Kontroversi Roman Gofman: Tangan Kanan Netanyahu yang Kini Nakhodai Mossad
InfoNanti — Panggung intelijen global tengah menyoroti langkah strategis Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang secara resmi menunjuk Mayor Jenderal Roman Gofman sebagai Direktur Mossad yang baru. Keputusan krusial ini, yang telah mendapat lampu hijau dari Komite Penasihat Penunjukan Senior, memicu gelombang diskusi hangat di kalangan elite keamanan karena rekam jejak Gofman yang dianggap sarat akan catatan kontroversial.
Gofman dijadwalkan akan mengambil alih kursi kepemimpinan lembaga mata-mata paling berpengaruh di dunia tersebut pada 2 Juni mendatang, menggantikan David Barnea. Dengan masa jabatan lima tahun di depannya, ia memikul tanggung jawab besar di tengah eskalasi keamanan internasional yang kian tidak menentu.
Bayang-bayang Skandal Ori Elmakayes
Penunjukan Gofman tidak berjalan mulus tanpa hambatan. Komite penasihat yang dipimpin oleh mantan Presiden Mahkamah Agung, Asher Grunis, sempat membedah kembali insiden kelam pada tahun 2022. Kala itu, saat menjabat sebagai Komandan Divisi Bashan, Gofman dituding terlibat dalam perekrutan remaja berusia 17 tahun, Ori Elmakayes, untuk misi operasi pengaruh di media sosial yang menyasar Iran dan proksinya.
Hong Kong Ketuk Palu: Larangan Vape di Ruang Publik Resmi Berlaku, Pelanggar Terancam Denda Jutaan
Misi tersebut berakhir berantakan ketika Elmakayes ditangkap dan dipenjara selama 18 bulan atas tuduhan membocorkan rahasia negara. Gofman berdalih tidak mengetahui usia asli remaja tersebut, namun publik kadung skeptis. Elmakayes sendiri secara terbuka melontarkan kritik pedas melalui platform X, menyebut penunjukan Gofman sebagai ancaman bagi integritas intelijen Israel. Menurutnya, seseorang yang gagal melindungi aset sipil di masa lalu tidak layak memimpin agen-agen rahasia di medan operasi.
Pertaruhan Antara Loyalitas dan Kompetensi Spionase
Selain skandal masa lalu, kritik tajam juga datang dari internal komunitas keamanan. Sejumlah pejabat senior menyayangkan pemilihan Gofman yang dianggap kurang memiliki latar belakang operasional intelijen murni. Karier Gofman lebih banyak dihabiskan di unit tempur Korps Lapis Baja dan jabatan birokrasi militer sebagai Sekretaris Militer Perdana Menteri.
Misteri Cahaya Malam: Mengapa Fenomena UFO Kerap Dilaporkan oleh Mereka yang Sedang Merokok?
Kedekatan emosional dan politiknya dengan Netanyahu memang tidak terbantahkan. Sebagai orang kepercayaan, Gofman sering kali menjadi ujung tombak dalam mengawasi implementasi arahan perdana menteri di tubuh militer. Namun, bagi para kritikus, memimpin Mossad membutuhkan intuisi spionase yang jauh melampaui loyalitas politik atau kepemimpinan tempur konvensional.
Rekam Jejak Tempur dan Pandangan Keras Terhadap Gaza
Meski menuai polemik, Gofman adalah sosok yang dikenal memiliki nyali di lapangan. Pada peristiwa serangan 7 Oktober 2023, ia terjun langsung ke garis depan dan mengalami luka serius dalam baku tembak melawan militan di dekat perbatasan Gaza. Keberanian fisik ini menjadi poin plus yang sering dibanggakan oleh para pendukungnya.
Prancis dan Inggris Desak Nasib Lebanon Masuk dalam Kesepakatan Strategis AS-Iran
Secara ideologis, Gofman dikenal sebagai penganut garis keras. Ia pernah menyusun dokumen strategis yang menyarankan agar militer tetap memegang kendali penuh atas Gaza pasca-konflik, sebuah posisi yang sangat selaras dengan visi politik Perdana Menteri Netanyahu. Kini, dunia menanti apakah di bawah nakhoda Gofman, Mossad akan semakin tajam dalam operasi rahasianya atau justru terjebak dalam turbulensi internal akibat penunjukannya yang kontroversial.