Asa di Balik Reruntuhan: Kisah Pelatih Bela Diri yang Mengubah Stadion Beirut Jadi Sekolah Kehidupan bagi Anak-anak Pengungsi

Siti Rahma | InfoNanti
18 Mei 2026, 08:54 WIB
Asa di Balik Reruntuhan: Kisah Pelatih Bela Diri yang Mengubah Stadion Beirut Jadi Sekolah Kehidupan bagi Anak-anak Peng

InfoNanti — Di tengah hiruk-pikuk kota Beirut yang kini lebih sering dihiasi suara sirine dan gema ledakan, sebuah stadion ikonik yang dulunya menjadi simbol kebanggaan olahraga nasional kini beralih rupa menjadi kamp pengungsian raksasa. Stadion Kota Olahraga Camille Chamoun, yang pernah menjadi saksi bisu pertandingan-pertandingan legendaris, kini dipadati oleh ribuan tenda darurat. Namun, di antara deretan tenda tersebut, terdengar teriakan semangat yang kontras dengan suasana kelabu di sekelilingnya. Adalah Hassan Seif al-Din, seorang pelatih bela diri berusia 65 tahun, yang mencoba merajut kembali harapan dari sisa-sisa trauma para pengungsi.

Pelipur Lara di Tengah Badai Konflik

Hassan bukanlah sosok asing bagi dunia olahraga di Lebanon. Namun, ia tidak pernah membayangkan bahwa masa senjanya akan dihabiskan dengan tinggal di tenda pengungsian. Ia terpaksa meninggalkan rumahnya di Dahiyeh, wilayah pinggiran Beirut yang menjadi pusat serangan, demi menyelamatkan diri dari eskalasi konflik Lebanon yang kian memanas. Berawal dari serangan pada akhir Februari yang melibatkan ketegangan regional antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, krisis kemanusiaan ini meledak hingga memaksa jutaan orang meninggalkan kediaman mereka.

Baca Juga

Menatap Keindahan Langit: Jadwal Puncak Hujan Meteor Lyrids 2026 dan Panduan Lengkap Mengamatinya

Menatap Keindahan Langit: Jadwal Puncak Hujan Meteor Lyrids 2026 dan Panduan Lengkap Mengamatinya

Laporan dari Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia mencatat angka yang memilukan: lebih dari satu juta warga Lebanon kini hidup tanpa tempat tinggal yang tetap. Hassan adalah satu dari jutaan nyawa yang terlempar ke dalam ketidakpastian. Namun, alih-alih menyerah pada keadaan, ia memilih untuk bangkit dan menjaga rutinitasnya. Setiap hari, Hassan menghabiskan dua hingga tiga jam untuk berlatih bela diri di area stadion, sebuah aktivitas yang awalnya hanya ia lakukan untuk menjaga kesehatan fisiknya sendiri.

Mengubah Trauma Menjadi Kekuatan Mental

Aktivitas rutin Hassan ternyata menarik perhatian anak-anak di pengungsian. Mereka yang kehilangan masa kecil karena suara bom dan kepulan asap, kini menemukan hiburan baru dalam gerakan-gerakan tangkas sang pelatih. “Saya melihat mata mereka yang penuh ketakutan, dan saya berpikir, kenapa tidak saya bagikan sedikit kebahagiaan melalui olahraga ini?” ungkap Hassan kepada tim koresponden. Bagi Hassan, bela diri bukan sekadar teknik bertarung, melainkan instrumen untuk membangun kesehatan mental dan rasa percaya diri anak-anak yang hancur.

Baca Juga

Apes Maksimal! Niat Membobol Gedung, Pria California Malah Terjepit di Dinding Selama 10 Jam

Apes Maksimal! Niat Membobol Gedung, Pria California Malah Terjepit di Dinding Selama 10 Jam

Salah satu muridnya, seorang anak laki-laki bernama Adnan, menjadi bukti nyata betapa berartinya kehadiran kelas bela diri dadakan ini. Adnan mengaku bahwa latihan ini memberinya rasa aman yang selama ini hilang. “Pelatih Hassan mengajari kami cara melindungi diri sendiri. Saya sekarang merasa lebih berani. Jika ada yang mencoba mencelakai atau menculik saya di jalan, saya tahu apa yang harus dilakukan,” kata Adnan dengan nada bicara yang penuh keyakinan. Di balik tenda-tenda pengungsian, olahraga menjadi terapi psikis yang efektif untuk mengalihkan perhatian dari suara ledakan yang sesekali masih terdengar di kejauhan.

Stadion Camille Chamoun: Saksi Bisu Sejarah yang Terluka

Pemilihan Stadion Kota Olahraga Camille Chamoun sebagai tempat pengungsian membawa narasi historis yang mendalam. Stadion ini bukan sekadar bangunan beton; ia adalah monumen memori kolektif bangsa Lebanon. Bagi generasi tua, stadion ini mengingatkan mereka pada kunjungan legendaris Pele pada tahun 1975, di mana lebih dari 35.000 penonton bersorak dalam damai. Stadion ini juga menjadi lokasi kemenangan bersejarah tim nasional Lebanon atas Korea Selatan dalam kualifikasi Piala Dunia 2011, sebuah momen yang sempat menyatukan bangsa yang terfragmentasi.

Baca Juga

Babak Baru Ketegangan AS-Iran: Donald Trump Sepakati Jeda Perang Lewat Proposal 10 Poin Tehran

Babak Baru Ketegangan AS-Iran: Donald Trump Sepakati Jeda Perang Lewat Proposal 10 Poin Tehran

Namun, wajah stadion ini juga mencerminkan luka perang yang tak kunjung sembuh. Pada tahun 1982, bangunan ini hancur total akibat invasi Israel, sebelum akhirnya dibangun kembali pada tahun 1990 setelah perang saudara selama 15 tahun berakhir. Pada tahun 2024, kompleks olahraga ini kembali menjadi pusat perhatian dunia saat dijadikan lokasi pemakaman Hassan Nasrallah, pemimpin Hizbullah yang tewas dalam serangan udara. Kini, fungsi stadion kembali bergeser dari arena pertandingan menjadi benteng pertahanan bagi mereka yang tak punya tempat kembali.

Solidaritas Komunitas Sepak Bola di Masa Krisis

Meskipun kompetisi resmi terhenti, semangat sepak bola tidak lantas mati. Sejumlah klub lokal dan federasi mulai turun tangan memberikan bantuan kemanusiaan. Wael Chehayeb, anggota Komite Eksekutif Federasi Sepak Bola Lebanon, mengungkapkan perasaan campur aduknya melihat kondisi stadion saat ini. Di satu sisi, ia bangga infrastruktur olahraga bisa bermanfaat sebagai tempat berlindung darurat, namun di sisi lain, hatinya perih melihat tempat yang seharusnya penuh keceriaan kini dipenuhi penderitaan.

Baca Juga

Drama Firdos Square: Mengenang Runtuhnya Patung Saddam Hussein dan Akhir Sebuah Era di Irak

Drama Firdos Square: Mengenang Runtuhnya Patung Saddam Hussein dan Akhir Sebuah Era di Irak

“Sangat menyedihkan melihat lapangan hijau ini dipenuhi tenda, namun keselamatan warga adalah prioritas utama kami. Kami berupaya semaksimal mungkin agar fasilitas ini tetap manusiawi bagi para pengungsi,” ujar Wael. Kehadiran klub-klub bola dalam memberikan logistik dan dukungan moral menunjukkan bahwa ekosistem olahraga memiliki peran krusial dalam mitigasi bencana dan krisis sosial.

Membangun Keluarga Baru di Balik Garis Gawang

Bagi Hassan dan anak-anak didiknya, stadion ini telah bertransformasi menjadi sebuah komunitas baru yang erat. Mereka bukan lagi sekadar orang asing yang dipertemukan oleh nasib buruk, melainkan satu keluarga besar yang saling menguatkan. “Anak-anak ini sering membangunkan saya di pagi hari hanya untuk berkata, ‘Ayo pelatih, waktunya latihan!’,” kenang Hassan sambil tersenyum tipis. Antusiasme ini menjadi bahan bakar bagi Hassan untuk terus bertahan di tengah keterbatasan fasilitas dan bantuan.

Program seni bela diri ini membuktikan bahwa investasi pada sumber daya manusia, khususnya anak-anak, jauh lebih penting daripada sekadar infrastruktur fisik. Melalui disiplin, kerja sama tim, dan latihan fisik yang teratur, trauma perang perlahan-lahan mulai terkikis, digantikan oleh semangat juang untuk masa depan yang lebih baik. Stadion Beirut, meski kini terluka, tetap menjadi tempat di mana harapan terus dipupuk, satu tendangan dan satu tangkisan pada satu waktu.

Di akhir hari, ketika matahari mulai terbenam di ufuk Beirut, aktivitas di lapangan stadion tidak berhenti. Di bawah lampu temaram, Hassan masih berdiri tegak, memandu murid-muridnya. Di sana, di antara deru konflik yang belum mereda, olahraga telah menjadi bahasa universal yang menyuarakan satu hal penting: ketangguhan jiwa manusia untuk tetap tegak berdiri meski dunia di sekitar mereka tengah runtuh.

Siti Rahma

Siti Rahma

Jurnalis berita global dengan ketertarikan pada geopolitik dan ekonomi dunia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *