Diplomasi AS-Iran Menuju Damai: Mengapa Bitcoin Masih Malu-Malu Mengejar Reli Saham Global?

Andi Saputra | InfoNanti
17 Jun 2026, 06:51 WIB
Diplomasi AS-Iran Menuju Damai: Mengapa Bitcoin Masih Malu-Malu Mengejar Reli Saham Global?

InfoNanti — Di tengah gemuruh diplomasi internasional yang menjanjikan stabilitas baru di Timur Tengah, pasar kripto justru menunjukkan sikap yang tidak biasa. Ketika indeks saham Wall Street bersorak dan harga minyak mentah mulai melandai, Bitcoin (BTC) sebagai aset kripto nomor satu di dunia tampak masih tertahan dalam zona konsolidasi. Fenomena ini memicu pertanyaan besar di kalangan investasi kripto: mengapa kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran belum cukup kuat untuk memicu reli besar-besaran di pasar aset digital?

Angin Segar dari Teheran dan Washington

Dunia baru saja menyaksikan momen bersejarah saat Presiden AS Donald Trump bersama Wakil Presiden JD Vance menandatangani nota kesepahaman (MoU) elektronik dengan pemerintah Iran. Kabar ini bak oase di tengah gurun ketegangan geopolitik yang telah berlangsung bertahun-tahun. Salah satu poin krusial dari kesepakatan ini adalah pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh, sebuah jalur urat nadi perdagangan minyak dunia yang selama ini menjadi titik panas konflik.

Baca Juga

Misteri Likuiditas Global: Mengapa Bitcoin Sulit Menembus Rekor Baru Menurut Analisis Arthur Hayes?

Misteri Likuiditas Global: Mengapa Bitcoin Sulit Menembus Rekor Baru Menurut Analisis Arthur Hayes?

Sentimen positif ini langsung direspons dengan euforia oleh pasar tradisional. Indeks S&P 500 melonjak 1,7%, sementara Nasdaq 100 yang didominasi saham teknologi terbang hingga 3,1%. Investor di pasar saham tampak sangat optimis bahwa stabilitas geopolitik global akan menekan biaya energi dan memicu pertumbuhan ekonomi yang lebih sehat. Namun, narasi berbeda terlihat di layar monitor para trader kripto.

Bitcoin dan Teka-Teki di Level US$ 67.000

Berdasarkan pantauan tim riset InfoNanti, harga Bitcoin sempat memberikan harapan saat berhasil menembus level psikologis US$ 67.000 atau sekitar Rp 1,18 miliar. Namun, kegembiraan itu berumur pendek. Tekanan jual yang muncul segera setelah mencapai puncak harian di US$ 67.217 memaksa Bitcoin kembali parkir di bawah level US$ 66.000. Pada perdagangan Selasa (16/6/2026), BTC bergerak stabil namun lamban di kisaran US$ 65.845.

Baca Juga

Prediksi Bitcoin Halving 2028: Kelangkaan Pasokan Bakal Picu Guncangan Baru di Pasar Kripto?

Prediksi Bitcoin Halving 2028: Kelangkaan Pasokan Bakal Picu Guncangan Baru di Pasar Kripto?

Sikap wait and see atau menunggu kepastian menjadi tema utama di kalangan pemegang aset digital. Banyak pihak yang menilai bahwa meski kesepakatan telah ditandatangani secara elektronik, momentum sesungguhnya baru akan terjadi saat seremoni resmi di Swiss pada 19 Juni mendatang. Hingga tinta benar-benar kering di atas kertas perjanjian fisik, pelaku pasar tampaknya enggan untuk melakukan aksi beli secara agresif pada aset digital.

Skeptisisme Pasar: Belajar dari Kegagalan Masa Lalu

Mengapa Bitcoin tidak langsung ‘terbang’ mengikuti jejak Nasdaq? Jimmy Xue, Co-Founder dan COO Axis, memberikan perspektif yang menarik. Menurutnya, pasar kripto saat ini dihantui oleh trauma masa lalu. Ini adalah upaya gencatan senjata ketiga yang dilakukan oleh kedua negara dalam beberapa tahun terakhir. Ada skeptisisme yang mendalam mengenai apakah perdamaian kali ini benar-benar akan bertahan lama atau hanya sekadar taktik diplomatik sementara.

Baca Juga

Strategi CFX Gandeng Universitas Top Demi Masa Depan Ekosistem Kripto Indonesia

Strategi CFX Gandeng Universitas Top Demi Masa Depan Ekosistem Kripto Indonesia

Terlebih lagi, Presiden Trump memberikan catatan kaki yang cukup keras: kesepakatan dapat dibatalkan sewaktu-waktu jika Iran terbukti melanjutkan program nuklirnya secara rahasia. Ancaman pembatalan sepihak ini membuat profil risiko Bitcoin—yang sering dianggap sebagai emas digital atau lindung nilai terhadap ketidakpastian—menjadi ambigu. Trader lebih memilih untuk mengamati perkembangan di Swiss sebelum memutuskan untuk masuk kembali ke pasar dengan volume besar.

Performa Altcoin: Ether dan Solana Mengambil Panggung

Menariknya, ketika Bitcoin tampak ragu-ragu, sejumlah altcoin justru menunjukkan performa yang lebih energik. Ether (ETH), misalnya, mencatatkan kenaikan solid sebesar 2,8% ke level US$ 1.764. Secara mingguan, aset kripto terbesar kedua ini telah menguat hampir 6%, menunjukkan bahwa minat terhadap ekosistem kontrak pintar tetap tinggi meskipun sentimen makro masih fluktuatif.

Baca Juga

Klarifikasi Changpeng Zhao Terkait Isu Hilang di Dubai: Strategi Manipulasi di Balik Hoaks Kripto

Klarifikasi Changpeng Zhao Terkait Isu Hilang di Dubai: Strategi Manipulasi di Balik Hoaks Kripto

Di sisi lain, Solana (SOL) dan XRP masing-masing mencatat kenaikan 3,2%. Namun, bintang utama dalam kelompok aset digital utama kali ini adalah token HYPE milik Hyperliquid yang melonjak tajam 6,3% ke posisi US$ 69. Pergerakan ini mengindikasikan bahwa likuiditas pasar mungkin sedang bergeser dari Bitcoin ke aset-aset yang menawarkan potensi imbal hasil lebih cepat di tengah kondisi pasar yang stabil namun tidak terlalu bergairah.

Eksodus Dana dari ETF Bitcoin Spot

Salah satu beban yang menghambat laju Bitcoin adalah arus keluar modal (outflow) dari produk ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat. Dalam empat pekan terakhir, tercatat dana sekitar US$ 5,4 miliar atau setara Rp 95,7 triliun keluar dari pasar. Ini adalah salah satu periode penarikan dana terbesar sejak produk ETF Bitcoin diluncurkan ke publik.

Fenomena ini menunjukkan bahwa investor institusi mungkin sedang melakukan penyeimbangan portofolio (rebalancing). Sebagian besar modal tampaknya dialihkan kembali ke pasar saham yang sedang dalam tren bullish akibat berita perdamaian AS-Iran. Likuiditas yang tersedot keluar dari pasar kripto ini menjadi alasan teknis mengapa harga BTC sulit untuk menembus level resistance yang kuat di US$ 70.000.

Sinyal Positif: Perpindahan ke Cold Storage

Meskipun data ETF terlihat suram, InfoNanti menemukan adanya secercah harapan di sisi on-chain. Terjadi tren peningkatan perpindahan Bitcoin dari bursa (exchange) menuju dompet penyimpanan dingin (cold storage). Secara historis, hal ini menandakan bahwa pemegang jangka panjang (HODLers) tidak memiliki niat untuk menjual aset mereka dalam waktu dekat.

Chris Perkins, calon Kepala Franklin Crypto di Franklin Templeton, berpendapat bahwa kondisi ini sebenarnya sangat konstruktif bagi masa depan pasar kripto. Dengan berkurangnya pasokan yang tersedia di bursa, potensi lonjakan harga akan menjadi sangat besar jika permintaan tiba-tiba meledak kembali. Perkins juga mencatat bahwa IPO SpaceX beberapa waktu lalu sempat menyedot likuiditas ritel, namun seiring meredanya euforia tersebut, dana investor kemungkinan besar akan kembali mengalir ke kripto.

Menanti UU CLARITY dan Keputusan Bank Sentral

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga sedang memfokuskan perhatian pada perkembangan regulasi di Washington. Pembahasan Undang-Undang CLARITY diharapkan dapat memberikan kepastian hukum yang selama ini dinanti-nanti oleh para pemain besar. UU ini bertujuan untuk memperjelas batas antara aset digital yang dikategorikan sebagai sekuritas dan komoditas, sebuah perdebatan panjang yang selama ini menghambat adopsi massal.

Terakhir, mata dunia juga tertuju pada Federal Reserve. Keputusan mengenai suku bunga dalam pertemuan mendatang akan menjadi faktor penentu apakah dolar AS akan melemah atau menguat. Jika penandatanganan kesepakatan damai di Swiss berjalan lancar dan didukung oleh sikap bank sentral yang lebih longgar, Bitcoin mungkin tidak hanya akan mengejar ketertinggalannya dari pasar saham, tetapi juga berpotensi mencetak rekor tertinggi baru di akhir tahun 2026.

Disclaimer: Seluruh informasi dalam artikel ini disusun oleh InfoNanti untuk tujuan edukasi dan berita semata. Setiap keputusan investasi sepenuhnya merupakan tanggung jawab pribadi pembaca. Pastikan untuk melakukan riset mendalam dan analisis mandiri sebelum melakukan transaksi di pasar kripto yang memiliki risiko volatilitas tinggi.

Andi Saputra

Andi Saputra

Analis crypto dan blockchain enthusiast sejak 2017.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *