Gairah Institusi Memuncak, ETF Bitcoin Catat Rekor Inflow Mingguan Terbesar Tembus Rp 17 Triliun
InfoNanti — Dinamika pasar aset digital kembali menunjukkan taringnya di kancah finansial global. Exchange Traded Fund (ETF) Bitcoin spot baru saja melaporkan lonjakan arus dana masuk (net inflow) mingguan terdahsyat sejak pertengahan Januari 2026. Pencapaian ini sekaligus menandai tren positif yang terus bertahan selama tiga pekan berturut-turut, mempertegas dominasi aset kripto di mata investor besar.
Berdasarkan data komprehensif dari SoSoValue, instrumen ETF Bitcoin spot mencatatkan arus masuk senilai USD 996,4 juta atau setara dengan Rp 17,08 triliun (dengan asumsi kurs Rp 17.150 per dolar AS). Angka ini menjadi catatan mingguan tertinggi yang pernah diraih sejak periode yang berakhir pada 16 Januari 2026. Jika ditotal dalam rentang tiga pekan terakhir, daya tarik instrumen ini telah berhasil menyedot dana segar lebih dari USD 1,8 miliar atau melampaui Rp 30,86 triliun.
Visi Berani Liz Truss: Bitcoin Sebagai Senjata Pamungkas Melawan Hegemoni Bank Sentral dan Birokrasi Global
Dominasi Raksasa Manajemen Aset
Laju aliran dana ini dipimpin secara agresif oleh IBIT besutan BlackRock. Sebagai produk ETF Bitcoin dengan aset bersih terbesar saat ini, IBIT sukses menarik minat pemodal hingga membukukan inflow sebesar USD 906 juta (sekitar Rp 15,5 triliun) dalam satu pekan saja. Fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya kepercayaan institusional terhadap prospek jangka panjang mata uang kripto.
Tak hanya pemain lama, pendatang baru seperti MSBT dari Morgan Stanley juga mulai menunjukkan taringnya. Diluncurkan pada awal April, MSBT mencatatkan arus masuk bersih sebesar USD 71 juta (Rp 1,21 triliun) pada pekan perdagangan penuh pertamanya. Di sisi lain, ETF Ethereum spot tidak mau ketinggalan dengan meraih arus masuk mingguan tertingginya di angka USD 275,8 juta atau sekitar Rp 4,72 triliun.
Update Harga Kripto 9 April 2026: Bitcoin Terkoreksi Tipis, Altcoin Terseret Arus Pelemahan
Sentimen Geopolitik dan Proyeksi Pasar
Optimisme investor ini rupanya tidak lepas dari perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah. Jeff Mei, COO BTSE, mengungkapkan bahwa pelaku pasar institusional menaruh harapan besar pada potensi de-eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Harapan akan adanya perdamaian permanen mendorong mereka untuk meningkatkan posisi beli pada aset-aset berisiko namun menguntungkan seperti Bitcoin.
Meski harga Bitcoin sempat mengalami koreksi tipis 0,25% ke level USD 75.006 di tengah fluktuasi negosiasi internasional, momentum kenaikan diprediksi akan tetap terjaga. Namun, para analis mengingatkan bahwa keberlanjutan tren ini sangat bergantung pada kebijakan suku bunga The Federal Reserve di masa mendatang.
Ekspansi Global: Jepang Siap Menyusul
Melihat kesuksesan ETF di Amerika Serikat, negara-negara lain mulai bergerak cepat. Jepang dilaporkan sedang mempersiapkan regulasi untuk menyetujui ETF kripto pertamanya paling lambat pada tahun 2028. Badan Jasa Keuangan Jepang (FSA) berencana memasukkan kripto ke dalam kategori aset dasar ETF guna memperluas akses bagi investor retail maupun institusi.
Geliat Pasar Kripto 2026: Bitcoin Kokoh di Level $76.000, Raksasa Finansial Charles Schwab Mulai ‘Terjun Bebas’ ke Aset Digital
Langkah ini menyusul jejak Hong Kong yang sudah lebih dulu meluncurkan ETF Bitcoin dan Solana, serta Korea Selatan yang tengah menggodok Undang-Undang Dasar Aset Digital. Dengan semakin banyaknya pusat keuangan dunia yang melegitimasi aset digital, masa depan investasi kripto melalui jalur teregulasi diprediksi akan semakin cerah.
Disclaimer: Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca. InfoNanti menyarankan untuk selalu melakukan analisis mendalam sebelum melakukan transaksi jual beli aset kripto.