Menyingkap Misteri ‘Planet Kapas’: Astronom Temukan Dua Raksasa Gas dengan Massa Paling Ringan di Alam Semesta

Siti Rahma | InfoNanti
26 Jun 2026, 18:53 WIB
Menyingkap Misteri 'Planet Kapas': Astronom Temukan Dua Raksasa Gas dengan Massa Paling Ringan di Alam Semesta

InfoNanti — Alam semesta selalu memiliki cara tersendiri untuk mengejutkan para penghuni Bumi melalui berbagai fenomena kosmik yang terkadang melampaui logika manusia. Baru-baru ini, komunitas ilmiah global digemparkan oleh penemuan sepasang benda langit yang tidak biasa. Para astronom berhasil mengidentifikasi dua planet raksasa yang secara fisik memiliki dimensi hampir sebesar Jupiter, namun memiliki karakteristik yang sangat ganjil: kepadatannya bahkan lebih rendah daripada gulali kapas atau cotton candy yang biasa kita temukan di taman hiburan.

Kedua dunia asing ini diklasifikasikan ke dalam kategori langka yang disebut sebagai planet “super-puff”. Sebutan ini merujuk pada planet-planet berukuran masif namun memiliki massa yang sangat ringan jika dibandingkan dengan volume tubuhnya. Penemuan ini bukan sekadar menambah daftar panjang eksoplanet yang telah ditemukan, melainkan membuka cakrawala baru mengenai betapa beragam dan anehnya struktur planet di luar sana, jauh melampaui apa yang pernah kita bayangkan dalam sistem tata surya kita sendiri.

Baca Juga

Peta Baru Kekuatan Timur Tengah: Rahasia di Balik Aliansi Strategis Israel-UEA dan Retaknya Dominasi Tradisional

Peta Baru Kekuatan Timur Tengah: Rahasia di Balik Aliansi Strategis Israel-UEA dan Retaknya Dominasi Tradisional

Penemuan Spektakuler di Konstelasi Volans

Penelitian mendalam yang dipublikasikan dalam jurnal ternama Monthly Notices of the Royal Astronomical Society ini mengungkap bahwa kedua planet tersebut mengorbit sebuah bintang induk yang terletak di konstelasi Volans. Konstelasi ini, yang lebih dikenal dengan sebutan “Ikan Terbang”, merupakan bagian dari belahan langit selatan yang memang menyimpan banyak rahasia astronomi yang menakjubkan. Jarak sistem planet ini diperkirakan mencapai 1.110 tahun cahaya dari Bumi.

Untuk memberikan perspektif yang lebih nyata, satu tahun cahaya setara dengan hampir 6 triliun mil atau sekitar 9,7 triliun kilometer. Dengan jarak lebih dari seribu tahun cahaya, cahaya yang kita deteksi dari planet-planet ini hari ini sebenarnya telah memulai perjalanannya sejak masa lampau, memberikan kita jendela untuk melihat masa lalu alam semesta. Penemuan ini secara resmi menempatkan kedua objek tersebut sebagai eksoplanet terbesar yang pernah tercatat dengan tingkat kepadatan serendah itu.

Baca Juga

Revolusi Hijau di Jalanan: Strategi Eropa Mengubah Wajah Transportasi Melalui Subsidi Sepeda

Revolusi Hijau di Jalanan: Strategi Eropa Mengubah Wajah Transportasi Melalui Subsidi Sepeda

George Dransfield, seorang peneliti terkemuka dari University of Oxford yang memimpin studi ini, memberikan perumpamaan yang cukup menggelitik untuk menggambarkan kondisi fisik planet tersebut. Beliau menyatakan bahwa di antara semua planet berukuran raksasa yang pernah ditemukan manusia, keduanya adalah yang paling ringan. “Kedua planet ini memiliki kepadatan yang sebanding dengan segumpal busa cukur yang baru saja disemprotkan keluar dari kalengnya,” ujar Dransfield dalam laporan resminya.

Anatomi Planet ‘Super-Puff’: Ringan Namun Luas

Mengapa sebuah planet bisa memiliki kepadatan yang begitu rendah? Secara teori, planet-planet jenis super-puff ini sebagian besar tersusun atas elemen-elemen paling ringan di alam semesta, yaitu hidrogen dan helium. Tidak seperti Bumi yang memiliki inti batuan padat yang besar, planet-planet ini diduga memiliki atmosfer yang sangat tebal dan mengembang, namun dengan inti yang relatif kecil.

Baca Juga

Diplomasi Literasi: Indonesia Terpilih Jadi Tamu Kehormatan Pameran Buku Internasional Tunisia 2026

Diplomasi Literasi: Indonesia Terpilih Jadi Tamu Kehormatan Pameran Buku Internasional Tunisia 2026

Berdasarkan analisis spektrum dan pengamatan orbit, Dransfield menjelaskan bahwa penampakan visual kedua planet ini mungkin tidak semanis namanya. Meskipun disebut mirip gulali kapas dalam hal kepadatan, warnanya diperkirakan bukan merah muda. Bergantung pada komposisi awan di atmosfer atasnya, planet-planet ini kemungkinan besar akan tampak berwarna putih bersih atau biru pucat jika dilihat dari jarak dekat. Hal ini dikarenakan cara atmosfer mereka membiaskan cahaya bintang induknya.

Keberadaan planet seperti ini memberikan tantangan tersendiri bagi para ahli fisika luar angkasa. Bagaimana mungkin sebuah objek sebesar Jupiter bisa mempertahankan integritas strukturnya tanpa runtuh atau tertiup oleh angin bintang, padahal massanya sangat kecil? Inilah yang menjadikan kedua planet ini laboratorium alami yang sangat berharga bagi ilmu pengetahuan.

Baca Juga

Analisis Tajam Donald Trump Terhadap Mundurnya Keir Starmer: Kegagalan Energi dan Imigrasi Menjadi Sorotan Utama

Analisis Tajam Donald Trump Terhadap Mundurnya Keir Starmer: Kegagalan Energi dan Imigrasi Menjadi Sorotan Utama

Peran Satelit TESS dan Teleskop Canggih NASA

Keberhasilan dalam mendeteksi objek yang begitu unik ini tidak lepas dari peran teknologi mutakhir milik NASA. Adalah satelit Transiting Exoplanet Survey Satellite atau TESS yang pertama kali menangkap sinyal keberadaan mereka dalam dekade terakhir. TESS bekerja dengan cara memantau penurunan intensitas cahaya bintang secara periodik, yang menandakan adanya sebuah planet yang melintas di depan bintang tersebut (transit).

Setelah sinyal awal tertangkap oleh TESS, para peneliti kemudian menggunakan berbagai teleskop berbasis darat di seluruh dunia untuk melakukan pengamatan lanjutan. Proses ini melibatkan penghitungan presisi mengenai periode orbit dan interaksi gravitasi antara planet dan bintang induknya. Dari sinilah para ilmuwan dapat mengekstrak data mengenai massa planet, yang kemudian dikombinasikan dengan data ukuran untuk menghasilkan angka kepadatan yang mencengangkan tersebut.

Sebagai perbandingan yang kontras, Jupiter, raksasa gas di tata surya kita yang selama ini kita anggap besar dan megah, ternyata memiliki kepadatan hingga 35 kali lebih besar dibandingkan kedua planet baru ini. Hal ini menunjukkan bahwa sistem planet di luar sana bisa terbentuk dengan cara-cara yang sangat berbeda dari apa yang terjadi di lingkungan kosmik kita sendiri.

Teori Pembentukan: Dari Debu Menjadi Gas Raksasa

Salah satu pertanyaan besar yang muncul adalah bagaimana planet super-puff ini bisa terbentuk. Para ilmuwan meyakini bahwa mereka lahir dari piringan gas dan debu (protoplanet) yang mengelilingi bintang muda. Namun, ada kondisi khusus di mana planet-planet ini terbentuk di bagian piringan yang memiliki kandungan gas jauh lebih dominan daripada material padat atau debu.

Seiring berjalannya waktu, planet-planet ini mungkin mengalami proses evolusi yang unik di mana mereka kehilangan sebagian besar material beratnya atau gagal mengakresi material padat yang cukup, sehingga menyisakan bola gas raksasa yang sangat renggang. Mempelajari sistem yang tidak biasa dan langka seperti ini membantu para ahli memahami evolusi teori pembentukan planet secara keseluruhan.

Hingga saat ini, NASA telah berhasil mengonfirmasi hampir 6.300 planet di luar tata surya kita. Namun, dari jumlah yang sangat banyak tersebut, kurang dari 40 di antaranya yang dapat dikategorikan sebagai planet super-puff. Kelangkaan ini menjadikan setiap penemuan baru di kategori ini sangat krusial bagi pengembangan model astrofisika modern.

Langkah Selanjutnya: Menanti Mata Teleskop Webb

Meskipun data yang ada saat ini sudah sangat meyakinkan, para astronom masih memiliki rasa ingin tahu yang besar mengenai detail atmosfer planet-planet tersebut. Langkah selanjutnya dalam penelitian ini adalah mengajukan pengamatan menggunakan Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST). Dengan kemampuan inframerahnya yang sangat sensitif, JWST diharapkan dapat membedah komposisi kimia atmosfer planet tersebut secara lebih rinci.

Apakah benar mereka hanya terdiri dari hidrogen dan helium? Ataukah ada unsur kimia lain yang berperan dalam menjaga atmosfer mereka tetap mengembang? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan memberikan gambaran yang lebih utuh tentang keragaman dunia yang ada di galaksi Bima Sakti kita.

“Pada akhirnya, setiap penemuan planet baru membawa kita satu langkah lebih dekat untuk memahami tempat kita di alam semesta yang luas ini,” pungkas Dransfield. Penemuan sepasang planet ‘gulali kapas’ ini mengingatkan kita bahwa alam semesta masih menyimpan sejuta misteri yang menanti untuk dipecahkan, menantang imajinasi manusia untuk terus mengeksplorasi batas-batas pengetahuan.

Siti Rahma

Siti Rahma

Jurnalis berita global dengan ketertarikan pada geopolitik dan ekonomi dunia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *