Krisis Harga Gas Mengancam 55 Ribu Buruh: Aksi Cepat Sufmi Dasco Telepon Bos Pertamina di Depan Ribuan Pekerja

Rizky Pratama | InfoNanti
23 Jun 2026, 18:54 WIB
Krisis Harga Gas Mengancam 55 Ribu Buruh: Aksi Cepat Sufmi Dasco Telepon Bos Pertamina di Depan Ribuan Pekerja

InfoNanti — Di tengah riuh rendah gempita Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) yang digelar di Jakarta pada Selasa (23/6/2026), sebuah drama nyata tersaji di atas panggung kehormatan. Bukan sekadar pidato normatif atau janji manis politik, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad melakukan sebuah langkah taktis yang mengejutkan banyak pihak: melakukan intervensi langsung melalui sambungan telepon kepada Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri.

Langkah ini diambil bukan tanpa alasan yang mendesak. Bayang-bayang kelam PHK massal kini tengah menghantui sektor industri nasional, khususnya di sektor manufaktur keramik. Tingginya harga gas industri yang melambung jauh dari batas kewajaran dituding menjadi biang kerok utama yang mencekik kelangsungan hidup perusahaan dan puluhan ribu nasib kepala keluarga yang menggantungkan hidup di sana.

Baca Juga

Gairah Ekonomi Nasional: Kredit Perbankan Tembus Rp 8.659 Triliun, Menanti Realisasi Janji Bunga Rendah

Gairah Ekonomi Nasional: Kredit Perbankan Tembus Rp 8.659 Triliun, Menanti Realisasi Janji Bunga Rendah

Momen Spontanitas yang Memecah Ketegangan

Kejadian tersebut bermula saat Sufmi Dasco Ahmad bersiap memberikan sambutan di hadapan ribuan peserta Rakernas. Namun, suasana berubah menjadi serius ketika para pimpinan buruh menyampaikan fakta lapangan yang memprihatinkan mengenai kondisi industri saat ini. Merespons urgensi tersebut, Dasco memutuskan untuk menghentikan sejenak teks pidato yang telah ia siapkan.

“Halo, Pak Dirut Pertamina. Ini saya lagi di Rakernas KSPI. Saya tadi ditanyakan mengenai masalah gas industri. Jadi ini saya tadi sudah rancang pidato, cuma buyar semua nih gara-gara soal gas. Jadi pertama-tama sebelum pidato saya mau tanya dulu bagaimana nih soal gas industri, apakah ada jalan keluar?” tanya Dasco dengan nada tegas, sembari mengarahkan speaker telepon genggamnya ke arah mikrofon agar seluruh peserta rapat dapat mendengar percakapan tersebut secara transparan.

Baca Juga

Goncangan Rupiah Tembus Rp 17.500: Menkeu Purbaya Dorong Intervensi Pasar Obligasi dan Mandat Penuh Bank Indonesia

Goncangan Rupiah Tembus Rp 17.500: Menkeu Purbaya Dorong Intervensi Pasar Obligasi dan Mandat Penuh Bank Indonesia

Aksi ini pun langsung disambut dengan tepuk tangan riuh dari para peserta. Bagi mereka, tindakan ini adalah bentuk nyata dari fungsi pengawasan legislatif yang menyentuh akar permasalahan nasib buruh secara langsung. Ketidakpastian ekonomi yang dipicu oleh biaya energi telah menempatkan sektor industri dalam posisi yang sangat rentan.

Ancaman Nyata di Sektor Keramik: 55 Ribu Pekerja di Ujung Tanduk

Persoalan harga gas industri ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan ancaman eksistensial bagi industri keramik di kawasan Bekasi, Jawa Barat. Berdasarkan data yang dihimpun oleh serikat pekerja, setidaknya ada sekitar 55.000 pekerja yang terancam kehilangan pekerjaan jika pemerintah dan penyedia energi tidak segera melakukan penyesuaian harga.

Baca Juga

Teka-teki Kursi Menteri Keuangan: Diplomasi Irit Bicara Chatib Basri dan Manuver Strategis Bank Indonesia

Teka-teki Kursi Menteri Keuangan: Diplomasi Irit Bicara Chatib Basri dan Manuver Strategis Bank Indonesia

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gani Nena Wea, mengungkapkan keprihatinannya yang mendalam. Ia menyebutkan bahwa beberapa raksasa industri keramik sudah mulai bertumbangan. Nama-nama besar seperti Granito dilaporkan telah menghentikan operasionalnya, sementara Millennium Keramik dan Mulia Keramik disebut-sebut akan segera menyusul dalam waktu dekat.

“Bang Dasco yang saya hormati, sekarang hari ini kita mengalami kesulitan yang sangat luar biasa. Dua pabrik anggota saya yang terbesar di Bekasi tutup, Bang. Ini bahaya sekali. Dapat dipastikan, minggu depan, maksimal 10 hari ke depan, 55 ribu orang ter-PHK hanya karena masalah gas industri,” ujar Andi Gani dengan nada penuh kekhawatiran.

Disparitas Harga Gas yang Tidak Masuk Akal

Inti dari permasalahan ini terletak pada selisih harga gas yang sangat mencolok. Pemerintah sebenarnya telah menetapkan kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) sebesar US$ 6 per MMBTU untuk sektor-sektor industri strategis. Namun, fakta di lapangan menunjukkan realita yang jauh berbeda. Para pelaku usaha melaporkan bahwa biaya produksi industri membengkak karena harga gas yang mereka terima mencapai angka US$ 23 per MMBTU.

Baca Juga

Ultimatum Transparansi: Danantara Beri Waktu 3 Bulan Bagi Eksportir Sawit dan Batu Bara Benahi Tata Kelola

Ultimatum Transparansi: Danantara Beri Waktu 3 Bulan Bagi Eksportir Sawit dan Batu Bara Benahi Tata Kelola

Selisih harga hampir empat kali lipat ini membuat produk keramik dalam negeri kehilangan daya saing di pasar global maupun domestik. Dengan struktur biaya yang sedemikian tinggi, perusahaan tidak lagi memiliki ruang untuk bermanuver, sehingga langkah pahit berupa penutupan pabrik dan pemutusan hubungan kerja menjadi opsi terakhir yang tak terhindarkan bagi para pengusaha.

“Ini adalah masalah mitigasi yang mendesak. Kita harus mencari jalan keluar dalam satu atau dua hari ini. Kita tidak bisa membiarkan ribuan orang kehilangan mata pencaharian hanya karena masalah distribusi dan harga energi yang tidak sinkron,” tambah Dasco dalam komunikasinya dengan bos Pertamina.

Respons Cepat Dirut Pertamina dan Komitmen PGN

Menanggapi desakan dari Wakil Ketua DPR RI tersebut, Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, menyatakan komitmennya untuk segera mengevaluasi situasi tersebut. Simon menegaskan bahwa pihaknya akan segera melakukan koordinasi intensif dengan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) sebagai subholding gas di bawah naungan Pertamina.

“Siap Pak Dasco, saya tentunya akan segera koordinasi dengan pihak PGN. Dan dari kita tentunya komitmen kita agar supaya kita akan lakukan penyesuaian, tentunya setelah mengikuti penyesuaian molekul dari LNG,” jawab Simon. Ia juga memastikan bahwa Pertamina akan berupaya maksimal untuk memberikan harga yang lebih kompetitif bagi para pelaku industri nasional demi menjaga stabilitas ekonomi domestik.

Pertamina menyadari bahwa stabilitas pasokan energi dengan harga terjangkau adalah kunci utama bagi keberlangsungan investasi manufaktur di Indonesia. Oleh karena itu, penyesuaian molekul LNG menjadi salah satu opsi teknis yang akan dikaji lebih dalam guna menurunkan beban biaya gas di tingkat pengguna akhir.

Langkah Strategis: Duduk Bersama Mencari Solusi

Sebagai tindak lanjut dari percakapan telepon tersebut, Sufmi Dasco Ahmad mengusulkan diadakannya pertemuan intensif antara pihak Pertamina, PGN, kementerian terkait, dan perwakilan serikat pekerja serta asosiasi industri. Pertemuan ini diharapkan mampu menelurkan solusi konkret dalam waktu singkat sebelum tenggat waktu 10 hari yang dikhawatirkan para buruh terlampaui.

Menurut pandangan banyak ahli ekonomi, krisis gas industri ini merupakan ujian bagi sinergitas antara kebijakan energi pemerintah dengan implementasi di lapangan. Jika tidak segera diatasi, efek domino dari tumbangnya industri keramik bisa merembet ke sektor lain, seperti logistik, konstruksi, hingga daya beli masyarakat di wilayah industri.

Para buruh kini hanya bisa menunggu dan berharap bahwa aksi nyata Dasco dalam menghubungi pucuk pimpinan Pertamina benar-benar membuahkan hasil. Kepastian harga gas bukan lagi sekadar urusan bisnis, melainkan urusan perut dan masa depan puluhan ribu keluarga yang kini berada di bibir jurang kemiskinan akibat ancaman pengangguran.

Kesimpulan: Harapan di Tengah Ketidakpastian

Aksi Sufmi Dasco Ahmad ini menjadi preseden penting bahwa suara dari akar rumput, jika disampaikan dengan cara yang tepat, mampu menggerakkan kebijakan di level tertinggi. Kini, bola panas berada di tangan Pertamina dan PGN untuk membuktikan komitmen mereka terhadap keberlangsungan industri dalam negeri.

Dunia usaha menunggu, para buruh berharap, dan masyarakat mengawasi. Akankah intervensi mendadak ini mampu menyelamatkan 55.000 jiwa dari ancaman PHK massal di Bekasi? Waktu akan menjawabnya dalam hitungan hari ke depan. Namun satu yang pasti, transparansi dan kemauan untuk duduk bersama adalah langkah awal yang paling krusial dalam menyelesaikan benang kusut energi nasional ini.

Sektor industri keramik adalah salah satu pilar manufaktur kita. Tanpa dukungan energi yang kompetitif, kita hanya akan menjadi penonton di rumah sendiri, menyaksikan produk impor membanjiri pasar sementara pabrik-pabrik lokal gulung tikar. Mari kita kawal bersama penyelesaian masalah ini demi masa depan industri Indonesia yang lebih kokoh.

Rizky Pratama

Rizky Pratama

Penulis bisnis & startup dengan pengalaman di dunia digital marketing dan venture.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *