Revolusi Telegram: Pavel Durov Bangkitkan Kembali Token ‘Gram’, Harga TON Meroket Signifikan

Andi Saputra | InfoNanti
02 Jun 2026, 16:51 WIB
Revolusi Telegram: Pavel Durov Bangkitkan Kembali Token 'Gram', Harga TON Meroket Signifikan

InfoNanti — Dunia aset digital kembali diguncang oleh manuver tak terduga dari sang nakhoda Telegram, Pavel Durov. Setelah bertahun-tahun menempuh jalan berliku akibat tekanan regulasi yang ketat, Telegram secara resmi mengambil alih kendali penuh atas The Open Network (TON). Namun, yang paling mencuri perhatian jagat kripto bukanlah sekadar pengambilalihan tersebut, melainkan keputusan berani untuk menghidupkan kembali identitas lama yang sempat terkubur: token Toncoin (TON) akan segera berganti nama menjadi Gram.

Langkah strategis ini bukan sekadar pergantian merek biasa. Ini adalah sebuah pernyataan kembalinya visi awal Telegram ke panggung utama blockchain global. Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh tim redaksi InfoNanti, pengumuman yang disampaikan langsung oleh Pavel Durov pada awal Juni 2026 ini memicu gelombang optimisme baru di kalangan investor dan pengembang Web3 di seluruh dunia.

Baca Juga

XRP di Ambang Ledakan Harga: Bedah Strategi ‘Final Call’ dan Potensi Cuan 100 Persen

XRP di Ambang Ledakan Harga: Bedah Strategi ‘Final Call’ dan Potensi Cuan 100 Persen

Kembali ke Akar: Mengapa Gram Begitu Berarti?

Pavel Durov, melalui saluran resminya, menegaskan bahwa perubahan nama ini adalah bentuk penghormatan terhadap konsep orisinal yang tertuang dalam white paper pertama mereka. “Gram adalah nama asli mata uang TON. Kami memutuskan untuk kembali ke akar kami dan memulai babak baru yang lebih ambisius. Perubahan ini akan membuka jalan bagi langkah-langkah besar selanjutnya,” tulis Durov dalam pesannya yang viral di komunitas kripto.

Bagi pengamat pasar, nama ‘Gram’ memiliki bobot historis yang mendalam. Nama ini mewakili ambisi awal Telegram untuk menciptakan sistem pembayaran global yang terintegrasi langsung dengan platform pesan instan mereka. Meskipun proyek tersebut sempat terhenti akibat sengketa hukum dengan otoritas Amerika Serikat beberapa tahun silam, semangat di balik Gram tampaknya tidak pernah benar-benar padam.

Baca Juga

Bitcoin di Persimpangan Kritis: Akankah Ethereum Terperosok ke Level Terendah Baru?

Bitcoin di Persimpangan Kritis: Akankah Ethereum Terperosok ke Level Terendah Baru?

Proses transisi dari Toncoin kembali ke Gram diperkirakan akan memakan waktu sekitar tiga minggu. Menariknya, meskipun nama tokennya berubah, jaringan utamanya akan tetap mempertahankan identitas merek ‘The Open Network’ atau TON. Durov menyebut inisiatif besar ini sebagai bagian dari kampanye “Make TON Great Again”.

Respons Pasar: Harga TON Melonjak Tajam

Pasar bereaksi dengan sangat antusias terhadap pengumuman ini. Tak lama setelah kabar tersebut tersiar, harga TON tercatat melonjak lebih dari 13 persen hanya dalam kurun waktu 24 jam. Saat ini, aset tersebut diperdagangkan di kisaran US$ 2,12 atau setara dengan Rp 37.913 (mengacu pada asumsi kurs Rp 17.880 per dolar AS). Bahkan, di awal perdagangan, harga sempat menyentuh level tertinggi harian di angka US$ 2,26 atau sekitar Rp 40.417.

Baca Juga

Guncangan Pasar Kripto: Bitcoin Terperosok di Bawah $73.000 Akibat Eksodus Masif ETF dan Tekanan Makro

Guncangan Pasar Kripto: Bitcoin Terperosok di Bawah $73.000 Akibat Eksodus Masif ETF dan Tekanan Makro

Jika ditarik dalam rentang waktu yang lebih luas, performa TON memang tengah menunjukkan tren positif dengan kenaikan sekitar 58 persen dalam satu bulan terakhir. Meski demikian, para analis mengingatkan bahwa angka ini masih terpaut cukup jauh dari level tertinggi sepanjang masa (ATH) sebesar US$ 8,25 yang sempat dicapai pada tahun 2024. Kala itu, ekosistem Telegram tengah dilanda demam game kripto yang melambungkan nama-nama populer seperti Hamster Kombat dan Notcoin.

Transformasi Telegram Menjadi Kekuatan Utama Blockchain

Perubahan nama token hanyalah puncak gunung es dari strategi besar Telegram. Langkah yang jauh lebih krusial sebenarnya telah diumumkan sebelumnya, di mana Telegram secara resmi menggantikan posisi TON Foundation sebagai kekuatan pendorong utama di balik pengembangan jaringan. Dengan kata lain, Telegram kini memposisikan dirinya sebagai validator terbesar dalam jaringan tersebut.

Baca Juga

Update Harga Kripto Hari Ini: Dominasi Merah Menghantui Pasar, Bitcoin dan Ethereum Terkoreksi Tajam

Update Harga Kripto Hari Ini: Dominasi Merah Menghantui Pasar, Bitcoin dan Ethereum Terkoreksi Tajam

Beberapa pembaruan teknis signifikan juga telah diimplementasikan, di antaranya:

  • Pemangkasan Biaya Transaksi: Langkah ini diambil untuk menarik lebih banyak pengguna retail dan pengembang aplikasi mikro.
  • Peningkatan Kecepatan Blok: Jaringan kini mampu memproses transaksi jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya, meningkatkan efisiensi operasional secara keseluruhan.
  • Skalabilitas Tinggi: Dengan model konsensus Proof-of-Stake (PoS), jaringan ini dirancang untuk menangani beban kerja masif tanpa mengorbankan keamanan.

Langkah ini menandai pergeseran dari proyek yang dikelola komunitas secara independen kembali ke bawah sayap perusahaan raksasa yang memiliki ratusan juta pengguna aktif. Ini memberikan legitimasi dan sumber daya yang jauh lebih besar bagi masa depan ekosistem aset kripto berbasis Telegram.

Mengenal Lebih Dekat Sejarah dan Visi TON

Untuk memahami signifikansi perubahan ini, kita perlu menoleh sejenak ke belakang. Sejak tahun 2017, tim Telegram yang dipimpin oleh Dr. Nikolai Durov telah merancang basis kode untuk Telegram Open Network. Namun, perlawanan dari Securities and Exchange Commission (SEC) di Amerika Serikat memaksa Pavel Durov untuk menghentikan keterlibatan resmi perusahaan pada Mei 2020.

Selama periode jeda tersebut, teknologi ini tidak mati. Komunitas pengembang independen terus memeliharanya di bawah bendera TON Foundation. Berkat dedikasi komunitas inilah, teknologi open source tersebut tetap relevan hingga akhirnya Telegram merasa waktunya tepat untuk kembali mengambil alih kemudi.

Visi jangka panjang yang diusung oleh TON Foundation dan kini diteruskan oleh Telegram sangatlah ambisius. Mereka menargetkan untuk memberdayakan lebih dari 500 juta pengguna agar memiliki kendali penuh atas identitas digital, data, dan aset mereka sendiri pada tahun 2028. Fokus utamanya adalah membangun ekosistem Web3 yang intuitif dan mudah diakses langsung melalui aplikasi Telegram Messenger.

Analisis dan Pandangan Masa Depan

Kembalinya nama Gram dipandang sebagai simbol kedaulatan digital oleh banyak pengikut setia Durov. Di tengah ketidakpastian regulasi global, keberanian Telegram untuk secara terbuka mengintegrasikan blockchain ke dalam platform utamanya adalah langkah yang sangat berisiko namun berpotensi memberikan imbal hasil yang luar biasa. Jika integrasi ini berhasil, Telegram bukan lagi sekadar aplikasi perpesanan, melainkan sebuah super-app finansial yang terdesentralisasi.

Bagi Anda yang tertarik untuk melakukan investasi kripto, fluktuasi harga yang terjadi pasca pengumuman ini merupakan hal yang lumrah. Sentimen positif dari pergantian nama seringkali menjadi katalisator jangka pendek. Namun, fundamental jangka panjang akan sangat bergantung pada seberapa efektif Telegram dalam mengonversi basis penggunanya yang masif menjadi pengguna aktif ekosistem Gram.

Redaksi InfoNanti mengingatkan bahwa setiap keputusan finansial di pasar kripto mengandung risiko yang tinggi. Sangat penting bagi setiap individu untuk melakukan analisis mendalam secara mandiri sebelum memutuskan untuk membeli atau menjual aset digital. Dinamika pasar sangat cepat berubah, dan apa yang terjadi pada Toncoin atau Gram hari ini hanyalah satu bagian dari narasi besar evolusi teknologi blockchain di masa depan.

Dengan kecepatan inovasi yang ditunjukkan oleh Pavel Durov dan timnya, menarik untuk melihat bagaimana wajah industri Web3 akan berubah dalam beberapa tahun ke depan. Apakah Gram akan benar-benar menjadi mata uang global yang selama ini diimpikan? Hanya waktu yang akan menjawabnya.

Andi Saputra

Andi Saputra

Analis crypto dan blockchain enthusiast sejak 2017.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *