Heboh Foto AI Donald Trump Bergaya ‘Mesias’, Picu Protes di Kalangan Evangelikal
InfoNanti — Panggung media sosial kembali berguncang setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memutuskan untuk menghapus sebuah unggahan kontroversial di platform Truth Social miliknya. Langkah ini diambil menyusul gelombang kritik tajam yang datang dari berbagai penjuru, terutama terkait penggunaan citra religius yang dianggap menyerupai sosok Yesus Kristus.
Drama digital ini bermula pada Minggu (12/4/2026), ketika Trump membagikan sebuah gambar yang dihasilkan oleh teknologi kecerdasan buatan (AI). Dalam visual tersebut, Trump tampil dengan gaya yang sangat teatrikal: mengenakan jubah putih dan merah yang menjuntai, sembari meletakkan tangannya di atas seorang pria yang tampak menderita sakit. Pemandangan ini secara gamblang merefleksikan praktik penyembuhan iman yang identik dengan narasi religius di Amerika.
Jejak Langkah George Washington: Kilas Balik Inaugurasi Presiden Pertama Amerika Serikat pada 30 April 1789
Detail Visual yang Ambisius
Tak hanya sekadar jubah, gambar tersebut juga menampilkan efek cahaya yang memancar dari kedua tangan Donald Trump, seolah-olah menunjukkan kekuatan supernatural yang sedang bekerja. Di latar belakang, narasi nasionalisme berpadu dengan spiritualitas. Terlihat simbol-simbol ikonik seperti Patung Liberty, bendera Amerika Serikat yang megah, jet tempur, hingga elang botak.
Sentuhan surealis pun ditambahkan dengan adanya sosok-sosok yang menyerupai pejuang yang melayang di balik awan di atas kepala sang presiden. Namun, estetika yang ambisius ini justru menjadi bumerang, memicu reaksi keras bahkan dari basis pendukung setianya yang paling religius sekalipun.
Pembelaan Trump: ‘Saya Seorang Dokter’
Menyadari kegaduhan yang timbul, Trump akhirnya menghapus unggahan tersebut pada Senin (13/4). Saat dikonfrontasi oleh awak media di Gedung Putih, ia menepis tudingan bahwa dirinya mencoba mempersonifikasikan Yesus. Dengan gaya bicaranya yang khas, ia justru menyalahkan interpretasi media.
Iran Tuntut Ganti Rugi Perang Rp4.623 Triliun: Dari Pajak Selat Hormuz hingga Krisis Infrastruktur Nasional
“Saya mengunggahnya karena saya menganggap itu adalah diri saya sebagai seorang dokter yang menjalankan tugas kemanusiaan seperti Palang Merah,” jelas Trump. Ia menambahkan bahwa tujuannya hanyalah menunjukkan perannya dalam memperbaiki kondisi orang lain. Kepada CBS News, ia berdalih penghapusan tersebut dilakukan agar tidak menimbulkan kebingungan publik.
Kritik Pedas dari Lingkaran Konservatif
Meski Trump berusaha memberikan konteks baru, tokoh-tokoh konservatif dan aktivis Kristen tetap merasa keberatan. Sean Feucht, seorang aktivis Kristen ternama, menegaskan bahwa tidak ada alasan yang bisa membenarkan penggunaan citra seperti itu. Senada dengan Feucht, Riley Gaines secara tegas menyatakan bahwa simbol ketuhanan tidak seharusnya dijadikan bahan eksperimen visual untuk kepentingan pribadi.
Dampak Krisis Timur Tengah: IMF Peringatkan Guncangan Pasokan Energi dan Pangan Global
David Brody dari Christian Broadcasting Network juga memberikan catatan kritis. Menurutnya, tindakan Trump kali ini telah melampaui batas norma yang bisa diterima oleh pengikutnya. “Seorang pendukung mungkin setia pada misinya, namun mereka tetap memiliki batasan untuk menolak hal semacam ini,” tulis Brody.
Magnet Suara Kaum Evangelikal
Fenomena penggunaan citra religius oleh Trump bukanlah hal baru. Pada tahun 2023, ia pernah membagikan sketsa yang memperlihatkan dirinya duduk berdampingan dengan Yesus di ruang sidang. Strategi ini tampaknya berakar dari kedekatannya dengan komunitas Kristen Evangelikal yang menjadi tulang punggung kemenangannya pada pemilu 2016 dan 2024.
Hingga awal 2026, survei menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan kelompok ini terhadap Trump masih sangat solid di angka 69 persen. Bahkan, penasihat spiritualnya, Paula White-Cain, sering kali menggunakan analogi alkitabiah untuk menggambarkan perjuangan politik Trump, yang kian memperkuat persepsi ‘pahlawan religius’ di mata para pendukungnya.
Horor di Turki: Dua Penembakan Sekolah dalam Dua Hari Beruntun, Empat Nyawa Melayang