Terobosan Hukum DeFi: Arbitrum DAO Kantongi Izin Pindahkan Ether USD 71 Juta di Tengah Bayang-Bayang Peretas Korea Utara

Andi Saputra | InfoNanti
10 Mei 2026, 16:51 WIB
Terobosan Hukum DeFi: Arbitrum DAO Kantongi Izin Pindahkan Ether USD 71 Juta di Tengah Bayang-Bayang Peretas Korea Utara

InfoNanti — Dunia kripto kembali diguncang oleh drama hukum yang melibatkan persimpangan antara teknologi desentralisasi, keamanan nasional, dan hak-hak korban kejahatan internasional. Dalam sebuah keputusan yang dinilai sangat krusial bagi ekosistem decentralized finance (DeFi), pengadilan federal di Manhattan akhirnya memberikan lampu hijau kepada Arbitrum DAO untuk menggerakkan aset Ether (ETH) senilai USD 71 juta atau sekitar Rp 1,1 triliun yang sebelumnya sempat dibekukan.

Dana yang setara dengan 30.765 ETH ini menjadi pusat perhatian karena keterkaitannya dengan kasus peretasan besar yang diduga didalangi oleh kelompok siber asal Korea Utara. Keputusan hakim federal Margaret Garnett pada Jumat pekan lalu menandai babak baru dalam upaya pemulihan aset digital, di mana dana tersebut kini direncanakan untuk dialihkan ke protokol Aave sebagai bagian dari skema kompensasi dan stabilitas ekosistem pasca-eksploitasi.

Baca Juga

Kanada Berencana Blokir Total ATM Kripto: Akhir Perjalanan Pionir Bitcoin di Tengah Badai Penipuan

Kanada Berencana Blokir Total ATM Kripto: Akhir Perjalanan Pionir Bitcoin di Tengah Badai Penipuan

Keputusan Bersejarah Hakim Margaret Garnett di Manhattan

Langkah hukum ini diambil setelah perdebatan panjang mengenai status legal aset digital yang terseret dalam tindak kriminal. Hakim Margaret Garnett secara resmi mengubah status pembekuan aset tersebut, memberikan ruang bagi komunitas Arbitrum DAO untuk melanjutkan proses tata kelola on-chain. Dengan izin ini, Arbitrum dapat secara sah mengirimkan dana ke dompet yang dikelola oleh Aave LLC tanpa khawatir dianggap melanggar perintah pengadilan sebelumnya.

Namun, perlu dicatat bahwa keputusan ini tidak berarti masalah hukum telah selesai sepenuhnya. Pengadilan tetap memberikan catatan khusus mengenai klaim dari pihak ketiga. Hakim memastikan bahwa meskipun transfer dana diperbolehkan untuk kepentingan pemulihan ekosistem, status kepemilikan akhir atas aset tersebut masih bisa diperdebatkan di masa depan, terutama mengingat adanya tuntutan dari para korban terorisme global.

Baca Juga

Pasar Kripto Memerah: Bitcoin Tergelincir ke Level USD 77.000, Ethereum Pimpin Koreksi Massal di Tengah Aksi Ambil Untung

Pasar Kripto Memerah: Bitcoin Tergelincir ke Level USD 77.000, Ethereum Pimpin Koreksi Massal di Tengah Aksi Ambil Untung

Misi Penyelamatan Likuiditas: Peran Vital Aave dan Kelp DAO

Rencana pemindahan dana ini bukan tanpa alasan yang mendesak. Industri teknologi blockchain saat ini tengah berupaya memperbaiki dampak dari eksploitasi rsETH yang terjadi pada bulan lalu. Serangan tersebut meninggalkan lubang likuiditas yang sangat besar pada protokol Kelp DAO, sebuah platform liquid restaking yang populer.

Dalam serangan tersebut, terdapat anomali di mana sebanyak 116.500 rsETH diterbitkan di jaringan Ethereum tanpa melalui proses pembakaran (burning) token yang semestinya di sisi sumber. Hal ini mengakibatkan ketidakseimbangan fatal pada kontrak adapter yang hanya menyimpan sekitar 40.373 rsETH, padahal dukungan aset yang seharusnya ada mencapai lebih dari 152.000 rsETH. Defisit sebesar 76.127 rsETH ini diperkirakan bernilai sekitar USD 174,5 juta.

Baca Juga

Masa Depan Regulasi Kripto AS di Ujung Tanduk: Pertarungan Stablecoin dan Ancaman Bagi Perbankan Tradisional

Masa Depan Regulasi Kripto AS di Ujung Tanduk: Pertarungan Stablecoin dan Ancaman Bagi Perbankan Tradisional

Kehadiran 30.765 ETH dari Arbitrum DAO ini diharapkan menjadi suntikan tenaga baru untuk memperkuat kembali cadangan rsETH. Dengan pulihnya cadangan ini, kepercayaan investor terhadap sektor DeFi diharapkan bisa kembali stabil, mengingat besarnya risiko sistemik jika sebuah protokol besar mengalami kegagalan likuiditas secara permanen.

Polemik Jejak Korea Utara dan Tuduhan Pencucian Uang

Salah satu poin paling kontroversial dalam kasus ini adalah keterlibatan firma hukum Gerstein Harrow LLP. Firma ini mewakili keluarga korban terorisme yang menuntut kompensasi hingga USD 877 juta dari pemerintah Korea Utara. Mereka mengklaim bahwa dana yang diretas pada 18 April lalu adalah milik klien mereka karena diduga kuat dicuri oleh peretas yang terafiliasi dengan rezim Pyongyang.

Baca Juga

Morgan Stanley Perkuat Fondasi Ekonomi Digital Melalui Portofolio Cadangan Stablecoin: Revolusi Infrastruktur Kripto Global

Morgan Stanley Perkuat Fondasi Ekonomi Digital Melalui Portofolio Cadangan Stablecoin: Revolusi Infrastruktur Kripto Global

Merespons tuduhan tersebut, pihak Aave bersikap tegas. Mereka menolak klaim bahwa pelaku pencurian secara otomatis memiliki hak hukum atas aset tersebut yang kemudian bisa disita oleh pihak lain. Aave juga mengkritik dasar tuduhan keterlibatan Korea Utara yang dianggap lebih banyak bersumber dari spekulasi di media sosial dan komunitas internet daripada bukti forensik yang tak terbantahkan.

Aave memperingatkan bahwa jika pengadilan membiarkan aset terus dibekukan berdasarkan spekulasi, hal ini akan menciptakan regulasi kripto yang buruk bagi industri. Ketidakpastian hukum setelah insiden peretasan justru dapat mempersulit proses pemulihan dana bagi korban yang sebenarnya dan membuka celah bagi pelaku kejahatan siber untuk memanipulasi sistem hukum demi kepentingan mereka sendiri.

Mekanisme Tata Kelola DAO: Antara Snapshot dan On-chain

Meskipun lampu hijau dari pengadilan telah didapatkan, proses pemindahan dana dalam dunia desentralisasi tidak terjadi dalam semalam. Komunitas Arbitrum sebelumnya telah menunjukkan dukungan mereka melalui pemungutan suara awal di platform Snapshot. Namun, suara di Snapshot hanyalah bersifat off-chain atau sinyal awal dari keinginan komunitas.

Langkah selanjutnya yang menentukan adalah voting on-chain. Ini adalah mekanisme di mana pemegang token tata kelola benar-benar mengeksekusi kode pintar (smart contract) untuk memindahkan dana tersebut. Proses ini bersifat final, transparan, dan tidak dapat dibatalkan, mencerminkan prinsip utama dari ekonomi digital yang demokratis. Jika voting ini berhasil, maka dana akan segera mengalir ke dompet pemulihan yang telah disepakati.

Menakar Masa Depan Keamanan DeFi

Kasus ini menambah daftar panjang perselisihan antara protokol DeFi dan sistem hukum tradisional. Sebelumnya, firma Gerstein Harrow juga pernah menggugat Railgun DAO dengan tuduhan serupa, yaitu memfasilitasi pencucian uang hasil peretasan bursa kripto Bybit senilai USD 1,5 miliar. Hal ini menunjukkan tren di mana penegak hukum dan firma hukum mulai menyasar entitas desentralisasi (DAO) sebagai subjek hukum yang bertanggung jawab.

Bagi para pelaku industri, kasus Arbitrum dan Aave ini menjadi pengingat penting akan perlunya sistem keamanan digital yang lebih berlapis. Selain itu, kolaborasi antara pengembang protokol dan regulator hukum menjadi krusial agar inovasi di ruang finansial terdesentralisasi tetap bisa tumbuh tanpa harus terjerat dalam birokrasi yang menghambat pemulihan hak-hak pengguna.

Dengan bergulirnya proses ini, mata dunia kini tertuju pada bagaimana Aave dan Arbitrum menyelesaikan transfer aset ini dan apakah dana tersebut benar-benar mampu menambal kerugian yang dialami oleh para pengguna setia mereka di ekosistem DeFi yang kian kompleks.

Andi Saputra

Andi Saputra

Analis crypto dan blockchain enthusiast sejak 2017.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *