Prediksi Harga Bitcoin: Menakar Peluang Rebound dari Titik Terendah $59.000 Menuju Target $100.000

Andi Saputra | InfoNanti
14 Jun 2026, 12:51 WIB
Prediksi Harga Bitcoin: Menakar Peluang Rebound dari Titik Terendah $59.000 Menuju Target $100.000

InfoNanti — Panggung pasar kripto global kembali dikejutkan oleh volatilitas yang cukup ekstrem dalam beberapa pekan terakhir. Bitcoin, sebagai aset digital dengan kapitalisasi pasar terbesar, tengah berada di bawah tekanan yang membuat banyak investor merasa was-was. Namun, di balik awan mendung yang menyelimuti grafik harga, sejumlah analis kawakan justru melihat adanya titik terang yang menandakan berakhirnya fase koreksi.

Analisis terbaru yang dirilis oleh lembaga keuangan global, Standard Chartered, menyiratkan bahwa penurunan harga ini bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, mereka memproyeksikan bahwa Bitcoin sedang dalam proses membentuk fondasi yang kuat di sekitar angka US$ 59.000. Level ini dianggap sebagai titik terendah siklus sebelum investasi kripto kembali meroket ke level yang jauh lebih tinggi di masa mendatang.

Baca Juga

Update Harga Kripto 28 Mei 2026: Bitcoin Tergelincir di Bawah $75.000, Monero Melawan Arus Bearish

Update Harga Kripto 28 Mei 2026: Bitcoin Tergelincir di Bawah $75.000, Monero Melawan Arus Bearish

Analisis Geoffrey Kendrick: Cahaya di Balik Gejolak Pasar

Kepala Riset Aset Digital di Standard Chartered, Geoffrey Kendrick, menjadi salah satu suara paling optimistis di tengah ketidakpastian ini. Dalam catatan risetnya, ia menegaskan bahwa meskipun pasar terlihat lesu, fundamental jangka panjang Bitcoin tetap kokoh. Kendrick memperkirakan bahwa pergerakan harga menuju angka US$ 59.000 adalah bagian dari mekanisme pasar untuk “membersihkan” posisi-posisi spekulatif sebelum memulai reli baru.

Ia tidak tanggung-tanggung dalam memasang target. Kendrick tetap mempertahankan prediksinya bahwa Bitcoin akan menyentuh level psikologis US$ 100.000 pada akhir tahun ini. Sementara itu, Ethereum, sebagai motor utama ekosistem smart contract, diproyeksikan mampu menembus US$ 4.000. “Berakhirnya musim dingin kripto (crypto winter) sudah di depan mata, menandai dimulainya periode pemulihan yang signifikan,” ungkap Kendrick dalam keterangannya.

Baca Juga

Bitcoin Terbang 11,87% di April: Akankah Momentum Bull Run Berlanjut Sepanjang Mei 2026?

Bitcoin Terbang 11,87% di April: Akankah Momentum Bull Run Berlanjut Sepanjang Mei 2026?

Badai Likuiditas: Dampak IPO SpaceX Terhadap Bitcoin

Salah satu narasi paling menarik yang diangkat dalam laporan ini adalah korelasi antara pasar kripto dengan pasar modal tradisional, khususnya terkait penawaran saham perdana atau IPO. Kendrick menyoroti bahwa IPO raksasa antariksa milik Elon Musk, SpaceX, secara tidak langsung telah menyedot likuiditas dari pasar aset digital.

Fenomena ini terjadi karena banyak investor besar yang memegang aset kripto memutuskan untuk melikuidasi sebagian portofolio mereka guna berpartisipasi dalam IPO SpaceX yang sangat dinantikan di bursa Nasdaq. Dengan harga saham perdana di kisaran US$ 150 per lembar, antusiasme pasar terhadap perusahaan eksplorasi luar angkasa ini terbukti mampu mengalihkan arus modal dari ETF Bitcoin spot ke pasar ekuitas.

Baca Juga

Morgan Stanley Gebrak Pasar Kripto: Luncurkan Dana Cadangan Khusus untuk Penerbit Stablecoin

Morgan Stanley Gebrak Pasar Kripto: Luncurkan Dana Cadangan Khusus untuk Penerbit Stablecoin

Tekanan jual ini sempat menyeret harga Bitcoin hingga ke level US$ 59.375. Jika dibandingkan dengan rekor tertinggi sepanjang masa yang sempat dicapai pada Oktober lalu di level US$ 126.000, Bitcoin telah terkoreksi sekitar 53 persen. Namun, Kendrick menilai bahwa penyedotan likuiditas ini hanya bersifat temporer. Setelah euforia IPO mereda, modal diperkirakan akan kembali mengalir ke aset kripto yang saat ini harganya dianggap sudah cukup terdiskon.

Arus Keluar Dana ETF: Menguji Mentalitas Investor Institusi

Selain faktor internal dari industri teknologi luar angkasa, tekanan pada harga Bitcoin juga dipicu oleh derasnya arus keluar dana (outflow) dari produk ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat. Data menunjukkan bahwa sejak awal Mei, instrumen investasi ini mencatat penarikan dana lebih dari US$ 5,72 miliar.

Baca Juga

Update Pasar Kripto 13 Mei 2026: Bitcoin Bertahan di Level $80 Ribu, Mayoritas Altcoin Terkoreksi Tajam

Update Pasar Kripto 13 Mei 2026: Bitcoin Bertahan di Level $80 Ribu, Mayoritas Altcoin Terkoreksi Tajam

Angka yang fantastis ini menunjukkan bahwa investor institusi mulai bersikap defensif di tengah ketidakpastian makroekonomi. Penurunan minat pada ETF Bitcoin spot secara langsung memengaruhi daya beli di pasar spot, yang kemudian menciptakan efek bola salju pada penurunan harga. Kondisi ini menantang tesis yang menyatakan bahwa kehadiran ETF akan membawa stabilitas lebih besar bagi Bitcoin.

Faktor Geopolitik dan Harga Minyak Dunia

Tidak hanya faktor dari dalam industri finansial, arah pergerakan aset kripto juga sangat dipengaruhi oleh peta politik global. Geoffrey Kendrick menunjuk ketegangan internasional sebagai variabel penting yang tidak boleh diabaikan. Salah satu poin kuncinya adalah potensi rekonsiliasi atau kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran.

Jika kesepakatan diplomatik berhasil dicapai, hal ini diprediksi akan menekan harga minyak mentah dunia. Saat ini, minyak jenis Brent berada di level US$ 87 per barel dan WTI di angka US$ 85 per barel. Penurunan harga minyak akan membantu meredakan inflasi global, yang pada gilirannya akan menurunkan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS.

Dalam skenario di mana yield obligasi turun, aset berisiko seperti aset digital dan saham teknologi biasanya akan menjadi lebih menarik bagi investor. Oleh karena itu, stabilitas politik di Timur Tengah secara tidak langsung dapat menjadi katalis positif bagi kebangkitan Bitcoin dari level dukungan US$ 59.000.

Prospek Ethereum: Siap Melampaui Performa Bitcoin?

Meskipun fokus utama pasar sering kali tertuju pada Bitcoin, Kendrick juga memberikan catatan khusus bagi Ethereum. Ia menilai bahwa dalam jangka pendek, Ethereum memiliki potensi untuk mencatat persentase kenaikan yang lebih tinggi dibandingkan Bitcoin. Hal ini didorong oleh perkembangan ekosistem DeFi dan NFT yang terus berinovasi, serta mekanisme pembakaran biaya (burn mechanism) yang membuat pasokan ETH menjadi lebih langka.

Dengan target harga US$ 4.000, Ethereum dipandang sebagai pilihan diversifikasi yang cerdas bagi investor yang ingin memaksimalkan keuntungan saat pasar kembali memasuki fase bullish. Stabilisasi harga Bitcoin di area support kuat akan menjadi sinyal bagi altcoin untuk mulai bergerak naik secara agresif.

Kesimpulan: Memanfaatkan Momentum di Area Support

Secara keseluruhan, meskipun pasar kripto saat ini tampak penuh dengan tantangan, pandangan dari Standard Chartered memberikan perspektif yang lebih tenang. Area US$ 59.000 bukan sekadar angka, melainkan batas psikologis yang akan menguji ketahanan pasar. Bagi investor jangka panjang, periode volatilitas ini mungkin merupakan kesempatan untuk melakukan akumulasi di harga bawah sebelum tren kenaikan berikutnya dimulai.

Penting bagi para pelaku pasar untuk tetap memantau rilis data ekonomi AS, perkembangan IPO perusahaan teknologi besar, dan tentu saja pergerakan arus modal pada ETF Bitcoin. Dengan strategi yang tepat dan manajemen risiko yang disiplin, tantangan di tahun 2026 ini bisa menjadi batu loncatan menuju keuntungan besar di masa depan. Selalu pastikan untuk melakukan riset mendalam sebelum mengambil keputusan trading kripto Anda.

Andi Saputra

Andi Saputra

Analis crypto dan blockchain enthusiast sejak 2017.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *