Drama Firdos Square: Mengenang Runtuhnya Patung Saddam Hussein dan Akhir Sebuah Era di Irak

Siti Rahma | InfoNanti
09 Apr 2026, 06:24 WIB
Drama Firdos Square: Mengenang Runtuhnya Patung Saddam Hussein dan Akhir Sebuah Era di Irak

InfoNanti — Tanggal 9 April 2003 akan selalu dikenang sebagai salah satu fragmen paling dramatis dalam catatan sejarah modern. Di hari itu, dunia menyaksikan melalui layar kaca bagaimana kekuasaan absolut Saddam Hussein yang telah mencengkeram Irak selama puluhan tahun akhirnya luluh lantak, tepat saat unit-unit tempur Amerika Serikat merangsek masuk ke jantung Kota Baghdad.

Pusat perhatian dunia saat itu tertuju pada sebuah titik ikonik: Firdos Square. Di alun-alun tersebut, luapan emosi warga yang selama ini terpendam pecah menjadi aksi spontan untuk menggulingkan simbol kemegahan sang penguasa. Sebuah patung perunggu raksasa Saddam Hussein berdiri tegak di sana, seolah menjadi saksi bisu atas arus perubahan besar yang dibawa oleh invasi militer pimpinan Washington.

Baca Juga

Tragedi Bus Beirut 1975: Titik Nadir yang Membakar Lebanon dalam Perang Saudara

Tragedi Bus Beirut 1975: Titik Nadir yang Membakar Lebanon dalam Perang Saudara

Simbol Perlawanan di Balik Palu Godam

Awalnya, upaya merobohkan patung tersebut tampak sebagai misi yang mustahil bagi warga sipil. Sekelompok pria berusaha menghancurkan alas beton patung dengan palu godam seadanya. Beberapa orang lainnya memanjat tubuh logam tersebut, mencoba melilitkan tali di bagian leher patung dalam upaya simbolis untuk ‘menjatuhkan’ sang pemimpin. Namun, bobot patung yang masif membuat usaha warga sia-sia, hingga akhirnya militer AS memutuskan untuk turun tangan.

Menggunakan kendaraan pemulihan lapis baja M88, pasukan Amerika membantu menarik patung tersebut hingga roboh. Namun, proses ini tidak lepas dari kontroversi yang terekam jelas oleh kamera jurnalis internasional yang berbasis di Palestine Hotel. Seorang tentara sempat menutupi wajah patung dengan bendera Amerika Serikat, sebuah tindakan yang memicu reaksi dingin dari kerumunan karena dianggap sebagai simbol dominasi asing. Ketegangan tersebut baru mereda setelah bendera tersebut segera diganti dengan bendera Irak lama, yang disambut dengan sorak-sorai massa.

Baca Juga

Trump Perpanjang Gencatan Senjata dengan Iran: Diplomasi di Bawah Bayang-Bayang Blokade Militer AS

Trump Perpanjang Gencatan Senjata dengan Iran: Diplomasi di Bawah Bayang-Bayang Blokade Militer AS

Kehancuran Sebuah Ikon dan Euforia di Jalanan

Begitu patung itu tumbang dan menghantam bumi, suasana berubah menjadi histeria kolektif. Warga melompat-lompat di atas reruntuhan logam tersebut, menendang, dan memukulnya sebagai bentuk pelepasan rasa trauma terhadap rezim yang selama ini dikenal represif. Salah satu pemandangan paling membekas dalam memori kolektif dunia adalah saat bagian kepala patung diseret menyusuri jalanan Baghdad, sebuah penghinaan visual terhadap sosok yang sebelumnya dianggap tak tersentuh.

Kejadian di Firdos Square memicu efek domino di seluruh penjuru ibu kota. Saddam Hussein yang dulu dipuja dalam bentuk monumen dan poster di setiap sudut jalan, kini menyaksikan bayang-bayangnya dihancurkan oleh rakyatnya sendiri. Patung-patung lain di penjuru kota mulai diruntuhkan, menandakan berakhirnya sebuah era kediktatoran.

Baca Juga

Heboh Foto AI Donald Trump Bergaya ‘Mesias’, Picu Protes di Kalangan Evangelikal

Heboh Foto AI Donald Trump Bergaya ‘Mesias’, Picu Protes di Kalangan Evangelikal

Awal dari Dinamika Panjang yang Tak Menentu

Meski patung di pusat kota telah runtuh, perang belum benar-benar berakhir. Brigadir Jenderal Vincent Brooks, yang saat itu menjabat sebagai juru bicara Komando Pusat AS, menyatakan bahwa sebagian besar wilayah Irak memang telah “dibebaskan dari penindasan”. Namun, ia memberikan catatan penting bahwa operasional militer tetap berlanjut guna memastikan stabilitas yang masih sangat rapuh.

Peristiwa 9 April 2003 bukan sekadar tentang jatuhnya logam setinggi beberapa meter, melainkan sebuah penanda babak baru yang penuh dengan kompleksitas bagi kawasan Timur Tengah. Bagi rakyat Irak, itu adalah hari di mana harapan dan ketidakpastian pascaperang mulai berkelindan, menciptakan sejarah panjang yang dampaknya masih terasa hingga hari ini.

Baca Juga

Komitmen RI di Selat Malaka: Menjamin Kebebasan Navigasi Tanpa Pungutan Demi Stabilitas Global

Komitmen RI di Selat Malaka: Menjamin Kebebasan Navigasi Tanpa Pungutan Demi Stabilitas Global
Siti Rahma

Siti Rahma

Jurnalis berita global dengan ketertarikan pada geopolitik dan ekonomi dunia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *