Harga Emas Pegadaian Hari Ini 24 Mei 2026: Antam dan UBS Kompak Melemah, Saatnya Borong?

Rizky Pratama | InfoNanti
24 Mei 2026, 10:51 WIB
Harga Emas Pegadaian Hari Ini 24 Mei 2026: Antam dan UBS Kompak Melemah, Saatnya Borong?

InfoNanti — Dinamika pasar logam mulia di tanah air kembali menunjukkan tren koreksi yang cukup signifikan pada perdagangan akhir pekan ini. Berdasarkan pantauan terbaru pada Minggu, 24 Mei 2026, PT Pegadaian (Persero) resmi merilis daftar harga terbaru yang menunjukkan penurunan di seluruh lini produk unggulannya, mulai dari emas Antam, UBS, hingga merek internal mereka, Galeri24. Penurunan ini seolah melanjutkan ‘napas pendek’ harga emas yang sudah mulai terasa sejak sesi perdagangan Sabtu kemarin.

Bagi para investor yang terbiasa memantau pergerakan investasi emas, penurunan ini mungkin menjadi sinyal yang beragam. Di satu sisi, nilai portofolio jangka pendek mungkin sedikit tergerus, namun di sisi lain, koreksi harga sering kali dianggap sebagai peluang ‘buy on weakness’ bagi mereka yang ingin menambah koleksi logam mulia dengan harga yang lebih miring. InfoNanti mencatat bahwa pelemahan ini tidak lepas dari tekanan sentimen global yang tengah berkecamuk di pasar finansial internasional.

Baca Juga

Strategi Airlangga Hartarto Jaga Stabilitas Rupiah: Melawan Hegemoni Dolar dengan Diversifikasi Mata Uang Global

Strategi Airlangga Hartarto Jaga Stabilitas Rupiah: Melawan Hegemoni Dolar dengan Diversifikasi Mata Uang Global

Rincian Penurunan Harga Emas di Pegadaian

Mengacu pada data resmi yang dirilis melalui platform Sahabat Pegadaian, penurunan harga terjadi merata. Emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk atau yang lebih dikenal dengan emas Antam, kini dibanderol di angka Rp 2.871.000 per gram. Jika dibandingkan dengan posisi sebelumnya yang berada di level Rp 2.886.000 per gram, terdapat selisih penurunan yang cukup terasa bagi para pengepul emas batangan.

Kondisi serupa juga menimpa produk emas UBS yang dikeluarkan oleh PT Untung Bersama Sejahtera. Harga emas UBS hari ini melandai ke level Rp 2.815.000 per gram, turun dari posisi kemarin yang sempat menyentuh Rp 2.826.000 per gram. Sementara itu, Galeri24 yang merupakan anak perusahaan Pegadaian, juga ikut menyesuaikan harga menjadi Rp 2.767.000 per gram, terpangkas dari harga sebelumnya Rp 2.779.000 per gram.

Baca Juga

Prestasi Gemilang: Deretan Bank Indonesia yang Masuk Daftar World’s Best Banks 2026 Versi Forbes

Prestasi Gemilang: Deretan Bank Indonesia yang Masuk Daftar World’s Best Banks 2026 Versi Forbes

Daftar Lengkap Harga Emas Hari Ini: Antam, UBS, dan Galeri24

Untuk memberikan gambaran yang lebih detail bagi Anda yang berencana melakukan transaksi hari ini, berikut adalah rincian harga emas di Pegadaian per 24 Mei 2026 berdasarkan data yang dihimpun oleh tim redaksi InfoNanti:

1. Harga Emas Antam (Logam Mulia)

  • 0,5 gram: Rp 1.488.000
  • 1 gram: Rp 2.871.000
  • 2 gram: Rp 5.679.000
  • 3 gram: Rp 8.492.000
  • 5 gram: Rp 14.118.000
  • 10 gram: Rp 28.178.000
  • 25 gram: Rp 70.315.000
  • 50 gram: Rp 140.548.000
  • 100 gram: Rp 281.015.000

2. Harga Emas UBS

  • 0,5 gram: Rp 1.522.000
  • 1 gram: Rp 2.815.000
  • 2 gram: Rp 5.586.000
  • 5 gram: Rp 13.803.000
  • 10 gram: Rp 27.461.000
  • 25 gram: Rp 68.519.000
  • 50 gram: Rp 136.755.000
  • 100 gram: Rp 273.402.000
  • 250 gram: Rp 683.302.000
  • 500 gram: Rp 1.365.001.000

3. Harga Emas Galeri24

  • 0,5 gram: Rp 1.451.000
  • 1 gram: Rp 2.767.000
  • 2 gram: Rp 5.466.000
  • 5 gram: Rp 13.564.000
  • 10 gram: Rp 27.057.000
  • 25 gram: Rp 67.278.000
  • 50 gram: Rp 134.451.000
  • 100 gram: Rp 268.768.000
  • 250 gram: Rp 670.270.000
  • 500 gram: Rp 1.340.538.000
  • 1.000 gram: Rp 2.681.075.000

Analisis Global: Mengapa Harga Emas Terus Tertekan?

Penurunan harga emas di level domestik sebenarnya hanyalah pantulan dari apa yang terjadi di pasar komoditas global. InfoNanti merangkum bahwa harga emas di pasar spot dunia baru saja mencatat penurunan mingguan kedua berturut-turut. Pada penutupan perdagangan Jumat lalu, emas dunia terperosok sekitar 0,9% menuju level USD 4.502,59 per ons. Apa yang sebenarnya memicu aksi jual massal ini?

Baca Juga

Inisiatif Baru Pemerintah: Tekan Lonjakan Harga Tiket Pesawat Melalui Insentif Pajak PMK 24/2026

Inisiatif Baru Pemerintah: Tekan Lonjakan Harga Tiket Pesawat Melalui Insentif Pajak PMK 24/2026

Faktor utama yang menjadi momok bagi logam mulia adalah keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS). Ketika indeks dolar menguat, emas yang dihargai dalam mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Akibatnya, permintaan menurun dan harga pun terkoreksi. Selain itu, kenaikan harga minyak mentah dunia kembali memicu kekhawatiran akan lonjakan inflasi.

Kekhawatiran inflasi ini bak pisau bermata dua. Di satu sisi, emas adalah aset pelindung nilai (hedging) terhadap inflasi. Namun di sisi lain, inflasi yang tinggi sering kali direspons oleh bank sentral AS, The Fed, dengan mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga. Emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding), sehingga ketika suku bunga tinggi, daya tarik emas kalah dibandingkan dengan obligasi atau deposito yang menawarkan bunga pasti.

Baca Juga

Wacana Pembentukan Badan Ekspor Nasional dan Gejolak Rupiah: Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Angkat Bicara

Wacana Pembentukan Badan Ekspor Nasional dan Gejolak Rupiah: Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Angkat Bicara

Sentimen Geopolitik dan Jalur Pasokan Energi

Rhona O’Connell, analis senior dari StoneX, memberikan pandangan menarik mengenai situasi ini. Menurutnya, perhatian pelaku pasar saat ini sangat terfokus pada ketegangan di Selat Hormuz. Jalur ini merupakan urat nadi pengiriman minyak dunia. Gangguan sekecil apa pun di wilayah ini dapat memicu rantai pasokan global yang kacau dan mendorong harga energi melambung tinggi.

“Pasar saat ini bersikap sangat waspada, seperti kelinci yang terpaku pada sorotan lampu kendaraan. Fokus mereka adalah potensi gangguan di Hormuz yang bisa memicu inflasi global lebih lanjut. Hal ini secara otomatis meningkatkan ekspektasi bahwa bank sentral akan tetap agresif terkait kebijakan suku bunga,” jelas O’Connell dalam keterangannya yang dikutip oleh InfoNanti.

Selain masalah energi, pasar juga skeptis terhadap prospek perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. Belum adanya titik terang dalam negosiasi diplomatik membuat premi risiko di pasar minyak tetap tinggi. Hal ini semakin memperkuat posisi dolar AS sebagai aset aman (safe haven) utama, yang secara tidak langsung menekan posisi emas ke titik yang lebih rendah.

Strategi Investasi di Tengah Koreksi

Bagi Anda yang mengikuti perkembangan ekonomi melalui InfoNanti, penting untuk memahami bahwa investasi emas adalah permainan jangka panjang. Meskipun saat ini harga tengah mengalami tren penurunan, emas tetap dianggap sebagai instrumen paling stabil dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global atau sistemik.

Koreksi harga yang terjadi di Pegadaian hari ini bisa menjadi momen yang tepat untuk melakukan strategi dollar cost averaging, yaitu membeli secara bertahap tanpa terlalu memusingkan fluktuasi harian. Dengan penurunan yang mencapai belasan ribu rupiah per gram dibandingkan hari-hari sebelumnya, beban biaya pembelian menjadi sedikit lebih ringan.

Namun, perlu diingat bahwa pergerakan harga emas di masa depan masih akan sangat bergantung pada rilis data ekonomi AS serta perkembangan politik di Timur Tengah. Oleh karena itu, tetaplah waspada dan pastikan Anda menggunakan dana dingin dalam melakukan pembelian emas batangan. InfoNanti akan terus memberikan pembaruan terkini seputar harga emas dan analisis pasar agar Anda tidak ketinggalan momentum investasi terbaik.

Rizky Pratama

Rizky Pratama

Penulis bisnis & startup dengan pengalaman di dunia digital marketing dan venture.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *