Eksodus Industri Otomotif ke Vietnam Mengancam, Ribuan Buruh di Jawa Timur Dibayangi Gelombang PHK Massal

Rizky Pratama | InfoNanti
22 Jun 2026, 10:54 WIB
Eksodus Industri Otomotif ke Vietnam Mengancam, Ribuan Buruh di Jawa Timur Dibayangi Gelombang PHK Massal

InfoNanti — Awan mendung kembali menggelayuti sektor manufaktur tanah air. Kabar mengejutkan datang dari industri otomotif nasional yang selama ini menjadi salah satu tulang punggung ekonomi. Kabar ini bukan sekadar isapan jempol, melainkan sebuah peringatan keras mengenai potensi relokasi besar-besaran lini produksi perusahaan otomotif Jepang dari Indonesia menuju negara tetangga, Vietnam.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, baru-baru ini melontarkan pernyataan yang cukup menggetarkan ruang publik. Ia mengungkapkan bahwa saat ini terdapat dua raksasa otomotif yang tengah bersiap untuk ‘mengangkat koper’ dari tanah air. Meski tidak menutup seluruh operasionalnya, pemindahan sebagian lini produksi ini dianggap sebagai alarm bahaya bagi stabilitas ketenagakerjaan di Indonesia.

Baca Juga

Strategi BI Naikkan Suku Bunga: Antara Beban Kredit Perbankan dan Misi Penyelamatan Stabilitas Rupiah

Strategi BI Naikkan Suku Bunga: Antara Beban Kredit Perbankan dan Misi Penyelamatan Stabilitas Rupiah

Sinyal Bahaya dari Mojokerto dan Pasuruan

Dua wilayah yang menjadi basis industri utama di Jawa Timur, yakni Mojokerto dan Pasuruan, kini berada dalam posisi yang rentan. Di wilayah inilah pabrik-pabrik tersebut berdiri dan menghidupi ribuan keluarga. Alasan di balik rencana hengkangnya sebagian lini produksi ini cukup kompleks, mulai dari ketidakpastian geopolitik global hingga pergeseran tren industri yang sangat cepat.

Said Iqbal menjelaskan bahwa situasi perang yang berkepanjangan di berbagai belahan dunia telah memaksa para prinsipal, terutama dari Jepang, untuk melakukan kalkulasi ulang terhadap investasi mereka. Mereka mencari tempat yang dianggap lebih strategis dan menjanjikan efisiensi jangka panjang. Sayangnya, untuk saat ini, pandangan mereka nampaknya tertuju pada Vietnam sebagai destinasi baru yang lebih kompetitif dalam peta otomotif global.

Baca Juga

Update Harga BBM Pertamina 1 Juni 2026: Intip Rincian Kenaikan dan Penurunan Harga di Seluruh Indonesia

Update Harga BBM Pertamina 1 Juni 2026: Intip Rincian Kenaikan dan Penurunan Harga di Seluruh Indonesia

Magnet Kendaraan Listrik Vietnam vs Indonesia

Salah satu poin krusial yang menjadi alasan perpindahan ini adalah ambisi pengembangan mobil listrik atau Electric Vehicle (EV). Vietnam dinilai sangat agresif dalam membangun ekosistem kendaraan ramah lingkungan tersebut. Hal ini menjadi paradoks tersendiri, mengingat Indonesia sebenarnya memiliki kekayaan sumber daya alam seperti nikel yang menjadi bahan baku utama baterai kendaraan listrik.

Namun, kebijakan dan kemudahan investasi di Vietnam nampaknya lebih memikat para investor Jepang. Said Iqbal menekankan bahwa para prinsipal otomotif kini lebih berfokus pada pengembangan teknologi masa depan di Vietnam ketimbang mempertahankan lini produksi konvensional di Indonesia. Jika tren ini berlanjut tanpa intervensi yang berarti, posisi Indonesia sebagai pusat otomotif di Asia Tenggara bisa terancam tergeser.

Baca Juga

Strategi Besar Prabowo Subianto: Mengapa Efisiensi Anggaran Menjadi Kunci Utama Program Sekolah Rakyat?

Strategi Besar Prabowo Subianto: Mengapa Efisiensi Anggaran Menjadi Kunci Utama Program Sekolah Rakyat?

Potensi PHK: Ribuan Nasib Buruh di Ujung Tanduk

Dampak langsung dari rencana relokasi ini tentu saja adalah ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Meski angka pastinya belum dirilis secara resmi oleh perusahaan terkait, Said Iqbal menaksir ada ribuan buruh yang nasibnya kini terombang-ambing. PHK bukan hanya soal hilangnya pekerjaan, tetapi juga menyangkut efek domino terhadap ekonomi lokal di sekitar kawasan industri tersebut.

“Kami tidak akan tinggal diam melihat situasi ini. Serikat pekerja akan segera mengupayakan langkah-langkah negosiasi yang intensif dengan manajemen perusahaan. Kami ingin meyakinkan mereka bahwa Indonesia, khususnya Jawa Timur, masih memiliki nilai kompetitif yang tinggi,” tegas Said Iqbal. Ia menambahkan bahwa upaya persuasif sangat penting agar perusahaan tetap mempertahankan produksinya di dalam negeri guna menjaga kesejahteraan buruh.

Baca Juga

Lowongan Kerja Bank Danamon 2026: Peluang Emas Program Bankers Trainee untuk Fresh Graduate

Lowongan Kerja Bank Danamon 2026: Peluang Emas Program Bankers Trainee untuk Fresh Graduate

Krisis Sepatu di Bandung: Kasus Nike dan PT Feng Tay

Persoalan industri ternyata tidak hanya berhenti di sektor otomotif. InfoNanti mencatat bahwa sektor alas kaki juga mengalami tekanan hebat. Di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, sekitar 4.000 buruh PT Feng Tay—perusahaan manufaktur yang memproduksi sepatu merek ternama, Nike—kini berada dalam bayang-bayang PHK yang nyata.

Masalah yang dihadapi PT Feng Tay dipicu oleh berkurangnya pesanan (order) dari pihak Nike Global, serta kendala pasokan bahan baku yang terhambat akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Situasi geopolitik ini secara langsung memukul rantai pasok industri tekstil dan produk tekstil (TPT) di tanah air.

Said Iqbal, yang juga menjabat sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan, menyatakan kesiapannya untuk melakukan langkah diplomasi internasional. Ia berencana menghubungi langsung manajemen Nike melalui jaringan organisasi buruh dunia, IndustriALL Global Union. Tujuannya jelas: meminta Nike untuk tidak memangkas pesanan dari pabrik-pabrik di Indonesia.

Diplomasi dan Usulan Relaksasi Pajak kepada Presiden Prabowo

Menyadari bahwa masalah ini memerlukan solusi dari tingkat pembuat kebijakan tertinggi, Said Iqbal berencana untuk segera menghadap pimpinan DPR RI dan Presiden Prabowo Subianto. Ada beberapa usulan konkret yang akan dibawa ke meja perundingan. Salah satunya adalah pemberian relaksasi pajak bagi perusahaan-perusahaan yang tengah berjuang agar tetap bisa beroperasi secara optimal.

Menurut kalkulasi Said Iqbal, jika pemerintah memberikan relaksasi pajak, ongkos produksi perusahaan bisa ditekan. Hal ini diharapkan bisa membuka peluang bagi perusahaan untuk menerapkan sistem kerja tiga shift kembali, yang secara otomatis akan menyelamatkan ribuan karyawan dari status dirumahkan atau PHK.

“Dengan dukungan kebijakan yang tepat dari pemerintah pusat, kita bisa menciptakan iklim yang lebih ramah bagi pengembangan industri mobil listrik dan manufaktur lainnya. Kita harus memastikan hak-hak buruh tetap terjaga, termasuk mereka yang saat ini dirumahkan agar tetap mendapatkan upah yang layak sesuai ketentuan,” tambah Iqbal.

Langkah Antisipasi Menghadapi Gejolak Ekonomi Global

Situasi yang dialami sektor otomotif dan alas kaki ini menjadi cermin bagi pemerintah untuk lebih sigap dalam merumuskan kebijakan ekonomi yang protektif namun tetap kompetitif. Persaingan dengan Vietnam bukan lagi sekadar wacana, melainkan tantangan nyata yang menuntut perbaikan sistem birokrasi, insentif investasi, dan kepastian hukum ketenagakerjaan.

InfoNanti akan terus memantau perkembangan negosiasi antara serikat pekerja, perusahaan, dan pemerintah. Harapannya, eksodus industri ini dapat dicegah, sehingga ribuan buruh dapat kembali bekerja dengan tenang dan sektor manufaktur Indonesia kembali menemukan tajinya di kancah internasional. Keberpihakan pada industri dalam negeri harus menjadi prioritas utama guna menghindari krisis sosial yang lebih dalam akibat pengangguran massal.

Rizky Pratama

Rizky Pratama

Penulis bisnis & startup dengan pengalaman di dunia digital marketing dan venture.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *