Strategi Perbankan Hadapi Likuiditas Ketat: Perbanas Tekankan Pentingnya Dana Murah Sebagai Benteng Pertahanan

Rizky Pratama | InfoNanti
27 Jun 2026, 02:52 WIB
Strategi Perbankan Hadapi Likuiditas Ketat: Perbanas Tekankan Pentingnya Dana Murah Sebagai Benteng Pertahanan

InfoNanti — Di tengah dinamika pasar keuangan global yang kian tidak menentu, industri perbankan nasional kini dihadapkan pada tantangan besar berupa pengetatan likuiditas. Menanggapi situasi ini, Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) mengeluarkan peringatan sekaligus panduan strategis bagi para pelaku industri untuk memperkuat fundamental mereka. Kunci utamanya terletak pada satu aspek vital: ketahanan dana murah atau yang dikenal dengan istilah Current Account Savings Account (CASA).

Mengapa Dana Murah Menjadi Penyelamat di Tengah Krisis?

Dalam lanskap ekonomi yang sedang bergejolak, kemampuan bank untuk menghimpun dana murah seperti tabungan dan giro menjadi faktor pembeda antara institusi yang sekadar bertahan dan institusi yang mampu tumbuh secara berkelanjutan. Ketua Umum Perbanas, Hery Gunardi, menegaskan bahwa memperkuat struktur dana murah bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah kebutuhan mendesak bagi stabilitas bisnis perbankan.

Baca Juga

Guncangan Pasar Global: Kesepakatan Bersejarah AS-Iran di Selat Hormuz hingga Strategi Investasi Indonesia-Jerman

Guncangan Pasar Global: Kesepakatan Bersejarah AS-Iran di Selat Hormuz hingga Strategi Investasi Indonesia-Jerman

Hery menjelaskan bahwa ketahanan likuiditas adalah hal yang bersifat non-negotiable atau tidak dapat ditawar. Ketika ruang likuiditas di pasar mulai menyempit, bank yang memiliki basis CASA yang kuat akan memiliki fleksibilitas lebih tinggi. Hal ini dikarenakan biaya dana (cost of fund) yang dihasilkan dari tabungan dan giro jauh lebih rendah dibandingkan dengan deposito berjangka atau instrumen pendanaan pasar uang lainnya.

Dengan biaya dana yang terjaga rendah, perbankan nasional memiliki bantalan yang cukup kuat untuk menghadapi risiko fluktuasi suku bunga tinggi yang sering kali dipicu oleh kebijakan moneter global maupun domestik. Kondisi ini secara langsung akan meningkatkan daya saing bank dalam menawarkan produk pinjaman yang lebih kompetitif kepada masyarakat tanpa mengorbankan margin keuntungan.

Baca Juga

Visi Besar Presiden Prabowo: Bangun Kota Mandiri Berbasis 100 Ribu Rusun demi Kesejahteraan Buruh

Visi Besar Presiden Prabowo: Bangun Kota Mandiri Berbasis 100 Ribu Rusun demi Kesejahteraan Buruh

Disiplin dalam Manajemen Aset dan Liabilitas (ALMA)

Selain fokus pada penghimpunan dana, Perbanas juga menyoroti pentingnya kedisiplinan dalam manajemen aset dan liabilitas atau Asset and Liability Management (ALMA). Dalam situasi likuiditas perbankan yang mengetat, pengelolaan arus kas harus dilakukan dengan presisi tinggi. Bank dituntut untuk mampu menyeimbangkan jangka waktu pendanaan dengan jangka waktu penyaluran kredit agar tidak terjadi mismatch yang membahayakan kesehatan finansial.

Menurut Hery, kemampuan sebuah lembaga keuangan dalam mengelola arus likuiditas adalah harga mati yang menentukan daya tahan mereka. Strategi ALMA yang efektif mencakup pemantauan rutin terhadap rasio-rasio likuiditas, proyeksi arus kas masa depan, serta penyiapan rencana kontinjensi jika terjadi penarikan dana secara mendadak atau kondisi pasar yang memburuk secara tiba-tiba.

Baca Juga

Sinergi Strategis BKI dan Mutuagung Lestari: Mengukuhkan Standar TICC dan Keselamatan Maritim Nasional

Sinergi Strategis BKI dan Mutuagung Lestari: Mengukuhkan Standar TICC dan Keselamatan Maritim Nasional

Transformasi Strategi Kredit: Dari Kuantitas Menuju Kualitas

Menghadapi tantangan ekonomi tahun 2026 dan seterusnya, Perbanas menilai bahwa perbankan nasional perlu melakukan perombakan besar dalam strategi penyaluran kredit. Ekspansi kredit tidak boleh lagi dilakukan secara agresif tanpa perhitungan yang matang. Sebaliknya, skema pembiayaan harus bergerak lebih selektif dan memprioritaskan sektor-sektor yang benar-benar produktif.

“Penyaluran kredit di tengah ketatnya likuiditas harus dilakukan dengan menaruh perhatian besar pada aspek mitigasi risiko,” ungkap Hery. Industri perbankan wajib menerapkan prinsip kehati-hatian (prudent) secara ketat dan terukur. Ini berarti bank harus jeli dalam menetapkan risk appetite sektoral, menyesuaikannya dengan perkembangan makroekonomi terbaru.

Salah satu langkah strategis yang disarankan adalah membangun rantai pasokan pembiayaan (credit pipeline) yang berkualitas tinggi. Bank diharapkan tidak lagi hanya menyasar debitur secara parsial atau individu per individu. Sebaliknya, pendekatan yang lebih komprehensif melalui ekosistem bisnis dari hulu ke hilir dinilai jauh lebih efektif dalam meminimalisir risiko gagal bayar.

Baca Juga

Aksi Nyata Danantara: Memulihkan Muruah BUMN Melalui Kemanusiaan dan Penataan Tata Kelola

Aksi Nyata Danantara: Memulihkan Muruah BUMN Melalui Kemanusiaan dan Penataan Tata Kelola

Memperkuat Sistem Peringatan Dini dan Penagihan

Aspek lain yang tidak kalah krusial dalam menjaga kesehatan industri perbankan adalah manajemen risiko aset. Perbanas meminta manajemen bank untuk bersikap proaktif dalam memantau kualitas portofolio aset yang mereka miliki. Pengawasan sejak dini dianggap jauh lebih efektif dan efisien daripada melakukan penanganan saat kredit sudah terlanjur macet atau bermasalah.

Untuk mencapai hal tersebut, penguatan proses asesmen pinjaman (underwriting) menjadi sangat penting. Selain itu, perbankan perlu mengimplementasikan sistem peringatan dini atau early warning system (EWS) yang lebih granular dan mendetail. Dengan teknologi digital yang ada saat ini, potensi pembengkakan rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) seharusnya bisa dideteksi lebih awal melalui analisis data yang mendalam.

Hery juga menekankan pentingnya kesiapan fungsi penagihan (collection readiness). Tim di lapangan harus memiliki kompetensi dan sensitivitas tinggi untuk melakukan intervensi segera setelah kualitas kolektibilitas nasabah menunjukkan tanda-tanda penurunan. Pendekatan persuasif namun tegas menjadi kunci dalam menjaga arus kas masuk dari sisi pembayaran pinjaman.

Optimisme Menuju Kinerja Solid di Akhir Tahun

Meski tantangan likuiditas membayangi, Perbanas tetap optimis bahwa industri perbankan Indonesia mampu melewati periode ini dengan baik. Integrasi antara manajemen likuiditas yang disiplin, strategi penyaluran kredit yang selektif, serta pengawasan kualitas aset yang ketat akan menjadi resep utama pertumbuhan yang solid.

Dengan fundamental yang kuat pada sisi dana murah dan pengelolaan risiko yang mumpuni, perbankan nasional diharapkan tetap menjadi motor penggerak ekonomi yang tangguh. Keberhasilan dalam mengelola likuiditas tidak hanya akan berdampak pada kesehatan bank itu sendiri, tetapi juga pada stabilitas sistem keuangan nasional secara keseluruhan, memberikan rasa aman bagi para nasabah dan investor di seluruh tanah air.

Sebagai penutup, Hery Gunardi mengingatkan bahwa adaptabilitas adalah kunci. Di dunia perbankan yang terus berubah, hanya institusi yang mampu berinovasi dalam mengelola dana masyarakat dan menyalurkannya dengan bijaklah yang akan keluar sebagai pemenang dalam kompetisi pasar yang semakin ketat ini.

Rizky Pratama

Rizky Pratama

Penulis bisnis & startup dengan pengalaman di dunia digital marketing dan venture.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *