Strategi Baru Goldman Sachs: Meninggalkan ETF Solana dan XRP Demi Dominasi Infrastruktur Hyperliquid

Andi Saputra | InfoNanti
19 Mei 2026, 12:51 WIB
Strategi Baru Goldman Sachs: Meninggalkan ETF Solana dan XRP Demi Dominasi Infrastruktur Hyperliquid

InfoNanti — Raksasa perbankan investasi global, Goldman Sachs, secara mengejutkan mengubah arah bidikannya dalam ekosistem aset digital. Setelah sempat tampil agresif dalam melakukan ekspansi ke instrumen dana yang diperdagangkan di bursa atau Exchange Traded Fund (ETF) altcoin pada penghujung tahun 2025, bank yang bermarkas di New York ini kini justru terpantau mulai melikuidasi sejumlah posisi penting mereka di pasar kripto.

Pergeseran ini memicu diskusi hangat di kalangan analis keuangan dan pelaku pasar kripto. Berdasarkan laporan terbaru, Goldman Sachs telah resmi keluar dari beberapa posisi menonjol mereka di awal tahun 2026. Fenomena ini memberikan sinyal kuat bahwa perbankan besar di Wall Street mulai mengalihkan fokus dari sekadar memegang aset investasi kripto dalam bentuk ETF altcoin menuju kelas investasi baru yang jauh lebih teknis, yakni infrastruktur kripto yang lebih fundamental.

Baca Juga

Ray Dalio vs Bitcoin: Mengapa Legenda Hedge Fund Dunia Masih Sangsi Terhadap Status Safe Haven Kripto?

Ray Dalio vs Bitcoin: Mengapa Legenda Hedge Fund Dunia Masih Sangsi Terhadap Status Safe Haven Kripto?

Langkah Tak Terduga Sang Raksasa Wall Street

Keputusan Goldman Sachs untuk menarik diri dari eksposur ETF XRP dan Solana pada kuartal pertama tahun 2026 terungkap melalui pengajuan formulir 13F terbaru kepada Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC). Bagi para pengamat pasar, dokumen 13F adalah jendela utama untuk melihat bagaimana manajer investasi besar mengelola portofolio mereka setiap kuartalnya.

Langkah ini menandai pembalikan strategi yang cukup drastis jika dibandingkan dengan manuver bank tersebut beberapa bulan sebelumnya. Pada kuartal keempat tahun 2025, Goldman Sachs tercatat memegang posisi yang sangat kuat pada produk ETF XRP yang diterbitkan oleh manajer aset ternama seperti Bitwise, Franklin Templeton, Grayscale, dan 21Shares. Nilainya pun tidak main-main, mencapai hampir USD 154 juta atau setara dengan Rp 2,72 triliun dengan asumsi kurs rupiah di kisaran 17.680 per dolar AS.

Baca Juga

Prediksi Fantastis: Volume Transaksi Stablecoin Bakal Tembus USD 719 Triliun di Tahun 2035

Prediksi Fantastis: Volume Transaksi Stablecoin Bakal Tembus USD 719 Triliun di Tahun 2035

Saat itu, Goldman Sachs dipandang sebagai salah satu pemegang institusional terbesar untuk produk ETF XRP di dunia. Tidak hanya XRP, bank ini juga sebelumnya menunjukkan ketertarikan besar pada ekosistem Solana dengan memiliki eksposur di berbagai produk investasi seperti Grayscale Solana Trust ETF, Bitwise Solana Staking ETF, hingga Fidelity Solana Fund. Namun, dalam laporan keuangan kuartal pertama 2026, seluruh posisi tersebut dilaporkan telah menghilang sepenuhnya.

Transformasi Menuju Infrastruktur Hyperliquid

Meski terlihat seperti sedang melakukan penarikan mundur, Goldman Sachs sebenarnya sedang melakukan strategi “rotasi modal”. Di saat mereka melepas ETF XRP dan Solana, bank tersebut secara bersamaan membuka posisi baru yang cukup signifikan pada infrastruktur yang berkaitan dengan Hyperliquid. Ini merupakan langkah yang dianggap lebih berorientasi pada masa depan teknologi blockchain itu sendiri.

Baca Juga

Skandal Stablecoin Palsu di Hong Kong: HKMA Bongkar Praktik Ilegal di Tengah Ambisi Kripto Global

Skandal Stablecoin Palsu di Hong Kong: HKMA Bongkar Praktik Ilegal di Tengah Ambisi Kripto Global

Hyperliquid sendiri telah mencatatkan diri sebagai salah satu sektor dengan pertumbuhan paling eksplosif di pasar kripto global. Platform ini merupakan bursa perdagangan berjangka abadi (perpetual futures) terdesentralisasi yang memungkinkan pengguna untuk melakukan transaksi derivatif kripto secara langsung di atas blockchain tanpa perlu melalui perantara tradisional atau bursa terpusat (CEX).

Ketertarikan Goldman Sachs pada Hyperliquid bukanlah tanpa alasan fundamental yang kuat. Sepanjang tahun 2025, platform ini berhasil memproses volume perdagangan yang sangat masif, mencapai sekitar USD 2,9 triliun atau setara dengan Rp 51.258 triliun. Angka ini mewakili lonjakan lebih dari 400% dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan, data dari Bitwise menunjukkan bahwa Hyperliquid menguasai hampir 60% dari total open interest derivatif on-chain secara global.

Baca Juga

Strategi Baru Michael Saylor: Mungkinkah MicroStrategy Mulai Melepas Bitcoin?

Strategi Baru Michael Saylor: Mungkinkah MicroStrategy Mulai Melepas Bitcoin?

Investasi Strategis pada PURR dan HYPE

Berdasarkan pengajuan resmi dan laporan pasar yang dihimpun oleh InfoNanti, Goldman Sachs dilaporkan telah mengakuisisi sekitar 654.630 saham di Hyperliquid Strategies Inc. (PURR). Nilai akuisisi ini diperkirakan mencapai USD 3,3 juta atau sekitar Rp 58,32 miliar. Meski nilainya terlihat lebih kecil dibandingkan posisi ETF XRP mereka sebelumnya, langkah ini dianggap sebagai langkah awal yang strategis dalam menguasai infrastruktur perdagangan masa depan.

Pergeseran minat yang sangat cepat ini terjadi hanya dalam hitungan hari setelah ETF Hyperliquid pertama kali mendapatkan lampu hijau untuk diperdagangkan di bursa Amerika Serikat. Pada tanggal 12 Mei, 21Shares meluncurkan ETF Hyperliquid pertama, yang kemudian segera disusul oleh debut ETF BHYP milik Bitwise di Bursa Efek New York (NYSE) pada 15 Mei.

Kecepatan institusi sekaliber Goldman Sachs dalam merespons instrumen baru ini menunjukkan bahwa Wall Street kini lebih tertarik pada infrastruktur kripto yang terkait dengan platform perdagangan on-chain dan derivatif terdesentralisasi, daripada hanya sekadar memegang eksposur langsung pada token altcoin yang dianggap memiliki volatilitas tinggi tanpa utilitas infrastruktur yang jelas.

Analisis Pasar: Mengapa Fokus Berubah?

Banyak analis berpendapat bahwa penarikan diri Goldman Sachs dari ETF Solana dan XRP bukan berarti mereka kehilangan kepercayaan pada aset kripto secara umum. Sebagai bukti, kepemilikan mereka pada ETF Bitcoin tetap kokoh di angka USD 700 juta atau sekitar Rp 12,37 triliun, meskipun mereka sempat melakukan penyesuaian kecil pada portofolio Bitcoin tersebut.

Fokus utama Goldman Sachs tampaknya bergeser pada efisiensi modal. Dengan berinvestasi pada Hyperliquid, mereka sebenarnya sedang bertaruh pada “mesin” yang menjalankan perdagangan kripto, bukan hanya pada “bahan bakar” atau aset yang diperdagangkan. Hyperliquid menawarkan transparansi dan efisiensi yang lebih tinggi melalui otomatisasi kontrak pintar (smart contracts), yang sangat menarik bagi institusi keuangan yang ingin meminimalisir risiko operasional.

Sementara itu, performa pasar token asli dari ekosistem ini, yakni token HYPE, terus menunjukkan tren positif. Pada saat laporan ini disusun, HYPE diperdagangkan di kisaran USD 46 per koin, mengalami kenaikan lebih dari 7% hanya dalam waktu satu minggu. Dengan kapitalisasi pasar yang mendekati USD 12 miliar atau Rp 212,10 triliun, HYPE telah berhasil merangsek masuk ke dalam jajaran 10 besar aset kripto dengan valuasi tertinggi hanya dalam waktu kurang dari dua tahun sejak peluncurannya.

Implikasi Bagi Investor Ritel

Pergerakan dana dari institusi besar seperti Goldman Sachs seringkali menjadi indikator arah pasar di masa depan. Bagi investor ritel, fenomena ini menekankan pentingnya melihat melampaui tren harga sesaat. Transisi dari investasi berbasis altcoin murni menuju investasi berbasis infrastruktur menunjukkan bahwa pasar kripto sedang menuju fase pendewasaan.

Namun, perlu diingat bahwa setiap langkah investasi yang dilakukan oleh institusi memiliki manajemen risiko yang sangat ketat dan kompleks. Investor disarankan untuk selalu melakukan riset mendalam sebelum mengikuti jejak para raksasa Wall Street. Dinamika pasar derivatif kripto dan platform terdesentralisasi memiliki risiko teknis tersendiri yang berbeda dengan kepemilikan aset kripto biasa.

Langkah Goldman Sachs ini menjadi bukti nyata bahwa di tahun 2026, peta kekuatan ekonomi digital tidak lagi hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki koin terbanyak, melainkan oleh siapa yang menguasai infrastruktur di balik transaksi tersebut. Dengan Hyperliquid yang kini berada di garis depan, industri keuangan tradisional secara perlahan namun pasti mulai melebur dengan ekosistem keuangan terdesentralisasi (DeFi).

Andi Saputra

Andi Saputra

Analis crypto dan blockchain enthusiast sejak 2017.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *