Mengapa Raja Charles III Memilih ‘Menepi’ dari Istana Buckingham Meski Renovasi Rp 8,7 Triliun Nyaris Rampung?

Siti Rahma | InfoNanti
26 Jun 2026, 14:54 WIB
Mengapa Raja Charles III Memilih 'Menepi' dari Istana Buckingham Meski Renovasi Rp 8,7 Triliun Nyaris Rampung?

InfoNanti — Di balik gerbang besi yang menjulang tinggi dan kemegahan arsitektur yang menjadi simbol monarki Britania Raya, sebuah keputusan mengejutkan baru saja terungkap dari balik dinding Istana Buckingham. Meski pemerintah dan pihak kerajaan telah menggelontorkan dana fantastis senilai 369 juta pound sterling atau setara dengan Rp 8,7 triliun untuk pemugaran besar-besaran, sang penguasa baru, Raja Charles III, dikabarkan enggan untuk menempati kediaman resmi tersebut secara permanen.

Laporan keuangan terbaru Kerajaan Inggris memberikan konfirmasi yang dinanti banyak pihak: Raja Charles III dan Ratu Camilla telah memutuskan untuk tetap menjadikan Clarence House sebagai pangkalan utama mereka. Keputusan ini menandai pergeseran tradisi yang telah bertahan selama hampir dua abad, memicu diskusi hangat mengenai bagaimana wajah monarki Inggris modern akan beroperasi di masa depan.

Baca Juga

Mengenang Tragedi Flixborough 1974: Ledakan Hebat yang Mengubah Wajah Keselamatan Industri Dunia

Mengenang Tragedi Flixborough 1974: Ledakan Hebat yang Mengubah Wajah Keselamatan Industri Dunia

Tradisi yang Bergeser: Mengapa Clarence House Tetap Menjadi Pilihan?

Bagi banyak orang, Istana Buckingham adalah jantung dari London dan simbol kekuasaan Inggris. Namun bagi Raja Charles III, Clarence House memiliki nilai sentimental yang jauh lebih dalam. Kediaman yang terletak hanya sepelemparan batu dari Buckingham ini telah menjadi rumah bagi Charles dan Camilla sejak mereka menikah pada tahun 2005. Sebelumnya, bangunan ini juga merupakan tempat tinggal tercinta bagi Ibu Suri (Queen Mother).

Memasuki usia akhir 70-an, kenyamanan dan stabilitas tampaknya menjadi prioritas utama bagi pasangan kerajaan ini. Mengatur kepindahan besar-besaran yang melibatkan ratusan staf, logistik yang rumit, dan perubahan suasana hidup di usia senja bukanlah perkara yang mudah. Dengan memilih tetap di Clarence House, Raja Charles seolah memberikan sinyal bahwa dirinya lebih mengutamakan efisiensi dan kenyamanan personal dibandingkan protokoler kaku masa lalu.

Baca Juga

Tragedi Berdarah di Jerman: Seorang WNI Tewas Mengenaskan, Keluarga Ragukan Motif Pertengkaran

Tragedi Berdarah di Jerman: Seorang WNI Tewas Mengenaskan, Keluarga Ragukan Motif Pertengkaran

Renovasi Dekade: Mengintip Apa yang Diperbaiki dengan Rp 8,7 Triliun

Keputusan untuk tidak menetap ini tentu memicu pertanyaan: untuk apa uang triliunan rupiah digunakan jika sang Raja sendiri enggan tinggal di sana? Jawabannya terletak pada kondisi teknis bangunan yang sudah sangat mengkhawatirkan. Proyek renovasi bangunan yang telah berlangsung selama sepuluh tahun ini sebenarnya lebih bersifat struktural daripada sekadar estetika.

Bayangkan sebuah bangunan ikonik yang kabel listriknya belum pernah diperbarui sejak era Perang Dunia II. Tim ahli menemukan bahwa sebagian besar infrastruktur internal, mulai dari pipa berbahan timbal yang berisiko meracuni air hingga sistem boiler yang sudah usang selama 60 tahun, berada dalam kondisi kritis. Tanpa perbaikan mendalam, risiko kebakaran besar atau kerusakan permanen akibat kebocoran air tinggal menunggu waktu saja.

Baca Juga

Ketika Robot ‘Membajak’ Jadwal Terbang: Kisah Penumpang Besi 31 Kg yang Menghebohkan Southwest Airlines

Ketika Robot ‘Membajak’ Jadwal Terbang: Kisah Penumpang Besi 31 Kg yang Menghebohkan Southwest Airlines

Pekerjaan yang dijadwalkan rampung pada Maret tahun depan ini didanai melalui kenaikan sementara Sovereign Grant. Meskipun mewah, fokus utamanya adalah memastikan bahwa warisan sejarah ini tetap berdiri tegak untuk generasi mendatang, terlepas dari siapa yang tidur di dalamnya setiap malam.

Membuka Pintu Lebih Lebar bagi Publik

Salah satu alasan paling diplomatis yang dikemukakan oleh pejabat kerajaan adalah keinginan Raja untuk memberikan akses yang lebih luas kepada masyarakat umum. Dengan tidak menetapnya keluarga kerajaan di sana secara penuh, batasan-batasan keamanan yang biasanya menutup akses publik dapat sedikit dilonggarkan.

Strategi ini bukan sekadar tentang citra baik, tetapi juga soal ekonomi. Wisata sejarah merupakan salah satu pemasukan terbesar bagi Crown Estate. Dengan membuka ruang-ruang kenegaraan (State Rooms) dalam durasi yang lebih lama sepanjang tahun, pendapatan dari tiket masuk dapat dimaksimalkan untuk membantu biaya pemeliharaan properti kerajaan lainnya.

Baca Juga

Ketegangan Diplomatik Washington-New Delhi: AS Beri Peringatan Keras Terkait Blokade Iran di Selat Hormuz

Ketegangan Diplomatik Washington-New Delhi: AS Beri Peringatan Keras Terkait Blokade Iran di Selat Hormuz

Istana Buckingham: Kantor Besar di Tengah Kota

Jangan salah sangka, tidak tinggal di sana bukan berarti Raja Charles III meninggalkan Istana Buckingham sepenuhnya. Istana tersebut akan tetap berfungsi sebagai ‘pusat operasional’ monarki. Berbagai agenda formal tetap akan digelar di sana, mulai dari:

  • Jamuan kenegaraan dengan pemimpin dunia.
  • Pertemuan rutin mingguan dengan Perdana Menteri.
  • Upacara penyerahan surat kepercayaan duta besar negara sahabat.
  • Pesta kebun yang ikonik di setiap musim panas.

Secara simbolis, Royal Standard atau bendera kerajaan akan tetap berkibar di atas Buckingham saat Raja berada di London untuk menjalankan tugas-tugas kenegaraan. James Chalmers, pejabat keuangan kerajaan, menjelaskan bahwa Raja dan Ratu tetap memiliki akses ke apartemen pribadi di dalam istana sebagai tempat beristirahat di sela-sela agenda yang padat, atau jika situasi mendesak mengharuskan mereka untuk menginap.

Transparansi Finansial: Raja Charles dan Kewajiban Pajak

Dalam laporan yang sama, terungkap pula aspek modernitas lain dari kepemimpinan Charles III. Ia tercatat sebagai penguasa monarki Inggris pertama yang secara sukarela mempublikasikan rincian pembayaran pajaknya. Di tengah perdebatan mengenai relevansi monarki, langkah ini dipandang sebagai upaya untuk tampil lebih transparan dan bertanggung jawab.

Raja Charles III masuk dalam daftar 100 pembayar pajak individu terbesar di Inggris untuk tahun pajak 2024–2025. Dengan nilai setoran mencapai 12,9 juta pound sterling, ia menunjukkan komitmennya untuk berkontribusi pada kas negara, sebuah langkah yang sangat kontras dengan kerahasiaan finansial yang sering menyelimuti keluarga kerajaan di masa lalu.

Menghormati Jejak Ratu Victoria dan Ratu Elizabeth II

Langkah Charles ini memang mendobrak tradisi yang dimulai oleh Ratu Victoria pada tahun 1837. Sejak saat itu, setiap penguasa monarki menjadikan Buckingham sebagai rumah utama mereka. Mendiang Ratu Elizabeth II bahkan memiliki ikatan emosional yang luar biasa kuat dengan tempat ini; beliau melahirkan Charles dan Pangeran Andrew di dalam kompleks istana tersebut.

Namun, zaman berubah. Raja Charles III tampaknya ingin mendefinisikan ulang apa artinya menjadi seorang Raja di abad ke-21. Bukan dengan berdiam diri di dalam benteng emas yang tertutup, melainkan dengan menyeimbangkan antara tradisi, efisiensi operasional, dan kedekatan dengan masyarakat melalui transparansi dan aksesibilitas.

Pada akhirnya, renovasi Rp 8,7 triliun ini bukan sekadar tentang memperbaiki pipa atau kabel, melainkan tentang memastikan bahwa simbol kebesaran Inggris ini tetap relevan dan bisa dinikmati oleh dunia, meskipun sang penghuni utamanya lebih memilih ketenangan di Clarence House yang bersahaja.

Siti Rahma

Siti Rahma

Jurnalis berita global dengan ketertarikan pada geopolitik dan ekonomi dunia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *