Gojek Resmi Hapus Skema Langganan Driver: Revolusi Tarif GoRide Hemat Demi Kesejahteraan Mitra

Rizky Pratama | InfoNanti
19 Mei 2026, 16:53 WIB
Gojek Resmi Hapus Skema Langganan Driver: Revolusi Tarif GoRide Hemat Demi Kesejahteraan Mitra

InfoNanti — Dinamika industri transportasi online di Indonesia kembali memasuki babak baru yang krusial. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) secara resmi mengumumkan langkah strategis untuk menghentikan skema langganan bagi para mitra driver Gojek. Keputusan ini diambil setelah melalui proses evaluasi mendalam yang menyoroti perlunya keseimbangan yang lebih kokoh antara keberlanjutan bisnis dan kesejahteraan para pengemudi yang menjadi ujung tombak perusahaan di lapangan.

Perubahan ini tidak hanya menyasar sistem langganan semata, tetapi juga membawa dampak langsung pada layanan populer, GoRide Hemat. Layanan yang selama ini dikenal dengan harga ekonomis tersebut kini akan menerapkan sistem bagi hasil sebesar 8 persen, selaras dengan skema yang berlaku pada layanan GoRide reguler. Kebijakan ini secara otomatis memicu penyesuaian tarif bagi konsumen, meskipun pihak manajemen menjanjikan bahwa kenaikan tersebut akan dilakukan secara sangat terbatas dan terukur.

Baca Juga

Diversifikasi Devisa: Bank Indonesia Izinkan Eksportir Simpan DHE SDA dalam Yuan dan Mata Uang Non-Dolar

Diversifikasi Devisa: Bank Indonesia Izinkan Eksportir Simpan DHE SDA dalam Yuan dan Mata Uang Non-Dolar

Langkah Berani Hans Patuwo dalam Menata Ekosistem GoTo

Direktur Utama PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk, Hans Patuwo, turun langsung mengumumkan perubahan kebijakan ini dalam sebuah konferensi pers yang digelar di kantor pusat Gojek, Jakarta Selatan, pada Selasa (19/5/2026). Dalam keterangannya, Hans menekankan bahwa setiap langkah yang diambil oleh perusahaan selalu mengacu pada data lapangan dan aspirasi para mitra.

“Gojek akan menghentikan skema langganan untuk mitra driver,” tegas Hans di hadapan awak media. Pernyataan ini menandai berakhirnya sebuah eksperimen model bisnis yang sebelumnya diharapkan mampu memberikan kepastian pendapatan bagi driver. Namun, realita di lapangan menunjukkan bahwa model kesejahteraan pengemudi memerlukan pendekatan yang lebih fleksibel dan adil dibandingkan sekadar skema langganan tetap.

Baca Juga

Terobosan Magang Nasional Tahap II: Skema ‘Patungan’ Uang Saku dan Peluang Baru bagi 150 Ribu Pemuda

Terobosan Magang Nasional Tahap II: Skema ‘Patungan’ Uang Saku dan Peluang Baru bagi 150 Ribu Pemuda

Hans menjelaskan bahwa penghentian ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan untuk memastikan para mitra tetap mendapatkan penghasilan yang layak di tengah persaingan pasar yang semakin ketat. Evaluasi yang dilakukan tim internal menunjukkan bahwa skema langganan yang sempat diuji coba belum sepenuhnya mampu menjawab tantangan fluktuasi orderan yang dialami oleh para driver setiap harinya.

Sinkronisasi dengan Perpres Nomor 27 Tahun 2026

Langkah Gojek dalam merombak skema bagi hasil ini ternyata tidak berdiri sendiri. Hans mengungkapkan bahwa keputusan ini juga merupakan bentuk kepatuhan dan penyesuaian perusahaan terhadap regulasi terbaru pemerintah, yakni Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 27 Tahun 2026. Regulasi ini tampaknya menjadi standar baru dalam mengatur hubungan kemitraan di sektor ekonomi digital Indonesia.

Baca Juga

Geopolitik Selat Hormuz Memanas, Rupiah Terkoreksi ke Level Rp 17.127 Per Dolar AS

Geopolitik Selat Hormuz Memanas, Rupiah Terkoreksi ke Level Rp 17.127 Per Dolar AS

Dengan merujuk pada aturan tersebut, Gojek menyamaratakan potongan platform atau sistem bagi hasil menjadi 8 persen untuk semua kategori layanan kendaraan roda dua. Hal ini dilakukan agar tercipta level playing field yang adil, baik bagi driver yang melayani GoRide Hemat maupun GoRide reguler. Sebelumnya, perbedaan skema antara kedua layanan ini seringkali menimbulkan kebingungan dan ketimpangan dalam perhitungan pendapatan bersih pengemudi.

Penyesuaian ini dipandang sebagai langkah proaktif Gojek untuk menghindari potensi konflik regulasi di masa depan sekaligus memberikan kepastian hukum bagi jalannya operasional perusahaan. Di bawah payung Perpres tersebut, Gojek berupaya menciptakan ekosistem yang lebih transparan di mana setiap potongan yang diambil oleh platform benar-benar digunakan untuk pengembangan teknologi dan dukungan operasional bagi mitra.

Baca Juga

Karier Impian di Kawan Lama Group: Peluang Emas bagi Fresh Graduate untuk Bergabung dengan Raksasa Ritel Indonesia

Karier Impian di Kawan Lama Group: Peluang Emas bagi Fresh Graduate untuk Bergabung dengan Raksasa Ritel Indonesia

Evaluasi Tiga Bulan yang Menjadi Titik Balik

Jika menilik ke belakang, skema langganan ini sebenarnya memiliki sejarah perjalanan yang cukup singkat. Program ini pertama kali diperkenalkan dalam fase uji coba terbatas pada November 2025. Kala itu, Gojek mencoba mengimplementasikan sistem ini secara khusus pada layanan GoRide Hemat. Melihat antusiasme awal yang cukup baik, jangkauan program kemudian diperluas hingga mencakup seluruh wilayah Indonesia pada Februari 2026.

Namun, setelah berjalan secara nasional selama kurang lebih tiga bulan, manajemen Gojek melakukan kajian komprehensif. Hasilnya cukup mengejutkan; ditemukan bahwa model langganan tersebut masih memerlukan penyempurnaan yang signifikan untuk benar-benar bisa menyejahterakan mitra secara berkelanjutan. Ada ketidakseimbangan yang dirasakan driver ketika volume orderan sedang rendah, di mana biaya langganan tetap dirasa menjadi beban tambahan.

“Setelah berjalan tiga bulan, kami melakukan kajian mendalam dan menemukan bahwa skema langganan ini perlu keseimbangan yang lebih baik bagi kesejahteraan mitra pengemudi. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk menghentikan program langganan tersebut efektif dalam waktu dekat,” papar Hans menjelaskan alasan di balik strategi bisnis GoTo yang dinamis ini.

Dampak Nyata bagi Konsumen: Harga Sedikit Bergeser?

Pertanyaan besar yang muncul di benak masyarakat tentu berkaitan dengan harga. Dengan beralihnya GoRide Hemat ke sistem bagi hasil 8 persen, biaya operasional bagi pengemudi mungkin sedikit berkurang dalam hal beban langganan, namun perusahaan perlu melakukan kalibrasi tarif agar tetap menguntungkan bagi semua pihak. Hans Patuwo tidak menampik akan adanya penyesuaian harga di sisi konsumen.

Meski demikian, Hans memberikan jaminan bahwa penyesuaian tarif tersebut hanya akan menyasar layanan GoRide Hemat. Layanan GoRide reguler, yang selama ini menjadi tulang punggung transaksi Gojek, dipastikan tidak akan mengalami perubahan tarif akibat kebijakan ini. Gojek berjanji bahwa meskipun ada kenaikan, angkanya akan tetap dalam koridor yang terjangkau bagi kantong masyarakat luas.

“Dampak dari ini, khususnya hanya untuk layanan GoRide Hemat, akan ada penyesuaian harga konsumen secara sangat terbatas. Kami memastikan bahwa penyesuaian ini dilakukan secara terukur dan tetap mengutamakan keterjangkauan bagi masyarakat,” tambahnya. Ini menunjukkan betapa tipisnya batas antara menjaga loyalitas pelanggan dengan memberikan hak yang adil bagi para pelaku ekonomi digital di lapangan.

Menatap Masa Depan Kemitraan di Era Baru

Penghentian skema langganan ini memberikan sinyal kuat bahwa model bisnis gig economy di Indonesia terus berevolusi mencari bentuk idealnya. Gojek, sebagai pionir di sektor ini, tampaknya lebih memilih kembali ke sistem bagi hasil persentase yang dianggap lebih mencerminkan keadilan secara proporsional. Semakin banyak orderan yang diselesaikan driver, semakin besar penghasilan yang mereka bawa pulang, tanpa harus terbebani biaya langganan di awal.

Bagi para mitra driver, kebijakan baru ini diharapkan dapat memberikan kelegaan finansial, terutama bagi mereka yang tidak bisa bekerja secara penuh waktu atau memiliki jam kerja yang fleksibel. Dengan potongan tetap 8 persen, driver memiliki kontrol lebih besar atas pendapatan harian mereka tanpa rasa khawatir akan ‘hutang’ biaya langganan yang belum tertutup oleh jumlah orderan.

Sebagai kesimpulan, langkah strategis yang diambil GoTo melalui Gojek ini menunjukkan kedewasaan perusahaan dalam merespons dinamika pasar dan regulasi. Fokus pada kesejahteraan mitra bukan lagi sekadar jargon, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjaga stabilitas ekosistem transportasi online di Indonesia. Kini, mata publik akan tertuju pada bagaimana implementasi tarif baru GoRide Hemat akan diterima oleh pasar yang sangat sensitif terhadap perubahan harga.

Rizky Pratama

Rizky Pratama

Penulis bisnis & startup dengan pengalaman di dunia digital marketing dan venture.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *