Heboh Foto AI Donald Trump Bergaya ‘Mesias’, Picu Protes di Kalangan Evangelikal

Siti Rahma | InfoNanti
14 Apr 2026, 10:58 WIB
Heboh Foto AI Donald Trump Bergaya 'Mesias', Picu Protes di Kalangan Evangelikal

InfoNanti — Panggung media sosial kembali berguncang setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memutuskan untuk menghapus sebuah unggahan kontroversial di platform Truth Social miliknya. Langkah ini diambil menyusul gelombang kritik tajam yang datang dari berbagai penjuru, terutama terkait penggunaan citra religius yang dianggap menyerupai sosok Yesus Kristus.

Drama digital ini bermula pada Minggu (12/4/2026), ketika Trump membagikan sebuah gambar yang dihasilkan oleh teknologi kecerdasan buatan (AI). Dalam visual tersebut, Trump tampil dengan gaya yang sangat teatrikal: mengenakan jubah putih dan merah yang menjuntai, sembari meletakkan tangannya di atas seorang pria yang tampak menderita sakit. Pemandangan ini secara gamblang merefleksikan praktik penyembuhan iman yang identik dengan narasi religius di Amerika.

Baca Juga

Fenomena Langka Komet PanSTARRS 2026: Sang Pengembara Es Mendekati Bumi di Tengah Badai Matahari

Fenomena Langka Komet PanSTARRS 2026: Sang Pengembara Es Mendekati Bumi di Tengah Badai Matahari

Detail Visual yang Ambisius

Tak hanya sekadar jubah, gambar tersebut juga menampilkan efek cahaya yang memancar dari kedua tangan Donald Trump, seolah-olah menunjukkan kekuatan supernatural yang sedang bekerja. Di latar belakang, narasi nasionalisme berpadu dengan spiritualitas. Terlihat simbol-simbol ikonik seperti Patung Liberty, bendera Amerika Serikat yang megah, jet tempur, hingga elang botak.

Sentuhan surealis pun ditambahkan dengan adanya sosok-sosok yang menyerupai pejuang yang melayang di balik awan di atas kepala sang presiden. Namun, estetika yang ambisius ini justru menjadi bumerang, memicu reaksi keras bahkan dari basis pendukung setianya yang paling religius sekalipun.

Pembelaan Trump: ‘Saya Seorang Dokter’

Menyadari kegaduhan yang timbul, Trump akhirnya menghapus unggahan tersebut pada Senin (13/4). Saat dikonfrontasi oleh awak media di Gedung Putih, ia menepis tudingan bahwa dirinya mencoba mempersonifikasikan Yesus. Dengan gaya bicaranya yang khas, ia justru menyalahkan interpretasi media.

Baca Juga

Tragedi dan Ritual Terakhir: Mengenang Pernikahan Adolf Hitler di Bunker Berlin pada 29 April 1945

Tragedi dan Ritual Terakhir: Mengenang Pernikahan Adolf Hitler di Bunker Berlin pada 29 April 1945

“Saya mengunggahnya karena saya menganggap itu adalah diri saya sebagai seorang dokter yang menjalankan tugas kemanusiaan seperti Palang Merah,” jelas Trump. Ia menambahkan bahwa tujuannya hanyalah menunjukkan perannya dalam memperbaiki kondisi orang lain. Kepada CBS News, ia berdalih penghapusan tersebut dilakukan agar tidak menimbulkan kebingungan publik.

Kritik Pedas dari Lingkaran Konservatif

Meski Trump berusaha memberikan konteks baru, tokoh-tokoh konservatif dan aktivis Kristen tetap merasa keberatan. Sean Feucht, seorang aktivis Kristen ternama, menegaskan bahwa tidak ada alasan yang bisa membenarkan penggunaan citra seperti itu. Senada dengan Feucht, Riley Gaines secara tegas menyatakan bahwa simbol ketuhanan tidak seharusnya dijadikan bahan eksperimen visual untuk kepentingan pribadi.

Baca Juga

2 Maret 1956: Mengenang Perjuangan Heroik Maroko Menuju Gerbang Kemerdekaan

2 Maret 1956: Mengenang Perjuangan Heroik Maroko Menuju Gerbang Kemerdekaan

David Brody dari Christian Broadcasting Network juga memberikan catatan kritis. Menurutnya, tindakan Trump kali ini telah melampaui batas norma yang bisa diterima oleh pengikutnya. “Seorang pendukung mungkin setia pada misinya, namun mereka tetap memiliki batasan untuk menolak hal semacam ini,” tulis Brody.

Magnet Suara Kaum Evangelikal

Fenomena penggunaan citra religius oleh Trump bukanlah hal baru. Pada tahun 2023, ia pernah membagikan sketsa yang memperlihatkan dirinya duduk berdampingan dengan Yesus di ruang sidang. Strategi ini tampaknya berakar dari kedekatannya dengan komunitas Kristen Evangelikal yang menjadi tulang punggung kemenangannya pada pemilu 2016 dan 2024.

Hingga awal 2026, survei menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan kelompok ini terhadap Trump masih sangat solid di angka 69 persen. Bahkan, penasihat spiritualnya, Paula White-Cain, sering kali menggunakan analogi alkitabiah untuk menggambarkan perjuangan politik Trump, yang kian memperkuat persepsi ‘pahlawan religius’ di mata para pendukungnya.

Baca Juga

Ketegangan di Washington: Trump Konfirmasi Penangkapan Pelaku Penembakan Saat Gala Makan Malam Gedung Putih

Ketegangan di Washington: Trump Konfirmasi Penangkapan Pelaku Penembakan Saat Gala Makan Malam Gedung Putih
Siti Rahma

Siti Rahma

Jurnalis berita global dengan ketertarikan pada geopolitik dan ekonomi dunia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *