Badai Geopolitik di Timur Tengah: Arus Keluar Dana Kripto Global Tembus Rp 26,18 Triliun

Andi Saputra | InfoNanti
28 Mei 2026, 06:52 WIB
Badai Geopolitik di Timur Tengah: Arus Keluar Dana Kripto Global Tembus Rp 26,18 Triliun

InfoNanti — Gejolak geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar aset digital global dengan intensitas yang mengejutkan. Dalam sepekan terakhir, instrumen investasi kripto yang dikelola oleh raksasa manajer aset seperti BlackRock, Fidelity Investments, hingga 21Shares, harus menghadapi kenyataan pahit dengan eksodus dana investor yang mencapai angka fantastis, yakni USD 1,47 miliar atau setara dengan Rp 26,18 triliun (berdasarkan asumsi kurs Rp 17.810 per dolar AS).

Eksodus modal besar-besaran ini menandai pekan kedua berturut-turut di mana para pemodal memilih untuk menarik diri dari pasar kripto. Laporan terbaru dari CoinShares yang dirilis pada Selasa, 26 Mei 2026, menegaskan bahwa sentimen pasar saat ini sedang berada dalam fase defensif yang sangat kuat. Ketegangan bersenjata yang melibatkan Iran tidak hanya memicu kekhawatiran diplomatik, tetapi juga meruntuhkan selera risiko para pelaku pasar di seluruh penjuru dunia.

Baca Juga

Analisis Tajam: Bitcoin Bertahan di Level Rp 1,24 Miliar, Akankah Reli Geopolitik Berlanjut?

Analisis Tajam: Bitcoin Bertahan di Level Rp 1,24 Miliar, Akankah Reli Geopolitik Berlanjut?

Rekor Penarikan Dana Terbesar Ketiga di Tahun 2026

Jika kita menilik lebih dalam ke data historis tahun ini, arus keluar mingguan tersebut bukanlah fenomena biasa. Ini merupakan rekor penarikan dana terbesar ketiga yang pernah tercatat sepanjang tahun 2026. Dalam kurun waktu dua minggu saja, akumulasi dana yang ditarik dari ekosistem investasi ini telah mencapai angka yang mencengangkan, yakni US$ 2,54 miliar atau sekitar Rp 45,24 triliun.

James Butterfill, Kepala Riset di CoinShares, memberikan perspektif yang mendalam mengenai fenomena ini. Menurutnya, narasi “risk-off” atau penghindaran risiko telah menyebar secara merata di hampir seluruh wilayah geografis. Ketegangan yang meningkat di sekitar wilayah Iran telah menciptakan efek domino, menutupi optimisme yang sebelumnya sempat tumbuh berkat kemajuan regulasi seperti The Clarity Act.

Baca Juga

Kilas Balik Bitcoin Pizza Day: Transformasi Aset Digital dari Dua Loyang Pizza Menjadi Imperium Finansial Global

Kilas Balik Bitcoin Pizza Day: Transformasi Aset Digital dari Dua Loyang Pizza Menjadi Imperium Finansial Global

Sebelum badai ini melanda, pasar sebenarnya sempat menikmati masa-masa keemasan dengan tren arus masuk yang konsisten selama enam minggu. Namun, stabilitas tersebut hancur seketika ketika investor memutuskan untuk menarik US$ 1,07 miliar dari produk investasi kripto pada pekan sebelumnya, yang kemudian memuncak pada aksi jual masif di pekan ini.

Konflik Iran dan Ancaman Keamanan di Selat Hormuz

Penyebab utama dari pelarian modal ini tidak lain adalah eskalasi militer yang semakin memanas. Situasi memburuk setelah Amerika Serikat meluncurkan serangan terhadap situs-situs rudal dan kapal milik Iran di area strategis Selat Hormuz. Langkah ini dibalas dengan ancaman serius dari Garda Revolusi Iran yang menyebut serangan tersebut sebagai pelanggaran nyata terhadap kesepakatan gencatan senjata.

Baca Juga

Harga Kripto Hari Ini 13 April 2026: Bitcoin dan Ethereum Terkoreksi, Siapa yang Bertahan?

Harga Kripto Hari Ini 13 April 2026: Bitcoin dan Ethereum Terkoreksi, Siapa yang Bertahan?

Pasar semakin cemas karena negosiasi mengenai persediaan nuklir Iran masih menemui jalan buntu. Ada poin-poin krusial yang belum disepakati, termasuk mengenai pelepasan aset beku senilai US$ 24 miliar atau setara Rp 427,54 triliun. Ketidakpastian ini diperparah oleh aksi militer Israel yang meningkatkan serangan terhadap lebih dari 100 target Hizbullah di Lebanon, yang memicu kekhawatiran akan terjadinya perang darat yang lebih luas di wilayah utara.

Sentimen negatif ini bahkan diperkuat oleh pernyataan politik dari Amerika Serikat. Penurunan harga Bitcoin hingga di bawah level psikologis US$ 77.000 juga dipicu oleh retorika keras Presiden Trump terhadap Iran, yang langsung direspons oleh investor dengan melakukan likuidasi massal untuk mengamankan aset mereka ke dalam bentuk tunai atau instrumen yang lebih aman.

Baca Juga

Update Harga Kripto 29 April 2026: Bitcoin Melemah Saat Altcoin Mulai Unjuk Gigi, Akankah Dominasi Terus Tergerus?

Update Harga Kripto 29 April 2026: Bitcoin Melemah Saat Altcoin Mulai Unjuk Gigi, Akankah Dominasi Terus Tergerus?

ETF Bitcoin AS Menjadi Titik Terlemah

Sektor yang paling terdampak dalam badai penjualan ini adalah Exchange Traded Funds (ETF) Bitcoin spot di Amerika Serikat. Berdasarkan data dari SoSoValue, ETF Bitcoin AS mencatatkan arus keluar bersih kumulatif sebesar US$ 1,26 miliar atau sekitar Rp 22,44 triliun dalam satu minggu saja. Ini adalah penarikan mingguan terdalam yang pernah dialami sejak akhir Januari lalu.

Tren ini menunjukkan pelemahan yang sistematis, di mana selama enam hari berturut-turut, total dana yang keluar mencapai US$ 1,55 miliar. Puncaknya terjadi pada hari Senin, di mana 12 produk ETF Bitcoin spot kehilangan total US$ 648,6 juta dalam satu hari perdagangan saja. Angka ini mencerminkan betapa rapuhnya kepercayaan investor institusi saat menghadapi volatilitas yang didorong oleh isu geopolitik global.

Anomali Altcoin: XRP dan Solana Justru Menarik Minat

Menariknya, di tengah kehancuran harga Bitcoin dan Ethereum, beberapa aset kripto alternatif atau altcoin justru menunjukkan ketahanan yang luar biasa. Meski pasar secara umum memerah, produk investasi berbasis XRP berhasil mencatatkan arus masuk sebesar US$ 31,8 juta. Hal serupa juga terlihat pada produk Near yang berhasil menambah dana kelolaan sebesar US$ 9 juta, meskipun total AUM (Asset Under Management) mereka relatif kecil.

Berikut adalah beberapa produk yang justru mendapatkan limpahan dana di tengah krisis:

  • Solana (SOL): Mencatatkan arus masuk sebesar US$ 7,7 juta atau Rp 137,7 miliar.
  • Sui: Memperoleh tambahan dana sebesar US$ 2,9 juta.
  • Produk Multi-Aset: Menarik minat sebesar US$ 4,7 juta.
  • Short Bitcoin: Instrumen yang bertaruh pada penurunan harga Bitcoin ini justru mencatatkan arus masuk US$ 10,2 juta sebagai bentuk lindung nilai (hedging).

Data dari CoinShares mengungkapkan bahwa meskipun secara keseluruhan terjadi penurunan, masih ada sembilan jenis aset digital yang berhasil membukukan arus masuk di atas US$ 1 juta. Meskipun angka ini turun dari 11 aset pada minggu sebelumnya, hal ini menunjukkan bahwa investor masih mencoba mencari celah keuntungan di balik volatilitas tinggi.

Dominasi Penarikan Dana di Wilayah Amerika dan Eropa

Secara geografis, Amerika Serikat memegang peran utama sebagai kontributor arus keluar terbesar dengan angka US$ 1,43 miliar. Posisi ini diikuti oleh Swiss yang mencatatkan penarikan dana sebesar US$ 16,2 juta. Negara-negara lain seperti Kanada dan Hong Kong juga tidak luput dari tren negatif ini, dengan masing-masing mencatatkan penarikan sebesar US$ 12,5 juta dan US$ 12,2 juta.

Hanya Jerman yang terlihat relatif stabil dengan posisi dana kelolaan yang tidak banyak berubah di tengah gejolak ini. Secara total, aset kripto yang dikelola di seluruh dunia saat ini masih berada di kisaran US$ 148,7 miliar atau setara Rp 2.649 triliun. Penarikan dana yang terjadi pekan lalu menyumbang sekitar 1% dari total dana kelolaan global tersebut.

Proyeksi Pasar: Akankah Gejolak Berlanjut?

Para analis memprediksi bahwa pergerakan harga kripto di masa mendatang akan sangat bergantung pada perkembangan di Selat Hormuz dan meja negosiasi nuklir. Jika ketegangan mereda, pasar mungkin akan melihat aksi “buy the dip” atau pembelian di harga rendah oleh para investor besar. Namun, selama ancaman perang terbuka masih menghantui, likuiditas kemungkinan besar akan tetap menjauh dari aset-aset berisiko tinggi.

Penting bagi para investor untuk menyadari bahwa pasar kripto memiliki tingkat volatilitas yang sangat ekstrem, terutama saat bersinggungan dengan isu keamanan global. Strategi diversifikasi dan manajemen risiko yang ketat menjadi kunci utama dalam menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian seperti saat ini.

Disclaimer: Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing individu. Pastikan untuk melakukan riset mendalam dan analisis yang komprehensif sebelum memutuskan untuk membeli atau menjual aset kripto. InfoNanti tidak bertanggung jawab atas potensi kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi Anda.

Andi Saputra

Andi Saputra

Analis crypto dan blockchain enthusiast sejak 2017.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *