Gurita Bitcoin: Mengupas 7 Aksi Beli Terbesar Strategy yang Mengguncang Jagat Kripto

Andi Saputra | InfoNanti
26 Mei 2026, 10:51 WIB
Gurita Bitcoin: Mengupas 7 Aksi Beli Terbesar Strategy yang Mengguncang Jagat Kripto

InfoNanti — Di tengah hiruk-pikuk dinamika ekonomi global yang kian tak menentu, sebuah fenomena luar biasa terjadi di panggung pasar modal. Strategy, sebuah entitas yang awalnya dikenal sebagai penyedia perangkat lunak, kini telah bertransformasi sepenuhnya menjadi raksasa perbendaharaan Bitcoin dunia. Selama lebih dari lima tahun terakhir, perusahaan ini secara agresif menguras pasokan Bitcoin di pasar, memposisikan diri mereka bukan sekadar sebagai investor, melainkan sebagai pelopor tren bagi perusahaan publik lainnya untuk memasukkan aset digital ke dalam neraca keuangan mereka.

Hingga data terbaru yang dihimpun pada pertengahan tahun 2026, Strategy tercatat telah mengumpulkan aset yang sangat fantastis, yakni sebanyak 843.738 BTC. Angka ini setara dengan sekitar 4 persen dari total pasokan Bitcoin yang pernah ada di dunia, yaitu 21 juta koin. Dengan harga pasar yang kini bertengger kokoh di atas level USD 76.500 atau sekitar Rp 1,35 miliar, total kekayaan digital perusahaan ini diperkirakan mencapai hampir USD 65 miliar, atau menembus angka Rp 1.152 triliun jika dikonversi menggunakan kurs Rp 17.730 per dolar AS.

Baca Juga

Strategi Baru Goldman Sachs: Meninggalkan ETF Solana dan XRP Demi Dominasi Infrastruktur Hyperliquid

Strategi Baru Goldman Sachs: Meninggalkan ETF Solana dan XRP Demi Dominasi Infrastruktur Hyperliquid

Visi Michael Saylor dan Ambisi Tanpa Batas

Dibalik langkah berani ini, ada sosok Michael Saylor, salah satu pendiri Strategy yang dikenal memiliki keyakinan teguh terhadap masa depan emas digital. Meskipun harga Bitcoin terus merangkak naik dan mengalami volatilitas yang ekstrem, Saylor seolah tak gentar. Ia justru terus menambah koleksinya, bahkan saat harga rata-rata perolehannya kini telah terkerek naik ke posisi USD 75.700 per keping. Bagi Saylor, Bitcoin bukan sekadar investasi kripto biasa, melainkan solusi atas inflasi mata uang fiat yang terus menggerus nilai kekayaan dalam jangka panjang.

Ambisi ini tercermin dari sejarah transaksi besar yang dilakukan perusahaan. Strategy tidak membeli dalam jumlah kecil; mereka melakukan pembelian massal yang sering kali membuat pasar bergejolak. Berikut adalah narasi mendalam mengenai tujuh aksi pembelian Bitcoin terbesar yang pernah dilakukan oleh Strategy, yang telah kami rangkum untuk memberikan gambaran betapa masifnya dominasi mereka di pasar mata uang digital.

Baca Juga

Update Harga Kripto 27 April 2026: Bitcoin Melaju ke Rp 1,34 Miliar, Sinyal Bullish Dominasi Pasar

Update Harga Kripto 27 April 2026: Bitcoin Melaju ke Rp 1,34 Miliar, Sinyal Bullish Dominasi Pasar

1. Rekor Spektakuler: 55.500 Bitcoin (25 November 2024)

Pada akhir tahun 2024, Michael Saylor mengejutkan dunia finansial dengan mengumumkan akuisisi Bitcoin terbesar dalam sejarah perusahaan, baik dari sisi jumlah koin maupun nilai dolar. Strategy menggelontorkan dana sebesar USD 5,4 miliar atau setara dengan Rp 95,72 triliun untuk memboyong 55.500 BTC ke dalam brankas digital mereka. Saat itu, harga rata-rata pembelian berada di angka USD 97.862 per koin.

Aksi ini begitu masif hingga melampaui rekor pembelian sebelumnya dengan selisih lebih dari USD 800 juta. Menariknya, dinamika pasar langsung bereaksi secara instan. Hanya beberapa jam setelah pengumuman, harga Bitcoin sempat terkoreksi sekitar 4 persen ke bawah level USD 94.000. Fenomena ini sering disebut sebagai reaksi ‘sell on news’, di mana pasar mengambil napas setelah pengumuman besar sebelum akhirnya melanjutkan tren kenaikannya.

Baca Juga

YouTube Blokir Kanal Bitcoin.com: Sinyal Perang Terhadap Konten Kripto atau Sekadar Eror Sistem?

YouTube Blokir Kanal Bitcoin.com: Sinyal Perang Terhadap Konten Kripto atau Sekadar Eror Sistem?

2. Dominasi Beruntun: 51.780 BTC (18 November 2024)

Hanya berselang satu minggu sebelum rekor 55.500 BTC tercipta, Strategy sebenarnya sudah melakukan gebrakan dengan membeli 51.780 BTC. Dengan harga rata-rata USD 88.627 per koin, total pengeluaran perusahaan mencapai USD 4,6 miliar atau sekitar Rp 81,5 triliun. Langkah beruntun dalam waktu singkat ini menunjukkan betapa agresifnya strategi akumulasi mereka saat itu.

Meskipun sempat ada penurunan harga sesaat setelah pengumuman, pasar kripto menunjukkan ketangguhannya. Harga Bitcoin segera pulih dan bahkan menyentuh level tertinggi harian di USD 92.653. Tak lama kemudian, aset ini mencetak rekor sejarah baru (ATH) di atas USD 94.000. Pembelian ini secara signifikan meningkatkan total kepemilikan Strategy menjadi 331.200 BTC pada periode tersebut, memperkuat posisi mereka di puncak rantai makanan investor institusi.

Baca Juga

Masa Depan Regulasi Kripto: Industri Desak Kongres AS Segera Sahkan CLARITY Act untuk Kepastian Pasar

Masa Depan Regulasi Kripto: Industri Desak Kongres AS Segera Sahkan CLARITY Act untuk Kepastian Pasar

3. Strategi Saham Preferen STRC: 34.200 BTC (20 April 2026)

Memasuki tahun 2026, Strategy memperkenalkan mekanisme pendanaan yang lebih inovatif. Jika sebelumnya mereka banyak mengandalkan surat utang konversi, kali ini mereka memanfaatkan instrumen Stretch (STRC), yakni saham preferen yang membayar dividen. Pada 20 April 2026, perusahaan mengumumkan pembelian 34.200 BTC dengan total nilai USD 2,54 miliar atau sekitar Rp 45,02 triliun.

Harga rata-rata pembelian kali ini berada di kisaran USD 74.395. Berbeda dengan pola biasanya di mana harga cenderung turun setelah pengumuman, kali ini pasar justru merespons positif. Harga Bitcoin naik sekitar 1 persen sehari setelah pengumuman, memberikan keuntungan yang belum terealisasi (unrealized gain) secara instan bagi perusahaan. Momentum ini juga menandai pencapaian total kepemilikan yang menembus angka 815.000 BTC.

4. Jejak Awal Bull Run: 29.646 BTC (21 Desember 2020)

Menengok kembali ke belakang, salah satu momen krusial dalam sejarah Strategy adalah pembelian pada akhir tahun 2020. Di tengah suasana pasar yang mulai bergairah (bullish), perusahaan mengamankan 29.646 BTC dengan harga yang saat itu dianggap cukup tinggi namun kini terlihat sangat murah: USD 21.925 per koin. Total investasi yang dikeluarkan adalah USD 650 juta atau sekitar Rp 11,52 triliun.

Pembelian ini sangat penting karena membuktikan visi jangka panjang Saylor. Bayangkan, aset yang dibeli dengan harga USD 21 ribu tersebut kini telah bernilai lebih dari tiga kali lipat. Langkah ini adalah fondasi awal yang membangun kredibilitas Strategy sebagai pemain utama dalam ekosistem teknologi blockchain dan aset kripto global.

5. Efek Politik dan Optimisme: 27.200 BTC (11 November 2024)

Dunia politik sering kali menjadi katalisator bagi pasar keuangan, tak terkecuali kripto. Kurang dari sepekan setelah kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden Amerika Serikat untuk kedua kalinya, Strategy mengumumkan pembelian 27.200 BTC. Transaksi ini dilakukan secara bertahap antara 31 Oktober hingga 10 November 2024, dengan rentang harga USD 72.000 hingga USD 80.000.

Total pengeluaran mencapai USD 2,03 miliar. Tak lama setelah pengumuman resmi dilakukan, harga Bitcoin melonjak tajam lebih dari 10 persen dalam satu hari dan ditutup pada angka USD 88.637. Sentimen pasar yang sangat optimis terhadap kebijakan pemerintah baru yang diprediksi pro-kripto memberikan dorongan luar biasa bagi aset-aset digital di neraca Strategy.

6. Konsistensi di Tengah Volatilitas: 24.869 BTC (18 Mei 2026)

Kembali ke tahun 2026, Strategy menunjukkan bahwa mereka tidak akan berhenti meskipun pasar mengalami tekanan. Menggunakan kembali dana dari penawaran saham preferen STRC, mereka mengakuisisi 24.869 BTC senilai lebih dari USD 2,01 miliar. Harga rata-rata yang dibayarkan adalah USD 80.985 per koin.

Namun, pasar kali ini menunjukkan sisi liarnya. Dalam dua hari setelah pengumuman, harga Bitcoin terkoreksi sekitar 4,5 persen menjadi USD 77.207. Tekanan jual terus berlanjut hingga akhir pekan, di mana harga sempat jatuh ke bawah level USD 75.000 untuk pertama kalinya dalam sebulan. Meskipun demikian, bagi Strategy, penurunan ini hanyalah fluktuasi jangka pendek dalam perjalanan panjang mereka menuju dominasi aset digital dunia.

7. Penutup Kuartal yang Agresif: 22.337 BTC (16 Maret 2026)

Menjelang penutupan kuartal pertama tahun 2026, Strategy kembali beraksi dengan membeli 22.337 BTC senilai USD 1,57 miliar. Pembelian ini didorong oleh keberhasilan penjualan saham preferen STRC yang saat itu diperdagangkan di atas level psikologis USD 100 per lembar. Perusahaan memanfaatkan momentum tingginya minat investor terhadap saham mereka untuk dikonversi menjadi lebih banyak Bitcoin.

Harga rata-rata pembelian berada di angka USD 70.194. Menariknya, pada hari pengumuman, harga Bitcoin sempat menembus level USD 75.000 sebelum akhirnya kembali terkoreksi ke bawah USD 70.000 dalam beberapa hari berikutnya. Dinamika ini memperlihatkan betapa kuatnya pengaruh pengumuman Strategy terhadap psikologi para trader di pasar modal maupun pasar kripto.

Kesimpulan: Masa Depan di Tangan ‘Emas Digital’

Apa yang dilakukan oleh Strategy melalui kepemimpinan Michael Saylor adalah sebuah eksperimen finansial terbesar di abad ini. Dengan memegang hampir 4 persen dari total pasokan Bitcoin, perusahaan ini bukan lagi sekadar entitas bisnis, melainkan sebuah proksi bagi kinerja Bitcoin itu sendiri. Setiap langkah yang mereka ambil selalu menjadi sorotan dan sering kali menentukan arah pergerakan harga pasar.

Bagi para investor, fenomena ini memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya keyakinan pada sebuah aset dan bagaimana strategi manajemen kas korporat dapat berevolusi di era digital. Namun, perlu diingat bahwa investasi dalam aset kripto memiliki risiko volatilitas yang sangat tinggi. Sejarah panjang pembelian Strategy ini menunjukkan bahwa di balik potensi keuntungan yang masif, terdapat keberanian untuk menghadapi fluktuasi harga yang luar biasa tajam.

Andi Saputra

Andi Saputra

Analis crypto dan blockchain enthusiast sejak 2017.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *