Badai Tekanan Global: Harga Emas Merosot di Tengah Lonjakan Inflasi dan Tensi Panas Geopolitik

Rizky Pratama | InfoNanti
29 Mei 2026, 06:53 WIB
Badai Tekanan Global: Harga Emas Merosot di Tengah Lonjakan Inflasi dan Tensi Panas Geopolitik

InfoNanti — Dinamika pasar komoditas global kembali menunjukkan wajahnya yang volatil. Kilau emas, yang biasanya menjadi pelabuhan aman bagi para investor, kini tampak meredup seiring dengan hantaman data ekonomi Amerika Serikat yang melampaui ekspektasi. Pada penutupan perdagangan Kamis, 28 Mei 2026, harga emas dunia harus merelakan posisinya dan terkoreksi untuk sesi ketiga berturut-turut. Fenomena ini tidak terlepas dari kombinasi antara rilis data inflasi yang membandel serta awan gelap ketidakpastian yang menyelimuti hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran.

Guncangan di Pasar Spot: Angka yang Berbicara

Laporan pasar terbaru menunjukkan bahwa harga emas di pasar spot mengalami penurunan sebesar 0,6 persen, mendarat di angka US$ 4.428,69 per ounce. Angka ini mencerminkan level terendah sejak akhir Maret, sebuah penurunan yang cukup signifikan mengingat emas sempat menikmati tren penguatan pada awal tahun. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat juga mengikuti jejak serupa dengan koreksi sebesar 0,5 persen, berakhir di posisi US$ 4.426,20.

Baca Juga

Gencatan Senjata AS-Iran Beri Napas Baru, Rupiah Mulai Tinggalkan Level Rp 17.100

Gencatan Senjata AS-Iran Beri Napas Baru, Rupiah Mulai Tinggalkan Level Rp 17.100

Penurunan ini bukan tanpa alasan. Para pelaku pasar nampaknya sedang melakukan kalkulasi ulang terhadap aset mereka. Ketidakpastian mengenai masa depan kesepakatan nuklir AS-Iran menjadi bumbu pahit yang memperkeruh suasana. Ketika diplomasi menemui jalan buntu, sentimen pasar cenderung menjauhi risiko, namun dalam kasus kali ini, penguatan dolar AS justru menjadi penghalang bagi emas untuk terbang lebih tinggi. Investasi emas pun kini tengah diuji daya tahannya di tengah badai makroekonomi.

Hantu Inflasi dan Bayang-bayang Kebijakan The Fed

Faktor utama yang menekan pergerakan sang logam mulia adalah rilis data indeks harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) di Amerika Serikat. Data menunjukkan adanya kenaikan sebesar 3,8 persen dalam basis tahunan hingga April 2026. Meskipun angka ini sesuai dengan ekspektasi para ekonom, namun lonjakan bulanan sebesar 0,4 persen menunjukkan bahwa tekanan harga belum sepenuhnya mereda. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa Federal Reserve (The Fed) mungkin tidak akan terburu-buru untuk memangkas suku bunga.

Baca Juga

Menakar Urgensi Transformasi Transportasi Demi Kedaulatan Energi Nasional

Menakar Urgensi Transformasi Transportasi Demi Kedaulatan Energi Nasional

Bart Melek, Global Head of Commodity Strategy di TD Securities, memberikan pandangannya bahwa meskipun data tersebut memberikan sedikit ruang bernapas bagi emas, risiko penurunan tetap mengintai. “Pasar sedang menimbang apakah Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga di level tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama. Masalahnya, meskipun konflik fisik mungkin mereda suatu saat nanti, harga energi yang tetap tinggi akan terus menyulut api inflasi amerika serikat,” jelasnya.

Risalah rapat bank sentral AS yang diterbitkan beberapa waktu lalu juga memperkuat narasi ini. Semakin banyak pejabat bank sentral yang mulai menyuarakan kemungkinan perlunya pengetatan kebijakan lebih lanjut jika inflasi tidak segera turun menuju target 2 persen. Bagi emas, ini adalah berita buruk. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset), daya tarik emas otomatis memudar ketika suku bunga tabungan atau obligasi pemerintah menawarkan keuntungan yang lebih menggiurkan.

Baca Juga

Ketegangan AS-Iran Memuncak: Trump Beri Ultimatum, Harga Minyak Dunia Meroket Lampaui USD 100

Ketegangan AS-Iran Memuncak: Trump Beri Ultimatum, Harga Minyak Dunia Meroket Lampaui USD 100

Krisis Geopolitik dan Dilema Harga Energi

Dunia internasional saat ini sedang menaruh perhatian penuh pada Selat Hormuz. Ketegangan meningkat setelah laporan mengenai serangan terhadap pangkalan udara AS yang diduga melibatkan operasi drone Iran. Respons keras dari Washington dan penolakan Presiden Donald Trump terhadap opsi kompromi dengan Teheran menciptakan atmosfer geopolitik global yang sangat panas. Secara teori, emas seharusnya diuntungkan dari situasi konflik seperti ini.

Namun, realitas pasar saat ini jauh lebih kompleks. Fawad Razaqzada, seorang analis pasar di City Index, menyoroti bahwa ketidakstabilan geopolitik kini tidak lagi berdiri sendiri. “Ketegangan di Timur Tengah secara langsung memicu kenaikan harga energi. Ketika harga minyak melonjak, kekhawatiran akan inflasi kembali membuncah. Hal ini justru mendorong imbal hasil obligasi naik dan memperkuat posisi dolar AS,” ungkapnya. Dalam skenario ini, emas terjepit di antara fungsinya sebagai aset aman dan tekanan dari penguatan mata uang Paman Sam.

Baca Juga

Krisis Sampah Indonesia: Antara Beban Iuran Rakyat dan Ambisi Waste to Energy 2027

Krisis Sampah Indonesia: Antara Beban Iuran Rakyat dan Ambisi Waste to Energy 2027

Logam mulia lainnya pun tidak luput dari aksi jual. Harga perak spot tercatat turun 1,2 persen menjadi US$ 73,69 per ounce, sementara platinum merosot 1,6 persen ke level US$ 1.887,75. Penurunan terdalam dialami oleh paladium yang terjerembab hingga 3,1 persen ke posisi US$ 1.347,31. Fenomena ini menunjukkan bahwa sentimen negatif tengah menyapu sektor logam secara keseluruhan.

Visi Jangka Panjang: Mampukah Emas Menyentuh US$ 10.000?

Meski saat ini emas sedang dalam tekanan jangka pendek, optimisme untuk masa depan tetap menyala di kalangan lembaga investasi ternama. Rockefeller Global Investment Management, melalui ahli strateginya Doug Moglia, mengeluarkan prediksi yang sangat berani. Mereka memproyeksikan bahwa harga emas bisa menembus level fantastis US$ 10.000 per ounce pada tahun 2030 mendatang. Angka ini didasarkan pada analisis siklus bullish komoditas yang terjadi setiap beberapa dekade sekali.

Moglia berpendapat bahwa kita saat ini sedang berada di awal siklus besar yang serupa dengan periode 1970-an. Pendorong utamanya bukan lagi sekadar spekulasi retail, melainkan pergeseran fundamental dalam cara bank sentral dunia mengelola cadangan devisa mereka. Sejak pecahnya konflik Rusia-Ukraina dan pembekuan aset-aset Rusia oleh Barat, banyak negara mulai merasa tidak nyaman jika hanya bergantung pada dolar AS atau Euro. Prediksi harga emas ini menjadi sinyal bagi investor jangka panjang untuk tetap tenang di tengah volatilitas saat ini.

Peran Sentral Bank dan Tren De-dolarisasi

Salah satu data paling menarik yang disoroti oleh para analis adalah volume pembelian emas oleh bank sentral global. Sepanjang tahun 2022 hingga 2024, bank-bank sentral di seluruh dunia telah memborong lebih dari 1.000 ton emas setiap tahunnya. Jumlah ini mencakup hampir seperempat dari total produksi tambang emas tahunan di seluruh dunia. Langkah ini dipandang sebagai upaya diversifikasi besar-besaran untuk mengurangi risiko pihak lawan (counterparty risk).

“Emas kini dipandang sebagai satu-satunya aset cadangan yang tidak terikat pada sistem keuangan negara manapun. Ia tidak bisa dibekukan, tidak bisa disanksi, dan memiliki nilai intrinsik yang diakui secara universal,” tambah Moglia. Selain itu, partisipasi investor ritel melalui dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) juga menunjukkan peningkatan yang solid. Sepanjang tahun 2025, kepemilikan ETF emas global melonjak hampir 20 persen, melampaui angka 3.000 ton metrik.

Menatap Masa Depan: Volatilitas adalah Bagian dari Perjalanan

Meskipun target US$ 10.000 terdengar sangat ambisius, sejarah menunjukkan bahwa siklus pasar emas memang seringkali berlangsung dalam durasi yang panjang, rata-rata sekitar satu dekade. Saat ini, reli emas dianggap baru memasuki tahun keempat. Jika pola sejarah berulang, maka fluktuasi harga yang terjadi saat ini hanyalah riak kecil dalam gelombang besar menuju puncak baru.

Namun, bagi para investor jangka pendek, kewaspadaan tetap menjadi kunci. Dinamika suku bunga the fed akan terus menjadi kompas utama pergerakan harga. Selama data ekonomi AS tetap solid dan inflasi masih jauh dari target, emas mungkin akan terus mengalami turbulensi. Para pelaku pasar disarankan untuk terus memantau perkembangan di Timur Tengah dan kebijakan fiskal Amerika Serikat, karena kedua faktor tersebut memegang kendali atas arah angin ekonomi global dalam beberapa bulan ke depan.

Kesimpulannya, emas saat ini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia tertekan oleh realitas ekonomi saat ini yang menuntut suku bunga tinggi. Di sisi lain, ia sedang dipersiapkan oleh kekuatan geopolitik dan pergeseran cadangan devisa dunia untuk menjadi raja kembali di akhir dekade ini. Bagi mereka yang memiliki cakrawala waktu panjang, penurunan saat ini mungkin dipandang sebagai kesempatan, namun bagi yang lain, ini adalah pengingat bahwa tidak ada aset yang benar-benar kebal terhadap dinamika pasar global.

Rizky Pratama

Rizky Pratama

Penulis bisnis & startup dengan pengalaman di dunia digital marketing dan venture.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *