Kraken Lawan Balik Pemeras: Tolak Tebusan Meski Data 2.000 Pelanggan Dipertaruhkan
InfoNanti — Industri kripto kembali diguncang aksi premanisme digital yang menyasar salah satu raksasa bursa global, Kraken. Dalam sebuah pernyataan tegas, perusahaan menyatakan penolakan mutlak untuk tunduk pada ancaman kelompok kriminal yang mencoba melakukan pemerasan dengan ancaman kebocoran data pelanggan.
Melalui Chief Securities Officer Kraken, Nick Percoco, perusahaan mengonfirmasi bahwa mereka telah menjadi target intimidasi terkait sistem internal. Kelompok kriminal tersebut mengklaim memiliki rekaman video yang menampilkan informasi sensitif milik klien dan mengancam akan menyebarkannya ke publik jika tuntutan mereka tidak dipenuhi.
“Kami tidak akan membayar para penjahat ini. Kami tidak akan pernah bernegosiasi dengan pelaku kejahatan,” tegas Percoco sebagaimana dikutip dari keterangannya pada Selasa (14/4/2026). Langkah berani ini diambil Kraken sebagai bentuk komitmen menjaga integritas industri dan keamanan digital secara jangka panjang.
Dominasi Binance di Tengah Lesunya Bursa Kripto Kuartal I 2026: Strategi Investor Bergeser ke Derivatif
Modus Operandi: Ancaman Video dan Keterlibatan Orang Dalam
Investigasi internal mengungkap bahwa ancaman ini berfokus pada sebuah video yang memperlihatkan antarmuka sistem internal perusahaan. Berdasarkan analisis tim keamanan, diperkirakan ada sekitar 2.000 individu yang informasi sensitifnya berpotensi dilihat oleh pelaku. Kraken pun bergerak cepat dengan menghubungi setiap pengguna yang berisiko untuk memberikan langkah-langkah proteksi tambahan.
Satu hal yang menjadi sorotan penting adalah dugaan keterlibatan pihak internal. Percoco menjelaskan bahwa pola ini serupa dengan insiden keamanan pada Februari 2025 silam. Dalam kedua kasus tersebut, Kraken berhasil mengidentifikasi oknum di dalam perusahaan yang terlibat dalam aksi ilegal ini. Meskipun terdapat ancaman kebocoran data, Kraken memastikan bahwa sistem inti mereka tidak ditembus peretas secara langsung, dan yang paling krusial, seluruh dana pelanggan tetap berada dalam kondisi aman.
Bitmine Borong Ethereum Masif: Amankan 4,9 Juta ETH dan Perketat Suplai Pasar
“Kami secara aktif bekerja sama dengan penegak hukum federal di berbagai yurisdiksi untuk mengejar semua individu yang terlibat dan membawa mereka ke pengadilan,” tambahnya. Kraken kini juga berkolaborasi dengan mitra lintas industri untuk menggagalkan upaya perekrutan ‘orang dalam’ yang kian marak menyasar sektor kripto, telekomunikasi, hingga organisasi gaming.
Tantangan Keamanan di Tengah Dinamika Pasar
Upaya pemerasan terhadap Kraken ini terjadi di tengah tren serangan terhadap aset digital yang kian mengkhawatirkan. Laporan dari CertiK mencatat bahwa serangan fisik untuk mendapatkan akses aset kripto melonjak lebih dari 75% dalam setahun terakhir, dengan total kerugian mencapai lebih dari Rp684 miliar.
Fenomena ini bukan hanya menjadi tantangan bagi Kraken, tetapi juga industri secara keseluruhan. Sebelumnya, kompetitor besar seperti Coinbase juga pernah mengalami insiden serupa pada akhir 2024, di mana data puluhan ribu pelanggan terekspos akibat aksi penyuapan terhadap agen dukungan pelanggan.
Gairah Institusi Memuncak, ETF Bitcoin Catat Rekor Inflow Mingguan Terbesar Tembus Rp 17 Triliun
Situasi ini turut memberikan gambaran betapa kompleksnya menjaga ekosistem aset digital di masa kini. Bagi Kraken, insiden ini muncul di tengah penyesuaian rencana strategis perusahaan, termasuk penundaan rencana penawaran saham perdana (IPO) akibat kondisi pasar yang masih fluktuatif. Meski demikian, ketegasan Kraken dalam menghadapi pemeras memberikan sinyal kuat bahwa keamanan dan kepercayaan pelanggan adalah prioritas yang tidak bisa ditawar dengan uang tebusan.