Polemik Pernyataan ‘Rakyat Desa Tak Pakai Dolar’, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Pasang Badan Bela Presiden Prabowo

Rizky Pratama | InfoNanti
18 Mei 2026, 16:54 WIB
Polemik Pernyataan 'Rakyat Desa Tak Pakai Dolar', Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Pasang Badan Bela Presiden Prabowo

InfoNanti — Di tengah riuh rendahnya perbincangan publik mengenai fluktuasi ekonomi nasional, sebuah pernyataan dari Presiden Prabowo Subianto mendadak menjadi pusat perhatian. Dalam sebuah kesempatan, Presiden menyebut bahwa fenomena melemahnya nilai tukar rupiah tidak serta-merta mencekik seluruh lapisan masyarakat, terutama mereka yang berada di pelosok negeri. “Rakyat desa tidak pakai dolar,” begitu petikan kalimat yang memicu diskursus hangat di ruang siber maupun meja diskusi ekonomi.

Merespons dinamika tersebut, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa akhirnya angkat bicara untuk memberikan klarifikasi mendalam. Ditemui di sela-sela kegiatannya di Kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP) pada Senin (18/5/2026), Purbaya menekankan pentingnya melihat sebuah pernyataan melalui kacamata konteks yang tepat sebelum menarik kesimpulan prematur.

Baca Juga

Lowongan Kerja GoTo: Peluang Karir Strategis bagi Profesional di Ekosistem Teknologi Terbesar Indonesia

Lowongan Kerja GoTo: Peluang Karir Strategis bagi Profesional di Ekosistem Teknologi Terbesar Indonesia

Membedah Konteks: Bukan Ekonomi Global, Tapi Ekonomi Rakyat

Menurut Purbaya, pernyataan Presiden Prabowo tidak sedang merujuk pada mekanisme pasar internasional yang rumit atau teori makroekonomi yang berat. Sebaliknya, kalimat tersebut terlontar saat Presiden sedang berdialog dalam ranah pengembangan koperasi desa dan penguatan ekonomi kerakyatan.

“Itu kan konteksnya di sana, di pedesaan. Mungkin sangat relevan jika dibicarakan dalam lingkup tersebut. Bukan dalam konteks transaksi internasional atau perdagangan global. Beliau sedang berbicara di hadapan pengurus koperasi desa,” ujar Purbaya dengan nada tenang untuk meredakan spekulasi yang berkembang.

Lebih lanjut, Menkeu menegaskan bahwa publik tidak perlu meragukan pemahaman Presiden terkait indikator ekonomi makro. Ia menjamin bahwa Presiden Prabowo sangat memahami urgensi stabilitas nilai tukar rupiah dan dampaknya terhadap neraca perdagangan nasional. Namun, dalam perspektif sosiologis pedesaan, ketergantungan langsung terhadap mata uang asing memang relatif lebih rendah dibandingkan sektor industri manufaktur di perkotaan.

Baca Juga

Rupiah Kian Terjepit: Kurs Dolar AS di Perbankan Nasional Meroket hingga Rp 17.670

Rupiah Kian Terjepit: Kurs Dolar AS di Perbankan Nasional Meroket hingga Rp 17.670

Rupiah Tembus Rp 17.600: Mengapa Pemerintah Tetap Tenang?

Isu ini memanas bertepatan dengan momen di mana rupiah sempat mengalami tekanan hebat hingga menyentuh level Rp 17.600 per dolar AS. Level ini tentu memicu kekhawatiran akan terjadinya inflasi barang impor (imported inflation) yang bisa menggerus daya beli masyarakat. Namun, Purbaya meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terjebak dalam kepanikan kolektif.

Pemerintah, menurutnya, telah melakukan kalkulasi yang sangat presisi terhadap berbagai skenario terburuk sekalipun. Seluruh asumsi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) telah melalui proses simulasi yang matang untuk mengantisipasi gejolak mata uang.

“Waktu kita hitung, sebenarnya fundamentalnya tidak seperti asumsi APBN yang lama. Kami sudah memiliki hitungan baru yang lebih adaptif. Jadi, jangan khawatir berlebihan. Pemerintah tidak akan membiarkan ekonomi kita oleng hanya karena pergerakan angka di papan kurs,” tegasnya lagi.

Baca Juga

Urat Nadi Energi Nusantara: Strategi Pertamina Kerahkan 345 Kapal Hadapi Tantangan Global

Urat Nadi Energi Nusantara: Strategi Pertamina Kerahkan 345 Kapal Hadapi Tantangan Global

Optimisme di Tengah Ketidakpastian Geopolitik Global

Narasi yang dibangun oleh Presiden Prabowo sebenarnya membawa pesan optimisme mengenai ketahanan nasional. Di saat banyak negara maju mulai goyah akibat konflik geopolitik di Timur Tengah yang melambungkan harga minyak dunia, Indonesia diklaim memiliki bantalan yang cukup kuat di sektor pangan dan energi.

Presiden Prabowo sebelumnya sempat menyatakan keyakinannya bahwa Indonesia tidak akan mengalami kolaps atau kekacauan ekonomi seperti yang diprediksi oleh beberapa analis pesimistis. Kuncinya terletak pada kemandirian sumber daya di desa-desa yang menjadi tulang punggung ketahanan pangan nasional.

“Pangan kita aman, energi kita stabil. Banyak negara di luar sana yang mulai panik mencari pasokan, tapi Indonesia masih dalam kondisi yang terkendali,” ungkap Presiden dalam pidatonya beberapa waktu lalu. Bahkan, Indonesia kini berada dalam posisi sebagai pemberi solusi bagi krisis pangan global.

Baca Juga

Waspada Jebakan FOMO: OJK Ingatkan Investor Muda di Tengah Meroketnya Tren Investasi Syariah

Waspada Jebakan FOMO: OJK Ingatkan Investor Muda di Tengah Meroketnya Tren Investasi Syariah

Indonesia Sebagai Penolong Dunia: Dari Pupuk Hingga Beras

Buktinya tidak main-main. Di tengah keterbatasan pasokan global, sejumlah negara justru mengantre untuk meminta bantuan dari Indonesia. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melaporkan bahwa permintaan ekspor produk pertanian dan pendukungnya terus meningkat.

  • Australia: Meminta pasokan urea hingga 500 ribu ton untuk mendukung sektor pertanian mereka.
  • Filipina & India: Mengajukan permintaan serupa untuk menjaga stabilitas pangan domestik mereka.
  • Bangladesh & Brasil: Turut serta dalam daftar negara yang membutuhkan sokongan dari Indonesia.

Kondisi ini, menurut Presiden, adalah buah dari upaya akselerasi swasembada pangan yang digenjot pemerintah sejak awal. Jika Indonesia tidak segera membenahi sektor pertaniannya, mungkin saat ini kita yang harus mengemis kepada negara lain di tengah melambungnya dolar.

Strategi Bank Indonesia: Volatilitas Lebih Penting Daripada Angka

Di sisi moneter, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo juga memberikan pandangan yang sejalan dengan optimisme pemerintah. Perry menjelaskan bahwa BI tidak sekadar mengejar angka atau level tertentu pada nilai tukar rupiah, melainkan menjaga ritme pergerakannya agar tetap stabil.

“Stabilitas nilai tukar itu bukan soal levelnya di angka berapa, tapi soal volatilitasnya. Kami mencatat volatilitas rupiah secara year-to-date berada di kisaran 5,4%. Secara teknis, ini masih dalam kategori stabil di tengah hantaman badai ekonomi global,” jelas Perry dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI.

BI menggunakan pendekatan rata-rata 20 hari untuk mengukur gejolak pasar. Dengan strategi ini, bank sentral berupaya memberikan kepastian bagi para pelaku usaha agar tetap bisa melakukan perencanaan bisnis tanpa rasa takut akan perubahan nilai mata uang yang drastis dalam waktu semalam.

Menatap Masa Depan Ekonomi yang Mandiri

Polemik mengenai “rakyat desa tak pakai dolar” pada akhirnya membuka mata banyak pihak bahwa kekuatan sejati ekonomi Indonesia terletak pada kemandirian di tingkat akar rumput. Meskipun kebijakan moneter terus diuji, penguatan sektor riil di pedesaan melalui koperasi dan pertanian menjadi benteng pertahanan terakhir yang paling ampuh.

Kesimpulannya, pemerintah ingin memastikan bahwa gejolak dolar di pasar global tidak akan dibiarkan merembet terlalu jauh hingga menghancurkan sendi-sendi kehidupan masyarakat di desa. Dengan cadangan pangan yang melimpah dan manajemen risiko yang ketat, Indonesia optimis mampu melewati tahun-tahun penuh tantangan ini dengan kepala tegak.

Maka, saat Presiden berkata rakyat desa tak pakai dolar, itu adalah sebuah pengingat bahwa ekonomi kita punya jati diri sendiri yang tidak sepenuhnya harus didikte oleh sentimen pasar di New York atau London.

Rizky Pratama

Rizky Pratama

Penulis bisnis & startup dengan pengalaman di dunia digital marketing dan venture.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *