Analisis Tajam: Bitcoin Bertahan di Level Rp 1,24 Miliar, Akankah Reli Geopolitik Berlanjut?
InfoNanti — Panggung aset kripto kembali menunjukkan taringnya pada pertengahan April 2026 ini. Dominasi warna hijau di papan perdagangan menandakan optimisme pasar yang mulai pulih, di mana Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) secara kompak mencatatkan rapor positif pada perdagangan Sabtu (11/4/2026).
Menilik data terbaru dari CoinMarketCap, raja aset kripto dunia, Bitcoin, berhasil menguat 1,08% dalam kurun waktu 24 jam terakhir. Jika ditarik lebih jauh ke belakang, performa mingguan Bitcoin jauh lebih mengesankan dengan lonjakan mencapai 8,96%. Saat ini, BTC bertengger kokoh di angka USD 72.833, atau setara dengan Rp 1,24 miliar dengan asumsi kurs rupiah berada di level Rp 17.090 per dolar AS.
Langkah gemilang ini juga diikuti oleh Ethereum yang melesat 1,9% dalam sehari dan meroket hingga 9,07% dalam sepekan terakhir. Aset kripto terbesar kedua ini sekarang diperdagangkan di posisi USD 2.236,72 atau sekitar Rp 38,21 juta.
Korea Selatan Perketat Celah Kripto Lintas Batas: Era Baru Regulasi di Bawah UU Valuta Asing
Antara Optimisme dan Bayang-Bayang Geopolitik
Meskipun tren saat ini terlihat sangat menjanjikan, Fyqieh Fachrur, seorang analis dari Tokocrypto, memberikan catatan penting terkait prospek jangka pendek Bitcoin. Menurutnya, selama Bitcoin mampu menjaga posisinya di atas level psikologis USD 71.500, maka peluang untuk menguji titik resistensi di kisaran USD 72.545 hingga USD 73.500 tetap terbuka lebar.
Namun, pasar diingatkan untuk tetap menginjak bumi. Risiko koreksi mendadak masih mengintai, terutama jika stabilitas politik internasional kembali goyah. Salah satu faktor krusial yang saat ini menjadi penopang pasar adalah gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran. Jika kesepakatan damai ini retak, Bitcoin berisiko tergelincir kembali ke area dukungan di sekitar USD 68.700.
Update Pasar Kripto 7 Mei 2026: Bitcoin Bertahan di Level Krusial, Zcash Melejit di Tengah Tekanan Pasar Global
“Sentimen pasar saat ini memang sangat bullish, tetapi pondasinya sangat bergantung pada faktor eksternal. Dinamika geopolitik dan kebijakan ekonomi global menjadi kemudi utama. Investor harus ekstra waspada terhadap perubahan sentimen yang bisa berbalik secepat kilat,” ungkap Fyqieh dalam laporan resminya.
Korelasi Kuat dengan Pasar Modal Global
Reli yang terjadi pada investasi kripto kali ini bukan tanpa alasan. Kabar mengenai gencatan senjata AS-Iran yang direncanakan berlangsung selama dua minggu telah menjadi katalis positif bagi aset-aset berisiko. Menariknya, pergerakan Bitcoin menunjukkan korelasi yang sangat tinggi, yakni sebesar 0,88, dengan indeks S&P 500 yang naik 1,9%.
Hal ini menegaskan bahwa Bitcoin kini bukan lagi aset yang berdiri sendiri, melainkan telah terintegrasi erat dengan ekosistem keuangan makro global. Lonjakan harga ini lebih mencerminkan rasa lega investor terhadap meredanya konflik fisik antarnegara, ketimbang sekadar faktor fundamental internal industri kripto itu sendiri.
Sinergi Raksasa: Nvidia dan IREN Bangun Infrastruktur AI Masif 5 Gigawatt untuk Masa Depan Komputasi
Dorongan Teknikal dan Ledakan Pasar Derivatif
Selain faktor politik, ada mesin lain yang mempercepat kenaikan harga, yakni gelombang likuidasi di pasar derivatif. Tercatat ada posisi short (taruhan harga turun) senilai USD 427 juta yang terlikuidasi dalam 24 jam terakhir. Fenomena ini menciptakan efek bola salju berupa aksi beli paksa yang mendorong harga semakin melambung.
Secara teknikal, Bitcoin berhasil menembus level penting Fibonacci. Meski indikator RSI berada di level 67,49 yang menunjukkan tren penguatan yang kuat, posisi ini dinilai belum masuk dalam kategori jenuh beli (overbought), sehingga masih ada ruang bagi kenaikan lanjutan.
Menanti Arah Kebijakan The Fed
Satu lagi variabel yang tidak boleh luput dari pantauan para pelaku trading bitcoin adalah data inflasi Amerika Serikat. Meski inflasi PCE Februari tercatat stabil di angka 2,8%, perhatian kini beralih pada rilis data inflasi CPI Maret yang diprediksi akan merangkak naik ke level 3,3% akibat kenaikan harga energi pasca-konflik.
Rekor Baru! Transaksi Kripto Brasil Tembus Rp 119 Triliun, Dominasi Stablecoin Kian Tak Terbendung
Jika angka inflasi melampaui ekspektasi, maka narasi mengenai suku bunga tinggi dalam jangka waktu lama akan kembali menguat, yang berpotensi menekan harga aset kripto. Sebaliknya, jika data menunjukkan pendinginan, maka reli Bitcoin menuju rekor baru bisa jadi tinggal menunggu waktu saja.
Dinamika ini mengingatkan kita bahwa pasar kripto adalah pasar yang rapuh sekaligus penuh peluang. Memahami keterkaitan antara berita global dan pergerakan angka di layar perdagangan adalah kunci utama bagi setiap investor di era modern ini.