Ketegangan di Washington: Ariana Grande Kecam Penggunaan Lagunya dalam Propaganda Imigrasi Gedung Putih

Siti Rahma | InfoNanti
12 Jun 2026, 18:54 WIB
Ketegangan di Washington: Ariana Grande Kecam Penggunaan Lagunya dalam Propaganda Imigrasi Gedung Putih

InfoNanti — Dunia hiburan global dan panggung politik Washington kembali bergejolak setelah bintang pop fenomenal, Ariana Grande, secara terbuka menyatakan keberatannya terhadap cara Gedung Putih memanfaatkan karyanya. Perselisihan ini mencuat ketika salah satu lagu hits terbaru sang diva digunakan sebagai latar belakang audio untuk konten promosi kebijakan imigrasi yang kontroversial di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.

Insiden ini bermula dari unggahan di platform media sosial TikTok pada Senin, 8 Juni. Dalam video tersebut, akun resmi Gedung Putih menampilkan cuplikan dramatis para petugas perbatasan yang tengah memborgol sejumlah individu di area perbatasan Amerika Serikat. Yang mengejutkan publik, video tersebut menggunakan lagu hit Ariana Grande yang dirilis tahun 2024 berjudul “Bye”. Penggunaan lagu ini terasa sangat ironis karena narasi yang dibangun oleh pihak Gedung Putih melalui keterangan unggahannya berbunyi: “Bye-bye… Presiden Trump telah menghadirkan perbatasan paling aman dalam sejarah.”

Baca Juga

Ketegangan Diplomatik: Indonesia dan 17 Negara Kutuk Pembukaan Kantor Perwakilan Somaliland di Yerusalem

Ketegangan Diplomatik: Indonesia dan 17 Negara Kutuk Pembukaan Kantor Perwakilan Somaliland di Yerusalem

Protes Keras Sang Diva: “Biadab dan Tidak Manusiawi”

Tak butuh waktu lama bagi pelantun lagu “7 Rings” tersebut untuk menyadari bahwa identitas seninya telah diseret ke dalam pusaran narasi politik yang tidak ia setujui. Melalui kolom komentar yang kini telah menjadi pusat perhatian netizen dunia, Ariana Grande melayangkan teguran keras. Ia mengecam penggunaan musiknya untuk mempromosikan tindakan yang ia anggap melanggar nilai-nilai kemanusiaan.

“Tolong jangan gunakan musik saya untuk hal yang biadab, tidak manusiawi, dan keji seperti ini,” tulis Ariana dengan nada yang tegas. Komentar tersebut segera menjadi viral, memicu debat panas di antara para pendukung sang artis dan simpatisan kebijakan pemerintah. Bagi Ariana, yang baru-baru ini semakin memantapkan posisinya di dunia peran melalui film musikal Wicked, musik adalah bentuk ekspresi kebebasan dan empati, bukan alat untuk membenarkan tindakan kekerasan atau penahanan di perbatasan.

Baca Juga

Solidaritas di Madrid: Menhan Spanyol Beri Penghormatan Terakhir untuk Prajurit Indonesia yang Gugur di Lebanon

Solidaritas di Madrid: Menhan Spanyol Beri Penghormatan Terakhir untuk Prajurit Indonesia yang Gugur di Lebanon

Pembelaan dari Balik Tembok Gedung Putih

Merespons gelombang kritik yang dipicu oleh komentar Ariana, juru bicara Gedung Putih, Abigail Jackson, memberikan pernyataan resmi sebagaimana dilaporkan oleh BBC. Jackson tidak menunjukkan tanda-tanda penyesalan, melainkan justru melancarkan serangan balik terhadap perspektif sang penyanyi. Menurutnya, terminologi “keji” dan “biadab” yang digunakan Ariana justru lebih tepat disematkan pada aktivitas kriminal di perbatasan.

“Yang sesungguhnya biadab, tidak manusiawi, dan keji adalah tindakan para imigran ilegal yang melakukan tindak kejahatan berat. Mereka telah melukai dan membunuh warga Amerika Serikat yang tidak bersalah,” tegas Jackson dalam keterangannya. Pembelaan ini mempertegas garis keras yang diambil oleh pemerintahan Donald Trump dalam menangani isu kedaulatan wilayah dan keamanan nasional.

Baca Juga

Antara Reruntuhan dan Harapan: Kisah Pilu Pengungsi Suriah yang Pulang ke Rumah yang Hancur

Antara Reruntuhan dan Harapan: Kisah Pilu Pengungsi Suriah yang Pulang ke Rumah yang Hancur

Konteks Kebijakan Imigrasi dan Anggaran Fantastis

Ketegangan antara industri kreatif dan pemerintah ini tidak terjadi di ruang hampa. Video tersebut merupakan bagian dari upaya sistematis pemerintah untuk memamerkan penguatan kebijakan imigrasi. Belum lama ini, Presiden Trump telah menandatangani undang-undang yang mengalokasikan dana fantastis, yakni lebih dari US$ 70 miliar (sekitar Rp 1.100 triliun), khusus untuk lembaga-lembaga imigrasi.

Anggaran besar ini direncanakan akan mengalir selama sisa masa jabatannya yang masih menyisakan waktu sekitar dua setengah tahun lagi. Dengan dana tersebut, operasional di perbatasan dipastikan akan semakin intensif. Dalam video yang memicu amarah Ariana tersebut, terlihat jelas proses petugas menggiring orang-orang ke dalam kendaraan penahanan, sebuah pemandangan yang oleh sebagian orang dianggap sebagai penegakan hukum yang tegas, namun oleh pihak lain dipandang sebagai krisis kemanusiaan yang mendalam.

Baca Juga

Tragedi di Langit California: Pesawat Pembom Strategis B-52 Stratofortress Jatuh, 8 Nyawa Melayang

Tragedi di Langit California: Pesawat Pembom Strategis B-52 Stratofortress Jatuh, 8 Nyawa Melayang

Upaya Membungkam Suara: Meredupnya Audio dan Komentar

Setelah protes Ariana Grande meledak di media sosial, ada langkah mendadak yang diambil oleh administrator akun TikTok Gedung Putih. Audio dalam video tersebut tiba-tiba dibisukan (muted), dan komentar pedas dari Ariana Grande pun menghilang secara misterius dari kolom interaksi. Langkah ini memicu kecurigaan di kalangan pengguna media sosial bahwa pihak pemerintah mencoba melakukan penyensoran terhadap kritik dari figur publik.

Banyak pengguna TikTok mulai mempertanyakan transparansi komunikasi publik pemerintah. Penghapusan komentar tersebut justru menjadi bumerang, karena tangkapan layar (screenshot) protes Ariana telah tersebar luas, menciptakan efek Streisand di mana upaya menyembunyikan informasi justru membuatnya semakin menarik perhatian khalayak luas. Para kritikus berpendapat bahwa membisukan lagu tersebut adalah pengakuan secara tidak langsung bahwa penggunaan musik tersebut memang tidak berizin atau setidaknya tidak etis secara moral.

Fenomena Artis Melawan Politikus: Bukan Kali Pertama

Apa yang dialami oleh Ariana Grande sebenarnya menambah daftar panjang perseteruan antara musisi papan atas dengan tim kampanye atau administrasi politik di Amerika Serikat. Kebijakan imigrasi yang keras seringkali menjadi titik picu bagi para seniman untuk menarik dukungan mereka dari figur politik tertentu. Sebelum Ariana, penyanyi muda berbakat Sabrina Carpenter juga mengalami hal serupa.

Tahun lalu, lagu “Juno” milik Sabrina digunakan dalam video klip yang mempromosikan operasi penahanan oleh badan Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE). Sabrina bereaksi dengan kemarahan yang serupa, menyatakan bahwa ia tidak ingin musiknya diasosiasikan dengan agenda yang ia anggap tidak manusiawi. Hal ini menunjukkan tren di mana musisi modern semakin sadar akan kekuatan politik dari karya mereka dan berupaya melindungi integritas pesan yang ingin mereka sampaikan melalui nada dan lirik.

Daftar Panjang Musisi yang Menolak Trump

Sejarah menunjukkan bahwa tim sukses Donald Trump memiliki sejarah panjang dalam menggunakan lagu-lagu populer tanpa izin eksplisit dari sang pencipta. Selama masa kampanye pemilihan presiden 2024, sederet nama besar dari berbagai genre telah menyuarakan penolakan keras. Berikut adalah beberapa di antaranya:

  • ABBA: Grup legendaris asal Swedia ini meminta tim Trump segera menghentikan penggunaan lagu-lagu hits mereka dalam rapat umum kampanye.
  • Celine Dion: Diva internasional ini juga mengecam penggunaan lagu tema film Titanic, “My Heart Will Go On,” dalam acara politik Trump, dengan sindiran halus apakah lagu tentang kapal tenggelam adalah pilihan yang tepat untuk kampanye politik.
  • Beyonce: Sang Queen Bey secara tegas melarang tim kampanye Trump menggunakan lagu-lagunya, menunjukkan bahwa ia memiliki batasan yang jelas mengenai siapa yang boleh meminjam suaranya untuk kepentingan kekuasaan.

Implikasi Hukum dan Etika di Industri Musik

Perselisihan ini menyoroti area abu-abu dalam hukum hak cipta dan lisensi penggunaan musik di ruang publik. Meskipun tim kampanye seringkali memiliki lisensi umum dari organisasi hak pertunjukan seperti ASCAP atau BMI, musisi memiliki hak moral untuk keberatan jika lagu mereka digunakan dalam konteks yang merusak reputasi mereka atau bertentangan dengan keyakinan pribadi mereka. Industri musik saat ini semakin vokal dalam menuntut hak-hak tersebut agar karya seni tidak dijadikan instrumen propaganda murahan.

Secara etika, penggunaan lagu pop yang ceria seperti “Bye” untuk menggambarkan adegan pemborgolan manusia di perbatasan dianggap sebagai tindakan yang tuna empati. Musik, yang seharusnya menjadi bahasa universal untuk menyatukan, justru digunakan sebagai sekat untuk memecah belah dan merendahkan martabat manusia dalam konteks narasi politik yang ekstrem.

Kesimpulan: Suara yang Tak Bisa Dibungkam

Konflik antara Ariana Grande dan Gedung Putih bukan sekadar drama selebriti di media sosial. Ini adalah representasi dari benturan nilai antara kekuasaan birokrasi dan kebebasan berekspresi. Dengan bersuara, Ariana tidak hanya melindungi lagunya, tetapi juga berdiri sebagai representasi bagi jutaan penggemarnya yang menghargai kemanusiaan di atas segalanya.

Meskipun pemerintah memiliki otoritas hukum dan anggaran miliran dolar, mereka tampaknya kesulitan mengendalikan narasi ketika berhadapan dengan kekuatan pengaruh budaya yang dimiliki oleh seorang ikon pop. Kasus ini menjadi pengingat bagi para politikus bahwa seni bukanlah komoditas tak bertuan yang bisa diambil sesuka hati untuk memoles citra kebijakan yang kontroversial. Pada akhirnya, integritas seorang artis terletak pada keberaniannya untuk berkata “tidak” saat karyanya disalahgunakan.

Siti Rahma

Siti Rahma

Jurnalis berita global dengan ketertarikan pada geopolitik dan ekonomi dunia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *