Strategi Baru Cukai Rokok 2026: Pemerintah Tambah Layer Tarif untuk Tekan Peredaran Ilegal

Rizky Pratama | InfoNanti
11 Apr 2026, 19:51 WIB
Strategi Baru Cukai Rokok 2026: Pemerintah Tambah Layer Tarif untuk Tekan Peredaran Ilegal

InfoNanti — Gebrakan baru tengah dipersiapkan pemerintah untuk menata ulang ekosistem industri hasil tembakau di tanah air. Mulai Mei 2026, struktur tarif cukai hasil tembakau (CHT) atau yang lebih akrab dikenal sebagai cukai rokok dipastikan akan mengalami perubahan signifikan melalui penambahan lapisan atau layer tarif baru.

Langkah ini bukan sekadar penyesuaian angka, melainkan strategi terintegrasi untuk memperkuat penerimaan negara sekaligus mempersempit ruang gerak rokok ilegal yang kian meresahkan. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa kepastian jadwal implementasi ini krusial agar target fiskal dan pengawasan pasar dapat berjalan beriringan.

Target Mei 2026: Menutup Celah Rokok Gelap

Pemerintah mematok tenggat waktu yang jelas untuk transformasi ini. “Kami menargetkan paling lambat Mei 2026 kebijakan ini sudah berjalan. Tujuannya jelas, mengoptimalkan pendapatan negara dan memberikan dasar hukum yang kuat untuk melarang total peredaran rokok ilegal,” ungkap Purbaya dalam sebuah pernyataan resminya.

Baca Juga

BRI dan Rumah Zakat Permudah Ibadah Melalui Qurban Digital di BRImo: Solusi Praktis di Genggaman

BRI dan Rumah Zakat Permudah Ibadah Melalui Qurban Digital di BRImo: Solusi Praktis di Genggaman

Saat ini, proposal terkait penambahan layer cukai rokok tersebut telah memasuki tahap finalisasi dan bersiap untuk dibahas lebih lanjut bersama jajaran DPR. Melalui struktur yang lebih detail, pemerintah berupaya menciptakan kompetisi yang sehat di pasar, sembari menarik para produsen nakal untuk beralih ke jalur legal sesuai dengan ketentuan undang-undang yang berlaku.

Pendekatan Persuasif Namun Tegas

Menariknya, skema baru ini juga mengedepankan pendekatan dua arah. Di satu sisi, pemerintah membuka pintu lebar bagi pelaku usaha rokok yang selama ini beroperasi di bawah radar atau ilegal untuk memformalkan bisnis mereka. Namun, di sisi lain, sanksi tegas menanti bagi mereka yang tetap memilih berada di jalur hitam.

Baca Juga

Menembus Pelosok Nusantara: Bagaimana 1,18 Juta Agen BRILink Menjadi Jantung Ekonomi di 66.450 Desa

Menembus Pelosok Nusantara: Bagaimana 1,18 Juta Agen BRILink Menjadi Jantung Ekonomi di 66.450 Desa

“Kami memberikan kesempatan bagi mereka untuk masuk ke ekosistem pasar yang legal. Jika peluang ini diabaikan, maka tindakan tegas berupa penutupan usaha tidak akan bisa dihindari,” tambah Purbaya dengan nada lugas. Terkait proyeksi nilai tambah bagi kas negara, pemerintah memilih untuk bersikap konservatif dan memantau realisasi lapangan dalam beberapa bulan awal implementasi sebelum merilis angka yang lebih akurat.

Menyeimbangkan Regulasi dan Serapan Tenaga Kerja

Dalam penyusunannya, otoritas fiskal tidak hanya melihat dari kacamata hukum semata. Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal, Febrio Kacaribu, menjelaskan bahwa aspek keberlanjutan industri tembakau tetap menjadi pertimbangan utama, mengingat sektor ini merupakan penyerap tenaga kerja yang sangat masif di berbagai daerah.

Baca Juga

Transformasi Finansial Tugu Reasuransi: Torehan Laba Rp 110 Miliar dan Navigasi Strategis PSAK 117

Transformasi Finansial Tugu Reasuransi: Torehan Laba Rp 110 Miliar dan Navigasi Strategis PSAK 117

Sebagai catatan historis, struktur tarif cukai rokok di Indonesia telah melewati perjalanan panjang dan dinamis. Dari semula yang memiliki 19 lapisan pada tahun 2009, pemerintah sempat melakukan simplifikasi menjadi hanya 8 lapisan pada tahun 2022. Kini, dengan landasan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 97 Tahun 2024, penambahan layer kembali dilakukan sebagai instrumen kendali yang lebih presisi dan efektif.

Harapannya, transformasi yang akan dimulai pada pertengahan 2026 ini mampu menciptakan keseimbangan antara fungsi pengendalian konsumsi masyarakat, perlindungan terhadap nasib tenaga kerja, serta optimalisasi pendapatan negara dalam satu bingkai kebijakan ekonomi yang harmonis.

Rizky Pratama

Rizky Pratama

Penulis bisnis & startup dengan pengalaman di dunia digital marketing dan venture.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *