Mengaca pada Krisis 2008: Strategi Prabowo dan ‘Para Senior’ Perkuat Perisai Ekonomi Nasional di Tengah Badai Global

Rizky Pratama | InfoNanti
23 Mei 2026, 02:52 WIB
Mengaca pada Krisis 2008: Strategi Prabowo dan 'Para Senior' Perkuat Perisai Ekonomi Nasional di Tengah Badai Global

InfoNanti — Di tengah kabut ketidakpastian yang menyelimuti peta jalan ekonomi dunia, Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah taktis dengan menggandeng para veteran kebijakan fiskal dan moneter. Pertemuan strategis yang berlangsung di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta pada Jumat (22/5/2026) ini bukan sekadar silaturahmi formal, melainkan upaya mendalam untuk membedah memori kolektif penanganan krisis finansial global 2008 sebagai bahan bakar mitigasi di masa kini.

Nostalgia Kebijakan: Belajar dari Pahitnya Krisis 2008

Sejarah sering kali menjadi guru terbaik, terutama dalam urusan menjaga stabilitas ekonomi sebuah bangsa yang besar. Dalam pertemuan tersebut, Presiden Prabowo secara khusus mengundang tokoh-tokoh yang pernah berada di garis depan saat badai subprime mortgage mengguncang dunia belasan tahun silam. Para tokoh ini mencakup mantan menteri serta mantan Gubernur Bank Indonesia yang telah kenyang makan asam garam fluktuasi pasar.

Baca Juga

Rahasia di Balik Iklan Viral: Sutanto Hartono Tekankan Pentingnya Storytelling Ketimbang Sekadar Angka

Rahasia di Balik Iklan Viral: Sutanto Hartono Tekankan Pentingnya Storytelling Ketimbang Sekadar Angka

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa agenda utama pertemuan tersebut adalah menyerap intisari dari pengalaman masa lalu. Krisis 2008 memberikan pelajaran berharga mengenai bagaimana lonjakan harga minyak dunia yang tak terkendali, tekanan inflasi yang mencekik, hingga volatilitas nilai tukar yang liar bisa melumpuhkan sendi-sendi ekonomi jika tidak diantisipasi dengan kebijakan pemerintah yang tepat sasaran.

“Bapak Presiden ingin mendengar langsung bagaimana para tokoh ini menavigasi kapal besar Indonesia di tengah turbulensi hebat kala itu. Pengalaman mereka adalah aset intelektual yang sangat penting untuk memperkuat langkah antisipatif kita saat ini,” ujar Airlangga dalam sesi keterangan pers yang diikuti dengan antusias oleh awak media.

Baca Juga

Geliat Ekonomi Kreatif Bali: BRI dan Pemerintah Targetkan 1.000 UMKM Naik Kelas Lewat Akad KUR Massal

Geliat Ekonomi Kreatif Bali: BRI dan Pemerintah Targetkan 1.000 UMKM Naik Kelas Lewat Akad KUR Massal

Perbandingan Fundamental: Indonesia Hari Ini Jauh Lebih Tangguh

Meskipun dunia saat ini sedang tidak baik-baik saja akibat ketegangan geopolitik yang memicu fluktuasi harga komoditas, Airlangga menegaskan bahwa posisi Indonesia saat ini berada pada titik awal yang jauh lebih menguntungkan dibandingkan periode 2008. Fundamental ekonomi nasional dinilai telah mengalami penguatan signifikan selama satu dekade terakhir.

Salah satu indikator yang paling mencolok adalah ketahanan nilai tukar. Jika pada krisis-krisis sebelumnya Rupiah mengalami depresiasi yang sangat tajam, saat ini depresiasi mata uang Garuda berada di kisaran 5 persen. Angka ini dianggap relatif rendah dan masih dalam batas kendali jika disandingkan dengan mata uang negara-negara berkembang lainnya (emerging markets) yang mengalami tekanan jauh lebih berat.

Baca Juga

Terobosan Hukum 2026: Dari Regulasi Penyitaan Aset Kripto hingga Dinamika Transportasi dan Energi Global

Terobosan Hukum 2026: Dari Regulasi Penyitaan Aset Kripto hingga Dinamika Transportasi dan Energi Global

“Jika kita bedah dengan konteks kekinian, indikator makroekonomi kita jauh lebih stabil. Fondasi kita lebih kokoh, dan yang paling penting, kita memiliki cadangan devisa yang cukup kuat untuk melakukan intervensi jika diperlukan,” tambah Airlangga dengan nada optimis namun tetap waspada terhadap dinamika ekonomi global.

Memperketat Sabuk Pengaman Sektor Keuangan dan Perbankan

Sektor perbankan merupakan jantung dari perekonomian nasional. Belajar dari kejatuhan lembaga keuangan global di masa lalu, Presiden Prabowo memberikan instruksi khusus kepada jajaran kabinetnya untuk terus memantau regulasi di sektor keuangan. Prinsip kehati-hatian (prudential banking) tidak boleh ditawar, mengingat sektor inilah yang paling rentan terhadap efek domino jika terjadi guncangan eksternal.

Baca Juga

Diplomasi Energi: Peluang Indonesia Amankan Pasokan Minyak Rusia dengan Harga Jauh di Bawah Pasar Global

Diplomasi Energi: Peluang Indonesia Amankan Pasokan Minyak Rusia dengan Harga Jauh di Bawah Pasar Global

Pemerintah menilai bahwa penguatan permodalan perbankan harus menjadi prioritas. Bank-bank di Indonesia didorong untuk tidak hanya mengejar profitabilitas, tetapi juga meningkatkan buffer atau penyangga modal guna menghadapi potensi risiko kredit di masa depan. Hal ini penting untuk memastikan bahwa sistem keuangan tetap berfungsi optimal dalam menyalurkan kredit ke sektor riil, meskipun kondisi pasar sedang bergejolak.

Optimalisasi Devisa Hasil Ekspor Lewat PT Danantara

Salah satu terobosan besar yang dibahas dalam pertemuan tersebut adalah matangnya rencana implementasi kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) melalui badan usaha baru, yakni PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Kebijakan ini merupakan upaya pemerintah untuk memastikan bahwa kekayaan alam yang diekspor dari bumi Indonesia benar-benar memberikan manfaat nyata bagi likuiditas domestik.

Mulai 1 Juni 2026, kebijakan ini akan diberlakukan secara bertahap. Melalui PT Danantara, pemerintah ingin menciptakan tata kelola ekspor sumber daya alam yang lebih transparan dan akuntabel. Para pengusaha, baik dari asosiasi dalam negeri maupun investor asing, dikabarkan telah memberikan lampu hijau dan siap berkolaborasi dengan badan baru ini.

Pemerintah juga tidak main-main dalam urusan pengawasan. Sebuah sistem pemantauan terintegrasi yang melibatkan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai serta Danantara telah disiapkan. Sistem monitoring otomatis ini akan melacak setiap sen devisa yang masuk, memastikan kepatuhan para eksportir, dan mengevaluasi efektivitas kebijakan ini setiap tiga bulan sekali.

Sinergi Lintas Generasi di Istana

Kehadiran tokoh-tokoh seperti mantan Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah, mantan Kepala Bappenas Paskah Suzetta, dan mantan Wakil Kepala Bappenas Lukita Dinarsyah Tuwo memberikan sinyal kuat bahwa pemerintah sedang membangun konsensus nasional untuk menghadapi krisis. Sinergi antara pembuat kebijakan saat ini dengan para ahli dari masa lalu diharapkan mampu menciptakan formula kebijakan yang adaptif sekaligus resilien.

Diskusi yang berlangsung di ruang tertutup Istana tersebut menggambarkan komitmen kuat Presiden Prabowo untuk tidak mengulangi kesalahan sejarah, melainkan menggunakan sejarah sebagai batu loncatan. Dengan penguatan fundamental ekonomi, pengelolaan devisa yang lebih ketat, serta sektor perbankan yang sehat, Indonesia optimistis mampu menavigasi arus investasi dan perdagangan internasional dengan tetap tegak berdiri.

Langkah-langkah preventif ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak sekadar menunggu krisis datang, melainkan sedang aktif membangun benteng pertahanan yang kuat. Di bawah bayang-bayang ketidakpastian dunia, strategi kolaboratif ini menjadi harapan baru agar roda ekonomi tetap berputar dan kesejahteraan masyarakat tetap terjaga dari badai inflasi dan resesi dunia.

Rizky Pratama

Rizky Pratama

Penulis bisnis & startup dengan pengalaman di dunia digital marketing dan venture.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *