Strategi Besar Danantara: Mengubah Wajah Eks Hotel Sultan Menjadi Ikon Pariwisata Modern di Bawah Kendali InJourney

Rizky Pratama | InfoNanti
23 Jun 2026, 02:52 WIB
Strategi Besar Danantara: Mengubah Wajah Eks Hotel Sultan Menjadi Ikon Pariwisata Modern di Bawah Kendali InJourney

InfoNanti — Wajah kawasan Gelora Bung Karno (GBK) Senayan dipastikan akan berubah drastis dalam beberapa waktu ke depan. Setelah melalui proses hukum dan eksekusi yang panjang, lahan eks Hotel Sultan kini memasuki babak baru di bawah payung besar Danantara. Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani, memberikan sinyal kuat mengenai siapa yang akan menakhodai pengelolaan kawasan premium tersebut di masa depan.

Dalam sebuah pernyataan terbaru di Kompleks Istana Kepresidenan, Rosan mengungkapkan bahwa PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau yang lebih dikenal dengan InJourney, menjadi kandidat terkuat untuk mengelola lahan strategis tersebut. Langkah ini dianggap sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk melakukan sinkronisasi aset negara agar memberikan nilai tambah yang lebih signifikan bagi sektor pariwisata nasional.

Baca Juga

Strategi Menkeu Purbaya Jaga Stabilitas Rupiah: Mengapa Fundamental Ekonomi Indonesia Diklaim Lebih Tangguh dari Negara Tetangga?

Strategi Menkeu Purbaya Jaga Stabilitas Rupiah: Mengapa Fundamental Ekonomi Indonesia Diklaim Lebih Tangguh dari Negara Tetangga?

Estafet Pengelolaan: Dari Sejarah Panjang Menuju Era InJourney

Rosan Roeslani menekankan bahwa InJourney memiliki rekam jejak yang solid dalam mengelola kawasan pariwisata berskala besar. Sebagai holding BUMN spesialis pariwisata dan pendukung, InJourney dinilai memiliki kompetensi untuk menyulap kawasan Senayan menjadi lebih dari sekadar area komersial biasa. Hal ini sejalan dengan ambisi pemerintah untuk menata ulang kawasan jantung Jakarta tersebut agar lebih terintegrasi.

“Kita memiliki InJourney, dan kita juga memiliki brand perhotelan Meru yang kualitas pengelolaannya sudah sangat teruji dan sangat baik. Jika seluruh proses administratif di Kementerian Sekretariat Negara (Mensesneg) telah tuntas, kemungkinan besar pengelolaan akan diserahkan kepada InJourney melalui unit usahanya seperti Meru,” ujar Rosan dengan nada optimis.

Baca Juga

Revolusi Perbankan Digital: Superbank dan KakaoBank Luncurkan Kartu Untung, Tabungan Gamifikasi Pertama di Indonesia

Revolusi Perbankan Digital: Superbank dan KakaoBank Luncurkan Kartu Untung, Tabungan Gamifikasi Pertama di Indonesia

Pemanfaatan brand “Meru” bukan tanpa alasan. Hotel The Meru yang sudah beroperasi di beberapa titik destinasi super prioritas telah membuktikan standar layanan kelas atas yang mampu bersaing dengan brand hotel internasional. Dengan membawa standar tersebut ke kawasan eks Hotel Sultan, pemerintah berharap dapat menghadirkan nuansa kemewahan yang tetap membawa identitas asli Indonesia.

Rencana Besar: Perobohan Bangunan dan Lahirnya Ikon Baru Nasional

Salah satu poin krusial yang diungkapkan oleh Rosan adalah rencana untuk merobohkan bangunan lama Hotel Sultan. Meskipun memiliki nilai sejarah sebagai salah satu hotel ikonik di Jakarta, struktur bangunan yang ada saat ini dianggap perlu diperbarui secara total guna menyesuaikan dengan visi besar penataan kawasan GBK.

Baca Juga

Kilau Emas Kembali Mempesona: Harapan Damai di Iran Jadi Angin Segar Bagi Investor Global

Kilau Emas Kembali Mempesona: Harapan Damai di Iran Jadi Angin Segar Bagi Investor Global

Menurut Rosan, gedung yang ada saat ini nantinya akan digantikan oleh sebuah kawasan baru yang lebih modern. “Meskipun saya belum bisa merinci secara detail untuk saat ini, rencana besarnya adalah menjadikan area tersebut sebagai kawasan terpadu. Pada akhirnya, gedung lama akan dirobohkan,” ungkap Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM tersebut.

Presiden pun telah memberikan arahan khusus agar lahan tersebut tidak hanya dibangun hotel biasa, melainkan dijadikan sebagai sebuah ikon baru bagi Indonesia. Nantinya, kawasan tersebut diproyeksikan akan memiliki lebih dari satu hotel dengan konsep yang berbeda-beda, namun tetap berada dalam satu kesatuan desain yang artistik dan fungsional. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat daya tarik Jakarta dalam peta investasi asing dan pariwisata global.

Baca Juga

Profil Budi Setyawan Wijaya: Sosok Visioner di Balik Kemudi Baru PT Pelni (Persero)

Profil Budi Setyawan Wijaya: Sosok Visioner di Balik Kemudi Baru PT Pelni (Persero)

Detail Logistik: Pemindahan Aset dan Tenggat Waktu Enam Bulan

Di balik rencana megah tersebut, proses transisi di lapangan masih terus berjalan. PT Indobuildco, selaku pengelola lama Hotel Sultan, saat ini tengah disibukkan dengan urusan pengosongan aset. Pemerintah telah memberikan kelonggaran waktu selama enam bulan bagi pihak pengelola lama untuk memindahkan seluruh barang-barang mereka ke lokasi penyimpanan yang telah ditentukan.

Koordinator Bagian Aset, Afrizal, menjelaskan bahwa perhitungan tenggat waktu tersebut dimulai sejak hari eksekusi dilakukan. “Kami memberikan waktu enam bulan bagi mereka untuk mengambil aset-aset yang disimpan di gudang. Proses ini dilakukan dengan pendampingan ketat untuk memastikan tidak ada barang yang tertukar atau rusak selama proses pemindahan,” jelasnya kepada awak media.

Saat ini, tim verifikator tengah bekerja ekstra keras untuk melakukan skrining dan pendataan mendetail terhadap ribuan barang yang ada di dalam gedung. Mulai dari furnitur hingga peralatan dapur hotel, semuanya diinventarisir satu per satu sebelum diangkut ke gudang penyimpanan di wilayah Cikarang, Bekasi.

Dua Lokasi Gudang Penyimpanan di Bekasi

Mengingat volume barang yang sangat besar, pihak Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) dan Pusat Pengelolaan Komplek Gelora Bung Karno (PPKGBK) telah menyiapkan dua lokasi gudang penyimpanan strategis di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Hal ini dilakukan agar proses pengelolaan aset negara tetap tertata rapi dan tidak mengganggu aktivitas pembangunan di Senayan.

  1. Gudang Pertama: Terletak di Komplek Pergudangan Cikarang G-2C, Desa Pasir Ranji, Kecamatan Cikarang Pusat.
  2. Gudang Kedua: Berlokasi di Kawasan Industri MM2100, Jalan Selayar 2, Desa Cikedokan, Kecamatan Cikarang Barat.

Kharis Sucipto, selaku kuasa hukum Mensesneg dan PPKGBK, menyatakan bahwa proses pengemasan (packing) dan pelabelan barang adalah tahap yang paling memakan waktu. Tim logistik memerlukan ketelitian tinggi agar aset-aset tersebut tetap dalam kondisi baik selama masa penyimpanan sementara. Targetnya, seluruh proses pengosongan gedung akan rampung dalam waktu satu bulan ke depan.

Menatap Masa Depan Pariwisata Urban Jakarta

Langkah Danantara yang menggandeng InJourney dalam proyek eks Hotel Sultan ini dipandang sebagai manuver strategis dalam mengonsolidasi kekuatan ekonomi negara. Dengan luas lahan yang sangat signifikan di pusat kota, area ini memiliki potensi ekonomi yang luar biasa besar jika dikelola dengan visi yang tepat.

Bagi masyarakat Jakarta dan pelaku industri pariwisata, perubahan ini dinantikan sebagai bentuk penyegaran. Kawasan Senayan yang selama ini menjadi paru-paru kota sekaligus pusat olahraga, kini akan diperkuat dengan fasilitas akomodasi dan pariwisata kelas dunia yang dikelola secara profesional oleh BUMN. Kehadiran ikon baru ini diharapkan tidak hanya menjadi kebanggaan secara estetika, tetapi juga mampu menyerap tenaga kerja dan menggerakkan roda ekonomi kreatif di sekitar kawasan.

Dengan berakhirnya era Hotel Sultan yang lama, Indonesia kini bersiap menyambut kehadiran fasilitas baru yang lebih representatif bagi negara di kancah internasional. Publik kini menunggu bagaimana InJourney akan mengeksekusi visi besar ini menjadi kenyataan yang membanggakan.

Rizky Pratama

Rizky Pratama

Penulis bisnis & startup dengan pengalaman di dunia digital marketing dan venture.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *