Jejak Keir Starmer di Downing Street: Antara Ambisi Reformasi dan Ujung Perjalanan Politik yang Penuh Gejolak

Siti Rahma | InfoNanti
22 Jun 2026, 20:52 WIB
Jejak Keir Starmer di Downing Street: Antara Ambisi Reformasi dan Ujung Perjalanan Politik yang Penuh Gejolak

InfoNanti Dinamika kursi kepemimpinan di 10 Downing Street kembali mencuri perhatian publik global. Keir Starmer, yang pada awal kemenangannya dipandang sebagai simbol stabilitas dan moderasi, kini berada di persimpangan jalan yang menentukan bagi sejarah politik Inggris. Setelah membawa Partai Buruh pada kemenangan telak dalam Pemilu 2024, harapan besar sempat disematkan di pundaknya untuk memulihkan fondasi negara yang goyah.

Namun, politik adalah panggung yang penuh kejutan pahit. Meski menjanjikan era baru yang jauh dari hiruk-pikuk pendahulunya, Starmer harus menghadapi realitas pahit setelah serangkaian kesalahan taktis, tekanan ekonomi yang tak kunjung reda, hingga skandal yang menggerogoti kepercayaan publik. Catatan merah dalam berbagai pemilihan lokal dan devolusi seolah menjadi lonceng peringatan bahwa Inggris kini bersiap menyambut perdana menteri keenamnya hanya dalam kurun waktu tujuh tahun. Redaksi InfoNanti telah merangkum refleksi mendalam mengenai rapor keberhasilan dan kegagalan sang pemimpin selama masa jabatannya.

Baca Juga

Menelusuri Jejak Sejarah 12 Juni 1898: Proklamasi Kemerdekaan Filipina dan Perjuangan Melawan Belenggu Kolonial

Menelusuri Jejak Sejarah 12 Juni 1898: Proklamasi Kemerdekaan Filipina dan Perjuangan Melawan Belenggu Kolonial

Gebrakan Pro-Pekerja: Menciptakan Standar Baru di Era Modern

Salah satu pencapaian yang paling sering digaungkan oleh pendukung Starmer adalah keberaniannya dalam melakukan perombakan besar terhadap regulasi ketenagakerjaan. Melalui Undang-Undang Hak Pekerja yang resmi diberlakukan pada Desember lalu, Starmer memposisikan dirinya sebagai pembela kaum buruh. Ia menyebut kebijakan ini sebagai peningkatan hak-hak pekerja paling signifikan dalam satu generasi.

Meskipun dalam perjalanannya pemerintah sempat melunakkan rencana terkait hak gugatan pemecatan sejak hari pertama, paket kebijakan ini tetap membawa angin segar. Fokusnya beralih pada penguatan tunjangan sakit, hak cuti bagi orang tua, dan penghapusan kontrak kerja tanpa jam minimum yang selama ini dianggap mengeksploitasi pekerja. Paul Nowak, Sekretaris Jenderal Kongres Serikat Buruh Inggris (TUC), bahkan menyebut langkah ini sebagai sejarah baru bagi kesejahteraan rakyat kecil di ekonomi Inggris.

Baca Juga

Kekejaman di Garis Depan: Lebanon Desak PBB Usut Tuntas Pembunuhan 28 Jurnalis oleh Pasukan Israel

Kekejaman di Garis Depan: Lebanon Desak PBB Usut Tuntas Pembunuhan 28 Jurnalis oleh Pasukan Israel

Tak berhenti di situ, Starmer juga menaikkan standar upah minimum nasional. Mulai April tahun ini, upah bagi pekerja di atas usia 21 tahun melonjak dari 12,21 pound sterling menjadi 12,71 pound sterling per jam. Langkah berani ini diperkirakan meningkatkan pendapatan tahunan sekitar 2,4 juta warga hingga 900 pound sterling per tahun. Bagi jutaan keluarga yang tengah berjuang melawan inflasi, kenaikan ini adalah napas tambahan yang sangat berarti.

Transformasi Hak Penyewa dan Perlindungan Sosial

Dalam sektor perumahan, pemerintahan Starmer membawa perubahan yang menyentuh langsung kehidupan sehari-hari masyarakat. Melalui Undang-Undang Hak Penyewa, pemerintah memberikan perlindungan hukum yang lebih kuat bagi hampir dua perlima rumah tangga di Inggris. Kini, pemilik properti tidak bisa lagi melakukan pengusiran semena-mena tanpa alasan hukum yang valid.

Baca Juga

Gaza di Ambang Kolaps: Ribuan Pasien Bertarung Melawan Waktu di Tengah Kelangkaan Obat Akut

Gaza di Ambang Kolaps: Ribuan Pasien Bertarung Melawan Waktu di Tengah Kelangkaan Obat Akut

Langkah ini bertujuan menciptakan stabilitas bagi para penyewa di sektor privat maupun sosial. Dengan dihapuskannya kontrak sewa jangka tetap dan kewajiban mengikuti prosedur resmi dalam setiap sengketa, posisi tawar penyewa menjadi lebih bermartabat. Kebijakan ini dianggap sebagai salah satu warisan Starmer yang paling konkret dalam upaya menciptakan keadilan sosial di tengah krisis biaya hidup.

Navigasi Diplomatik: Di Antara Bayang-Bayang Trump dan Harapan Uni Eropa

Di kancah internasional, Keir Starmer sering kali terlihat lebih percaya diri. Ia mencoba menyeimbangkan hubungan antara kekuatan transatlantik dan tetangga di Eropa. Upayanya membangun jembatan dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sempat membuahkan hasil melalui kesepakatan dagang strategis yang memangkas tarif untuk sektor otomotif dan baja. Ini adalah langkah krusial untuk menyelamatkan ribuan lapangan kerja di sektor manufaktur Inggris.

Baca Juga

Dibalik Layar Diplomasi Teheran: Alasan Mojtaba Khamenei Sempat Menolak Kesepakatan Damai dengan Amerika Serikat

Dibalik Layar Diplomasi Teheran: Alasan Mojtaba Khamenei Sempat Menolak Kesepakatan Damai dengan Amerika Serikat

Namun, diplomasi ini bukannya tanpa gesekan. Hubungan tersebut mendingin ketika Starmer menolak untuk sepenuhnya menyelaraskan langkah dengan AS dalam isu serangan terhadap Iran. Meski berisiko secara diplomatik, posisi ini justru mendapat apresiasi di dalam negeri karena dianggap lebih sejalan dengan sentimen publik Inggris yang mengutamakan deeskalasi konflik.

Sementara itu, ambisi Starmer untuk melakukan “reset Brexit” menjadi agenda besar lainnya. Ia secara vokal menyebut keluarnya Inggris dari Uni Eropa sebagai langkah yang merugikan dan berupaya membawa Inggris kembali ke jantung pertahanan serta energi Eropa. RUU reset Uni Eropa-Inggris yang ia ajukan bahkan membuka peluang bagi Inggris untuk mengadopsi aturan pasar tunggal secara lebih fleksibel, sebuah langkah yang dianggap revolusioner sekaligus kontroversial oleh para kritikus pro-Brexit.

Fokus pada Generasi Mendatang: Program ‘Best Start’ dan Kesejahteraan Anak

Kesejahteraan anak menjadi pilar lain dalam narasi keberhasilan Starmer. Keputusan untuk menghapus batas tunjangan dua anak pada Maret lalu diklaim telah mengangkat setengah juta anak dari garis kemiskinan. Meskipun kebijakan ini lahir setelah tekanan internal yang hebat dari Partai Buruh sendiri, hasilnya tetap memberikan dampak luas bagi keluarga prasejahtera.

Program “Best Start” juga menjadi sorotan dengan dibukanya 1.000 pusat layanan keluarga baru. Pemerintah melanjutkan kebijakan penitipan anak gratis selama 30 jam bagi orang tua yang bekerja, yang diperkirakan mampu menghemat pengeluaran keluarga hingga 8.000 pound sterling per tahun. Selain itu, program sarapan gratis nasional dan intervensi kesehatan gigi bagi balita menunjukkan upaya pemerintah untuk memberikan fondasi kehidupan yang lebih baik sejak dini.

Paradoks Imigrasi: Penurunan Angka dan Tantangan Ekonomi

Dalam isu yang sangat sensitif seperti imigrasi, Starmer berhasil mencatatkan penurunan angka migrasi neto hingga 48 persen dalam setahun terakhir. Kedatangan migran melalui perahu kecil juga berkurang signifikan berkat kebijakan pengetatan suaka. Namun, keberhasilan statistik ini menyimpan risiko jangka panjang.

Banyak pengamat ekonomi memperingatkan bahwa penurunan migrasi neto yang terlalu drastis dapat berujung pada penyusutan pendapatan nasional. National Institute of Economic and Social Research memprediksi penurunan hingga 3,6 persen pada tahun 2040 jika tren ini terus berlanjut tanpa diimbangi dengan produktivitas tenaga kerja lokal yang memadai. Ini menjadi dilema klasik bagi Starmer: memuaskan pemilih yang anti-imigrasi atau menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi.

Lanskap Ekonomi dan Dana Kekayaan Nasional

Di bawah komando Menteri Keuangan Rachel Reeves, pemerintah meluncurkan Dana Kekayaan Nasional senilai 7,3 miliar pound sterling. Ambisinya adalah menarik investasi swasta besar-besaran untuk membangun infrastruktur hijau dan industri masa depan. Meski biaya pinjaman pemerintah sempat mencapai level terendah dalam tiga tahun pada April lalu, stabilitas ini kembali goyah akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Inflasi yang sempat melandai memberikan harapan bagi penurunan suku bunga, namun volatilitas pasar tetap menjadi ancaman nyata. Kebijakan ekonomi Starmer sering kali dipuji karena visi jangka panjangnya, namun dikritik karena kurangnya respons cepat terhadap krisis jangka pendek yang dirasakan langsung oleh masyarakat di pasar dan toko kelontong.

Mengapa Kapal Starmer Karam? Sisi Gelap yang Mengiringi Kejatuhan

Meskipun daftar keberhasilan di atas tampak impresif, mengapa Starmer akhirnya harus mengundurkan diri? Jawabannya terletak pada kumulatif kesalahan politik dan hilangnya momentum. Publik mulai merasa bahwa perubahan yang dijanjikan terlalu lamban terwujud, sementara skandal internal partai dan kekalahan beruntun dalam pemilihan lokal menggerus legitimasi kepemimpinannya.

Krisis kepemimpinan ini diperparah dengan persepsi bahwa Starmer terlalu elitis dan kurang terhubung dengan aspirasi akar rumput di luar London. Kegagalannya dalam menyatukan faksi-faksi di dalam Partai Buruh membuat kebijakan-kebijakannya sering kali menghadapi hambatan di parlemen sebelum sempat diimplementasikan secara maksimal. Pada akhirnya, Starmer meninggalkan warisan yang campur aduk: seorang teknokrat dengan visi besar yang terjegal oleh realitas politik praktis yang kejam.

Kini, Inggris menatap masa depan dengan tanda tanya besar. Siapakah yang akan meneruskan tongkat estafet ini dan apakah mereka mampu memperbaiki retakan yang ditinggalkan oleh era Starmer? Satu yang pasti, perjalanan politik Starmer akan tetap menjadi bahan studi penting tentang bagaimana sebuah kemenangan telak tidak menjamin langgengnya sebuah kekuasaan di tengah dunia yang terus berubah.

Siti Rahma

Siti Rahma

Jurnalis berita global dengan ketertarikan pada geopolitik dan ekonomi dunia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *