Aksi Protes Petani Memuncak, PT GMM Pastikan Penyerapan Tebu Lokal Tetap Terjamin

Rizky Pratama | InfoNanti
01 Jun 2026, 22:52 WIB
Aksi Protes Petani Memuncak, PT GMM Pastikan Penyerapan Tebu Lokal Tetap Terjamin

InfoNanti — Gejolak di sektor pertanian kembali memanas, kali ini menimpa para pahlawan pangan di sektor komoditas manis. Menanggapi keresahan yang menyulut aksi protes para petani tebu di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, PT Gendhis Multi Manis (GMM) selaku anak usaha dari Perum Bulog akhirnya angkat suara. Perusahaan tersebut memberikan jaminan bahwa hasil panen tebu lokal akan tetap diserap, meski saat ini operasional pabrik tengah menghadapi tantangan teknis yang cukup pelik.

Langkah Taktis PT GMM di Tengah Tekanan Petani

Pemandangan memprihatinkan sempat mewarnai gerbang pabrik gula GMM beberapa waktu lalu. Para petani yang merasa buntu mengekspresikan kekecewaannya dengan membuang hasil jerih payah mereka—tumpukan tebu yang telah siap giling—di depan pabrik. Aksi ini merupakan bentuk protes atas tidak terserapnya hasil panen yang kian menumpuk. Menanggapi situasi darurat tersebut, Plt Direktur Utama PT GMM, Sri Emilia Mudiyanti, menegaskan bahwa pihaknya tidak tinggal diam dan telah menyiapkan skema mitigasi.

Baca Juga

Menteri Maruarar Sirait: Rakyat Miskin Bebas Pajak Properti, Si Kaya Harus Berkontribusi Lebih

Menteri Maruarar Sirait: Rakyat Miskin Bebas Pajak Properti, Si Kaya Harus Berkontribusi Lebih

Emilia mengungkapkan bahwa perusahaan telah membentuk tim khusus yang bertugas sebagai jembatan komunikasi dan eksekutor di lapangan. Tim ini memegang mandat penting untuk menyerap aspirasi sekaligus menyusun alur distribusi agar tebu lokal milik petani Blora bisa dialihkan ke unit pengolahan lain, baik yang berada di dalam kawasan maupun di luar kabupaten. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa tidak ada tebu petani yang terbuang sia-sia akibat kendala di internal pabrik.

“Kami memahami betul kekhawatiran para petani. Saat ini, tim kami sedang bekerja keras melakukan pendataan wilayah-wilayah mana saja yang memiliki kapasitas untuk membantu menyerap tebu ini. Fokus utama kami adalah memastikan roda ekonomi petani tetap berputar,” ujar Emilia dalam keterangan resminya yang diterima oleh tim redaksi kami.

Baca Juga

Kapan Gaji ke-13 PNS Cair? Simak Jadwal, Daftar Penerima, hingga Estimasi Nominal Terbarunya

Kapan Gaji ke-13 PNS Cair? Simak Jadwal, Daftar Penerima, hingga Estimasi Nominal Terbarunya

Kendala Teknis dan Prosedur BUMN yang Ketat

Banyak pihak bertanya-tanya mengapa pabrik sebesar GMM mengalami hambatan dalam operasionalnya di saat musim panen raya tiba. Berdasarkan penjelasan manajemen, terdapat kendala teknis pada mesin produksi yang memerlukan perbaikan menyeluruh sebelum dapat beroperasi secara optimal. Sebagai entitas yang berada di bawah naungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), PT GMM tidak bisa mengambil langkah gegabah dalam hal pengadaan maupun perbaikan aset.

Emilia menjelaskan bahwa setiap kebijakan, termasuk perbaikan infrastruktur mesin, harus melalui proses evaluasi yang ketat dan mematuhi prinsip tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance). Hal ini seringkali memakan waktu, namun merupakan prosedur wajib untuk menjaga akuntabilitas. Meski demikian, ia memastikan bahwa proses koordinasi dengan pihak-pihak terkait terus dikebut agar solusi permanen dapat segera tercapai.

Baca Juga

Tragedi Jalur Bekasi: Kronologi Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL serta Upaya Evakuasi Darurat

Tragedi Jalur Bekasi: Kronologi Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL serta Upaya Evakuasi Darurat

Jeritan Mentan: Banjir Gula Rafinasi yang ‘Bocor’ ke Pasar

Persoalan tebu di Blora nyatanya hanyalah puncak dari gunung es masalah industri gula nasional. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, dalam sebuah kesempatan di hadapan Komisi VI DPR, meluapkan kegeramannya terhadap kondisi pasar gula di tanah air. Mentan menyoroti masuknya gula rafinasi impor dalam skala besar yang merembes ke pasar konsumsi rumah tangga, yang seharusnya hanya diperuntukkan bagi kebutuhan industri.

Fenomena ‘bocornya’ gula rafinasi ini menjadi pukulan telak bagi gula kristal putih produksi petani lokal. Secara visual, gula rafinasi yang berwarna lebih putih bersih seringkali lebih menarik bagi konsumen awam, meski peruntukannya berbeda secara regulasi. Akibatnya, gula hasil produksi dalam negeri kalah bersaing di pasar sendiri, menciptakan stok yang menumpuk di gudang-gudang pengolahan.

Baca Juga

Gojek Resmi Hapus Skema Langganan Driver: Revolusi Tarif GoRide Hemat Demi Kesejahteraan Mitra

Gojek Resmi Hapus Skema Langganan Driver: Revolusi Tarif GoRide Hemat Demi Kesejahteraan Mitra

“Laporan dari Jawa Tengah hingga Kalimantan Timur menunjukkan pola yang sama. Rafinasi ini masuk ke pasar-pasar tradisional. Ini bukan lagi sekadar rembesan kecil, tapi sudah seperti banjir. Jika ini dibiarkan, petani kita yang paling pertama menjadi korban,” tegas Amran dengan nada bicara yang menunjukkan urgensi tinggi.

Anjloknya Harga Produk Sampingan dan Kerugian Petani

Tak hanya harga gula yang tertekan, produk sampingan pengolahan tebu seperti molase (tetes tebu) juga mengalami terjun bebas dalam hal harga jual. Pada Maret 2026, tercatat harga molase anjlok hingga menyentuh angka Rp1.000 per liter, padahal sebelumnya sempat bertengger di kisaran Rp1.900 per liter. Penurunan hampir 50 persen ini menambah beban finansial yang harus dipikul oleh para petani.

Ironi ini menjadi sorotan tajam bagi pengamat ekonomi pertanian. Di satu sisi, Indonesia masih melakukan impor dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan nasional, namun di sisi lain, produksi dalam negeri justru tidak laku atau dihargai sangat rendah. Ketidakseimbangan ekosistem perdagangan inilah yang memicu aksi-aksi protes di lapangan, karena petani merasa tidak mendapatkan perlindungan harga yang layak dari pemerintah.

Proyeksi 2025: Tantangan Swasembada Gula Nasional

Jika menilik data proyeksi tahun 2025, luas lahan panen tebu eksisting di Indonesia mencapai angka 563.357 hektare. Dengan tingkat produktivitas Gula Kristal Putih (GKP) rata-rata 4,74 ton per hektare, total produksi nasional diperkirakan mampu mencapai 2,67 juta ton. Angka ini sebenarnya menunjukkan potensi besar yang dimiliki oleh pertanian Indonesia.

Namun, angka produksi tersebut masih terpaut jauh dari total kebutuhan gula nasional yang mencapai 6,7 juta ton per tahun. Kesenjangan sebesar 4 juta ton inilah yang selama ini ditutupi melalui jalur impor. Masalahnya, regulasi impor yang kurang ketat dalam pengawasan distribusinya justru seringkali berbalik senjata dan mematikan gairah petani lokal untuk terus menanam tebu.

Kebutuhan gula konsumsi sendiri berada di angka 2,8 juta ton, sementara sisanya sebesar 3,9 juta ton adalah untuk kebutuhan industri. Secara matematis, jika seluruh produksi lokal (2,67 juta ton) terserap dengan baik untuk pasar konsumsi, maka ketergantungan kita pada gula impor untuk konsumsi rumah tangga seharusnya bisa ditekan seminimal mungkin.

Menanti Aksi Nyata untuk Masa Depan Petani

Langkah PT GMM untuk mengalihkan penyerapan tebu ke pabrik lain merupakan solusi jangka pendek yang patut diapresiasi, namun stabilitas industri gula membutuhkan kebijakan yang lebih holistik. Pengetatan pengawasan terhadap distribusi gula rafinasi dan modernisasi mesin pabrik gula pelat merah menjadi agenda mendesak yang tidak bisa ditunda lagi.

Masa depan swasembada pangan, khususnya gula, sangat bergantung pada bagaimana pemerintah melindungi harga di tingkat petani. Tanpa kepastian pasar dan harga yang kompetitif, luasan lahan tebu dikhawatirkan akan terus menyusut karena petani beralih ke komoditas lain yang lebih menjanjikan. Komitmen PT GMM kali ini diharapkan menjadi titik balik kembalinya kepercayaan petani terhadap kemitraan dengan BUMN demi menjaga manisnya swasembada gula di masa depan.

Rizky Pratama

Rizky Pratama

Penulis bisnis & startup dengan pengalaman di dunia digital marketing dan venture.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *