Update Harga Kripto 24 April 2026: Bitcoin dan Ethereum Terjebak Fase Konsolidasi, Saatnya Wait and See?

Andi Saputra | InfoNanti
24 Apr 2026, 08:52 WIB
Update Harga Kripto 24 April 2026: Bitcoin dan Ethereum Terjebak Fase Konsolidasi, Saatnya Wait and See?

InfoNanti — Dinamika pasar aset digital kembali menunjukkan wajah yang penuh teka-teki pada penghujung April ini. Memasuki hari Jumat (24/4/2026), pergerakan instrumen investasi kripto terpantau bergerak variatif dengan kecenderungan melemah pada sebagian besar aset papan atas. Tekanan jual yang cukup terasa pada koin-koin berkapitalisasi besar seperti Bitcoin (BTC) menjadi sorotan utama bagi para pelaku pasar, meskipun di sudut lain, beberapa aset alternatif justru mampu mencatatkan penguatan tipis yang menarik untuk dicermati.

Kondisi pasar saat ini seolah sedang menarik napas panjang. Meskipun kapitalisasi pasar kripto global masih ditopang kuat oleh dominasi Bitcoin dan Ethereum, fluktuasi harga yang terjadi mencerminkan sikap hati-hati atau wait and see dari para investor. Sentimen makroekonomi dan dinamika politik global yang sulit ditebak memaksa para ‘whale’ maupun investor ritel untuk lebih waspada dalam menempatkan modal mereka di tengah ketidakpastian yang ada.

Baca Juga

Bitcoin Tembus Level Psikologis USD 80.000: Mengapa Analis Justru Menyarankan Waspada Terhadap Euphoria Pasar?

Bitcoin Tembus Level Psikologis USD 80.000: Mengapa Analis Justru Menyarankan Waspada Terhadap Euphoria Pasar?

Dominasi Bitcoin di Tengah Tekanan Jual yang Tipis

Berdasarkan pantauan data terkini dari Coinmarketcap, Bitcoin tetap kokoh berdiri sebagai raja diraja kripto dengan nilai kapitalisasi pasar yang fantastis, yakni mencapai angka USD 1,56 triliun. Namun, stabilitas tersebut sedikit terusik dalam kurun waktu 24 jam terakhir. Harga BTC tercatat mengalami koreksi minor sebesar 0,32%, yang menyeret nilainya ke level USD 78.159,78 per keping.

Pelemahan ini, meski terlihat kecil secara persentase, memberikan sinyal adanya tekanan jual yang cukup konsisten di level psikologis tinggi. Para analis di InfoNanti melihat bahwa pergerakan ini merupakan hal yang wajar setelah sebelumnya sempat terjadi reli yang dipicu oleh kebijakan tak terduga dari militer Amerika Serikat serta rekor baru kepemilikan ETF Bitcoin oleh raksasa manajer aset, BlackRock, yang telah menembus angka 806.700 BTC.

Baca Juga

Pasar Kripto Akhir Pekan: Bitcoin Melandai ke Rp 1,3 Miliar, Altcoin Utama Ikut Terkoreksi

Pasar Kripto Akhir Pekan: Bitcoin Melandai ke Rp 1,3 Miliar, Altcoin Utama Ikut Terkoreksi

Kepercayaan institusional terhadap aset kripto nampaknya belum luntur. Fakta bahwa perusahaan raksasa sekelas Tesla masih menggenggam sekitar 11.509 Bitcoin pada laporan kuartal I 2026 memberikan fondasi psikologis bahwa prospek jangka panjang Bitcoin masih sangat menjanjikan, terlepas dari koreksi harian yang saat ini tengah terjadi.

Ethereum dan Altcoin: Menghadapi Badai Volatilitas

Nasib yang sedikit lebih menantang dialami oleh Ethereum (ETH). Sebagai aset kripto terbesar kedua di dunia, Ethereum harus rela terkoreksi lebih dalam dibandingkan saudaranya, Bitcoin. ETH mencatatkan penurunan sebesar 2,53% dan kini bertengger di posisi USD 2.329,59. Dengan kapitalisasi pasar sebesar USD 280,99 miliar, volatilitas ETH yang meningkat ini sering kali dipandang sebagai peluang bagi para trader harian untuk melakukan akumulasi di harga bawah.

Baca Juga

Update Harga Kripto Hari Ini: Dominasi Hijau Bitcoin hingga Lonjakan Drastis Monero

Update Harga Kripto Hari Ini: Dominasi Hijau Bitcoin hingga Lonjakan Drastis Monero

Di sisi lain, pergerakan altcoin lainnya juga menunjukkan pola yang beragam. Binance Coin (BNB) misalnya, ikut terkoreksi tipis 0,24% menuju level USD 638,25. Meski turun, posisi BNB di jajaran elit pasar tetap tak tergoyahkan dengan kapitalisasi pasar sekitar USD 86,04 miliar. Sementara itu, XRP nampaknya lebih memilih untuk berjalan di tempat atau stagnan di harga USD 1,43. Tidak adanya pergerakan signifikan pada XRP menandakan pasar sedang menunggu katalisator baru, baik itu dari sisi regulasi maupun adopsi teknologi Ripple yang lebih luas.

Solana (SOL), yang selama ini dikenal sebagai salah satu ‘Ethereum Killer’, juga tak luput dari tekanan pasar. SOL mengalami penurunan 1,41% ke harga USD 86,01. Kendati tertekan dalam jangka pendek, fundamental Solana yang kuat dengan ekosistem yang terus berkembang membuatnya tetap menjadi salah satu investasi digital unggulan yang patut dipantau perkembangannya setiap waktu.

Baca Juga

Ripple Bongkar Strategi ‘Penyusup’ Korea Utara: Ancaman Baru yang Mengincar Jantung Industri Kripto

Ripple Bongkar Strategi ‘Penyusup’ Korea Utara: Ancaman Baru yang Mengincar Jantung Industri Kripto

Stablecoin sebagai Pelabuhan Aman di Masa Gejolak

Ketika pasar utama memerah, instrumen stablecoin biasanya menjadi tempat bernaung bagi para investor yang ingin mengamankan profit atau sekadar menghindari risiko kerugian lebih lanjut. Tether (USDT), yang merupakan pemimpin pasar di segmen ini, tetap stabil di angka USD 1,00 dengan kapitalisasi pasar mencapai USD 188,86 miliar. Stabilitas ini menunjukkan likuiditas di pasar kripto masih sangat terjaga.

Menariknya, USD Coin (USDC) justru mencatatkan kenaikan sangat tipis sebesar 0,02% ke posisi USD 0,9999. Permintaan yang tinggi terhadap aset dengan volatilitas minim seperti USDC menunjukkan bahwa sebagian besar pelaku pasar saat ini lebih memilih untuk memarkirkan dana mereka dalam bentuk tunai digital sambil mengamati arah pergerakan pasar selanjutnya.

Anomali Dogecoin dan Kebangkitan Monero

Di tengah tren pelemahan mayoritas aset, selalu ada ‘bintang’ yang bersinar sendiri. Dogecoin (DOGE), koin meme yang fenomenal, justru mampu melawan arus dengan mencatatkan kenaikan sebesar 0,91% ke harga USD 0,09717. Meskipun kapitalisasi pasarnya berada di angka USD 16,50 miliar, loyalitas komunitas DOGE terbukti mampu memberikan sentimen positif di tengah pasar yang cenderung lesu.

Namun, kenaikan paling impresif hari ini justru ditunjukkan oleh Monero (XMR). Aset yang berfokus pada privasi ini melonjak signifikan sebesar 1,76%, membawanya ke level USD 378,46. Penguatan XMR ini seolah menegaskan bahwa narasi mengenai keamanan data dan privasi transaksi masih menjadi daya tarik kuat bagi sebagian kalangan investor kripto.

Selain itu, beberapa aset lain seperti UNUS SED LEO (LEO) juga mencatatkan pertumbuhan tipis 0,15% ke harga USD 10,29. Hal ini berbanding terbalik dengan Bitcoin Cash (BCH) yang turun 0,43% ke posisi USD 459,80, serta Cardano (ADA) yang terkoreksi 0,44% ke harga USD 0,2491. Tren pelemahan ini juga menjalar ke Chainlink (LINK) yang harus turun 0,42% dan menetap di posisi USD 9,32.

Menganalisis Arah Pasar Selanjutnya

Penurunan yang terjadi pada hari ini sebaiknya tidak dipandang sebagai akhir dari tren bullish, melainkan sebagai fase konsolidasi yang sehat. Pasar kripto selalu membutuhkan waktu untuk ‘mendinginkan diri’ setelah mengalami lonjakan harga yang signifikan. Bagi investor cerdas, momen seperti ini justru dimanfaatkan untuk menyusun strategi trading plan yang lebih matang.

Penting untuk diingat bahwa dunia kripto sangat dipengaruhi oleh berita makro, kebijakan suku bunga, hingga inovasi teknologi. Oleh karena itu, tetap memperbarui informasi melalui sumber terpercaya adalah kunci utama kesuksesan dalam berinvestasi di aset yang sangat volatil ini.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca. InfoNanti menyarankan Anda untuk selalu mempelajari, melakukan riset mendalam, dan menganalisis secara mandiri sebelum memutuskan untuk membeli atau menjual aset kripto. Kami tidak bertanggung jawab atas keuntungan maupun kerugian yang mungkin timbul dari keputusan investasi yang Anda ambil berdasarkan informasi dalam artikel ini.

Andi Saputra

Andi Saputra

Analis crypto dan blockchain enthusiast sejak 2017.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *