Arah Baru Ethereum: Standard Chartered Prediksi Lonjakan Harga Hingga Rp 712 Juta, Ini Alasannya

Andi Saputra | InfoNanti
29 Mei 2026, 14:52 WIB
Arah Baru Ethereum: Standard Chartered Prediksi Lonjakan Harga Hingga Rp 712 Juta, Ini Alasannya

InfoNanti — Sejarah sering kali mengulang polanya sendiri, namun dalam balutan teknologi yang berbeda. Pada tahun 2001, saat gelembung dot-com meletus dan menyapu bersih kepercayaan pasar, Jeff Bezos, pendiri Amazon, berdiri teguh membela jatuhnya harga saham perusahaannya. Ia berargumen bahwa metrik internal perusahaan—jumlah pelanggan dan efisiensi operasional—justru tumbuh pesat meski harga saham sedang babak belur. Kini, narasi serupa sedang membungkus perjalanan salah satu raksasa blockchain dunia: Ethereum.

Dalam laporan terbarunya, Standard Chartered kembali menyuarakan optimisme yang kontras dengan kondisi pasar saat ini. Bank investasi global tersebut menilai bahwa harga Ethereum (ETH) saat ini sedang mengalami anomali, di mana nilai pasar tidak lagi mencerminkan utilitas sebenarnya yang terjadi di dalam jaringan. Ada jurang pemisah yang lebar antara angka di papan perdagangan dengan aktivitas ekonomi digital yang semakin masif di balik layar.

Baca Juga

El Salvador Membuka Gerbang Emas: Kebijakan Bebas Pajak Bitcoin dan Strategi Menjadi Magnet Investor Dunia

El Salvador Membuka Gerbang Emas: Kebijakan Bebas Pajak Bitcoin dan Strategi Menjadi Magnet Investor Dunia

Kesenjangan Antara Harga dan Fundamental

Analis dari Standard Chartered menggarisbawahi bahwa meskipun kinerja harga Ethereum terlihat kurang bergairah dibandingkan rival utamanya, Bitcoin, namun metrik internalnya justru menunjukkan performa yang luar biasa. Hingga akhir Mei 2026, Ethereum diperdagangkan di kisaran US$ 2.000 atau setara dengan Rp 35,64 juta (dengan asumsi kurs Rp 17.820 per dolar AS). Angka ini mencerminkan penurunan tajam sekitar 60% dari level puncaknya di bulan Agustus yang sempat menyentuh US$ 5.000.

Sebagai perbandingan, Bitcoin hanya mengalami koreksi sebesar 42% dari titik tertingginya di angka US$ 126.000 menjadi sekitar US$ 72.800. Namun, Standard Chartered melihat ketertinggalan Ethereum ini bukan sebagai tanda pelemahan permanen, melainkan sebuah peluang “pegas yang tertekan”. Bank tersebut menegaskan bahwa jumlah transaksi harian dan total nilai aset yang terkunci dalam ekosistem keuangan terdesentralisasi (DeFi) terus meningkat, sebuah indikator bahwa adopsi teknologi Ethereum tidak pernah berhenti meski harganya sedang lesu.

Baca Juga

Update Harga Kripto 4 Juni 2026: Bitcoin Terkoreksi, Monero dan HYPE Berhasil Curi Panggung

Update Harga Kripto 4 Juni 2026: Bitcoin Terkoreksi, Monero dan HYPE Berhasil Curi Panggung

Dominasi Sektor DeFi dan Tokenisasi Aset

Salah satu pilar utama yang menopang keyakinan Standard Chartered adalah peran dominan Ethereum dalam ekosistem stablecoin dan tokenisasi aset. Ethereum bukan sekadar mata uang digital, melainkan sebuah infrastruktur tempat di mana Wall Street mulai memindahkan jalur transaksi mereka ke sistem yang lebih modern dan efisien.

Laporan tersebut menekankan bahwa migrasi lembaga keuangan tradisional ke jalur aset digital akan memberikan keuntungan eksponensial bagi Ethereum. Saat ini, Ethereum telah menjadi pemimpin pasar yang tak terbantahkan dalam sektor tokenisasi, sebuah proses di mana aset dunia nyata (Real World Assets/RWA) seperti obligasi, saham, hingga komoditas, diubah menjadi token digital di atas blockchain.

Baca Juga

Update Harga Kripto Hari Ini: Bitcoin Kokoh di Angka US$ 63.600 Saat Altcoin Mulai Menunjukkan Taringnya

Update Harga Kripto Hari Ini: Bitcoin Kokoh di Angka US$ 63.600 Saat Altcoin Mulai Menunjukkan Taringnya

“Jika aset tertimbang risiko (RWA) meningkat hingga 50 kali lipat dalam beberapa tahun ke depan sebagaimana yang kami perkirakan, maka posisi Ethereum sebagai jaringan utama akan menjadi sangat krusial,” tulis analis Standard Chartered dalam laporannya. Mereka memprediksi bahwa dominasi ini akan membawa rasio harga ETH terhadap BTC kembali ke level 0,08, sebuah angka yang mencerminkan kejayaan pasar kripto pada tahun 2021 silam.

Target Ambisius: Rp 71 Juta di Akhir Tahun, Rp 712 Juta di 2030

Meski saat ini pasar terlihat skeptis, Standard Chartered tidak mengubah target harga jangka pendek maupun jangka panjang mereka. Bank ini tetap memegang teguh proyeksi bahwa Ethereum akan menyentuh angka US$ 4.000 atau sekitar Rp 71,2 juta pada akhir tahun ini. Namun, yang lebih mengejutkan adalah visi jangka panjang mereka untuk tahun 2030.

Baca Juga

Revolusi Remitansi di Afrika: Tando Hubungkan Bitcoin ke Nomor Ponsel Tanpa Dompet Kripto

Revolusi Remitansi di Afrika: Tando Hubungkan Bitcoin ke Nomor Ponsel Tanpa Dompet Kripto

Standard Chartered memperkirakan harga Ethereum dapat meroket hingga US$ 40.000 atau setara dengan Rp 712,8 juta di akhir dekade ini. Angka ini didasarkan pada asumsi bahwa Ethereum akan menjadi tulang punggung bagi sistem keuangan global yang baru. Dengan adanya pengesahan regulasi yang semakin jelas mengenai standar operasional blockchain bagi institusi, hambatan bagi masuknya modal besar ke dalam investasi kripto akan semakin terkikis.

Legitimasi melalui undang-undang yang mengkodifikasi standar DeFi akan menjadi katalisator utama. Hal ini memungkinkan bank-bank besar dan manajer investasi global untuk menggunakan jaringan Ethereum tanpa keraguan hukum, yang pada akhirnya akan mendorong volume transaksi ke level yang belum pernah terbayangkan sebelumnya.

Sentimen Pasar dan Realita Jangka Pendek

Namun, di tengah proyeksi yang menggiurkan tersebut, suara-suara skeptis tetap nyaring terdengar. Platform pasar prediksi seperti Myriad mencatat adanya pesimisme dari sebagian pengguna dalam jangka pendek. Beberapa spekulan melihat peluang sebesar 65% bagi Ethereum untuk turun lebih dalam ke level US$ 1.500 sebelum ada potensi kenaikan menuju US$ 3.000.

Kondisi pasar yang volatil dan ketidakpastian makroekonomi global memang menjadi tantangan nyata bagi aset berisiko. Namun, bagi Standard Chartered, dinamika harga harian hanyalah kebisingan sementara. Fokus mereka tetap pada nilai intrinsik dan kegunaan jaringan yang terus mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa dalam hal aktivitas teknis.

Ethereum saat ini sedang berada di persimpangan jalan, mirip dengan momen Amazon pasca-gelembung dot-com. Pertanyaannya bukan lagi apakah teknologinya akan bertahan, melainkan kapan pasar akan mulai menyadari nilai sebenarnya dari infrastruktur digital yang sedang dibangun ini. Bagi para investor, periode ini mungkin menjadi ujian kesabaran sekaligus kesempatan untuk menelaah kembali fundamental di balik angka-angka yang berkedip di layar perdagangan.

Disclaimer: Keputusan untuk melakukan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca. Pastikan Anda melakukan riset mendalam dan analisis mandiri sebelum memutuskan untuk membeli atau menjual aset kripto. InfoNanti tidak bertanggung jawab atas segala keuntungan maupun kerugian yang muncul dari keputusan investasi yang Anda ambil.

Andi Saputra

Andi Saputra

Analis crypto dan blockchain enthusiast sejak 2017.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *