Pasar Kripto Memerah: Bitcoin Tergelincir ke Level USD 77.000, Ethereum Pimpin Koreksi Massal di Tengah Aksi Ambil Untung

Andi Saputra | InfoNanti
28 Apr 2026, 08:51 WIB
Pasar Kripto Memerah: Bitcoin Tergelincir ke Level USD 77.000, Ethereum Pimpin Koreksi Massal di Tengah Aksi Ambil Untun

InfoNanti — Dinamika pasar aset digital kembali menunjukkan wajah volatilitasnya yang tinggi dalam 24 jam terakhir. Setelah sempat menikmati periode reli yang cukup mengesankan, mayoritas aset kripto papan atas kini terpaksa parkir di zona merah. Fenomena ini tampaknya dipicu oleh gelombang aksi ambil untung (profit-taking) yang dilakukan oleh para investor besar atau ‘whales’, yang memilih untuk mengamankan posisi mereka setelah lonjakan harga sebelumnya.

Berdasarkan pantauan tim riset ekonomi digital kami, sentimen pasar saat ini cenderung berhati-hati. Meskipun koreksi terjadi secara luas, pelemahan ini dinilai sebagai bagian dari mekanisme sehat pasar untuk menyeimbangkan harga sebelum mencoba menembus level resistensi baru. Namun, bagi para pelaku pasar ritel, situasi ini menjadi peringatan agar tetap waspada terhadap potensi fluktuasi yang lebih dalam di masa mendatang.

Baca Juga

Visi Revolusioner Presiden Kolombia: Mengubah Air Menjadi Bitcoin dan Magnet Investasi Global

Visi Revolusioner Presiden Kolombia: Mengubah Air Menjadi Bitcoin dan Magnet Investasi Global

Bitcoin dan Tekanan di Level Psikologis USD 77.000

Sebagai motor utama pergerakan pasar, harga Bitcoin (BTC) terpantau mengalami penurunan yang cukup signifikan. Aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia ini harus rela terkoreksi sebesar 1,55% dalam kurun waktu satu hari. Saat ini, Bitcoin diperdagangkan di kisaran USD 77.127,63 dengan total nilai kapitalisasi pasar yang masih kokoh di angka USD 1,54 triliun.

Penurunan ini menempatkan Bitcoin pada posisi krusial. Para analis teknikal berpendapat bahwa level USD 77.000 merupakan area support psikologis yang penting. Jika harga mampu bertahan di atas level tersebut, ada peluang bagi Bitcoin untuk melakukan konsolidasi sebelum kembali mencoba reli. Namun, jika tekanan jual terus berlanjut, investor mungkin perlu bersiap menghadapi fase koreksi yang lebih panjang menuju area dukungan berikutnya.

Baca Juga

Revolusi Pembayaran Masa Depan: Lydian Luncurkan Kartu Visa Platinum Berbasis Aset Kripto

Revolusi Pembayaran Masa Depan: Lydian Luncurkan Kartu Visa Platinum Berbasis Aset Kripto

Ethereum Memimpin Penurunan Altcoin Papan Atas

Kondisi yang lebih menantang terlihat pada Ethereum (ETH). Sebagai tulang punggung ekosistem smart contract, Ethereum mencatat penurunan yang lebih tajam dibandingkan Bitcoin. ETH mengalami pelemahan sebesar 3,07%, yang membawa harganya turun ke posisi USD 2.293,71. Dengan kapitalisasi pasar sebesar USD 276,67 miliar, Ethereum menunjukkan sensitivitas yang lebih tinggi terhadap pergeseran sentimen pasar saat ini.

Koreksi pada Ethereum sering kali menjadi sinyal bagi pergerakan altcoin lainnya. Ketika ETH melemah secara signifikan, biasanya akan terjadi efek domino pada aset-aset lapis kedua. Para investor nampaknya mulai mempertimbangkan ulang alokasi portofolio mereka di tengah ketidakpastian jangka pendek ini, terutama mengingat biaya transaksi dan perkembangan upgrade jaringan yang terus menjadi fokus utama komunitas.

Baca Juga

Kanada Perketat Aturan Main Politik: Uang Kripto Kini Terlarang dalam Donasi Kampanye

Kanada Perketat Aturan Main Politik: Uang Kripto Kini Terlarang dalam Donasi Kampanye

Nasib Altcoin: Solana, BNB, dan XRP di Bawah Tekanan

Tidak hanya Bitcoin dan Ethereum, deretan aset kripto populer lainnya juga ikut terhempas ke zona merah. Solana (SOL), yang sebelumnya menjadi primadona karena kecepatannya, harus mengalami tekanan cukup dalam dengan penurunan 2,54% ke level USD 84,62. Sementara itu, XRP juga tertekan sebesar 2,11% dan kini bertengger di harga USD 1,39 per koin.

BNB, token asli dari ekosistem Binance, tidak luput dari tren negatif ini. BNB terpantau turun 1,57% ke posisi USD 625,57. Penurunan seragam pada aset-aset dengan kapitalisasi pasar besar ini mengindikasikan bahwa tekanan jual terjadi secara sistemik, bukan hanya karena faktor fundamental individu dari masing-masing proyek kripto tersebut.

Baca Juga

Langkah Berani Jepang: Legalisasi Kripto Sebagai Produk Keuangan Resmi Picu Gairah Investor Institusi

Langkah Berani Jepang: Legalisasi Kripto Sebagai Produk Keuangan Resmi Picu Gairah Investor Institusi

Stablecoin: Benteng Pertahanan di Tengah Badai

Di tengah lautan warna merah, kategori stablecoin tetap menjalankan fungsinya sebagai aset lindung nilai. Tether (USDT) dan USD Coin (USDC) bergerak sangat stabil dengan fluktuasi minimal di bawah 0,05%. Fenomena ini menunjukkan bahwa banyak investor yang memindahkan aset volatil mereka ke dalam bentuk dolar digital untuk sementara waktu sembari menunggu momentum masuk kembali yang lebih tepat.

Stabilitas stablecoin ini mencerminkan likuiditas pasar yang tetap terjaga. Meskipun harga turun, volume transaksi di pasar stablecoin biasanya meningkat karena para trader bersiap-siap melakukan aksi ‘buy the dip’ atau membeli di saat harga rendah ketika tanda-tanda pembalikan arah mulai terlihat.

Anomali Pasar: Mengapa TRON dan UNUS SED LEO Tetap Hijau?

Menariknya, tidak semua aset kripto menyerah pada tekanan pasar. TRON (TRX) menjadi salah satu sedikit pengecualian yang mampu mencatat kenaikan tipis sebesar 0,44%, membawanya ke level USD 0,3252. Selain itu, UNUS SED LEO juga berhasil bertahan di zona hijau dengan penguatan moderat 0,04% di harga USD 10,36.

Keberhasilan kedua aset ini untuk tetap bertahan di tengah koreksi massal menunjukkan adanya selektivitas investor. Faktor-faktor seperti utilitas jaringan yang kuat, rencana buyback token, atau sentimen positif spesifik pada ekosistem mereka memberikan daya tahan ekstra terhadap sentimen negatif global yang melanda pasar secara umum.

Kabar Global: Dari Tarif Listrik Kanada hingga Rencana Western Union

Selain pergerakan harga, pasar kripto juga diwarnai oleh berbagai berita fundamental dari kancah internasional. Pemerintah Kanada dikabarkan tengah berencana menaikkan tarif listrik khusus bagi para penambang kripto. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap tingginya konsumsi energi industri penambangan yang dianggap memberikan tekanan pada jaringan listrik nasional. Kebijakan ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi profitabilitas para penambang di wilayah tersebut.

Di sisi lain, dunia keuangan tradisional terus menunjukkan ketertarikannya pada teknologi blockchain. Western Union, raksasa pengiriman uang global, dilaporkan siap meluncurkan stablecoin mereka sendiri yang diberi nama USDPT pada Mei 2026 mendatang. Langkah berani Western Union ini dipandang sebagai upaya untuk memodernisasi layanan remitansi mereka dan bersaing di era ekonomi digital yang semakin kompetitif.

Penegakan Hukum dan Keamanan Aset Digital

Isu keamanan dan regulasi juga terus membayangi industri ini. Terbaru, seorang pemuda dijatuhi hukuman penjara selama 70 bulan setelah terbukti terlibat dalam kasus pencucian uang yang berasal dari kripto curian. Kasus ini menjadi pengingat keras bagi seluruh pelaku industri bahwa otoritas hukum semakin canggih dalam melacak transaksi ilegal di blockchain.

Transparansi yang ditawarkan oleh teknologi blockchain memang menjadi pedang bermata dua; di satu sisi memberikan keamanan bagi pengguna jujur, namun di sisi lain memudahkan aparat penegak hukum untuk menelusuri aliran dana yang mencurigakan. Hal ini diharapkan dapat memberikan efek jera dan menciptakan ekosistem kripto yang lebih bersih dan tepercaya bagi para investor institusional.

Proyeksi Pasar Menjelang Akhir Pekan

Melihat kondisi pasar saat ini, para ahli menyarankan agar investor tidak terjebak dalam kepanikan (panic selling). Koreksi pasar adalah hal yang lumrah dan sering kali diperlukan untuk membangun landasan harga yang lebih kuat. Penting bagi setiap individu untuk melakukan riset mandiri dan memahami profil risiko masing-masing sebelum mengambil keputusan investasi di aset kripto.

Fokus perhatian pasar dalam beberapa hari ke depan akan tertuju pada data ekonomi makro Amerika Serikat dan pernyataan dari para pejabat bank sentral, yang biasanya memberikan pengaruh besar terhadap pergerakan aset berisiko. Untuk saat ini, menjaga likuiditas dan tetap mengamati pergerakan Bitcoin di level support USD 77.000 menjadi strategi yang paling masuk akal bagi mayoritas pelaku pasar.

Andi Saputra

Andi Saputra

Analis crypto dan blockchain enthusiast sejak 2017.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *