Strategi Ekonomi Sirkular SIG: Mengolah Limbah Kelapa Pantai Lampuuk Jadi Pakan Ternak Berprotein Tinggi

Rizky Pratama | InfoNanti
23 Jun 2026, 00:52 WIB
Strategi Ekonomi Sirkular SIG: Mengolah Limbah Kelapa Pantai Lampuuk Jadi Pakan Ternak Berprotein Tinggi

InfoNanti — Pesona Pantai Lampuuk di Aceh Besar memang tak perlu diragukan lagi. Garis pantainya yang memukau selalu menjadi magnet bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Namun, di balik keindahan panorama alamnya, tersimpan sebuah tantangan lingkungan yang cukup pelik: gunungan limbah kelapa. Setiap bulan, aktivitas pariwisata di kawasan ini menghasilkan puluhan ton sabut dan tempurung kelapa yang seringkali berakhir begitu saja, membusuk di sudut pantai atau hangus menjadi abu melalui pembakaran terbuka.

Melihat kondisi ini, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) tidak tinggal diam. Melalui unit usahanya, PT Solusi Bangun Andalas (SBA), mereka menghadirkan sebuah narasi perubahan yang inovatif. Persoalan sampah yang semula dianggap beban, kini berhasil direbranding menjadi peluang ekonomi yang menjanjikan bagi masyarakat sekitar. Inovasi ini dikemas dalam sebuah program komprehensif bertajuk Sampah Kelapa untuk Desa Sejahtera, atau yang lebih dikenal dengan singkatan Sakeladera.

Baca Juga

Harga Minyak Dunia Terjun Bebas: Sinyal Damai AS-Iran Redam Gejolak Pasar Global

Harga Minyak Dunia Terjun Bebas: Sinyal Damai AS-Iran Redam Gejolak Pasar Global

Lahirnya Sakeladera: Menjawab Tantangan Lingkungan dan Ekonomi

Inisiasi program Sakeladera pada tahun 2024 bukanlah tanpa alasan yang kuat. Data lapangan menunjukkan bahwa timbulan sampah kelapa dari aktivitas pariwisata di Pantai Lampuuk mencapai angka yang cukup fantastis, yakni sekitar 60 ton per bulan. Selama bertahun-tahun, limbah ini hanya dibiarkan membusuk secara alami yang menimbulkan bau tak sedap, atau dimusnahkan dengan cara dibakar. Metode pembakaran ini nyatanya menyumbang emisi karbon hingga 34,8 ton CO₂ setiap bulannya, sebuah angka yang kontradiktif dengan upaya pelestarian lingkungan.

Di sisi lain, masyarakat peternak unggas di wilayah Lhoknga dan sekitarnya menghadapi masalah yang tak kalah berat. Mereka sangat bergantung pada pasokan pakan ternak dari luar daerah yang harganya fluktuatif dan cenderung mahal. Biaya pakan yang harus dikeluarkan kelompok peternak lokal bisa mencapai Rp 48 juta per bulan, sebuah beban finansial yang menekan margin keuntungan mereka. Dari titik temu dua masalah inilah, Sakeladera hadir sebagai jembatan solusi.

Baca Juga

Babak Baru Revisi UU Tapera: Skema Iuran Tak Lagi Wajib dan Menanti Ketok Palu DPR

Babak Baru Revisi UU Tapera: Skema Iuran Tak Lagi Wajib dan Menanti Ketok Palu DPR

Transformasi Limbah Menjadi Cocopeat Berkualitas

Inti dari program Sakeladera adalah pengolahan limbah sabut kelapa menjadi cocopeat atau serbuk halus sabut kelapa. Produk ini kemudian diformulasikan sebagai campuran pakan ternak alternatif yang kaya akan nutrisi. Tidak sekadar membuang limbah, proses ini melibatkan standarisasi yang ketat. Hasil olahan cocopeat dari program ini telah melewati uji laboratorium di Balai Riset dan Standardisasi Industri untuk memastikan kandungan kalsium dan proteinnya layak serta aman bagi ternak unggas.

Dalam pelaksanaannya, PT Solusi Bangun Andalas tidak bergerak sendirian. Mereka menggandeng komunitas Bank Sampah Generasi Milenial (Basagemil), sebuah kelompok pemuda yang memiliki semangat tinggi dalam isu pengolahan limbah. Kerja sama ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari program “Sobat Si Abes” (Solusi Bangun Andalas Sahabat Pesisir) yang telah diinisiasi sejak tahun 2022. Dengan dukungan peralatan modern dan pendampingan teknis yang berkelanjutan, Basagemil kini mampu mengelola rantai produksi dari hulu ke hilir.

Baca Juga

Rupiah Tembus Level Psikologis Rp 18.000: Badai Sentimen Global dan Tekanan Domestik Menghantam

Rupiah Tembus Level Psikologis Rp 18.000: Badai Sentimen Global dan Tekanan Domestik Menghantam

Dampak Nyata: Efisiensi Biaya dan Kelestarian Alam

Keberhasilan program Sakeladera dapat diukur dari berbagai aspek. Secara ekonomi, inovasi ini menjadi angin segar bagi para peternak. Penggunaan cocopeat sebagai campuran pakan mampu menekan biaya operasional hingga 60%, atau setara dengan penghematan sebesar Rp 28,2 juta per bulan. Angka ini tentu sangat signifikan dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga peternak dan mengurangi ketergantungan pada distributor pakan besar.

Dari aspek lingkungan, volume sampah kelapa yang menumpuk di pesisir pantai berhasil ditekan secara drastis dari 60 ton menjadi hanya sekitar 20-24 ton per bulan. Penurunan ini tidak hanya mempercantik tampilan estetika Pantai Lampuuk sebagai destinasi wisata, tetapi juga secara langsung mengurangi jejak karbon akibat pembakaran sampah. Program ini adalah manifestasi nyata dari konsep ekonomi sirkular, di mana limbah diputar kembali menjadi sumber daya yang bernilai guna.

Baca Juga

Revolusi Jalur Kereta Api Sangkuriang dan Transformasi Kebijakan Publik Indonesia di Tahun 2026

Revolusi Jalur Kereta Api Sangkuriang dan Transformasi Kebijakan Publik Indonesia di Tahun 2026

Pemberdayaan Masyarakat dan Nilai Sosial

Lebih dari sekadar angka-angka di atas kertas, Sakeladera adalah tentang manusia. Program ini telah membuka lapangan kerja dan keterlibatan aktif bagi 28 orang warga lokal dalam seluruh rantai pasoknya. Mulai dari mereka yang bertugas mengumpulkan sampah kelapa di sepanjang pantai, petugas pemilahan, operator mesin pengolahan, hingga tim distribusi produk ke tangan peternak.

Vita Mahreyni, Corporate Secretary SIG, menjelaskan bahwa kesuksesan ini tercermin dalam rasio Social Return on Investment (SROI) yang mencapai angka 2,5. Artinya, setiap satu rupiah yang diinvestasikan oleh perusahaan dalam program ini, mampu menghasilkan nilai manfaat sosial sebesar 2,5 kali lipat bagi masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa investasi sosial yang dilakukan SIG memberikan dampak yang berlipat ganda bagi komunitas setempat.

Visi Keberlanjutan SIG 2030

Kehadiran Sakeladera di Aceh merupakan bagian dari strategi besar korporasi yang tertuang dalam Sustainability Roadmap SIG 2030. Peta jalan ini menjadi komitmen perusahaan untuk menjalankan bisnis yang tidak hanya mengejar profit, tetapi juga memberikan perlindungan terhadap lingkungan dan menciptakan nilai tambah bagi karyawan serta komunitas di sekitar wilayah operasional.

Melalui pilar keberlanjutan yang kuat, SIG berupaya menjadi pelopor dalam praktik industri hijau di Indonesia. Upaya pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan seperti yang dilakukan di Pantai Lampuuk ini diharapkan dapat menjadi model yang bisa direplikasi di daerah lain. Dengan sinergi antara korporasi, komunitas pemuda, dan pemerintah daerah, masalah limbah bukan lagi momok, melainkan menjadi pemicu lahirnya kemandirian ekonomi desa.

Kini, masyarakat Lhoknga tidak hanya bangga akan keindahan pantainya, tetapi juga bangga akan kemampuan mereka mengelola sumber daya lokal secara cerdas. Sakeladera telah membuktikan bahwa dengan inovasi yang tepat, limbah yang tadinya dipandang sebelah mata bisa disulap menjadi pakan ternak bernilai ekonomi tinggi, sekaligus menjaga bumi tetap hijau untuk generasi mendatang.

Rizky Pratama

Rizky Pratama

Penulis bisnis & startup dengan pengalaman di dunia digital marketing dan venture.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *