Analisis Tajam: Bitcoin Dibayangi Tren Bearish, Target Penurunan Hingga USD 10.000?

Andi Saputra | InfoNanti
14 Apr 2026, 14:22 WIB
Analisis Tajam: Bitcoin Dibayangi Tren Bearish, Target Penurunan Hingga USD 10.000?

InfoNanti — Dinamika pasar aset digital tengah berada dalam sorotan tajam setelah Bitcoin (BTC) mulai menunjukkan sinyal kelelahan yang mengarah pada fase bearish. Fenomena ini kian diperkuat oleh meningkatnya volatilitas serta korelasi yang semakin erat antara mata uang kripto utama ini dengan pergerakan pasar saham global.

Analis strategi komoditas senior dari Bloomberg Intelligence, Mike McGlone, memberikan perspektif kritis dalam laporan terbarunya. Ia menyoroti bahwa kehadiran instrumen ETF Bitcoin, yang semula diharapkan menjadi katalis positif jangka panjang, justru memberikan tekanan baru terhadap daya tarik Bitcoin sebagai instrumen diversifikasi investasi yang mandiri.

Korelasi Erat dengan Saham: Kehilangan Jati Diri sebagai ‘Safe Haven’?

Berdasarkan pengamatan mendalam, McGlone menilai bahwa kinerja harga Bitcoin sejak perdagangan ETF dimulai pada Januari 2024 menunjukkan indikasi awal dari siklus pasar bearish. Analisis ini membandingkan performa iShares Bitcoin Trust (IBIT) milik BlackRock dengan indeks saham S&P 500, yang mengungkapkan fakta bahwa imbal hasil yang ditawarkan Bitcoin belum mampu mengimbangi risiko masif yang menyertainya.

Baca Juga

Michael Saylor Berubah Haluan? Strategy Beri Sinyal Lepas Bitcoin, Ini Dampaknya bagi Pasar Kripto

Michael Saylor Berubah Haluan? Strategy Beri Sinyal Lepas Bitcoin, Ini Dampaknya bagi Pasar Kripto

Data terkini menunjukkan angka korelasi Bitcoin dengan pasar ekuitas telah menyentuh level 0,5. Di sisi lain, tingkat volatilitas Bitcoin tercatat empat kali lipat lebih tinggi dibandingkan aset tradisional. Kondisi ini membuat Bitcoin lebih cenderung dikategorikan sebagai aset high-beta atau aset berisiko tinggi, ketimbang menjadi instrumen lindung nilai seperti yang selama ini digemakan oleh komunitas kripto.

Skenario Terburuk: Ancaman Koreksi ke Level USD 10.000

Salah satu poin paling mengejutkan dalam analisis McGlone adalah potensi koreksi tajam menuju level USD 10.000. Prediksi berani ini didasarkan pada model mean reversion, sebuah teori yang melihat lonjakan harga pasca-2020 sebagai sebuah anomali akibat banjir likuiditas global yang tidak wajar selama masa pandemi.

Baca Juga

Ramalan Harga Bitcoin 2026: Anjlok 50 Persen, Apakah Ini Titik Nadir atau Awal Kehancuran?

Ramalan Harga Bitcoin 2026: Anjlok 50 Persen, Apakah Ini Titik Nadir atau Awal Kehancuran?

McGlone juga memberikan peringatan mengenai saturasi pasar. Ia membandingkan kondisi saat ini dengan ledakan gelembung dot-com. “Pada awal kemunculannya di tahun 2009, kita hanya mengenal Bitcoin. Namun kini, pasar dibanjiri oleh jutaan token baru yang memiliki valuasi miliaran dolar tanpa didukung oleh fundamental yang nyata,” tuturnya. Hal ini dinilai mengencerkan nilai fundamental pasar aset digital secara keseluruhan.

Masa Depan di Tengah Ketidakpastian Makro

Meskipun saat ini Bitcoin masih berupaya bertahan di kisaran USD 71.883—turun dari puncaknya di tahun 2025 yang hampir menyentuh USD 126.000—posisinya masih dianggap rentan. Jika likuiditas global semakin mengetat dan para pemodal besar mulai memindahkan aset mereka ke instrumen yang lebih aman seperti emas atau obligasi negara, maka tekanan terhadap Bitcoin diprediksi akan semakin meningkat.

Baca Juga

Gairah Institusi Memuncak, ETF Bitcoin Catat Rekor Inflow Mingguan Terbesar Tembus Rp 17 Triliun

Gairah Institusi Memuncak, ETF Bitcoin Catat Rekor Inflow Mingguan Terbesar Tembus Rp 17 Triliun

Walaupun terdapat sentimen positif dari sisi suplai, seperti efek pasca-halving dan rendahnya cadangan Bitcoin di berbagai bursa, para investor tetap dihimbau untuk waspada. Analisis ini menjadi pengingat penting bahwa di balik potensi keuntungan yang besar, terdapat risiko sistemik yang dapat menyeret harga jatuh lebih dalam jika sentimen makro ekonomi tidak segera membaik.

Andi Saputra

Andi Saputra

Analis crypto dan blockchain enthusiast sejak 2017.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *