Misteri Likuiditas Global: Mengapa Bitcoin Sulit Menembus Rekor Baru Menurut Analisis Arthur Hayes?

Andi Saputra | InfoNanti
11 Jun 2026, 06:51 WIB
Misteri Likuiditas Global: Mengapa Bitcoin Sulit Menembus Rekor Baru Menurut Analisis Arthur Hayes?

InfoNanti — Di tengah gejolak pasar finansial global yang kian dinamis, sebuah pertanyaan besar menyelimuti benak para investor: mengapa Bitcoin, yang sering dijuluki sebagai emas digital, seolah kehilangan tenaga untuk melonjak lebih tinggi? Padahal, secara historis, suntikan likuiditas ke dalam sistem ekonomi dunia biasanya menjadi angin segar bagi aset kripto. Arthur Hayes, sosok visioner sekaligus pendiri bursa kripto raksasa BitMEX, mencoba menguak tabir di balik fenomena ini melalui sebuah analisis mendalam yang cukup mengejutkan banyak pihak.

Menurut pandangan Hayes, hambatan utama yang membuat harga Bitcoin sulit mencetak reli fantastis dalam beberapa tahun terakhir bukanlah karena kurangnya minat investor, melainkan adanya ‘pencurian’ arus modal secara besar-besaran oleh sektor lain. Sektor tersebut tidak lain adalah kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Hayes berargumen bahwa likuiditas baru yang tercipta dari ekspansi pasokan dolar Amerika Serikat tidak mengalir ke dompet-dompet digital kripto sebagaimana mestinya, melainkan tersedot ke dalam pusaran investasi teknologi masa depan tersebut.

Baca Juga

Guncang Pasar Kripto 2026, BitMine Borong Ethereum Senilai Rp 3,9 Triliun: Sinyal Bullish Telah Tiba?

Guncang Pasar Kripto 2026, BitMine Borong Ethereum Senilai Rp 3,9 Triliun: Sinyal Bullish Telah Tiba?

Pergeseran Paradigma Arus Likuiditas Fiat

Selama bertahun-tahun, banyak pengamat pasar, termasuk Hayes sendiri, berpegang pada keyakinan bahwa pergerakan pasar aset kripto sangat ditentukan oleh ketersediaan likuiditas uang konvensional atau fiat. Logikanya sederhana: semakin banyak uang beredar (M2) di sistem keuangan, semakin besar kemungkinan sebagian dana tersebut masuk ke aset berisiko tinggi namun berpotensi imbal hasil besar seperti Bitcoin.

Namun, dalam catatan terbarunya yang dikutip dari berbagai sumber kredibel, Hayes mengakui adanya celah dalam model analisis lamanya. Ia menyadari bahwa memantau jumlah likuiditas saja tidaklah cukup. Hal yang jauh lebih krusial adalah memahami ke mana sebenarnya arah aliran modal tersebut. Meskipun jumlah uang yang beredar meningkat tajam, faktanya investasi kripto harus bersaing ketat dengan narasi besar lainnya yang dianggap lebih menjanjikan secara fundamental oleh para raksasa modal di Wall Street.

Baca Juga

Dilema Regulasi: Presiden Polandia Kembali Veto RUU Kripto, Ketidakpastian Industri Digital Kian Berlarut

Dilema Regulasi: Presiden Polandia Kembali Veto RUU Kripto, Ketidakpastian Industri Digital Kian Berlarut

Lahirnya ‘The Great AI Bubble’

Hayes menandai bulan November 2022 sebagai titik balik sejarah ekonomi modern. Saat itu, chatbot AI buatan OpenAI, ChatGPT, diperkenalkan ke publik dan langsung memicu euforia global. Hayes menyebut momen ini sebagai awal dari apa yang ia istilahkan sebagai “Great AI Bubble” atau gelembung besar AI. Fenomena ini telah mengubah peta jalan investasi teknologi secara drastis dalam waktu singkat.

Di satu sisi, Bitcoin memang menunjukkan ketahanan yang luar biasa. Setelah sempat terpuruk akibat keruntuhan bursa FTX yang mengguncang industri, Bitcoin berhasil bangkit dari level terendah di kisaran US$ 15.000 hingga mampu menyentuh angka US$ 125.000 pada Oktober 2025. Namun, jika dibandingkan dengan pertumbuhan saham-saham yang terafiliasi dengan AI, performa sang raja kripto tersebut tampak kalah bersinar.

Baca Juga

Alarm Keamanan Kripto: 14 Dompet Digital Bankr Dibobol Peretas, Bagaimana Nasib Ganti Rugi Pengguna?

Alarm Keamanan Kripto: 14 Dompet Digital Bankr Dibobol Peretas, Bagaimana Nasib Ganti Rugi Pengguna?

NVIDIA vs Bitcoin: Pertarungan Angka Pertumbuhan

Untuk memperkuat argumennya, Hayes memberikan perbandingan yang sangat kontras antara Bitcoin dan saham NVIDIA, sang penyedia chip yang menjadi tulang punggung revolusi AI. Dalam periode yang hampir bersamaan, saham NVIDIA tercatat meroket hingga 11 kali lipat. Sementara itu, Bitcoin ‘hanya’ mampu mencatatkan kenaikan sekitar tujuh kali lipat dari titik terendahnya.

Ketimpangan ini semakin terlihat jelas sejak akhir tahun 2024. Saat sektor AI terus mendapatkan momentum dan suntikan dana tak terbatas, Bitcoin justru mulai mengalami kelelahan pasar. Momentum kenaikannya melambat, dan aset digital ini mulai terjebak dalam fase konsolidasi panjang bahkan mengalami koreksi tajam dari level tertingginya. Hayes mengakui bahwa sebelumnya ia berasumsi sebagian besar likuiditas global pada akhirnya akan berlabuh di Bitcoin, namun realita berkata lain.

Baca Juga

Angin Segar dari Teheran: Damai AS-Iran Picu Reli Bitcoin Hingga Tembus Level US$ 65.500

Angin Segar dari Teheran: Damai AS-Iran Picu Reli Bitcoin Hingga Tembus Level US$ 65.500

Mengapa AI Begitu ‘Haus’ Akan Modal?

Satu hal yang membedakan sektor AI dengan industri perangkat lunak tradisional adalah kebutuhan infrastruktur fisiknya yang masif. Membangun model bahasa besar (LLM) yang canggih memerlukan ribuan chip grafis (GPU) mutakhir, pembangunan pusat data (data center) berkapasitas raksasa, hingga pembangkit listrik mandiri untuk menyokong kebutuhan energi yang luar biasa besar.

Hayes menjelaskan bahwa lonjakan belanja infrastruktur AI yang dimulai pada 2024 dan memuncak di sepanjang tahun 2025 telah menciptakan lubang hitam pendanaan. Perusahaan-perusahaan teknologi besar berlomba-lomba mengamankan modal untuk membangun ekosistem AI mereka. Hal inilah yang menyebabkan likuiditas dolar AS seolah terhisap habis sebelum sempat menyentuh pasar mata uang digital.

Statistik yang Berbicara: AI Menyerap M2

Data yang dipaparkan Hayes memberikan gambaran yang lebih gamblang. Diperkirakan sektor AI telah menerbitkan utang sekitar US$ 1,5 triliun sejak akhir 2022 hingga saat ini. Dari total angka tersebut, sekitar US$ 1,3 triliun justru dihimpun sejak awal 2025, menandakan betapa agresifnya pembangunan infrastruktur AI belakangan ini.

Secara mengejutkan, angka penyerapan modal oleh sektor AI ini hampir identik dengan pertumbuhan pasokan uang beredar M2 di Amerika Serikat pada periode yang sama. Dengan kata lain, hampir setiap dolar baru yang dicetak atau dilepaskan ke sistem keuangan langsung terserap oleh kebutuhan industri AI. “AI sucked up all created dollars,” tulis Hayes dengan lugas, menyimpulkan bahwa Bitcoin harus puas dengan ‘sisa-sisa’ likuiditas yang ada.

Fase Psikologis dan Pandangan Bearish Analis

Di tengah analisis makro Hayes, analis pasar ternama lainnya yang dikenal dengan sapaan Doctor Profit juga memberikan peringatan senada. Ia menilai bahwa saat ini Bitcoin telah memasuki tahap kelima dari enam fase siklus pasar bearish (lesu). Fase ini biasanya merupakan periode yang paling menyiksa bagi investor ritel karena ditandai dengan volatilitas yang sangat tinggi dan ketidakpastian arah harga.

Dalam fase ini, tekanan psikologis sering kali memaksa para pemegang aset untuk melakukan ‘panic selling’. Pasar seolah tidak memberikan ruang untuk bernapas, dengan berita-berita negatif yang terus membayangi. Kombinasi antara tersedotnya likuiditas ke sektor AI dan fase siklus pasar yang sulit ini membuat prospek jangka pendek Bitcoin menjadi tantangan besar bagi para pelaku pasar.

Kesimpulan: Masa Depan di Tengah Persaingan Narasi

Meskipun tantangan yang dihadapi Bitcoin saat ini sangat nyata, analisis Arthur Hayes tidak serta merta mematikan harapan bagi para pendukung kripto. Analisis ini justru memberikan perspektif baru bagi investor untuk lebih bijak dalam melihat peta ekonomi global. Bitcoin kini tidak lagi hanya bersaing dengan emas atau mata uang fiat, tetapi juga harus membuktikan nilai uniknya di hadapan revolusi teknologi AI yang sedang meledak.

Ke depannya, kunci bagi kebangkitan Bitcoin mungkin terletak pada sejauh mana gelembung AI ini dapat bertahan, atau apakah Bitcoin akan menemukan narasi baru yang mampu menarik kembali minat para pemilik modal besar. Satu hal yang pasti, dinamika antara likuiditas, teknologi, dan aset digital akan terus menjadi cerita paling menarik dalam dunia finansial modern yang terus dilaporkan secara tajam oleh InfoNanti.

Andi Saputra

Andi Saputra

Analis crypto dan blockchain enthusiast sejak 2017.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *