Ambisi Kripto Donald Trump Berujung Buntung, Kerugian Bitcoin Tembus Rp 17 Triliun
InfoNanti — Euforia kembalinya Donald Trump ke panggung kekuasaan ternyata tidak serta-merta membawa keberuntungan di sektor finansial, terutama saat bersentuhan dengan volatilitas tinggi dunia aset kripto. Sebuah laporan terbaru mengungkapkan bahwa keluarga Trump kini tengah menghadapi tekanan besar setelah taruhan miliaran dolar mereka pada Bitcoin berujung pada kerugian yang sangat masif.
Berdasarkan penelusuran tim InfoNanti, gelombang optimisme ini bermula pada Mei 2025. Saat itu, pasar kripto sedang berada dalam tren penguatan yang signifikan. Anak-anak Trump, yang sebelumnya sukses mendulang cuan dari berbagai proyek digital bertema sang ayah, memutuskan untuk mengambil langkah yang jauh lebih agresif dan berskala institusional.
Prediksi Melambung yang Tak Sesuai Realita
Keyakinan keluarga Trump terhadap Bitcoin saat itu benar-benar berada di puncaknya. Ketika harga Bitcoin bertengger di kisaran USD 108.000 per koin, Eric Trump dan Donald Trump Jr. secara terbuka menyuarakan prediksi yang sangat berani. Eric meyakini harga akan menembus USD 170.000, sementara sang kakak memproyeksi angka di kisaran USD 150.000 hingga USD 175.000.
Harga Bitcoin Melejit Menuju USD 80.000: Strategi Akumulasi Raksasa dan Ledakan ETF Picu Sentimen Bullish Global
Dorongan ego dan optimisme tersebut memicu Trump Media and Technology Group untuk melakukan pergerakan modal yang ekstrem. Perusahaan tersebut menjual saham senilai USD 1,4 miliar dan merilis obligasi konversi senilai USD 1 miliar hanya untuk dialokasikan ke Bitcoin. Pada Juli 2025, saat aksi beli besar-besaran dilakukan, harga Bitcoin bahkan sempat menyentuh level tertingginya di angka USD 119.000.
Badai Koreksi dan Sinyal The Fed
Namun, roda nasib berputar dengan cepat. Portofolio investasi yang semula diharapkan menjadi tambang emas justru berubah menjadi beban. Setelah pembelian besar tersebut, harga Bitcoin justru kehilangan momentum dan mulai bergerak stagnan sebelum akhirnya terjun bebas.
Upaya untuk melakukan diversifikasi ke aset lain seperti Cronos dengan suntikan dana USD 114 juta pun tidak mampu membendung arus penurunan. Tekanan semakin diperparah oleh pernyataan Ketua The Fed, Jerome Powell, yang memberi sinyal bahwa suku bunga akan tetap tinggi dalam jangka waktu lama. Kabar ini langsung memicu koreksi pasar yang menyeret harga Bitcoin hingga ke kisaran USD 72.000.
Ancaman Superkomputer Kuantum Terhadap Masa Depan Kripto: Bedah Analisis Mendalam dari Coinbase
Dampak Finansial: Rp 17 Triliun Menguap
Akibat penurunan harga yang tajam ini, nilai portofolio kripto milik Trump Media yang semula bernilai USD 2,4 miliar kini diperkirakan menyusut drastis menjadi hanya sekitar USD 1,4 miliar. Artinya, ada selisih kerugian sekitar USD 1 miliar atau setara dengan Rp 17,1 triliun jika menggunakan estimasi kurs saat ini.
Efek domino ini juga menghantam kekayaan pribadi Donald Trump. Nilai kepemilikannya di perusahaan media tersebut ikut menguap hingga USD 1,6 miliar, mencerminkan keraguan investor terhadap strategi agresif perusahaan dalam mengelola manajemen risiko.
Sikap Perusahaan: Tetap Optimis di Tengah Badai
Meskipun angka kerugian terlihat mengerikan di atas kertas, pihak Trump Media tetap menunjukkan sikap tenang di hadapan publik. Melalui juru bicaranya, Shannon Devine, perusahaan menyatakan bahwa kepemilikan Bitcoin tersebut merupakan bentuk investasi jangka panjang pada teknologi mata uang digital yang revolusioner.
Inggris Perketat Pengawasan Aset Digital: Operasi Besar FCA dan Larangan Donasi Kripto untuk Politik
“Kami tidak menilai nilai investasi ini berdasarkan fluktuasi siklus sementara,” tegas pihak perusahaan. Namun, pasar tampaknya memiliki penilaian sendiri. Saham Trump Media tercatat mengalami penurunan yang lebih dalam dibandingkan harga Bitcoin itu sendiri, sebuah sinyal kuat bahwa para pemegang saham mulai cemas terhadap masa depan finansial perusahaan di bawah bayang-bayang strategi kripto yang berisiko tinggi.