Guncangan Pasar Kripto: Bitcoin Terperosok di Bawah $73.000 Akibat Eksodus Masif ETF dan Tekanan Makro

Andi Saputra | InfoNanti
28 Mei 2026, 16:51 WIB
Guncangan Pasar Kripto: Bitcoin Terperosok di Bawah $73.000 Akibat Eksodus Masif ETF dan Tekanan Makro

InfoNanti — Dinamika pasar kripto kembali menunjukkan sisi volatilitasnya yang tajam. Setelah sempat menikmati masa-masa keemasan di awal bulan, aset kripto paling berharga di dunia, Bitcoin (BTC), kini harus rela terlempar dari zona nyamannya. Pada perdagangan Kamis pagi, 28 Mei 2026, harga Bitcoin terpantau melorot hingga di bawah level psikologis US$ 73.000, atau setara dengan kisaran Rp 1,3 miliar jika mengacu pada kurs rupiah yang berada di posisi Rp 17.830 per dolar AS.

Penurunan ini bukanlah tanpa alasan. Berdasarkan investigasi dan pemantauan data pasar, tren koreksi ini dipicu oleh gelombang arus keluar (outflow) bersih dari dana yang diperdagangkan di bursa atau ETF Bitcoin spot yang mencatatkan rekor terbesar sejak akhir Januari 2026. Situasi ini memberikan sinyal bahwa para investor institusional mulai mengambil langkah defensif di tengah ketidakpastian ekonomi global yang kian memanas.

Baca Juga

Menguak Misteri Foto Profil Baru CTO Ripple: Nostalgia ‘Fuzzybear’ dan Spekulasi Harga XRP yang Menggila

Menguak Misteri Foto Profil Baru CTO Ripple: Nostalgia ‘Fuzzybear’ dan Spekulasi Harga XRP yang Menggila

Rapor Merah di Seluruh Lini Aset Kripto

Laporan dari The Block yang dirangkum oleh tim redaksi InfoNanti menunjukkan bahwa kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan sedang mengalami tekanan hebat. Bitcoin sendiri tercatat melemah sekitar 3,6% dalam kurun waktu 24 jam terakhir, menyentuh angka US$ 72.842 per keping. Namun, Bitcoin tidak sendirian dalam tren penurunan ini.

Aset kripto terbesar kedua, Ethereum (ETH), justru mengalami kontraksi yang lebih dalam dengan pelemahan sebesar 4,8%, membawanya ke level US$ 1.974. Fenomena ini juga merembet ke jajaran altcoin lainnya; XRP harus rela terpangkas 3,5%, sementara Solana (SOL) mengekor dengan penurunan 3,6%. Memasuki sore hari pukul 14.40 WIB, kondisi belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan signifikan, di mana Bitcoin masih tertahan di level US$ 73.283 dengan tren yang cenderung sideways ke bawah.

Baca Juga

Update Pasar Kripto 24 Mei 2026: Bitcoin Kokoh di Puncak, Hyperliquid Pimpin Reli Altcoin

Update Pasar Kripto 24 Mei 2026: Bitcoin Kokoh di Puncak, Hyperliquid Pimpin Reli Altcoin

Mengapa Pasar Tiba-Tiba Mendingin?

Nick Ruck, Direktur LVRG Research, memberikan pandangan mendalam kepada InfoNanti mengenai fenomena ini. Menurutnya, terjun bebasnya harga kripto saat ini merupakan refleksi dari pergerakan risk-aversion atau penghindaran risiko yang sangat kuat. Para pelaku pasar tampaknya lebih memilih untuk mengamankan keuntungan (profit taking) setelah Bitcoin menyentuh level tertinggi barunya beberapa waktu lalu.

“Sentimen ini diperparah oleh kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS dan kehati-hatian makro ekonomi yang dipicu oleh tensi geopolitik global. Investor cenderung beralih ke aset yang dianggap lebih aman ketika berita utama di media internasional didominasi oleh konflik dan ketidakpastian politik,” ujar Ruck menjelaskan situasi pasar yang kian kompleks.

Baca Juga

Inovasi Hijau dari Brasil: Mengubah Ampas Tebu Menjadi Energi Penambangan Bitcoin

Inovasi Hijau dari Brasil: Mengubah Ampas Tebu Menjadi Energi Penambangan Bitcoin

Rotasi Modal dan Likuidasi Besar-Besaran

Senada dengan Ruck, Dominick John dari Zeus Research menyoroti adanya pergeseran strategi dari para pemodal besar. Ia mengamati adanya rotasi modal yang masif dari sektor kripto kembali ke ekuitas keuangan tradisional atau TradFi. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun kripto mulai diterima secara institusional, ia tetap menjadi aset pertama yang dilepas saat badai makro datang.

Selain rotasi modal, faktor teknis seperti likuidasi derivatives dalam skala besar juga turut andil dalam mempercepat penurunan harga. Ketika level dukungan kunci (support level) untuk BTC dan ETH ditembus, sistem perdagangan otomatis seringkali memicu penjualan massal yang mendorong harga jatuh lebih dalam dalam waktu singkat. Ketidakpastian ini membuat pembeli potensial lebih memilih untuk menunggu di pinggir lapangan daripada melakukan aksi beli saat harga turun (buy the dip).

Baca Juga

Badai Merah Melanda Pasar Kripto 5 Juni 2026: Bitcoin Terkoreksi Tajam, Zcash Alami ‘Flash Crash’ Terparah

Badai Merah Melanda Pasar Kripto 5 Juni 2026: Bitcoin Terkoreksi Tajam, Zcash Alami ‘Flash Crash’ Terparah

Anomali Pola Perdagangan Bitcoin

Kepala Riset Presto Research, Peter Chung, mengungkapkan sebuah observasi menarik mengenai perilaku pasar belakangan ini. Bitcoin dinilai menunjukkan pola perdagangan yang cukup aneh jika dibandingkan dengan aset berisiko lainnya seperti indeks saham S&P 500 atau Nasdaq.

“Setelah sempat berfluktuasi manis di atas level US$ 80.000 pada awal bulan ini, performa Bitcoin justru melambat dalam dua minggu terakhir. Penurunan ini cukup kontras karena saat aset kripto melemah, indeks saham konvensional justru menunjukkan ketahanan yang lebih baik. Kelemahan ini tampaknya didorong secara spesifik oleh arus keluar ETF spot, dengan penarikan mingguan yang mencapai level yang mengkhawatirkan, serupa dengan apa yang terjadi pada periode penurunan Oktober 2025 dan Februari 2026,” tutur Chung.

Rekor Outflow IBIT Milik BlackRock

Salah satu sorotan utama dalam gejolak pasar kali ini adalah performa ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat. Berdasarkan data dari SoSoValue, tercatat arus keluar bersih mencapai US$ 733,4 juta atau setara Rp 13,07 triliun hanya dalam satu hari pada Rabu pekan ini. Ini merupakan rekor arus keluar harian terbesar dalam beberapa bulan terakhir.

Secara mengejutkan, IBIT milik raksasa manajemen aset BlackRock mencatatkan arus keluar bersih sebesar US$ 527,8 juta. Angka ini merupakan penarikan terbesar kedua bagi IBIT sejak pertama kali diluncurkan ke publik. Tidak ketinggalan, GBTC milik Grayscale juga mencatat arus keluar sebesar US$ 104,8 juta. Fenomena negatif ini juga dialami oleh penyedia ETF lain seperti Fidelity, Bitwise, hingga Ark 21Shares. Di tengah lautan warna merah tersebut, hanya MSBT milik Morgan Stanley yang mampu bertahan dengan arus masuk positif sebesar US$ 4,3 juta.

Misteri Transaksi Blok Besar

Analis ETF Senior dari Bloomberg, Eric Balchunas, memberikan konteks tambahan mengenai apa yang sebenarnya terjadi di balik layar. Pada hari Selasa sebelum penurunan tajam terjadi, terpantau ada transaksi blok (block trade) yang sangat besar melibatkan 29,2 juta saham IBIT dengan nilai fantastis mencapai US$ 1,3 miliar (sekitar Rp 23,18 triliun).

Transaksi raksasa ini sempat mendongkrak volume perdagangan ETF Bitcoin hingga mencapai US$ 4,4 miliar, level tertinggi sejak pertengahan April. Namun, transaksi semacam ini seringkali menjadi indikator adanya rebalancing portofolio besar oleh institusi, yang pada akhirnya memicu aksi jual di hari berikutnya ketika pasar mencoba menyerap volume tersebut.

Proyeksi Ke Depan dan Level Support Krusial

Kini, perhatian para analis dan investor tertuju pada level psikologis baru. Level US$ 70.000 atau sekitar Rp 1,24 miliar dianggap sebagai benteng pertahanan terakhir bagi Bitcoin untuk menjaga momentum bullish jangka panjangnya. Jika arus keluar dari investasi kripto institusional terus berlanjut, bukan tidak mungkin harga akan mencari lantai baru yang lebih rendah.

InfoNanti mengingatkan kepada seluruh pembaca bahwa investasi di pasar kripto membawa risiko yang sangat tinggi. Volatilitas yang ekstrem dapat menyebabkan keuntungan besar dalam sekejap, namun juga kerugian yang tidak sedikit. Keputusan untuk melakukan jual atau beli sepenuhnya merupakan tanggung jawab pribadi investor. Melakukan analisis teknis dan fundamental secara mandiri adalah kunci utama sebelum terjun ke dunia aset digital ini.

Dengan kondisi ekonomi makro yang masih labil dan tensi geopolitik yang belum mereda, pasar kripto kemungkinan besar masih akan berada dalam fase konsolidasi yang berat. Tetap pantau informasi terbaru untuk mendapatkan wawasan strategis dalam mengelola aset digital Anda.

Andi Saputra

Andi Saputra

Analis crypto dan blockchain enthusiast sejak 2017.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *