Jejak Sejarah Able dan Baker: Kisah Dua Primata Pelopor yang Menaklukkan Dinginnya Antariksa

Siti Rahma | InfoNanti
28 Mei 2026, 06:54 WIB
Jejak Sejarah Able dan Baker: Kisah Dua Primata Pelopor yang Menaklukkan Dinginnya Antariksa

InfoNanti — Jauh sebelum manusia pertama menginjakkan kaki di bulan atau stasiun luar angkasa menjadi hunian tetap bagi para astronot, langit malam adalah sebuah misteri besar yang penuh dengan ketidakpastian. Pada era 1950-an, pertanyaan terbesar para ilmuwan bukanlah tentang seberapa jauh kita bisa pergi, melainkan apakah makhluk hidup bisa bertahan dari tekanan gravitasi yang ekstrem dan radiasi kosmik yang mematikan. Jawaban atas pertanyaan besar tersebut akhirnya ditemukan melalui keberanian dua subjek yang tidak biasa: Able dan Baker.

Tepat pada tanggal 28 Mei 1959, sejarah mencatat sebuah tonggak penting dalam peradaban manusia. Dua monyet betina, Able yang merupakan monyet Rhesus dan Baker si monyet tupai kecil, berhasil melakukan perjalanan ke luar angkasa dan kembali ke Bumi dengan selamat. Keberhasilan ini bukan sekadar pencapaian teknis, melainkan sebuah lompatan besar bagi program luar angkasa Amerika Serikat yang saat itu tengah beradu gengsi dengan Uni Soviet.

Baca Juga

Tragedi Perahu Tenggelam di Pulau Pangkor: 23 WNI Selamat, 14 Penumpang Masih Dalam Pencarian Intensif

Tragedi Perahu Tenggelam di Pulau Pangkor: 23 WNI Selamat, 14 Penumpang Masih Dalam Pencarian Intensif

Misi Bioflight #2: Perjalanan 15 Menit yang Mengubah Dunia

Misi yang membawa Able dan Baker dikenal dengan nama Bioflight #2. Di bawah naungan militer Amerika Serikat dan NASA yang baru terbentuk, kedua primata ini ditempatkan di hidung rudal balistik antarbenua Jupiter. Rudal ini bukanlah kendaraan wisata yang nyaman; ia adalah mesin perang yang dimodifikasi untuk tujuan eksplorasi ilmiah. Able dan Baker ditempatkan dalam kapsul khusus yang dilengkapi dengan berbagai sensor biologis untuk memantau detak jantung, pernapasan, dan suhu tubuh mereka selama perjalanan.

Pada pukul 02.39 waktu setempat, rudal tersebut meluncur dari Cape Canaveral dengan gemuruh yang menggetarkan landasan. Hanya dalam waktu singkat, Able dan Baker melesat hingga mencapai ketinggian sekitar 480 kilometer di atas permukaan laut. Kecepatan mereka mencapai ribuan kilometer per jam, menembus atmosfer dan masuk ke wilayah suborbital. Selama kurang lebih sembilan menit dari total 15 menit perjalanan, kedua primata ini merasakan apa yang disebut sebagai kondisi mikrogravitasi atau tanpa bobot—sebuah kondisi yang saat itu masih sangat asing bagi pemahaman sains modern.

Baca Juga

Misteri ‘Manusia Selokan’ New York: Mengapa Sekelompok Orang Muncul dari Lubang Got Tengah Malam?

Misteri ‘Manusia Selokan’ New York: Mengapa Sekelompok Orang Muncul dari Lubang Got Tengah Malam?

Kesiapan Teknis dan Tantangan Tak Terduga

Mempersiapkan makhluk hidup untuk perjalanan semacam ini membutuhkan ketelitian yang luar biasa. Able, dengan berat sekitar 3 kilogram, mengenakan pakaian luar angkasa yang dirancang khusus, sementara Baker yang jauh lebih kecil hanya memiliki berat sekitar 300 gram. Mereka dibungkus dalam wadah yang terbuat dari serat kaca dan logam, yang diletakkan di dalam hidung rudal Jupiter yang telah dilapisi material tahan panas (heat shield).

Selama fase peluncuran, tubuh mungil mereka harus menahan gaya gravitasi (G-force) yang berkali-kali lipat dari berat badan normal mereka. Keberhasilan mereka bertahan hidup dalam fase krusial ini memberikan data empiris bagi para insinyur bahwa tubuh primata—dan secara ekstensi tubuh manusia—mampu menoleransi stres fisik dari peluncuran roket. Ini adalah data emas yang dicari-cari oleh para ahli di teknologi roket untuk merancang misi berawak di masa depan.

Baca Juga

Ketegangan di Washington: Ariana Grande Kecam Penggunaan Lagunya dalam Propaganda Imigrasi Gedung Putih

Ketegangan di Washington: Ariana Grande Kecam Penggunaan Lagunya dalam Propaganda Imigrasi Gedung Putih

Penyelamatan Dramatis di Perairan Karibia

Setelah mencapai titik tertinggi, kapsul yang membawa Able dan Baker mulai jatuh kembali ke atmosfer Bumi. Gesekan dengan udara menciptakan panas yang luar biasa, namun perisai panas rudal Jupiter bekerja dengan sempurna. Kapsul tersebut akhirnya mendarat dengan selamat di Samudra Atlantik, dekat dengan Kepulauan Karibia. Tim penyelamat dari Angkatan Laut Amerika Serikat, USS Kiowa, segera bergerak cepat untuk mengevakuasi kedua pahlawan kecil tersebut.

Saat tutup kapsul dibuka, dunia menahan napas. Kegembiraan luar biasa pecah ketika tim medis menyatakan bahwa Able dan Baker dalam kondisi sehat dan stabil. Ini adalah pertama kalinya primata berhasil kembali dari luar angkasa dalam keadaan hidup, mematahkan kegagalan-kegagalan tragis dari misi-misi sebelumnya, seperti serial monyet Albert yang selalu berakhir dengan kematian subjeknya. Keberhasilan ini segera menjadi berita utama di seluruh penjuru dunia.

Baca Juga

Optimisme atau Gertakan? Donald Trump Klaim Kemenangan Total Atas Iran dalam Hitungan Hari

Optimisme atau Gertakan? Donald Trump Klaim Kemenangan Total Atas Iran dalam Hitungan Hari

Tragedi Able dan Keabadian di Museum

Namun, euforia kemenangan ini tidak berlangsung lama bagi Able. Hanya empat hari setelah pendaratan bersejarahnya, Able harus menjalani prosedur medis rutin untuk melepaskan elektroda yang tertanam di bawah kulitnya. Sayangnya, Able mengalami reaksi buruk terhadap anestesi dan mati di meja operasi. Kematiannya menjadi duka nasional di Amerika Serikat. Publik yang sudah terlanjur jatuh cinta pada sosok monyet pemberani ini merasa kehilangan.

Untuk menghormati jasanya, tubuh Able kemudian diawetkan dan hingga hari ini dipamerkan di Smithsonian National Air and Space Museum di Washington, D.C. Kehadirannya di museum tersebut berfungsi sebagai pengingat abadi akan pengorbanan hewan dalam kemajuan ilmu pengetahuan manusia. Able tetap berdiri di sana, mengenakan setelan antariksa mungilnya, menginspirasi jutaan pengunjung tentang awal mula penjelajahan antariksa.

Baker: Sang Selebritas Luar Angkasa yang Berumur Panjang

Berbeda dengan nasib Able, Baker justru menikmati kehidupan yang panjang dan penuh warna setelah misinya. Monyet tupai ini menjadi selebritas instan dan menetap di U.S. Space & Rocket Center di Huntsville, Alabama. Baker hidup hingga usia 27 tahun, sebuah umur yang sangat panjang untuk spesiesnya. Selama masa hidupnya, ia menerima ribuan surat dari penggemar dan anak-anak sekolah dari seluruh dunia.

Pihak pusat antariksa bahkan sering merayakan ulang tahun Baker dengan pesta besar, lengkap dengan kue yang terbuat dari pisang dan stroberi kesukaannya. Menariknya, Baker juga sempat “dinikahkan” dengan monyet tupai lain bernama Big George, dan kemudian dengan Norman, sebagai bagian dari atraksi publik yang menghibur sekaligus edukatif. Ketika ia akhirnya mati karena gagal ginjal pada tahun 1984, lebih dari 300 orang menghadiri pemakamannya. Makamnya di Alabama sering kali dikunjungi orang yang meletakkan pisang di atas batu nisannya sebagai tanda penghormatan.

Signifikansi Politik dan Budaya di Era Perang Dingin

Keberhasilan misi Able dan Baker tidak bisa dilepaskan dari konteks persaingan ideologi antara Blok Barat dan Blok Timur. Jordan Bimm, seorang peneliti dari Universitas Princeton, menjelaskan bahwa pada masa itu, hewan-hewan ini bukan hanya subjek penelitian biologis, tetapi juga simbol kekuatan teknologi. Amerika Serikat membutuhkan bukti nyata bahwa mereka mampu mengimbangi pencapaian Uni Soviet yang sebelumnya telah mengirim anjing Laika ke orbit (meskipun Laika tidak selamat).

Able dan Baker dipersonifikasi oleh pemerintah AS sebagai pahlawan nasional. Mereka muncul di sampul majalah Life dan menjadi wajah dari supremasi propaganda politik Amerika dalam perlombaan antariksa. Keberhasilan mereka memberikan kepercayaan diri bagi publik Amerika bahwa negara mereka siap untuk mengirim manusia ke luar angkasa, yang kemudian terwujud dalam Proyek Mercury melalui astronot Alan Shepard.

Warisan yang Tak Terlupakan

Kisah Able dan Baker adalah pengingat tentang betapa besarnya harga yang harus dibayar demi sebuah kemajuan. Meskipun etika penggunaan hewan dalam eksperimen luar angkasa kini terus diperdebatkan di era modern, tidak dapat dipungkiri bahwa tanpa data dari Able dan Baker, perjalanan manusia ke bulan mungkin tidak akan pernah terjadi secepat itu. Mereka adalah pionir yang membuka pintu gerbang menuju bintang-bintang.

Hingga saat ini, nama Able dan Baker tetap harum dalam literatur sejarah kedirgantaraan. Mereka bukan sekadar hewan percobaan; mereka adalah lambang keingintahuan manusia yang tak terbatas dan keberanian untuk menembus batas-batas yang mustahil. Bagi kita yang hidup di era di mana wisata luar angkasa mulai menjadi kenyataan, sudah sepatutnya kita menundukkan kepala sejenak untuk mengenang dua primata kecil yang pernah menatap Bumi dari kegelapan abadi antariksa demi masa depan umat manusia.

Siti Rahma

Siti Rahma

Jurnalis berita global dengan ketertarikan pada geopolitik dan ekonomi dunia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *