Strategi Baru Seoul: Memborong 20.000 Drone Murah Demi Menghadapi Provokasi Korea Utara di Era Perang Modern

Siti Rahma | InfoNanti
27 Jun 2026, 10:53 WIB
Strategi Baru Seoul: Memborong 20.000 Drone Murah Demi Menghadapi Provokasi Korea Utara di Era Perang Modern

InfoNanti — Dinamika keamanan di Semenanjung Korea kini tengah memasuki babak baru yang didominasi oleh teknologi nirawak. Pemerintah Korea Selatan secara resmi mengumumkan langkah ambisius untuk mengakuisisi lebih dari 20.000 unit drone militer berbiaya rendah. Langkah strategis ini diambil bukan tanpa alasan; Seoul menyadari bahwa wajah peperangan masa depan telah bergeser secara radikal, beralih dari penggunaan alutsista raksasa yang mahal menuju pengerahan kawanan mesin pintar yang efisien dan mematikan.

Keputusan besar yang diumumkan pada Jumat (26/6/2026) ini merupakan hasil evaluasi mendalam terhadap berbagai konflik global yang terjadi belakangan ini. Para petinggi militer di Seoul melihat dengan saksama bagaimana drone-drone murah mampu melumpuhkan tank-tank berat dan sistem pertahanan udara yang harganya ribuan kali lipat lebih mahal. Fenomena ini menciptakan paradigma baru dalam strategi pertahanan nasional yang lebih mengedepankan kuantitas dan fleksibilitas di medan tempur.

Baca Juga

Misteri Kematian Sultan Mehmed II: Akhir Tragis Sang Penakluk Konstantinopel di Ambang Penaklukan Roma

Misteri Kematian Sultan Mehmed II: Akhir Tragis Sang Penakluk Konstantinopel di Ambang Penaklukan Roma

Revolusi Udara: Belajar dari Ukraina dan Timur Tengah

Menteri Pertahanan Korea Selatan, Ahn Gyu-back, dalam keterangannya kepada pers menekankan bahwa dunia sedang menyaksikan pergeseran besar dalam taktik militer. Ia merujuk pada konflik berkepanjangan di Ukraina dan ketegangan di Timur Tengah sebagai laboratorium nyata bagi keefektifan teknologi drone. Menurutnya, drone bukan lagi sekadar alat pendukung, melainkan senjata utama yang mampu mengubah hasil akhir sebuah pertempuran secara instan.

“Konflik-konflik terbaru dengan jelas menunjukkan bahwa drone telah menjadi game changer atau pengubah permainan di medan perang modern,” ujar Ahn di hadapan para jurnalis di Seoul. Ia menambahkan bahwa pengerahan massal drone berbiaya rendah jauh lebih efektif untuk menekan lawan dibandingkan hanya mengandalkan sejumlah kecil sistem persenjataan berteknologi tinggi yang sulit diproduksi dalam waktu singkat.

Baca Juga

Tragedi Maut di Perlintasan Bangkok: Bus Terbakar Hebat Usai Dihantam Kereta, 8 Orang Meninggal Dunia

Tragedi Maut di Perlintasan Bangkok: Bus Terbakar Hebat Usai Dihantam Kereta, 8 Orang Meninggal Dunia

Pelajaran berharga ini mendorong Korea Selatan untuk tidak lagi hanya terpaku pada pengembangan pesawat tempur atau kapal selam konvensional. Fokus kini diarahkan pada teknologi militer asimetris yang mampu memberikan keunggulan di wilayah-wilayah sulit, seperti perbatasan DMZ (Demilitarized Zone) yang penuh dengan ranjau dan pengawasan ketat.

Mengantisipasi Ancaman Korea Utara yang Kian Canggih

Secara teknis, Korea Selatan dan Korea Utara masih berada dalam status berperang. Gencatan senjata yang ditandatangani pada tahun 1953 hanyalah kesepakatan untuk menghentikan kontak senjata, namun tidak pernah benar-benar menjadi sebuah perjanjian damai yang permanen. Dalam situasi ketidakpastian yang telah berlangsung selama tujuh dekade ini, ancaman dari Pyongyang terus berevolusi.

Baca Juga

Guncangan di Washington Hilton: Kronologi Mencekam Evakuasi Donald Trump Saat Penembakan di Jamuan Makan Malam Gedung Putih

Guncangan di Washington Hilton: Kronologi Mencekam Evakuasi Donald Trump Saat Penembakan di Jamuan Makan Malam Gedung Putih

Korea Utara dilaporkan telah mempercepat pengembangan berbagai jenis pesawat nirawak yang dirancang untuk menembus wilayah kedaulatan Selatan. Ancaman ini tidak hanya mengincar instalasi militer, tetapi juga infrastruktur vital nasional dan area sipil yang padat penduduk. Kehadiran drone-drone pengintai milik Utara yang sempat menyusup ke wilayah Seoul beberapa waktu lalu menjadi alarm keras bagi sistem keamanan nasional Korea Selatan.

Untuk merespons tantangan tersebut, Seoul tidak ingin hanya bersikap defensif. Melalui pengadaan 20.000 drone ini, Korea Selatan ingin memastikan bahwa mereka memiliki daya gentar yang cukup untuk membalas setiap provokasi dengan kekuatan yang setara atau bahkan lebih besar.

K-LUCAS: Inovasi Serang Jarak Jauh Dalam Negeri

Salah satu poin krusial dalam pengumuman ini adalah percepatan operasional Korean Long-range Uncrewed Combat Attack System atau yang dikenal dengan nama K-LUCAS. Sistem ini merupakan amunisi pintar (loitering munitions) yang dikembangkan di dalam negeri. K-LUCAS disebut-sebut memiliki kapabilitas yang setara dengan sistem LUCAS milik Amerika Serikat.

Baca Juga

Strategi Cerdas Militer Thailand: Gunakan Humor untuk Rekrut Puluhan Ribu Relawan

Strategi Cerdas Militer Thailand: Gunakan Humor untuk Rekrut Puluhan Ribu Relawan

Menariknya, para analis militer menyebutkan bahwa K-LUCAS merupakan hasil rekayasa balik (reverse engineering) yang terinspirasi dari drone serang Shahed buatan Iran, yang telah terbukti efektivitasnya di berbagai palagan. Dengan memproduksi drone ini secara mandiri, Korea Selatan tidak hanya menekan biaya pengadaan, tetapi juga memastikan kemandirian teknologi dalam jangka panjang.

Jenis drone yang akan diakuisisi meliputi drone pengintai jarak pendek yang mampu memberikan data real-time dari garis depan, hingga drone bunuh diri yang siap menghancurkan target strategis lawan secara presisi. Selain itu, militer Korea Selatan tengah mengembangkan teknologi drone swarm atau kawanan drone yang dikendalikan oleh kecerdasan buatan (AI), yang memungkinan ribuan drone berkoordinasi secara otomatis tanpa campur tangan manusia secara penuh.

Target Besar: Mencetak 500.000 Prajurit Drone

Transformasi militer Korea Selatan tidak hanya berhenti pada perangkat keras. Kementerian Pertahanan telah menetapkan target ambisius untuk melatih 500.000 personel militer agar mahir mengoperasikan teknologi nirawak. Visi besarnya adalah menjadikan drone sebagai “senjata pribadi kedua” bagi setiap prajurit, setara pentingnya dengan senapan serbu yang mereka bawa.

Untuk mendukung program pelatihan masif ini, pemerintah akan mengadakan sekitar 60.000 unit drone komersial buatan industri lokal. Drone-drone ini akan digunakan di barak-barak pelatihan untuk memastikan setiap prajurit memiliki memori otot dan pemahaman taktis dalam mengendalikan unit nirawak di tengah tekanan situasi tempur.

Langkah ini juga diharapkan dapat memacu ekosistem industri drone domestik. Dengan melibatkan sektor komersial, pemerintah berharap inovasi teknologi tidak hanya datang dari laboratorium militer, tetapi juga dari startup-startup teknologi yang kini tengah berkembang pesat di Negeri Gingseng tersebut.

Restrukturisasi Komando dan Dinamika Politik

Sebagai bagian dari penguatan struktur organisasi, Drone Operations Command yang baru dibentuk pada tahun 2023 akan direorganisasi dan ditingkatkan statusnya menjadi Defence Drone Headquarters. Markas besar baru ini akan memiliki kewenangan yang lebih luas dalam merumuskan doktrin tempur dan mengoordinasikan seluruh aset udara nirawak di berbagai matra militer.

Namun, langkah penguatan satuan drone ini juga dibayangi oleh sejarah politik yang kelam. Satuan ini sempat menjadi sorotan publik saat menjalankan misi rahasia di atas langit Pyongyang pada Oktober 2024. Misi tersebut dilakukan pada masa pemerintahan Presiden Yoon Suk Yeol, yang kini harus mendekam di penjara dengan vonis 30 tahun.

Vonis terhadap Yoon dijatuhkan setelah ia terbukti menyalahgunakan wewenang dengan mengirimkan drone ke wilayah Korea Utara untuk menciptakan krisis keamanan semu. Langkah provokatif tersebut diduga sengaja dirancang untuk menjadi dasar pemberlakuan keadaan darurat militer demi mempertahankan kekuasaannya, sebuah upaya yang pada akhirnya gagal total dan menyeretnya ke meja hijau. Meski dibayangi skandal politik masa lalu, militer kini berkomitmen untuk memastikan penggunaan teknologi drone tetap berada dalam koridor hukum dan kepentingan nasional yang sah.

Menuju Masa Depan: Senjata Laser dan Gelombang Mikro

Visi pertahanan Korea Selatan tidak hanya berhenti pada drone konvensional. Menteri Ahn mengungkapkan bahwa dalam jangka panjang, Seoul berencana mengembangkan persenjataan futuristik yang lebih canggih. Fokus pengembangan mencakup senjata laser berkekuatan tinggi yang mampu menjatuhkan drone lawan dalam hitungan detik dengan biaya per tembakan yang sangat murah.

Selain itu, pengembangan sistem gelombang mikro berkekuatan tinggi (High-Power Microwave) juga sedang masuk dalam radar militer. Teknologi ini mampu melumpuhkan seluruh perangkat elektronik pada sekumpulan drone lawan sekaligus, menciptakan perisai tak kasat mata yang sangat efektif untuk melindungi infrastruktur vital dari serangan swarm drone.

Dengan kombinasi antara kuantitas drone yang masif, pelatihan personel yang intensif, dan pengembangan teknologi masa depan, Korea Selatan berharap dapat menciptakan lingkungan keamanan yang stabil di Semenanjung Korea. Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa di era digital ini, kedaulatan sebuah negara tidak lagi hanya ditentukan oleh jumlah tentara, melainkan oleh seberapa cerdas mereka menguasai cakrawala tanpa awak.

Siti Rahma

Siti Rahma

Jurnalis berita global dengan ketertarikan pada geopolitik dan ekonomi dunia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *