Di tengah gejolak pasar keuangan global yang memicu tekanan terhadap nilai tukar mata uang domestik, Presiden Prabowo Subianto tampil memberikan pernyataan menyejukkan. Menanggapi fenomena rupiah melemah yang belakangan menjadi perbincangan hangat di kalangan pengamat ekonomi, Kepala Negara menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap berada dalam kondisi stabil dan kokoh. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah momen sarat makna saat ia meresmikan Museum Ibu Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, pada Sabtu (16/5/2026).

Prabowo menyadari adanya kekhawatiran di sebagian lapisan masyarakat mengenai volatilitas nilai tukar yang menyentuh angka signifikan. Namun, dengan gaya bicaranya yang lugas dan penuh keyakinan, ia meminta masyarakat untuk tidak terjebak dalam kepanikan sistemik yang kerap diembuskan oleh pihak-pihak yang pesimistis terhadap masa depan bangsa.

Baca Juga

Langkah Tegas Bea Cukai Jakarta: 29 Yacht Mewah Berbendera Asing Resmi Disegel Akibat Pelanggaran Pajak

Langkah Tegas Bea Cukai Jakarta: 29 Yacht Mewah Berbendera Asing Resmi Disegel Akibat Pelanggaran Pajak

Menepis Bayang-Bayang Krisis di Tengah Tekanan Dolar

Presiden tidak menampik bahwa angka-angka di layar bursa menunjukkan depresiasi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Namun, bagi Prabowo, indikator ekonomi makro tersebut tidak boleh menutupi realitas kekuatan ekonomi riil yang ada di akar rumput. Ia menyoroti bagaimana kehidupan masyarakat di pelosok desa yang menjadi tulang punggung bangsa tetap berjalan tanpa ketergantungan langsung pada kurs dolar.

“Saya tahu ada narasi yang menyebut sebentar lagi Indonesia akan kolaps atau terjadi kekacauan karena masalah rupiah dan dolar. Tapi mari kita lihat kenyataannya. Rakyat kita di desa-desa tidak menggunakan dolar untuk transaksi sehari-hari. Mereka adalah ekonomi riil yang sebenarnya,” ujar Prabowo di hadapan para undangan. Pernyataan ini sekaligus menjadi kritik halus terhadap sentimen pasar yang terkadang terlalu dipengaruhi oleh spekulasi global daripada kekuatan domestik.

Baca Juga

Kurs Rupiah Bergejolak: Mengapa Fundamental Ekonomi Indonesia Justru Dinilai Masih Tangguh?

Kurs Rupiah Bergejolak: Mengapa Fundamental Ekonomi Indonesia Justru Dinilai Masih Tangguh?

Pangan dan Energi: Perisai Utama Indonesia di Masa Sulit

Lebih lanjut, Presiden menekankan bahwa kunci stabilitas sebuah negara di masa ketidakpastian geopolitik bukanlah sekadar angka di atas kertas, melainkan ketersediaan kebutuhan dasar. Dalam laporannya, Prabowo memastikan bahwa cadangan pangan dan energi nasional berada pada level yang sangat aman. Hal ini menjadi pembeda utama Indonesia dengan negara-negara lain yang saat ini mulai didera kepanikan akibat krisis suplai global.

“Pangan kita aman, energi kita aman. Di saat banyak negara di luar sana mulai panik mencari pasokan, Indonesia masih bisa berdiri tegak. Kondisi kita masih sangat oke,” tegasnya. Keberhasilan ini tidak lepas dari langkah cepat pemerintah dalam mengamankan sektor pertanian dan mempercepat swasembada pangan sejak awal masa jabatan, guna mengantisipasi dampak konflik di Timur Tengah yang berimbas pada lonjakan harga minyak dunia.

Baca Juga

Tragedi Tabrakan Kereta di Bekasi: Menhub Dudy Purwagandhi Tekankan Pentingnya Investigasi Objektif KNKT

Tragedi Tabrakan Kereta di Bekasi: Menhub Dudy Purwagandhi Tekankan Pentingnya Investigasi Objektif KNKT

Dari Importir Menjadi Penolong Dunia: Ekspor Pupuk dan Beras

Salah satu poin paling menarik dalam pidatonya adalah pengungkapan fakta bahwa posisi Indonesia kini telah bergeser dari negara yang sering meminta bantuan menjadi negara yang memberi bantuan. Berdasarkan laporan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Indonesia kini kebanjiran permintaan pasokan komoditas strategis dari mancanegara.

Prabowo merinci bagaimana negara-negara besar seperti Australia hingga Brasil kini berpaling ke Indonesia untuk mengamankan kebutuhan mereka. “Kita tidak boleh sombong atau terlalu euforia, tapi faktanya kita sekarang berada di pihak yang mampu membantu. Australia meminta bantuan kita, dan kita setuju untuk menjual 500 ribu ton urea ke sana. Begitu juga dengan Filipina, India, Bangladesh, hingga Brasil. Perintah saya jelas: bantu mereka semua,” kata Presiden dengan nada bangga.

Baca Juga

Langkah Strategis MedcoEnergi: Amankan Kontrak Gas Raksasa Rp 22,94 Triliun demi Ketahanan Energi Nasional

Langkah Strategis MedcoEnergi: Amankan Kontrak Gas Raksasa Rp 22,94 Triliun demi Ketahanan Energi Nasional

Selain pupuk, komoditas beras juga menjadi incaran dunia. Hal ini membuktikan bahwa investasi besar-besaran di sektor infrastruktur pertanian mulai membuahkan hasil nyata. Prabowo mengingatkan betapa berbahayanya jika Indonesia tidak segera membereskan masalah pertanian sejak dini. Tanpa kemandirian pangan, Indonesia mungkin akan bernasib sama dengan negara-negara lain yang harus mengantre untuk mendapatkan bahan makanan pokok.

Filosofi Indonesia Incorporated dan Ekonomi Kekeluargaan

Dalam kesempatan yang sama, Presiden Prabowo Subianto juga mengulas landasan filosofis di balik setiap kebijakan ekonominya. Ia memperkenalkan kembali konsep “Indonesia Incorporated”, sebuah visi di mana negara dijalankan layaknya satu korporasi besar yang berasaskan kekeluargaan. Konsep ini berakar kuat pada amanat Pasal 33 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

“Indonesia Incorporated berarti seluruh rakyat Indonesia adalah pemegang saham utama dari seluruh kekayaan yang dimiliki bangsa ini. Kita adalah satu keluarga besar. Dalam ekonomi kekeluargaan, prinsipnya adalah yang kaya menarik yang miskin, dan yang kuat membantu yang lemah. Tidak boleh ada yang ditinggalkan,” paparnya dengan penuh semangat.

Prabowo menegaskan bahwa kekayaan alam dan aset negara harus dikelola sedemikian rupa agar manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat jelata, bukan hanya segelintir elite. Ia memberikan peringatan keras kepada para pejabat negara agar tidak menyalahgunakan mandat yang diberikan rakyat hanya untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.

Pejabat sebagai Pelayan Rakyat, Bukan Penguasa

Sebagai penutup dari rangkaian narasinya di Nganjuk, Prabowo mengingatkan seluruh aparatur negara mengenai posisi mereka dalam struktur sosial bangsa. Ia menekankan bahwa status pejabat, tentara, maupun polisi bukanlah sebuah privilese untuk bertindak sewenang-wenang, melainkan sebuah tanggung jawab besar sebagai pelayan masyarakat.

“Seluruh warga negara, mulai dari buruh, petani, hingga nelayan, adalah anak-anak bangsa yang harus dilayani. Kami para pemimpin, politisi, dan birokrat hanyalah petugas yang menerima mandat. Kami diberi kepercayaan untuk memimpin, bukan untuk berkuasa tanpa batas,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa setiap rupiah yang digunakan untuk menggaji aparat dan membiayai fasilitas negara berasal dari keringat rakyat, sehingga sudah sepatutnya loyalitas tertinggi diberikan kembali kepada rakyat.

Dengan pesan yang kuat ini, Presiden Prabowo Subianto berharap seluruh elemen bangsa tetap optimis dan bersatu. Di tengah badai ekonomi global yang belum mereda, ketenangan dan kerja keras kolektif di bawah panji ekonomi kekeluargaan diyakini akan menjadi kunci bagi Indonesia untuk terus melaju menjadi kekuatan ekonomi baru yang disegani di kancah internasional.

Rizky Pratama

Rizky Pratama

Penulis bisnis & startup dengan pengalaman di dunia digital marketing dan venture.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *