Ramalan Tajam Arthur Hayes: Akankah Bitcoin Menuju Titik Nadir Rp 715 Juta di Tengah Tekanan Makro?

Andi Saputra | InfoNanti
24 Jun 2026, 10:52 WIB
Ramalan Tajam Arthur Hayes: Akankah Bitcoin Menuju Titik Nadir Rp 715 Juta di Tengah Tekanan Makro?

InfoNanti — Di tengah dinamika pasar aset digital yang sering kali tidak terduga, sebuah proyeksi berani kembali datang dari salah satu tokoh paling berpengaruh di industri kripto. Arthur Hayes, pendiri BitMEX yang dikenal dengan analisisnya yang blak-blakan, baru-baru ini melontarkan estimasi yang cukup mengejutkan para pelaku pasar. Dalam sebuah pengamatan mendalam, Hayes memprediksi bahwa raja mata uang kripto, Bitcoin (BTC), berpotensi mengalami koreksi tajam hingga menyentuh level US$ 40.000 atau setara dengan Rp 715,70 juta dalam kurun waktu enam bulan ke depan.

Prediksi ini muncul di tengah situasi pasar yang terlihat stagnan, di mana Bitcoin seolah kehilangan momentum untuk menembus level psikologis baru. Meskipun Hayes tetap memegang posisi beli (long) dalam portofolio jangka panjangnya, kesediaannya untuk menyuarakan potensi penurunan sebesar 35% dari harga saat ini menunjukkan adanya kewaspadaan tingkat tinggi terhadap kondisi ekonomi global yang sedang tidak menentu.

Baca Juga

Terobosan Baru Dunia Finansial: Shinhan Card dan Solana Uji Coba Pembayaran Berbasis Stablecoin untuk Transaksi Masa Depan

Terobosan Baru Dunia Finansial: Shinhan Card dan Solana Uji Coba Pembayaran Berbasis Stablecoin untuk Transaksi Masa Depan

Strategi Lindung Nilai di Tengah Ketidakpastian

Dalam sebuah sesi wawancara eksklusif dengan kreator konten EllioTrades pada pertengahan Juni lalu, Hayes memaparkan alasan di balik pandangan skeptis jangka pendeknya. Ia mengakui bahwa meskipun dirinya adalah seorang pendukung setia Bitcoin, realitas pasar saat ini mengharuskannya untuk mengambil langkah preventif. Hayes mengungkapkan bahwa ia saat ini memegang strategi put spread sebagai bentuk lindung nilai atau asuransi terhadap portofolionya.

Langkah ini diambil untuk memitigasi risiko jika prediksi harga bitcoin benar-benar jatuh ke angka US$ 40.000. “Saya akan tetap berpegang pada target saya. Jika saya ternyata salah, itu bukan masalah besar bagi saya. Saya masih mempertahankan posisi beli jangka panjang, dan saya akan merasa senang apa pun hasil akhirnya,” ujar Hayes dengan nada tenang, mencerminkan mentalitas investor kawakan yang tidak mudah goyah oleh fluktuasi harian.

Baca Juga

Jangan Gegabah Jual XRP: Analisis Mendalam Mengapa Konsolidasi Saat Ini Adalah Sinyal Akumulasi Besar

Jangan Gegabah Jual XRP: Analisis Mendalam Mengapa Konsolidasi Saat Ini Adalah Sinyal Akumulasi Besar

Gempuran Kebijakan Hawkish dari Federal Reserve

Salah satu faktor fundamental yang menjadi motor penggerak pesimisme jangka pendek ini adalah kebijakan moneter dari Amerika Serikat. Federal Reserve (The Fed) tampaknya belum menunjukkan tanda-tanda akan melunakkan sikap mereka. Dengan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50% hingga 3,75%, para pembuat kebijakan seolah memberikan sinyal bahwa likuiditas pasar akan tetap ketat dalam waktu yang lebih lama.

Pergeseran proyeksi suku bunga median untuk tahun 2026 yang naik menjadi 3,8% telah memicu kekhawatiran di kalangan investor aset berisiko. Ketika suku bunga tetap tinggi, aset-aset seperti Bitcoin cenderung mengalami tekanan karena biaya modal menjadi lebih mahal. Data pasar menunjukkan bahwa ekspektasi kenaikan suku bunga pada akhir tahun kini meningkat secara signifikan, yang secara langsung menjadi penghambat bagi Bitcoin untuk keluar dari zona konsolidasinya saat ini.

Baca Juga

Evolusi Pusat Data: Mengapa Saham Penambang Bitcoin Kini Menjadi ‘Primadona’ Baru di Sektor AI?

Evolusi Pusat Data: Mengapa Saham Penambang Bitcoin Kini Menjadi ‘Primadona’ Baru di Sektor AI?

Manuver MicroStrategy: Penyangga yang Mulai Melambat?

Di sisi lain, upaya institusional untuk menopang harga terus berlanjut, meskipun dengan kecepatan yang berbeda. MicroStrategy, perusahaan yang dikenal sebagai pemegang Bitcoin terbesar di dunia korporasi, baru-baru ini menambah cadangan mereka sebanyak 520 BTC. Langkah ini sempat memberikan napas segar bagi pasar, mendorong harga kembali ke kisaran US$ 65.000 atau sekitar Rp 1,16 miliar.

Namun, para analis dari QCP dan Wintermute memberikan catatan penting. Mereka menunjukkan bahwa meskipun akumulasi terus terjadi, intensitasnya mulai berkurang akibat meningkatnya biaya pendanaan. Investasi institusi melalui ETF (Exchange Traded Fund) dan strategi korporasi seperti yang dilakukan MicroStrategy kini memberikan permintaan marginal yang lebih rendah dibandingkan awal tahun. Tanpa adanya katalis positif baru yang kuat, Bitcoin diprediksi akan sulit untuk menembus hambatan resistensi yang ada sekarang.

Baca Juga

Pasar Kripto Akhir Pekan: Bitcoin Melandai ke Rp 1,3 Miliar, Altcoin Utama Ikut Terkoreksi

Pasar Kripto Akhir Pekan: Bitcoin Melandai ke Rp 1,3 Miliar, Altcoin Utama Ikut Terkoreksi

Pudarnya Minat Publik: Sinyal Google Trends dan Sentimen Ketakutan

Fenomena menarik lainnya yang perlu dicermati adalah mulai memudarnya antusiasme masyarakat umum terhadap aset kripto. Data dari Google Trends menunjukkan bahwa volume pencarian untuk kata kunci “Bitcoin” telah mencapai level terendah dalam satu tahun terakhir. Pada pertengahan Juni 2026, minat pencarian hanya tersisa sekitar 29% dari titik puncaknya yang pernah terjadi pada Februari lalu.

Penurunan minat ini sering kali dianggap sebagai indikator bahwa pasar sedang berada dalam fase jenuh atau bahkan memasuki fase “apatis”. Indeks Ketakutan dan Keserakahan (Fear and Greed Index) dari CoinGlass saat ini menunjukkan angka 21, yang mengindikasikan sentimen “Ketakutan” (Fear). Ketika publik mulai berpaling dan investor ritel merasa cemas, likuiditas di pasar cenderung mengering, yang pada gilirannya mempermudah terjadinya penurunan harga yang drastis sebagaimana diprediksi oleh Hayes.

Menatap Masa Depan: Peluang di Balik Koreksi

Meskipun angka US$ 40.000 terdengar menakutkan bagi investor baru, bagi para veteran seperti Arthur Hayes, koreksi semacam ini justru bisa menjadi peluang akumulasi yang sehat sebelum siklus bull run berikutnya dimulai. Sejarah mencatat bahwa Bitcoin sering kali membutuhkan koreksi tajam untuk membersihkan pasar dari spekulan jangka pendek sebelum akhirnya mencetak rekor tertinggi baru.

Kondisi pasar saat ini, yang dibayangi oleh isu inflasi dan kebijakan The Fed yang ketat, memang menciptakan tantangan besar. Namun, fundamental teknologi blockchain dan adopsi Bitcoin sebagai aset penyimpan nilai (store of value) jangka panjang tetap tidak berubah. Bagi mereka yang memiliki cakrawala waktu investasi bertahun-tahun, volatilitas dalam enam bulan ke depan hanyalah riak kecil dalam perjalanan panjang menuju digitalisasi keuangan global.

Kesimpulan dan Langkah Bijak bagi Investor

Menanggapi prediksi ini, para investor disarankan untuk tetap melakukan analisis mendalam secara mandiri sebelum mengambil keputusan jual atau beli. Manajemen risiko kripto menjadi kunci utama dalam menghadapi periode penuh ketidakpastian ini. Diversifikasi aset dan penggunaan strategi lindung nilai, seperti yang dilakukan oleh Arthur Hayes, bisa menjadi pertimbangan bagi mereka yang ingin tetap terjun di pasar namun tetap waspada terhadap potensi penurunan.

Pasar kripto adalah ekosistem yang sangat volatil dan dipengaruhi oleh banyak faktor eksternal, mulai dari regulasi pemerintah hingga perkembangan teknologi. Tetaplah memperbarui informasi Anda melalui sumber-sumber terpercaya agar tidak terjebak dalam kepanikan pasar atau euforia yang berlebihan. Keputusan akhir ada di tangan Anda, dan pemahaman yang baik atas dinamika pasar adalah modal terbaik dalam berinvestasi.

Andi Saputra

Andi Saputra

Analis crypto dan blockchain enthusiast sejak 2017.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *