Ekspansi Masif Visa di Ekosistem Stablecoin: Kini Dukung 9 Jaringan Blockchain dengan Volume Transaksi USD 7 Miliar
InfoNanti — Dunia keuangan global kini sedang berada di persimpangan jalan yang sangat krusial, di mana efisiensi teknologi digital mulai menyatu dengan sistem perbankan konvensional yang telah mapan selama puluhan tahun. Dalam langkah terbaru yang menggetarkan industri finansial, raksasa pembayaran global, Visa, secara resmi mengumumkan perluasan uji coba (pilot project) penyelesaian transaksi berbasis stablecoin ke sembilan jaringan blockchain yang berbeda. Langkah ini bukan sekadar eksperimen kecil, melainkan pernyataan tegas bahwa masa depan pembayaran dunia akan sangat bergantung pada infrastruktur teknologi blockchain yang tangguh dan lintas platform.
Pengumuman yang dirilis pada akhir April 2025 ini menandai tonggak sejarah baru dalam ambisi Visa untuk mendigitalisasi arus kas global. Dengan menambahkan lima jaringan blockchain baru, Visa kini telah menjalin integrasi yang lebih dalam dengan ekosistem kripto, melampaui apa yang pernah dibayangkan oleh para pelaku industri beberapa tahun lalu. Perluasan ini mencakup penambahan jaringan Arc, Base, Canton, Polygon, dan Tempo ke dalam daftar prestisius yang sebelumnya sudah dihuni oleh raksasa seperti Ethereum, Solana, Avalanche, dan Stellar.
Terobosan Hukum DeFi: Arbitrum DAO Kantongi Izin Pindahkan Ether USD 71 Juta di Tengah Bayang-Bayang Peretas Korea Utara
Langkah Strategis Menuju Dunia Multi-Chain
Visa memahami betul bahwa masa depan aset digital tidak akan didominasi oleh satu jaringan tunggal. Fenomena ini sering disebut sebagai realitas “multi-chain,” di mana setiap blockchain memiliki keunggulan kompetitifnya masing-masing, mulai dari kecepatan transaksi hingga tingkat keamanan institusional. Rubail Birwadker, yang memegang kendali atas inisiatif ini di Visa, mengungkapkan bahwa keputusan untuk melakukan ekspansi ini didasarkan pada permintaan pasar yang sangat nyata.
“Mitra-mitra kami saat ini sedang membangun solusi di dunia yang multi-chain. Mereka mengharapkan pilihan yang tersedia di platform kami dapat mencerminkan realitas kebutuhan operasional mereka di lapangan,” ujar Birwadker. Dengan kata lain, Visa berusaha memosisikan dirinya sebagai jembatan universal yang memungkinkan aliran uang tetap lancar, terlepas dari jaringan blockchain mana yang digunakan oleh mitra bisnis mereka. Hal ini sangat relevan mengingat perkembangan mata uang kripto jenis stablecoin yang semakin populer sebagai alat bayar karena nilai tukarnya yang dipatok pada mata uang fiat seperti Dolar AS.
Strategi ‘Benteng AI’ Binance: Bagaimana Kecerdasan Buatan Menyelamatkan Rp 183 Triliun Dana Pengguna
Lonjakan Transaksi yang Fantastis: Mencapai USD 7 Miliar
Data terbaru yang dihimpun menunjukkan bahwa inisiatif stablecoin milik Visa bukan sekadar wacana di atas kertas. Program pilot ini telah mencatatkan nilai transaksi tahunan (annualized run rate) yang menembus angka USD 7 miliar. Angka yang sangat besar ini mencerminkan lonjakan pertumbuhan sebesar 50 persen jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Pertumbuhan eksponensial ini menjadi bukti valid bahwa adopsi stablecoin untuk keperluan transaksi dunia nyata bukan lagi sekadar tren sesaat, melainkan kebutuhan yang mendesak.
Lebih lanjut, Visa telah memperluas jangkauannya dengan memiliki lebih dari 130 program kartu yang terhubung langsung dengan ekosistem stablecoin di lebih dari 50 negara. Hal ini memungkinkan pengguna di berbagai belahan dunia untuk membelanjakan saldo kripto mereka di jutaan merchant yang menerima Visa, seolah-olah mereka menggunakan uang tunai biasa. Integrasi ini secara perlahan namun pasti mulai mengaburkan batas antara sistem pembayaran digital modern dan perbankan tradisional.
Skandal Penipuan Kripto Global: Warga AS Rugi Rp 193,9 Triliun, FBI Ungkap Modus Licin Sindikat Asia
Mengenal Karakteristik Sembilan Blockchain Pendukung
Penambahan lima jaringan baru ini menunjukkan ketelitian Visa dalam memilih infrastruktur. Di barisan terdepan, kita melihat kehadiran Base dan Polygon. Base, yang merupakan jaringan Layer-2 besutan Coinbase, menawarkan efisiensi tinggi dan biaya transaksi yang jauh lebih murah dibandingkan jaringan utama. Sementara itu, Polygon telah lama dikenal sebagai solusi skalabilitas yang menjadi favorit banyak perusahaan besar untuk menjalankan aplikasi berbasis blockchain dengan kecepatan tinggi.
Namun, yang tak kalah menarik adalah masuknya jaringan seperti Canton, Arc, dan Tempo. Berbeda dengan blockchain publik pada umumnya, jaringan-jaringan ini lebih banyak difokuskan untuk melayani kebutuhan institusi keuangan besar dan pasar modal yang sangat terregulasi. Dengan mendukung jaringan-jaringan ini, Visa menunjukkan komitmennya untuk tidak hanya melayani pengguna ritel, tetapi juga memfasilitasi transaksi antar-lembaga keuangan yang memerlukan tingkat kepatuhan dan privasi yang lebih ketat.
Pasar Kripto Akhir Pekan: Bitcoin Melandai ke Rp 1,3 Miliar, Altcoin Utama Ikut Terkoreksi
Visi CEO Visa: Membangun Infrastruktur Masa Depan
CEO Visa, Ryan McInerney, memiliki visi yang sangat ambisius terkait peran perusahaan dalam ekosistem ini. Menurutnya, langkah ekspansi ke sembilan blockchain ini adalah bagian dari strategi jangka panjang untuk membangun infrastruktur stablecoin global yang inklusif. McInerney menegaskan bahwa Visa berperan sebagai penghubung kritis yang menerjemahkan kompleksitas teknologi blockchain menjadi kemudahan transaksi di dunia nyata yang bisa dinikmati oleh siapa saja.
“Kami tidak hanya mengikuti tren, kami membangun fondasi bagi cara uang akan berpindah di dekade mendatang,” ungkap McInerney dalam sebuah kesempatan. Strategi ini sangat penting mengingat kompetisi di ruang pembayaran digital semakin ketat, terutama dengan munculnya berbagai perusahaan teknologi finansial yang juga mulai melirik potensi blockchain untuk memangkas biaya operasional dan mempercepat waktu penyelesaian transaksi lintas negara (cross-border payments).
Tantangan Regulasi dan Sentimen Pasar
Meski menunjukkan kemajuan yang pesat, langkah Visa ini bukannya tanpa tantangan. Industri kripto secara keseluruhan masih menghadapi pengawasan ketat dari regulator di berbagai negara. Ketidakpastian hukum mengenai klasifikasi stablecoin dan bagaimana aset ini harus dikelola oleh institusi keuangan tetap menjadi ganjalan utama. Selain itu, sentimen pasar terhadap aset digital sering kali fluktuatif, yang dapat memengaruhi kepercayaan pengguna dalam jangka pendek.
Visa sendiri menyadari risiko ini dan menekankan bahwa program ini masih dalam tahap uji coba. Hingga saat ini, belum ada jadwal pasti kapan sistem ini akan diimplementasikan secara penuh di seluruh jaringan global mereka. Namun, peningkatan jumlah blockchain pendukung dari empat menjadi sembilan dalam waktu singkat memberikan sinyal kuat bahwa Visa sangat optimis terhadap arah perkembangan teknologi ini. Mereka memilih untuk terus berinovasi dan bersiap, sehingga ketika regulasi menjadi lebih jelas, infrastruktur mereka sudah siap untuk langsung melesat.
Kesimpulan: Menuju Normalisasi Stablecoin
Upaya Visa dalam menggenjot penggunaan stablecoin melalui sembilan jaringan blockchain adalah langkah berani yang dapat mengubah wajah industri pembayaran selamanya. Dengan nilai transaksi yang terus meroket dan dukungan infrastruktur yang semakin luas, stablecoin kini bergerak dari pinggiran teknologi menuju pusat ekosistem keuangan global. Bagi konsumen dan pelaku usaha, hal ini menjanjikan transaksi yang lebih cepat, lebih murah, dan lebih transparan di masa depan.
Seiring dengan terus berkembangnya teknologi ini, InfoNanti akan terus memantau bagaimana raksasa seperti Visa menavigasi tantangan dan peluang di dunia blockchain yang dinamis. Satu hal yang pasti, integrasi antara keuangan tradisional dan teknologi kripto kini bukan lagi sekadar mimpi, melainkan kenyataan yang sedang kita jalani saat ini. Keberhasilan Visa dalam mengelola nilai transaksi sebesar USD 7 miliar adalah bukti bahwa kepercayaan publik dan institusi terhadap stablecoin terus menguat, membuka jalan bagi inovasi finansial yang lebih besar di masa depan.