Tragedi Gunung Laki 1783: Kiamat Kecil yang Menghapus Seperempat Populasi Islandia dan Mengubah Iklim Dunia

Siti Rahma | InfoNanti
08 Jun 2026, 06:54 WIB
Tragedi Gunung Laki 1783: Kiamat Kecil yang Menghapus Seperempat Populasi Islandia dan Mengubah Iklim Dunia

InfoNanti — Di balik lanskap Islandia yang tenang dan memesona saat ini, tersimpan sebuah memori kelam yang pernah membawa negara tersebut ke ambang kepunahan. Tepat pada 8 Juni 1783, sebuah rekahan tanah di dataran tinggi Islandia mulai memuntahkan api dan gas beracun. Peristiwa ini bukan sekadar letusan gunung berapi biasa, melainkan sebuah malapetaka geologis yang dampaknya melintasi benua, merusak tatanan sosial di Eropa, bahkan disebut-sebut sebagai salah satu pemicu tidak langsung dari revolusi besar di dunia.

Bukan Sekadar Gunung: Mengenal Rekahan Maut Lakagígar

Banyak orang membayangkan gunung berapi sebagai puncak berbentuk kerucut yang meledak di bagian atasnya. Namun, Laki—atau yang secara teknis dikenal sebagai Lakagígar—menghadirkan kengerian yang berbeda. Laki bukanlah sebuah gunung tunggal, melainkan sebuah sistem rekahan vulkanik atau celah (fissure) yang membentang sepanjang 27 kilometer di dataran tinggi Islandia.

Baca Juga

Kecerobohan Berujung Pidana: Tas Berisi Ganja dan Uang Tunai Gegerkan Toko Amal di Selandia Baru

Kecerobohan Berujung Pidana: Tas Berisi Ganja dan Uang Tunai Gegerkan Toko Amal di Selandia Baru

Retakan raksasa ini terdiri dari sekitar 130 kawah yang berderet, yang ketika terbangun, seolah-olah membuka pintu gerbang neraka langsung dari dalam perut bumi. Letusan ini terjadi akibat pergerakan tektonik yang luar biasa, di mana magma basal yang sangat panas bertemu dengan air tanah, memicu serangkaian ledakan freatomagmatik yang dahsyat sebelum akhirnya berubah menjadi aliran lava cair yang tak terbendung.

Kronologi Delapan Bulan Penuh Api

Bencana ini tidak terjadi dalam sekejap. Letusan Laki berlangsung selama kurang lebih delapan bulan, mulai dari Juni 1783 hingga Februari 1784. Selama periode yang mencekam ini, diperkirakan sekitar 42 miliar ton lava basal menyembur keluar, menutupi wilayah seluas 565 kilometer persegi. Bayangkan sebuah lautan api cair yang menelan lembah, sungai, dan pemukiman tanpa ampun.

Baca Juga

Kengerian Gempa Kembar Venezuela: Kesaksian Jurnalis di Tengah Reruntuhan Caracas yang Mencekam

Kengerian Gempa Kembar Venezuela: Kesaksian Jurnalis di Tengah Reruntuhan Caracas yang Mencekam

Namun, para ahli geologi di era modern menyepakati bahwa ancaman paling mematikan bukanlah aliran lavanya, melainkan apa yang terbang ke langit. Letusan tersebut melepaskan sekitar 120 juta ton sulfur dioksida dan 8 juta ton hidrogen fluorida ke atmosfer. Gas-gas inilah yang kemudian menjadi pembunuh senyap bagi makhluk hidup di Islandia dan sekitarnya. Penjelasan mengenai fenomena alam ini menjadi studi penting dalam sejarah vulkanologi dunia.

Móðuharðindin: Musim Kabut yang Menghancurkan Islandia

Bagi rakyat Islandia, masa ini dikenal sebagai Móðuharðindin atau “Kesulitan Kabut”. Gas hidrogen fluorida yang jatuh kembali ke bumi melalui hujan asam mencemari rumput-rumput yang menjadi pakan ternak. Akibatnya sangat fatal: sekitar 80 persen domba, 50 persen sapi, dan 50 persen kuda di seluruh pulau mati secara mengenaskan akibat penyakit tulang yang disebabkan oleh keracunan fluor (fluorosis).

Baca Juga

Bayang-Bayang Perpisahan: Eropa Mulai Susun Strategi Pertahanan Tanpa Campur Tangan Amerika Serikat

Bayang-Bayang Perpisahan: Eropa Mulai Susun Strategi Pertahanan Tanpa Campur Tangan Amerika Serikat

Kehilangan hewan ternak berarti hilangnya sumber pangan utama. Kelaparan massal pun melanda. Tercatat sekitar 9.000 jiwa, atau hampir seperempat dari total populasi Islandia saat itu, tewas bukan karena terkena lava, melainkan karena kelaparan dan komplikasi penyakit akibat gas beracun. Ini adalah salah satu bencana vulkanik paling mematikan dalam sejarah kemanusiaan berdasarkan persentase populasi yang hilang.

Kesaksian Sang ‘Pendeta Api’ Jón Steingrímsson

Salah satu sumber sejarah paling otentik mengenai kengerian Laki berasal dari catatan Jón Steingrímsson, seorang pendeta yang kemudian dijuluki sebagai “Pendeta Api”. Ia menuliskan dengan detail bagaimana abu vulkanik jatuh seperti salju hitam yang menyesakkan napas, dan bagaimana bau belerang yang menyengat menelan seluruh wilayah tempat tinggalnya selama berbulan-bulan.

Baca Juga

Menguak Tabir Peradaban: Inilah 10 Penemuan Arkeologis Paling Fenomenal di China Tahun 2025

Menguak Tabir Peradaban: Inilah 10 Penemuan Arkeologis Paling Fenomenal di China Tahun 2025

Salah satu momen yang paling legendaris adalah ketika Steingrímsson memimpin doa di gereja saat aliran lava mulai mendekati kota Kirkjubæjarklaustur. Menurut cerita rakyat, lava tersebut berhenti tepat sebelum mencapai gereja, sebuah peristiwa yang dianggap mukjizat oleh warga setempat. Namun di balik aspek religiusnya, catatan harian Steingrímsson memberikan data berharga bagi para ilmuwan untuk memahami dampak sosial dan psikologis dari sejarah Islandia yang penuh penderitaan ini.

Kabut Kematian yang Menyelimuti Eropa

Dampak Laki tidak berhenti di perairan Islandia. Awan sulfur dioksida yang masif terbawa angin ke arah timur dan menyelimuti sebagian besar wilayah Eropa dengan kabut tebal berwarna kemerahan yang berbau belerang. Di Inggris, seorang naturalis terkemuka bernama Gilbert White mencatat kemunculan “kabut aneh” yang membuat matahari tampak seperti bulan yang pucat dan suhu udara merosot drastis.

Gas sulfur dioksida yang bereaksi dengan uap air di atmosfer menciptakan aerosol asam sulfat yang memantulkan sinar matahari kembali ke luar angkasa. Akibatnya, suhu global turun secara signifikan. Musim panas tahun 1783 di Eropa menjadi sangat dingin, gagal panen terjadi di mana-mana, dan ribuan orang di Inggris serta Prancis meninggal akibat gangguan pernapasan kronis yang dipicu oleh udara beracun tersebut.

Laki dan Benih Revolusi Prancis

Banyak sejarawan kini mengeksplorasi keterkaitan antara letusan Laki dengan gejolak politik di Eropa, khususnya sejarah dunia terkait Revolusi Prancis tahun 1789. Kegagalan panen bertubi-tubi yang disebabkan oleh perubahan iklim ekstrem pasca-letusan Laki memicu krisis pangan yang hebat di Prancis. Harga gandum melonjak, rakyat menderita kelaparan, dan ketidakpuasan terhadap monarki pun memuncak.

Meskipun bukan satu-satunya penyebab, faktor lingkungan yang tidak stabil akibat letusan gunung berapi di Islandia ini dianggap sebagai katalisator yang mempercepat ketegangan sosial di Prancis. Ini membuktikan bahwa peristiwa geologis di satu sudut bumi yang terpencil dapat memicu efek domino yang mengubah jalannya sejarah peradaban manusia di benua lain.

Pelajaran bagi Masa Depan: Ancaman yang Belum Berakhir

Sejarah letusan Laki 1783 mengingatkan kita betapa rentannya peradaban manusia terhadap kekuatan alam. Islandia tetap menjadi salah satu wilayah paling aktif secara vulkanik di planet ini. Letusan Gunung Eyjafjallajökull pada tahun 2010 yang sempat melumpuhkan penerbangan global hanyalah sebagian kecil dibandingkan dengan potensi bahaya yang dimiliki oleh sistem rekahan seperti Laki.

Saat ini, para ilmuwan terus memantau aktivitas vulkanik di Islandia dengan teknologi mutakhir. Namun, tantangan terbesarnya bukan hanya pada prediksi letusan, melainkan pada kesiapan global dalam menghadapi perubahan iklim mendadak yang bisa disebabkan oleh aktivitas vulkanik skala besar. Tragedi Laki adalah pengingat abadi bahwa di bawah kaki kita, bumi masih menyimpan kekuatan yang sanggup mengubah wajah dunia dalam sekejap mata.

Peristiwa 8 Juni 1783 akan selalu dikenang sebagai hari di mana bumi merekah dan mengeluarkan napas kematiannya. Bagi masyarakat Islandia, ketangguhan mereka bangkit dari bencana ini adalah bukti kekuatan semangat manusia yang luar biasa, bahkan ketika berhadapan dengan murka alam yang paling dahsyat sekalipun.

Siti Rahma

Siti Rahma

Jurnalis berita global dengan ketertarikan pada geopolitik dan ekonomi dunia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *