Revolusi Hijau PLN: Target Serapan 10 Juta Ton Biomassa di 2030 Demi Kedaulatan Energi Nasional

Rizky Pratama | InfoNanti
20 Jun 2026, 18:53 WIB
Revolusi Hijau PLN: Target Serapan 10 Juta Ton Biomassa di 2030 Demi Kedaulatan Energi Nasional

InfoNanti — PT PLN (Persero) tengah merancang peta jalan ambisius dalam upaya mentransformasi wajah energi nasional. Melalui anak usahanya, PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), perusahaan listrik plat merah ini menargetkan penyerapan biomassa hingga menyentuh angka 10 juta ton pada tahun 2030. Langkah ini bukan sekadar pemenuhan kuota energi, melainkan sebuah strategi fundamental untuk menjadikan bioenergi sebagai pilar utama ketahanan energi nasional sekaligus motor penggerak ekonomi kerakyatan.

Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, dalam keterangannya baru-baru ini menekankan bahwa pengembangan bioenergi adalah kunci krusial dalam mendukung target Net Zero Emissions (NZE) pada tahun 2060. Indonesia, dengan kekayaan alamnya, memiliki modal yang lebih dari cukup untuk memimpin transisi ini. Namun, tantangannya terletak pada bagaimana mengonsolidasikan potensi tersebut agar memberikan manfaat maksimal bagi pasar domestik.

Baca Juga

Mengunci Celah Kemiskinan: Jaminan Sosial Sebagai Perisai Utama Keluarga Pekerja Indonesia

Mengunci Celah Kemiskinan: Jaminan Sosial Sebagai Perisai Utama Keluarga Pekerja Indonesia

Menuju Target 10 Juta Ton: Transformasi Bioenergi Nasional

Visi besar PLN ini direncanakan secara bertahap dan sistematis. Sebelum mencapai tonggak 10 juta ton di akhir dekade ini, PLN EPI terlebih dahulu menargetkan penyerapan sebesar 3,65 juta ton pada tahun 2026. Akselerasi yang masif ini mencerminkan keseriusan pemerintah dalam menggeser ketergantungan dari energi fosil menuju sumber daya yang lebih berkelanjutan. Transisi energi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk menjaga keberlangsungan lingkungan dan stabilitas pasokan listrik.

Pencapaian target 10 juta ton biomassa tersebut diperkirakan akan menciptakan efek domino yang luar biasa bagi perekonomian. Secara finansial, langkah ini diprediksi mampu menghasilkan nilai ekonomi yang mendekati angka Rp4 triliun. Dari sisi lingkungan, dampaknya tak kalah signifikan, yakni potensi penurunan emisi karbon hingga mencapai 11 juta ton CO2 ekuivalen. Angka ini merupakan kontribusi nyata bagi komitmen global Indonesia dalam memerangi perubahan iklim.

Baca Juga

Aksi Protes Petani Memuncak, PT GMM Pastikan Penyerapan Tebu Lokal Tetap Terjamin

Aksi Protes Petani Memuncak, PT GMM Pastikan Penyerapan Tebu Lokal Tetap Terjamin

Menilik Potensi Raksasa di Balik Limbah Agro yang Terabaikan

Hokkop Situngkir memaparkan fakta menarik mengenai kekayaan sumber daya biomassa kita. Indonesia sejatinya memiliki potensi limbah agro yang sangat melimpah, mencapai 80 juta ton setiap tahunnya. Namun, sangat disayangkan, tingkat pemanfaatannya saat ini baru menyentuh angka 20 juta ton. Sebagian besar dari jumlah yang termanfaatkan tersebut justru diekspor ke luar negeri atau diserap oleh sektor industri swasta lainnya.

Pada tahun 2025, PLN diproyeksikan hanya menyerap sekitar 2,35 juta ton biomassa untuk kebutuhan pembangkit listriknya. Di sisi lain, angka ekspor biomassa Indonesia telah menembus 8,5 juta ton. Kondisi ini menunjukkan adanya ketimpangan di mana sumber daya lokal lebih banyak dinikmati oleh pasar global dibandingkan untuk kepentingan energi dalam negeri. “Hal ini menunjukkan potensi bioenergi nasional masih sangat besar untuk dioptimalkan bagi kepentingan domestik,” tegas Hokkop.

Baca Juga

Strategi Baru Cukai Rokok 2026: Pemerintah Tambah Layer Tarif untuk Tekan Peredaran Ilegal

Strategi Baru Cukai Rokok 2026: Pemerintah Tambah Layer Tarif untuk Tekan Peredaran Ilegal

Strategi Co-firing: Memperpanjang Nafas PLTU dengan Cara Hijau

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Johni Jonathan Numberi, memberikan perspektif mengenai urgensi biomassa dalam bauran energi. Menurutnya, biomassa akan memegang peranan sentral bersama energi surya dan gas bumi. Pemerintah sendiri telah mempertegas arah kebijakan ini melalui PP Nomor 40 Tahun 2025, yang menetapkan energi baru terbarukan sebagai tulang punggung sistem energi masa depan Indonesia.

Salah satu metode paling efektif yang diterapkan PLN adalah teknologi co-firing. Teknologi ini memungkinkan penggunaan biomassa sebagai bahan bakar pendamping batubara di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Mengingat banyak PLTU di Indonesia yang masih memiliki usia ekonomis panjang, co-firing menjadi solusi jalan tengah yang brilian. Strategi ini mampu menekan emisi secara instan tanpa harus mematikan pembangkit secara prematur, sekaligus menjaga keandalan pasokan listrik ke masyarakat.

Baca Juga

Krisis Sampah Indonesia: Antara Beban Iuran Rakyat dan Ambisi Waste to Energy 2027

Krisis Sampah Indonesia: Antara Beban Iuran Rakyat dan Ambisi Waste to Energy 2027

Ekspansi ke Gas Biometana dan Masa Depan Biohidrogen

Inovasi PLN tidak berhenti pada biomassa padat saja. PLN EPI kini mulai menggeber pengembangan Compressed Biomethane Gas (CBG) yang memanfaatkan limbah cair kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME). Dengan keberadaan hampir 3.000 pabrik kelapa sawit di tanah air yang menghasilkan sekitar 130 juta metrik ton POME per tahun, potensi ini laksana raksasa yang sedang tidur.

Uji coba penggunaan CBG telah menunjukkan hasil positif di salah satu pembangkit milik PT Nusantara Power. Harapannya, jika biomassa padat bisa menggantikan 10 persen kebutuhan bahan bakar di PLTU, maka CBG diharapkan mampu memberikan kontribusi serupa pada Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG), PLTMG, maupun PLTGU. Inovasi teknologi semacam ini sangat krusial untuk menciptakan bauran energi yang lebih bersih di seluruh lini pembangkitan.

Lebih jauh lagi, PLN EPI juga sedang melirik pengembangan biohidrogen sebagai strategi jangka panjang. Mengingat tren energi bersih global yang semakin mengarah pada hidrogen, Indonesia memiliki peluang emas untuk menjadi pemain utama. Bahan bakunya yang berasal dari biomassa dan limbah organik sangat melimpah, menjadikan biohidrogen sebagai komoditas masa depan yang menjanjikan baik untuk pasar domestik maupun ekspor.

Dampak Sosial-Ekonomi: Membangun Kemakmuran dari Desa

Satu hal yang membuat program biomassa ini istimewa adalah sentuhan pemberdayaan masyarakatnya. Berbeda dengan industri ekstraktif yang bersifat padat modal, pengembangan bioenergi berbasis biomassa sangat kental dengan nuansa padat karya. PLN EPI memperkirakan bahwa setiap pemanfaatan 100 ribu ton biomassa dapat melibatkan sekitar 500 petani dan 18 kelompok tani secara langsung.

Program ini terbukti mampu meningkatkan pendapatan masyarakat pedesaan dengan rata-rata tambahan Rp450 ribu per bulan bagi para petani yang terlibat. Dengan target 10 juta ton di tahun 2030, diperkirakan akan tercipta sekitar 150 ribu lapangan kerja hijau (green jobs). Inilah wujud nyata dari ekonomi hijau yang tidak hanya memikirkan kelestarian alam, tetapi juga perut rakyat kecil.

Infrastruktur dan Kebutuhan Akan Indonesian Bioenergy Index (IBI)

Untuk memastikan pasokan biomassa terjaga, PLN EPI telah membangun fasilitas produksi di beberapa wilayah strategis seperti Tasikmalaya dan Ciamis. Pengembangan ini dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor yang melibatkan BUMDes, koperasi, UMKM, hingga mitra swasta. Secara total, pengembangan bioenergi hingga 2030 diproyeksikan memberikan tambahan penerimaan negara sebesar Rp670 miliar dan total pendapatan sektor mencapai Rp5,1 triliun.

Namun, di tengah segala optimisme tersebut, tantangan besar masih membayangi, terutama terkait stabilitas harga dan ekosistem industri. Untuk mengatasinya, PLN EPI mengusulkan pembentukan Indonesian Bioenergy Index (IBI). Kehadiran indeks harga nasional ini sangat vital untuk memberikan kepastian bagi para investor dan stabilitas bagi para penyedia bahan baku. Dengan adanya IBI, pasar diharapkan menjadi lebih transparan, kompetitif, dan berkelanjutan, sehingga cita-cita Indonesia berdaulat energi melalui biomassa bukan lagi sekadar mimpi.

Rizky Pratama

Rizky Pratama

Penulis bisnis & startup dengan pengalaman di dunia digital marketing dan venture.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *