Strategi Agresif Bitmine Immersion Technologies: Borong 52 Ribu Ethereum Saat Pasar Bergejolak

Andi Saputra | InfoNanti
23 Jun 2026, 22:51 WIB
Strategi Agresif Bitmine Immersion Technologies: Borong 52 Ribu Ethereum Saat Pasar Bergejolak

InfoNanti — Di tengah fluktuasi pasar aset digital yang kerap membuat para investor ritel menahan napas, sebuah langkah besar justru diambil oleh raksasa industri, Bitmine Immersion Technologies. Perusahaan yang dikenal sebagai salah satu pemegang perbendaharaan Ethereum terbesar di dunia ini baru saja melakukan aksi beli yang cukup masif. Tidak tanggung-tanggung, Bitmine menggelontorkan dana sekitar US$ 92 juta atau setara dengan Rp 1,64 triliun untuk menambah koleksi Ethereum (ETH) mereka.

Langkah Berani Bitmine di Tengah Penurunan Harga

Keputusan Bitmine untuk melakukan akuisisi ini terjadi di tengah tren penurunan harga yang melanda pasar kripto dalam beberapa pekan terakhir. Saat harga Ethereum tergelincir ke bawah level US$ 1.700 (sekitar Rp 30,34 juta), perusahaan justru melihatnya sebagai peluang emas untuk melakukan akumulasi. Strategi ini sering dikenal dengan istilah “buy the dip”, sebuah metode yang biasa dilakukan oleh entitas besar untuk memperkuat posisi investasi kripto mereka saat harga sedang terkoreksi.

Baca Juga

Revolusi Finansial di Kaukasus: Tether Gandeng Pemerintah Georgia Luncurkan GELT, Masa Depan Stablecoin Berdaulat?

Revolusi Finansial di Kaukasus: Tether Gandeng Pemerintah Georgia Luncurkan GELT, Masa Depan Stablecoin Berdaulat?

Berdasarkan data yang dihimpun, Bitmine berhasil menyerok sebanyak 52.203 ETH pada pekan lalu. Pembelian ini dilakukan dengan harga rata-rata US$ 1.760 per koin. Langkah ini sekaligus mempertegas posisi Bitmine sebagai salah satu dari sedikit institusi skala besar yang masih konsisten menunjukkan kepercayaan tinggi pada masa depan ekosistem Ethereum, bahkan ketika sentimen pasar sedang dalam tekanan.

Mengejar Target Dominasi 5 Persen Pasokan Global

Akuisisi terbaru ini membawa Bitmine selangkah lebih dekat ke target ambisius mereka. Perusahaan bertujuan untuk menguasai setidaknya 5 persen dari total pasokan Ethereum yang beredar di seluruh dunia. Dengan tambahan 52.203 ETH tersebut, kini total kepemilikan Bitmine telah menyentuh angka fantastis, yakni 5,67 juta ETH. Jika dikonversi ke dalam nilai pasar saat ini, aset tersebut bernilai hampir US$ 10 miliar atau setara dengan Rp 178,51 triliun.

Baca Juga

Guncangan Geopolitik: Bitcoin Tersungkur di Bawah USD 72.000 Usai Kebuntuan Diplomasi AS-Iran

Guncangan Geopolitik: Bitcoin Tersungkur di Bawah USD 72.000 Usai Kebuntuan Diplomasi AS-Iran

Saat ini, Bitmine tercatat memiliki sekitar 4,7 persen dari seluruh pasokan Ethereum yang ada di pasar. Meskipun target 5 persen sudah di depan mata, Chairman Bitmine, Tom Lee, memberikan isyarat bahwa laju pembelian mungkin akan sedikit melambat dalam beberapa bulan ke depan. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penyesuaian strategi keuangan perusahaan, mengingat cadangan kas tunai mereka saat ini berada di angka US$ 601 juta atau sekitar Rp 10,72 triliun.

Kondisi Saham dan Performa Pasar Ethereum

Meskipun secara agresif menambah aset digital, performa perusahaan di pasar modal konvensional tampak sedang menghadapi tantangan. Saham Bitmine (BMNR) dilaporkan telah mengalami penurunan sebesar 49 persen sepanjang tahun ini, dan kini diperdagangkan di level US$ 15,91. Sementara itu, pada penutupan perdagangan 22 Juni 2026, harga Ethereum sendiri bertengger di posisi US$ 1.737,91 per keping.

Baca Juga

Bitcoin Japan Resmi Masuk ke SpaceX: Menakar Strategi Investasi di Balik Raksasa Antariksa Elon Musk

Bitcoin Japan Resmi Masuk ke SpaceX: Menakar Strategi Investasi di Balik Raksasa Antariksa Elon Musk

Perspektif Robert Kiyosaki: Mengapa Ethereum dan Bitcoin Menjadi Pilihan?

Langkah Bitmine yang memborong Ethereum sejalan dengan visi yang sering disampaikan oleh pakar keuangan terkemuka sekaligus penulis buku legendaris *Rich Dad Poor Dad*, Robert Kiyosaki. Baru-baru ini, Kiyosaki kembali melontarkan kritik pedas terhadap stabilitas dolar Amerika Serikat yang ia labeli sebagai “uang palsu” (fake money). Menurutnya, sistem moneter saat ini sedang berada di ambang kerentanan akibat pencetakan uang yang tidak terkendali dan utang negara yang terus membengkak.

Kiyosaki berargumen bahwa menabung dalam bentuk uang tunai konvensional adalah strategi yang berisiko tinggi di masa depan karena nilainya yang terus tergerus oleh inflasi. Ia mengajak masyarakat untuk segera menukarkan uang tunai mereka dengan aset yang memiliki nilai intrinsik lebih kuat, seperti Bitcoin, Ethereum, emas, dan perak.

Baca Juga

Ambisi Inggris Jadi Pusat Kripto Global: Bank of England Evaluasi Ulang Regulasi Ketat Stablecoin

Ambisi Inggris Jadi Pusat Kripto Global: Bank of England Evaluasi Ulang Regulasi Ketat Stablecoin

Analogi Triliunan Dolar dan Ancaman Inflasi

Dalam sebuah pernyataan yang cukup provokatif, Kiyosaki memberikan ilustrasi mengenai betapa cepatnya nilai mata uang fiat bisa didevaluasi oleh kebijakan bank sentral. Ia menjelaskan bahwa angka US$ 1 triliun adalah jumlah yang sangat besar—butuh waktu 34.000 tahun bagi seseorang untuk menghabiskannya jika ia membelanjakan US$ 1 setiap menit tanpa henti. Namun, kenyataan pahitnya adalah Departemen Keuangan AS mampu “menciptakan” uang sebesar itu dalam waktu kurang dari satu menit.

Kondisi inilah yang membuat Kiyosaki memandang aset digital seperti Bitcoin dan Ethereum sebagai penyelamat kekayaan. Ia secara khusus menyoroti kelangkaan Bitcoin yang hanya dibatasi sebanyak 21 juta koin, berbeda dengan emas yang pasokannya masih bisa bertambah melalui penambangan besar-besaran, atau uang kertas yang bisa dicetak kapan saja.

Emas, Perak, dan Kripto: Strategi Diversifikasi Modern

Meskipun Kiyosaki sangat vokal mendukung Bitcoin, ia tidak menampik pentingnya diversifikasi. Baginya, emas tetap menjadi “uang Tuhan” yang telah teruji selama ribuan tahun. Sementara itu, perak dianggap sebagai peluang investasi yang menarik karena harganya yang masih relatif terjangkau dengan permintaan industri yang tinggi. Namun, jika dipaksa memilih satu, Kiyosaki secara tegas menyatakan bahwa Bitcoin adalah pilihan utamanya saat ini.

Di sisi lain, Ethereum masuk dalam daftar favoritnya karena peran krusial koin ini dalam ekosistem teknologi blockchain. Ethereum bukan sekadar mata uang digital, melainkan platform dasar bagi ribuan aplikasi terdesentralisasi (dApps) dan kontrak pintar yang menjadi tulang punggung revolusi keuangan modern.

Kesimpulan dan Pandangan ke Depan

Aksi borong yang dilakukan Bitmine Immersion Technologies menunjukkan bahwa kepercayaan institusi terhadap ekosistem Ethereum tetap solid meskipun harga pasar sedang mengalami kontraksi. Di sisi lain, narasi yang dibangun oleh tokoh seperti Robert Kiyosaki semakin memperkuat argumen bahwa aset kripto mulai dipandang sebagai instrumen perlindungan nilai (hedge) terhadap ketidakpastian ekonomi global.

Bagi para investor, fenomena ini menjadi pengingat penting tentang pentingnya pemahaman mendalam sebelum terjun ke dunia investasi. Sebagaimana tren yang berkembang, pergeseran dari aset tradisional ke aset digital bukan lagi sekadar spekulasi, melainkan bagian dari evolusi sistem keuangan global. Namun, perlu diingat bahwa setiap keputusan strategi investasi selalu membawa risiko tersendiri yang harus dikelola dengan bijak.

Disclaimer: Seluruh informasi dalam artikel ini bertujuan untuk edukasi dan berita. InfoNanti tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi pribadi yang diambil oleh pembaca. Pastikan untuk selalu melakukan analisis mandiri dan berkonsultasi dengan ahli keuangan sebelum melakukan transaksi jual-beli aset kripto.

Andi Saputra

Andi Saputra

Analis crypto dan blockchain enthusiast sejak 2017.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *